
Sesuai dugaan Qin Guang, mereka sampai di Sungai Daun Kuning pada esok harinya. Saat sampai di sana, mentari sudah memanjat tinggi di atas cakrawala. Rombongan pun beristirahat dan mengisi ulang persediaan air mereka.
Di tengah sesi istirahat itu, setiap orang saling membanggakan sukunya, termasuk orang-orang kekaisaran yang bangga atas kehebatan Wang Hongli dalam membunuh beruang merah dengan sekali tebasan. Ada juga yang membanggakan kemampuan memanah Li An yang tak tertandingi. Selama acara perburuan ini, tidak ada satu pun anak panah Pangeran Agung yang meleset.
Mereka pun sengit berdebat. Orang-orang Tarkan bersikeras bahwa Otugailah yang lebih hebat, sedangkan orang-orang kekaisaran bersikeras bahwa Wang Honglilah yang lebih hebat. Entah siapa yang memulai, pertengkaran di tengah mereka mulai terjadi.
Pertengkaran itu semakin menjadi setelah salah seorang anggota kekaisaran menyinggung kekalahan bertubi-tubi kekhaganan. Tangan kekar seseorang dari suku Tarkan pun melayang. Pertengkaran fisik mulai berkobar di tengah rombongan sampai seorang pendekar dari Brigadir Cenangkas ikut terseret di dalamnya.
“Kamu melakukannya dengan baik, Guang,” puji Shien Lubu dengan seringai di mulutnya. Ia menggenggam sebuah batu. Tanpa memandang orang, ia melemparkan batu itu sembarangan ke tengah pertengkaran.
“Kurang ajar! Siapa yang melemparku dengan batu?” bentak seorang pria kekar di tengah keramaian. Tidak ada yang menggubris. Orang-orang sibuk bertengkar satu dengan lainnya.
“Hehe, lihat itu,” tambah Shien Lubu senang. Ini menjauh dari kerumunan yang bergaduh agar tidak terseret di dalamnya. Dalam beberapa kesempatan, ia kembali melempar batu untuk memprovokasi orang-orang agar tetap bertengkar.
“Kamu menikmati kekacauan ini sendiri,” Qin Guang merespon datar. Ia tak hanya menjauh dari kerumunan, tapi juga menjauh dari Shien Lubu. Sejatinya, ia bukanlah seorang provokator, tapi patriotis yang mengharapkan kejayaan penuh kekaisaran. Firasatnya mengatakan bahwa ia akan terkena masalah yang lebih dalam jika dekat-dekat dengan Shien Lubu maupun Xiao Chyou, padahal ia sudah berkolusi dengan mereka berdua.
“Pangeran, ada keributan yang sedang terjadi!” lapor seorang pendekar yang tiba-tiba menghampiri Li An. Sang Pangeran Agung sedang duduk sendirian di bawah sebuah pohon besar. Pendekar itu pun segera berlutut. Ia melaporkan situasi yang kacau sesingkat-singkatnya.
“Bagaimana bisa hal itu terjadi?” Li An langsung bangkit. Ia bergegas untuk pergi ke tempat yang dimaksud oleh pendekar itu. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Otugai yang sepertinya juga sangat terkejut.
“Tuan Otugai, kita harus segera melarai keributan itu,” seru Li An tegas. Tanpa berkata apa-apa, Otugai mengangguk. Mereka berdua pun berjalan bersama ke tempat kejadian perkara.
__ADS_1
“Diam kalian semua!” teriakan lantang Otugai membuat keributan seketika berhenti. Ada kecaman keras yang mengalir pada suaranya. Dilihat dari wajahnya, jelas sekali ia sedang marah besar.
“Kepala Su—” seorang dari bangsa Tarkan ingin mengadukan perkara, tapi urung karena melihat Otugai tak memberinya izin untuk bicara. Di sisi lain, Wang Hongli menyeret seorang bawahannya ke hadapan Li An. Ia berlutut dan memohon ampun.
“Pangeran, saya sudah lalai dalam mendidik bocah ini,” kata Wang Hongli sembari menahan amarahnya, “Izinkan saya sendiri yang menghukumnya. Ini adalah tanggung jawab saya sebagai ketuanya.”
“Bawa dulu dia kepada tabib,” kata Li An begitu melihat pendekar yang dipenuhi luka memar dan berdarah-darah itu. Ia pun berseru pada semua orang, “Yang lainnya! Hentikan pertikaian ini dan bawa siapa pun yang terluka kepada tabib. Mereka yang masih sehat akal dan badannya harus menolong yang sakit.”
Xiao Chyou berdecak kesal di kejauhan. Ia tidak suka karena keributan dapat diatasi lebih cepat dari yang ia perkirakan. Pria itu pun menoleh pada Shien Lubu, memberinya kode untuk menjalankan rencana selanjutnya.
Saat orang-orang sibuk saling tolong-menolong dan berusaha mengenyahkan dendam, Xioa Chyou menarik anak panah yang diambilnya dari penjaga kuda waktu itu. Panah itu adalah panah khas kekhaganan. Begitu ia melepaskan jemari dari tali busurnya, anak panah meluncur cepat ke pendekar yang paling parah terluka di tengah pertengkaran.
“Itu panah Tarkan!” seru Shien Lubu histeris, “Mereka mau membunuh kita. Mereka mau membunuh kita.”
Orang-orang yang masih sensitif dengan pertikaian tadi segera menghunuskan pedangnya masing-masing. Mereka saling memandang dengan niat membunuh. Situasi ini sudah menjadi semakin runyam.
Wang Hongli menggertakkan gigi-giginya. Ia berseru pada seluruh pendekar di sekitarnya untuk segera melindungi Pangeran Kedelapan. Pendekar bertubuh besar itu pun bangkit dengan pedang yang terhunus. Matanya menatap tajam siapa pun yang berusaha mendekati tuannya.
“Apa yang terjadi?” Li An yang paling kebingungan dalam situasi ini. Ia yakin bahwa barusan situasinya sudah terkendali. Namun, tetiba seruan itu terdengar sehingga orang-orang menghunuskan pedang.
“Pangeran, jangan jauh-jauh dari kami,” seru Wang Hongli tegas. Ia tidak akan membiarkan Li An terluka barang sejengkal pun. “Kita akan celaka kalau sampai bertindak gegabah.”
__ADS_1
“Ada apa lagi ini?” teriakan Otugai yang lebih keras dari tadi membuat ketegangan semakin pekat. Pandangannya yang tajam menyapu setiap orang yang ada di medan laga. Tanpa ada yang memberi tahu sama sekali, orang-orang sadar bahwa sebentar lagi tempat itu akan menjadi medan pertempuran. Bukannya menjawab pertanyaan Otugai, seseorang malah menuduh dan berteriak, “Otugai telah berkhianat! Ia bekerja sama dengan kekaisaran untuk menghabisi kita. Perburuan ini adalah bagian dari rencananya.”
Hujan anak panah tiba-tiba datang dari segala penjuru. Panah-panah itu mengenai siapa saja tanpa pandang bulu. Mau itu kekaisaran ataupun orang-orang suku Tarkan. Li An bahkan sampai terkena beberapa panah di tubuhnya.
“Pangeran?!” Wang Hongli berseru dengan aura penuh kemarahan. Ia mengeratkan pegangan pedangnya dan mencari arah datangnya hujan anak panah itu. Belum sampai ia menemukannya, orang-orang Tarkan sudah maju menyerbu.
“Kurang ajar! Siapa yang bilang aku berkhianat?” teriak Otugai penuh kemarahan. Akan tetapi, pertanyaannya itu tidak ada yang menggubris. Ia bahkan sudah dikepung oleh bangsanya sendiri yang berbeda suku.
“Kepala Suku, mereka kepala batu,” seru salah seorang anggota suku Otugai, “Mereka tidak akan mendengar kalau belum ditundukkan.”
“Ck, aku benci mendengarnya,” Otugai mengucapkan isi hatinya, “Tapi ucapanmu benar. Suku Anak Panah Kedua, habisi orang-orang bodoh itu.”
Perang tiga sisi terjadi dalam waktu singkat. Di sisi Li An, para Brigadir Cenangkas sedang susah payah bertahan. Mereka hanya punya dua pilihan, mundur atau mati. Di sisi Otugai, pedang-pedang Tarkan berseliweran di sana-sini. Mereka saling menyakiti satu sama lain tanpa pandang bulu sama sekali. Sedang di sisi Suku Anak Panah yang mendominasi, orang-orang berseru-seru penuh dengan kebencian dan dendam.
“Hongli, aku akan membuka celah,” seru Ling Bao di situasi yang amat mendesak itu, “Bawa Pangeran Agung pergi dari medan pertempuran ini. Keselamatannya adalah yang utama.”
“Aku mengerti,” Wang Hongli mengangguk pelan, “Ling Bao, pastikan dirimu selamat.”
“Aku akan langsung menyusul kalian kalau selamat dari pertempuran ini,” Ling Bao tersenyum takzim. Ia dan beberapa pendekar lainnya pun maju menghadang orang-orang Tarkan yang tiada habisnya, sedangkan Wang Hongli membopong Li An yang terluka ke seberang sungai bersama beberapa pendekar yang tersisa.
“Hai, Pendekar!” seruan Otugai terdengar ketika Wang Hongli nyaris sampai di seberang. Pria tangguh berbadan kekar itu sudah dipenuhi darah dan luka sekarang. Namun, senyum di wajahnya masih saja mengembang penuh semangat. Ia berteriak pada Wang Hongli penuh penekanan, “Pastikan dirimu selamat! Kamu masih berhutang satu pertandingan denganku.”
__ADS_1
Wang Hongli menyeringai miris. Ia jadi ingat percakapannya dengan Otugai semalam. Benar, ia memang sudah berjanji satu pertandingan dengan kepala suku itu setelah sampai di perkemahan nanti. Sayangnya, ia tidak tahu apakah dirinya mampu menepati janjinya itu.