
“Di sana!” seru Jin Mi sembari menunjuk sebuah gumpalan cokelat yang berlarian di antara pepohonan. Gumpalan cokelat bertelinga panjang itu amat lincah. Berkali-kali ia sukses menghindari tembakan panah Jin Mi dan Sue Fang.
“Ck! Gagal lagi,” keluh Sue Fang kesal, “Kelinci kecil itu terlalu lincah. Tidak bisakah kita mencari buruan lain?”
“Kita sudah seharian mencari, Fang,” Ma Yuan menghela napas pelan. Ia turun dari batu yang tinggi dan mendarat tepat di depan Sue Fang, “Kalau kita melepaskannya, kita mungkin tidak akan mendapat daging hari ini.”
“Kemarin ada banyak rusa di dekat sungai,” ujar Sue Fang sambil menjambak anak rambutnya dengan sebelah tangan, gemas karena hari ini para rusa itu tidak ada di tempatnya. Ma Yuan pun menepuk pundaknya dan berkata, “Kawan, mereka pasti sudah mencari tempat lain untuk menghindari kita.”
“Hais …,” Sue Fang berhenti menarik anak rambutnya. Ia melemaskan tangan dan malah menjadi lesu, “Hidup di hutan memang tidak mudah. Sampai kapan Pangeran Agung akan bertahan di tempat ini?”
“Dapat!” seruan Jin Mi menarik perhatian Sue Fang dan Ma Yuan sekaligus. Mereka pun menoleh dan bergegas menghampiri asal suara itu. Begitu sampai di sana, mereka mendapati Li An dan Jin Mi yang sedang mengikat kelinci cokelat tadi.
“Apa lagi-lagi Pangeran Agung yang mendapatkannya?” tanya Sue Fang menebak.
“Yah, kemampuan memanah Pangeran Agung memang yang terbaik,” balas Jin Mi dengan bangga. Sampai saat ini, Wang Honglilah yang paling banyak mendapat buruan. Namun, rekornya itu akan segera terpecahkan oleh Li An yang baru sembuh total minggu lalu.
“Pangeran Agung, tolong ajari saya cara memanah yang benar,” pinta Ma Yuan dengan tulus. Sue Fang pun mengikutinya, “Saya juga, Pangeran Agung.”
Li An hanya tersenyum tipis. Sebenarnya, ia sudah beberapa kali menolak untuk dipanggil Pangeran Agung. Namun, para pendekarnya ini tak pernah mau menerima penolakannya. Pada akhirnya, Li An terbiasa dengan panggilan yang menggelikan baginya itu.
“Aku belajar dari Kak Hongli,” jawab Li An kemudian, “Bukannya kalian tinggal meminta padanya.”
“Senior Wang terlalu galak,” celetuk Sue Fang.
__ADS_1
“Ssht …!” Ma Yuan langsung memintanya untuk diam, “Kamu akan dapat masalah kalau sampai Senior Wang mendengarnya~”
“Mendengar apa, heh?” kemunculan Wang Hongli yang tiba-tiba dari arah belakang membuat Sue Fang dan Ma Yuan tersentak seketika. Ma Yuan pun memalingkan wajah dan menyikut badan Sue Fang kuat-kuat.
“A–anu~” Sue Fang berusaha mencari jawaban yang tepat. Ia tampak grogi. Ingatannya tentang latihan pada musim dingin tahun lalu di Wilayah Utara terbesit tiba-tiba. Ia mungkin akan menjalani latihan berat nan mematikan itu lagi kalau sampai menyinggung perasaan Wang Hongli.
“Mereka berdua ingin belajar memanah darimu,” Li An yang akhirnya menjelaskan, “Mereka hanya malu mengungkapkannya.”
“Latihan memanah?” Wang Hongli pun menoleh pada Sue Fang dan Ma Yuan yang masih membuang muka, “Kemampuan kalian memang payah. Lebih baik, kalian fokus saja pada pedang saja.”
“Pedang itu membosa …,” Sue Fang hampir saja berceletuk lagi, tapi suara Jin Mi lebih dulu mengalihkan perhatian orang-orang.
“Kelinci ini tidak akan cukup untuk bertujuh,” Jin Mi mengangkat kelinci cokelat yang sudah diikatnya kuat-kuat, “Kita harus mencari buruan lain.”
“Boleh juga,” Jin Mi mengangguk setuju, “Kamu sudah tahu tempatnya, kan?”
“Ya, tentu saja,” jawab Sue Fang percaya diri, “Sekitar hutan ini sudah jadi seperti rumahku, jadi aku pasti akan mendapatkannya.”
“Kamu tidak akan kesulitan menangkap seekor kelinci kalau hutan ini sudah seperti rumahmu,” balas Ma Yuan ketus. Sue Fang pun melayangkan bogem untuk menjitak kepalanya, tapi ia berhasil menghindar dengan mudah.
“Kalau begitu, kita berpisah lagi,” Jin Mi pun membagi kelompok, “Aku akan bersama Pangeran Agung, Hongli sendiri, sedangkan Yuan dan Fang bersama mencari buah-buahan.”
“Senior Jin pilih kasih,” gerutu Sue Fang. Mulutnya itu memang susah untuk ditambal. Ia suka mengatakan isi hatinya begitu saja tanpa berpikir terlebih dahulu. Mereka pun berpisah. Namun, sebelum Sue Fang melangkah bersama Ma Yuan, Wang Hongli menepuk pundaknya.
__ADS_1
“Fang,” panggil Wang Hongli dengan suaranya yang serak-serak basah, “Kita perlu bicara sesampainya di gubuk nanti.”
“Ba–baiklah,” jawab Sue Fang gagap, tapi otaknya dengan cepat berusaha mencari cara untuk mengelak, “Kalau begitu, kami pergi dulu, Senior. Bawakan daging yang banyak untuk kami! Kami akan memetikkan buah-buah paling ranum untuk kalian.”
“Ck! Bocah itu semakin tak tahu diri,” gerutu Wang Hongli, “Apa dia pikir aku tidak mendengarnya sama sekali? Lihat saja! Aku akan memberimu latihan memanah yang paling efektif untukmu.”
“Aku salut dengan keberaniannya,” Jin Mi malah terang-terangan memuji Sue Fang, “Dia sangat hebat berurusan dengan Pendekar Cenangkas Kembar yang terkenal.”
“Diamlah!” Wang Hongli berpaling dari Jin Mi dan Li An, “Cepat lanjutkan perburuanmu! Kita harus kembali lagi ke gubuk Kakek Pertapa Tua sebelum mentari tenggelam.”
“Baiklah, Ketua,” Jin Mi mengangguk dengan senyum usilnya. Li An menikmati keakraban para pendekarnya itu dengan hati senang. Sebelumnya, ia mengira bahwa mungkin mereka kelak akan meninggalkannya begitu saja karena ia memutuskan untuk bertahan lebih lama di hutan. Namun, kekhawatiran itu ternyata sia-sia belaka. Sampai hari ini, mereka berhasil bertahan hidup dengan baik di rimba hutan nan lebat ini.
Li An dan Jin Mi mendapat dua ekor ayam liar ketika mentari mulai memancarkan semburat merahnya di ufuk barat. Mereka bergegas kembali ke gubuk untuk bergabung dengan yang lainnya. Yah, meskipun hasil buruan mereka hari ini tidak banyak, ini tetap cukup untuk mereka habiskan bersama.
“Pangeran, kapan Anda akan kembali ke Tang?” tanya Jin Mi di sela istirahat mereka. Ia memandang ke ufuk barat, tempat mentari memancarkan sinar kemerahannya di kala senja. Angin berhembus halus meniup wajahnya, membawa kesegaran yang teramat nikmat dirasa.
“Entahlah, aku masih ingin belajar pada Kakek Pertapa Tua,” jawab Li An jujur, “Tapi, aku tidak mungkin bisa terus di sini. Dalam waktu dekat, kita harus keluar dari hutan untuk mengantisipasi perang yang akan terjadi.”
“Apa Anda tetap akan mengupayakan perdamaian antara Tang dan Tarkan setelah pengkhianatan mereka itu?” Jin Mi menatap Li An keheranan, “Bukankah seharusnya kita mengambil tindakan tegas atas perbuatan mereka?”
“Kasus pada tragedi itu masih belum jelas, Pendekar Mi,” balas Li An sembari memetik selembar daun hijau yang ada di dekatnya, “Aku ingat bahwa saat itu, seorang saudara kita dibunuh dengan panah. Namun, sesaat kemudian, pihak mereka berseru bahwa salah seorang putra kepala sukunya telah dibunuh. Entah siapa duluan yang memicu konflik, kita harus bekerja sama untuk bisa membongkarnya.”
“Ini sudah sebulan lebih sejak kejadian itu,” Jin Mi mengingatkan, “Kemungkinan besar, kabar dari pertempuran itu sudah sampai di tangan Baginda Kaisar. Beliau pasti tidak akan tinggal diam atas perbuatan Tarkan.”
__ADS_1
“Benar, kekaisaran tidak akan tinggal diam. Mereka pasti sudah menyiapkan pasukan di perbatasan,” Li An menatap sendu ke ufuk barat. Ia bukannya ingin berlama-lama di hutan ini. Pemuda itu hanya ingin menimba ilmu lebih banyak lagi dari si Pertapa Tua. Firasatnya mengatakan bahwa ilmu dari pria tua itu akan sangat membantu hidupnya. Meski begitu, ia tidak pernah lupa dengan misinya untuk mendamaikan Kekaisaran Tang dan Kekhaganan Tarkan.