Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bab 053: Pernikahan Li Huanran


__ADS_3

“Selamat datang, Yang Mulia Pangeran," sambut seorang pria paruh baya berjenggot tebal, "Suatu kehormatan dapat bertemu dengan Anda di hari yang berbahagia ini."


"Begitu pula saya, Tuan Zaid," balas Li An formal, "Senang dapat bertemu dengan Duta Agung Khilafah.”


“Saya sungguh berterima kasih pada Anda,” pria paruh baya bernama Zaid itu mengulas senyum simpul, “Insyaallah pernikahan ini pasti akan menjadi jembatan menuju hubungan yang lebih baik di antara kedua negara.”


“Semoga saja begitu,” Li An tersenyum tipis mendengarnya. Sebagai orang yang lebih mengerti mengenai kondisi internal kekaisarannya, ia hanya dapat berharap. Meski sedikit pesimis, ia ingin negerinya berjalan ke arah yang terbaik.


Ini adalah hari pernikahan Putri Ketiga dan Duta Muda Khilafah. Pangeran Zhizhe selaku paman dari sang putri yang menjadi walinya. Kaisar Yung Wei sudah memasrahkan hal itu pada saudaranya. Ia tidak ikut ke Guangzhou karena banyaknya urusan yang mendesak.


Meski begitu, ia tetap mengirimkan utusan untuk memberi hadiah pernikahan pada putrinya. Selir Shu yang mengurus semua hadiah itu. Sebagai ibu kandung dari Putri Ketiga, tentu ia harus ikut melepas putri semata wayangnya itu.


Di depan sana, Ali telah selesai membacakan akad sesuai dengan ajarannya. Ia membacanya dengan lancar tanpa pengulangan barang sekali saja. Para saksi pun serentak mengatakan, "Sah!"


Li Huanran datang tak lama setelah itu. Ia memakai pakaian yang rapi dan tertutup, sangat berbeda dengan penampilan para putri lainnya di kala menikah. Li Xiulan mendampingi di samping kanannya, Li Roulan di samping kirinya, sedangkan Li Rouwei berjalan di depannya dengan bangga. Iring-iringan mengikuti di belakangnya.

__ADS_1


Acara berjalan tanpa terasa setelah itu. Kedua mempelai pasti sangat kelelahan hari ini. Mereka langsung masuk ke kamarnya selepas salat Isya ditunaikan.


"Kamu tidak sedih?" tanya seorang pemuda yang duduk di dekat Li An. Dia tak banyak bicara selama acara walimah yang megah ini berlangsung. Namun, pandangannya meneliti dengan seksama prosesi pernikahan yang tidak biasa itu.


"Buat apa sedih?" Li An mengembalikan pertanyaan itu, "Lang, aku justru lega karena kakakku akhirnya mendapat pasangan yang baik."


"Hm, benarkah?" pemuda yang dipanggil Lang itu mengerutkan keningnya. Namanya adalah Sue Lang, seorang sarjana muda dari Keluarga Sue yang usianya sedikit lebih tua dari Li An. Ia merupakan teman pendidikan Pangeran Kedalapan selama di Pagoda Arsip Kecil. Bulan lalu, ia baru saja menyelesaikan ujian kesarjanaannya.


"Hm," Li An mengangguk pelan. Ditatapnya aula walimah yang masih ramai meskipun pasutri baru sudah pergi. Acara ini sebenarnya bukan acara pernikahan biasa, tapi juga tempat berkonsolidasinya beberapa kekuatan, baik politik maupun perdagangan. Wajar saja di sini masih ramai.


"Tapi kamu terlihat sendu," Sue Lang memekarkan kipasnya, "Kamu sangat menyayangi Putri Ketiga, kan?"


"Tuh, kan?" Sue Lang tersenyum tipis di balik kipasnya, "Kamu sungguhan bersedih. Sudahlah, bagaimana kalau kamu segera menikah juga? Aku punya adik perempuan cantik yang selalu merengek untuk bisa bertemu denganmu. Apa kamu tertarik untuk berkenalan dengannya?"


"Jangan mengada-ngada," Li An mengabaikan ucapan itu begitu saja, "Lagian, aku belum berniat untuk menikah sama sekali."

__ADS_1


"Heh, padahal kamu sudah cukup umur loh," Sue Lang berusaha membujuk. Akan sangat bagus bila keluarganya memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga kekaisaran. Meski pengaruh Pangeran Kedelapan tidaklah sebesar pangeran lainnya, ia tetaplah sosok yang diperhitungkan. "Cobalah untuk bertemu dengannya sekali. Aku yakin bahwa kalian akan sangat serasi."


"Entahlah, sayangnya aku tidak ada waktu untuk itu," Li An mengingat setumpuk tugas yang masih menggunung di kantornya. Kalau bukan karena urusan Putri Ketiga, ia tak akan meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk itu.


"Oh, aku mengerti," Sue Lang tak memaksa lebih jauh, "Tapi, saat kamu sudah berpikir untuk menikah, jangan lupakan adikku, ya."


"Aku tidak pernah berjanji," balas Li An datar. Ia pun berdiri untuk meninggalkan tempatnya, begitu pula Sue Lang. Malam sudah semakin larut. Sudah waktunya untuk beristirahat sekarang.


Li An berjalan bersama Wang Hongli ke paviliun tempatnya menginap. Jalanan sudah sepi, tapi lampu-lampu lampion merah masih menyala redup di depan rumah-rumah sekitar. Jadi, Pangeran Kedelapan dan pengawalnya tak butuh lentera untuk menemani perjalanan.


Bulan purnama di angkasa pun sedang terang-terangnya. Langit cerah tanpa sedikit pun awan menutupinya. Bintang-bintang bertaburan, menemani bulan yang menghias langit malam dengan eloknya.


Begitu memasuki gerbang paviliun, Li An melihat sekelompok gadis yang masih sibuk melakukan sesuatu. Mereka adalah gadis-gadis Arab yang berkerudung dan beberapa gadis bangsawan kekaisaran. Hubungan mereka terlihat sangat akrab meskipun mungkin baru pertama kali ini bertemu. Itu karena sebagian besar gadis Arab di sini bisa berbahasa lokal.


"Hm?" Li An tertegun sejenak saat matanya saling bertatapan dengan salah seorang gadis. Gadis itu sangat ayu meski berlapis kain tebal membalut kepalanya dengan rapi. Detik kemudian, mereka berdua saling memalingkan wajah dengan spontan. Entah dengan gadis itu, tapi hati Li An berdesir ringan barusan.

__ADS_1


"Ada apa, Pangeran?" tanya Wang Hongli penasaran karena tiba-tiba Pangeran Kedelapan berhenti.


"Bukan apa-apa. Ayo kita segera kembali," Li An menggeleng, lalu kembali berjalan cepat. Ia tak mau Wang Hongli melihat rona merah yang mungkin sedang mewarnai wajahnya sekarang. Hatinya bahkan berdetak cepat sekarang. Ia ingin segera kembali ke kamar agar hatinya lekas tenang.


__ADS_2