
Li An menghadiri setiap pertemuan resmi dengan Kerajaan Kiri. Ia tidak banyak bicara dan cenderung pasif dibandingkan Li Bei yang dengan lihainya menunjukkan dominasi Kekaisaran Tang dalam bernegosiasi. Yah, memang begitulah peran Li An yang dikirim sebagai pengamat.
Tujuan utamanya ikut dalam delegasi ini bukan untuk mendiskusikan masalah dengan pihak Kerajaan Kiri, tapi untuk mempelajari dan meneliti hubungan internasional yang kelak akan dibutuhkannya olehnya. Kaisar Yung Wei sadar bahwa itu akan sangat bermanfaat bagi Pangeran Kedelapan di masa depan.
"Kakak An," panggil Li Chen begitu Li An sampai di kompleks khusus tamu kehormatan, "Pertemuan hari ini sudah selesai?"
"Yah, harusnya sudah," jawab Li An yang tampak lelah. Meskipun ia hanya duduk mengawasi saja di ruang pertemuan, ia juga butuh banyak tenaga untuk berpikir. Selain mengawasi, ia juga dituntut untuk bisa menganalisis kondisi dalam pertemuan yang berisik dan kaku itu, bahkan ia akan dimintai pendapat sesekali. Itu sangat menekan dan melelahkan.
"Mereka terlalu banyak mengeluhkan masalah-masalahnya," ujar Li An sambil menjatuhkan dirinya di kursi panjang dan menghela napas berat. Tangannya memijit-mijit kepala yang pusing. Diskusi yang penuh perdebatan itu membuatnya sedikit sakit kepala.
Datanglah seorang dayang yang membawakan minuman berupa teh herbal murni. Bau teh itu sangat harum. Ini adalah jenis teh yang memang disiapkan untuk menghilangkan stres.
"Di mana Rou'er?" tanya Li An usai mengecek kemurnian teh itu. Bisa jadi, ada racun yang ditaruh di dalamnya. Yah, walaupun kecil kemungkinan pihak Kerajaan Kiri melakukan hal sembrono seperti itu. Namun, berhati-hati lebih baik. Mungkin saja ada pihak yang berniat mengadu domba mereka.
"Dia meninggallkan pelajarannya karena Kakak tak ada," lapor Li Chen, "Mimi sangat kerepotan karena itu. Apalagi Kakak Yun ikut denganmu mengawasi pertemuan."
"Apakah ada tempat yang membuat Rou'er tertarik di sini?" Li An menatap ke sekitar. Jika dibandingkan dengan taman-taman di mahligai kekaisaran, istana di sini tak ada apa-apanya. Yah, memang indah sih, tapi tak seindah Istana Kebahagiaan Abadi.
"Wah! Kakak An sudah pulang," suara melengking Li Rouwei terdengar memasuki ruangan. Gadis itu datang bersama Mimi dan seorang gadis seusianya. "Kakak, perkenalkan. Dia teman baruku, Seonghwa."
"Seonghwa menghadap Pangeran Kedelapan dari Tang," kata gadis itu dengan malu-malu. Ia menundukkan wajahnya gugup. Ini adalah pertama kalinya ia melihat seorang pangeran dari luar negeri. Sebagai putri paling kecil, ia selalu dikurung di istana. Andai saja Li Rouwei tak menemukannya, ia tak akan pernah keluar.
"Santai saja, Tuan Putri," ucap Li An dengan senyum tipis di bibirnya, "Saya sungguh berterima kasih karena Anda mau berteman dengan Putri Rouwei."
__ADS_1
"Panggil aku seperti biasa saja!" seru Li Rouwei protes.
"Rou'er, kita adalah tamu ...," Li An mengindahkan seruan itu, tapi tetap mengingatkan. Namun, Li Rouwei langsung memotongnya, "Kami sudah berteman. Jangan terlalu kaku."
"Hm?" Li An menatap Seonghwa yang juga menatapnya. Pandangan mata mereka saling bertemu. Sekejap kemudian, Seonghwa langsung mengalihkan pandangannya. Ada rona merah yang muncul di pipinya.
"Sa–saya tidak masalah, Pangeran," kata Seonghwa sambil menunduk, "Sayalah yang harus berterima kasih karena Putri Rouwei mau berteman dengan saya."
"Mimi, ayo buat camilan," seru Li Rouwei mengajak ke dapur, "Aku ingin makan kue yang manis."
Para putri pun berlarian ke belakang diikuti Mimi yang tengah menggendong putrinya. Mereka tampak sangat menikmati waktunya. Yah, ada bagusnya juga Li Rouwei ikut berkunjung ke sini. Semoga saja tempat ini benar-benar aman karena cukup jauh dari medan pertempuran.
"Bagaimana belajarmu?" Li An mengalihkan pandangannya ke Li Chen. Bocah yang kini hampir jadi sarjana itu pun menoleh, "Aku sudah semakin baik. Saat kembali nanti, aku akan langsung mengambil ujian untuk jadi sarjana."
"Tidak! Aku akan meminta percepatan pada Kakak Yun," sangkal Li Chen, "Kamu saja bisa. Kenapa aku nggak?"
"Hm, coba saja," Li An mengulas secarik senyum halus, "Ujian itu tak semudah yang kamu kira."
Aku pasti bisa," balas Li Chen optimis. Li An pun mengelus kepalanya seperti Li Huanran mengelus dulu. Ia lantas berkata dengan senyumnya yang khas, "Ya, kamu pasti bisa."
Sang Pangeran Kedelapan pun ikut membaca sebuah kitab, tapi kitab yang berbeda dari buku-buku yang Li Chen pelajari. Itu adalah buku berbahasa asing pemberian Ali. Ia sudah lumayan mampu memahaminya sedikit demi sedikit. Dari kitab itu, ia belajar banyak hal.
Hari demi hari berlalu di ibu kota Kerajaan Kiri dengan tenang. Li An mendokumentasikan segala peristiwa yang terjadi selama di sana. Ia juga sekalian berkoordinasi dengan cabang-cabang terdekat Serikat Dagang Fuli.
__ADS_1
Saat waktunya tiba nanti, ia pasti akan mengembangkan serikatnya sampai ke negeri ini, bahkan sampai ke Kerajaan Tengah dan Kerajaan Kanan. Ia juga sudah membidik sebuah negara di kepulauan di timur. Dalam waktu dua atau tiga tahun, mungkin ia juga akan membuka cabang di sna.
***
"Delegasi dari kekaisaran ada di sana. Apa kamu yakin kita bisa menyerang Ibu Kota Kiri dengan pasukan yang ada?" tanya seorang prajurit pengintai yang baru saja meninggalkan ibu kota. Ia berhenti di atas bukit bersama kawannya. Dilihatnya ibu kota Kerajaan Kiri yang masih terlihat tanang dan damai dari luar, padahal benteng-benteng pertahanan terdepan mereka sudah mulai direbut satu per satu.
"Kenapa tidak? Menurut laporan, pasukan delegasi tidaklah banyak?" kata kawannya yang bercaping lebar, "Kalau kita bisa menakhlukkan ibu kota secepat mungkin, benteng-benteng mereka akan ikut runtuh dengan sendirinya. Kita juga bisa menyandera para duta dari kekaisaran. Kudengar, ada beberapa pangeran dan putri kekaisaran di antara mereka."
"Itu gegabah. Kamu kira kekaisaran tidak akan peduli dengan anak-anaknya? Kita bisa hancur kalau sampai kekaisaran mengerahkan kekuatan penuhnya," si prajurit pengintai menimbang-nimbang. Si caping lebar pun menimpali, "Justru karena itu, kita harus bisa menyandera para pangeran dan putri agar kekaisaran tidak macam-macam. Kudengar, ada putri dari permaisuri yang paling dicintai oleh kaisar. Dia akan menjadi mangsa utama kita."
Si prajurit pengintai pun terdiam. Penyelidikan mereka kali ini memberikan informasi yang sangat bermanfaat. Tak rugi mereka mempertaruhkan nyawa dengan menyusup ke dalam kota yang dijaga ketat. Mereka harus segera melaporkan hal ini pada komandannya segera.
Sesampainya di kamp terdekat, kedua pengintai itu langsung melaporkan pengamatannya. Komandan mereka berseru senang mendengar kabar itu. Ia pun memerintahkan seluruh pasukannya untuk bersiap. Saatnya melakukan serangan kejutan.
Mereka pun mendaki gunung dan menyusuri lembah. Dengan hati-hati, mereka menghindari setiap pos pertahanan Kerajaan Kiri. Tujuan utama mereka adalah mengacaukan konsentrasi musuh dengan menyerang ke pusat pemerintahannya secepat mungkin, bukan menaklukkan. Namun, rupanya komandan mereka memiliki ambisi yang lebih besar dari itu.
Sayang, sungguh disayangkan. Mereka punya pengintai, kekaisaran pun punya pengintai. Pergerakan pasukan pelopor telah terdeteksi sejak awal oleh pasukan yang Li Xiang kendalikan.
Pangeran Ketujuh itu sedang menduduki kota benteng yang terdekat dengan ibu kota. Saat menerima laporan dari mata-matanya, ia langsung membuat keputusan cepat. Ini sungguh kesempatan emas. Padahal, ia sempat mengira bahwa dirinya akan bosan karena di tempatkan di garis belakang.
Sebuah seringai seram terukir di wajah Sang Pangeran Ketujuh. Ia memberi perintah pada pasukan yang dibawanya, "Kerajaan Kiri terlalu lama membuat keputusan, sementara musuh sedang mengincar adik-adikku yang manis di kota mereka. Apa musuh meremehkan kekaisaran? Bawa sebagian pasukan ke ibu kota! Amankan delegasi sebelum musuh menyerang! Sisanya ikut aku menyergap musuh dari belakang. Mari tunjukkan kekuatan Pasukan Baja Merah."
"Ha ...!" seru Pasukan Baja Merah yang Li Xiang kendalikan.
__ADS_1