Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Menjadi Kaisar?


__ADS_3

Li Xiang baru saja selesai menghadiri kelasnya. Hal pertama yang terpikir olehnya begitu sampai di halaman kuil sekolah adalah Li An. Ia belum membuat perhitungan dengan adik terdekatnya itu. Hari ini juga, ia akan datang memberinya pelajaran.


“Pangeran Kedelapan dan Putri Ketiga pindah ke Paviliun Aixin. Mari kami antar ke sana, Pangeran Ketujuh,” seorang kasim rendah menawarkan. Li Xiang langsung menolak tawaran itu. Sebagai pangeran yang suka keluyuran di istana, ia hafal hampir semua tempat di sana. Jadi, menemukan Paviliun Aixin bukanlah masalah sulit.


“Paviliun Aixin, ya? Tapi … kenapa Kakak Huanran dan bocah itu malah pindah ke sana. Itu kan rumah yang kecil,” Li Xiang bergumam sendiri selama perjalan. Saat sampai di tempat tujuan, ia melihat para dayang masih sibuk menatakan beberapa barang. Pengeran Ketujuh pun memutuskan untuk melewati mereka begitu saja. Ia berencana masuk lewat pintu belakang yang diketahuinya.


“Aku yakin lubang itu di sini,” Li Xiang berjalan sambil meraba dinding. Ia memperhatikan tembok tinggi itu dengan saksama. Matanya memindai dengan teliti permukaan tanah yang ada di hadapannya.


Suara meongan seekor kucing membantunya menemukan lubang itu. Li Xiang pun tersenyum senang dan berterima kasih pada kucing kecil yang berdiri di depan jalan rahasianya tersebut. Ia mengelusnya lembut dengan gemas. Kalau saja di Istana Kebahagian Abadi boleh memelihara kucing, ia pasti akan memungut kucing oranye yang menggemaskan ini.


“Hai! Kamu apain Miao-Miao?” seruan seorang bocah terdengar dari atas. Li Xiang pun menoleh dan mendapati adik yang dicarinya sedang berjonkok di ujung pagar yang tinggi. Ia sampai melongo sesaat begitu melihatnya.


“Miao-Miao?” Li Xiang tidak mengerti.


Pangeran Kedelapan pun melompat turun dari pagar. Ia segera merebut kucing yang sedang digendong oleh Li Xiang. Matanya menatap tajam. Ia lantas menginterogasi tamu tak diundangnya itu, “Siapa kamu? Pencuri kucing?”


“Apa? Aku bukan pencuri kucing! Aku Li Xiang, Pangeran Ketujuh. Harusnya kamu hormat sama kakakmu,” jawab Li Xiang marah. Ia tidak menyangka akan mendapat perlakuan buruk lagi begitu bertemu dengan adik pertamanya ini. Padahal, ia ingin bermain santai saja dengannya. Namun, perbuatan bocah itu tidak bisa diterima.


“Hah, lubang apa ini? Sejak kapan ada di sini?” Li An malah mengabaikan bentakan Pangeran Ketujuh. Ia memperhatikan lubang di pagar kediamannya yang terlihat cukup besar. Setidaknya muat untuk bisa dilewati seorang anak kecil. Kalau ia tahu ada lubang di situ, ia pasti tidak perlu repot-repot memanjat dinding untuk menemukan Miao-Miao. “Hm ... ini harus segera diperbaiki. Kalau nggak ….”


“Kamu …,” seruan Li Xiang berhenti begitu mendapat tatapan sinis dari Li An.


“Apa?” tanya Li An dingin, lalu kembali menuduh Li Xiang, “Kamu yang buat lubang ini?”


“Bukan! Lubang ini sudah ada dari dulu,” jelas Li Xiang yang tidak terima dengan tuduhan asal itu. Tangannya mengepal. Ia sangat ingin menjitak kepala adiknya itu. Toh, tidak ada yang melihat mereka di sini.


“Miao-Miao!” Li An pergi meninggalkan Li Xiang begitu saja saat kucingnya melompat dan masuk kembali ke Kediaman Selir Ai melalui lubang kecil di temboknya. Li Xiang pun mematung sesaat. Ini pertama kalinya ia diabaikan separah itu. Pangeran Ketujuh pun segera menyusul masuk ke dalam lubang untuk menuntut perhitungan.


“Xiang’er?” suara seorang gadis menyambut Li Xiang begitu mendongakkan kepalanya. Ia melihat Li Huanran tengah berkacak pinggang di hadapan Li An. Wajahnya terlihat galak, sedangkan Li An sendiri membuang muka, menghindari tatapan galak itu sambil tetap menggendong kucingnya. Li Huanran pun bertanya, “Apa jangan-jangan kamu yang mengajari Li An keluar sembarangan kayak gini?”


“Apa?” Li Xiang lagi-lagi dituduh, “Bukan ak ….”


“Haduh … baju kalian kan jadi kotor,” keluhan Li Huanran memotong ucapan Li Xiang yang hendak menyangkal. Entah mengapa Li Xiang tak dapat membantah setelah itu. Ia pun hanya dapat menuruti perintah mutlak kakaknya, “Ganti baju dulu sana! An’er, kamu juga. Kasih Miao-Miao ke Mimi. Kalian nggak boleh ulangi ini lagi.”


“Kakak Aneh, kamu belum jawab pertanyaanku. Ngapain Kakak di sini?” tanya Li An dengan dingin. Ia sudah selesai mengganti bajunya. Dengan buku di tangannya, bocah itu membaca di atas ranjang sembari menunggu jawaban Li Xiang.


“Namaku Xiang. Jangan panggil aku Kakak Aneh!” sewot Li Xiang kesal. Ia meminjam baju Li An untuk sementara. Untung saja ukurannya cukup pas. Bajunya yang tadi ia pakai sedang diurus oleh dayang-dayang Li Huanran sekarang.


“Iya, iya. Terus, ngapain Kakak Xiang ke mari?” Li An mengubah panggilannya terhadap Pangeran Ketujuh. Nada bicaranya pun terdengar lebih lembut. Tidak terdengar mengesalkan lagi.


“Aku …,” entah mengapa Li Xiang kehilangan tujuannya datang ke mari. Mungkin karena kucing yang menggemaskan tadi. Atau mungkin karena kebaradaan Li Huanran di sini. Bisa juga karena nada bicara Li An yang berubah halus.

__ADS_1


“Apa Kakak Xiang benaran mau mencuri Miao-Miao? Nggak boleh. Miao-Miao punyaku,” ucapan Li An kali ini tetap membuat Li Xiang kesal walaupun terdengar lembut dan datar. Pangeran Ketujuh itu tidak terima terus dituduh sembarangan. “Lagian, Miao-Miao itu siapa?”


“Kucing. Kakak nggak boleh ambil kucingku. Cari kucing sendiri sana!” Li An ikut meninggikan suara begitu Li Xiang membentaknya. Ia menaruh bukunya, lantas bangkit dari duduk dan berdiri tegap di hadapan Pangeran Ketujuh. Matanya memandang penuh intimidasi. Namun, itu tidak berpengaruh pada Li Xiang.


“Hai! Kalian jangan berantem!” Li Huanran datang tiba-tiba sampai mengagetkan kedua pangeran. Ia bergegas masuk saat mendengar suara adik-adiknya yang mulai ribut. Untung saja dia datang tepat waktu. Kalau tidak, mungkin Li An sudah saling pukul dengan Li Xiang sekarang.


“Dia dulu …,” Li An tak dapat menyelesaikan kata-katanya karena Li Huanran membentaknya untuk diam. Gadis itu pun mengomel lagi, lantas menyuruh mereka keluar dari kamar setelah puas berceramah. Ia menghela napas lega karena konflik kecil ini tak jadi timbul.


“Nah, sebagai saudara, kita harus saling menjaga dan akrab. Silakan nikmati tehnya,” Li Huanran sukses membuat kedua adiknya berkumpul di saung taman. Camilan dan teh yang hangat sudah disiapkan di sana. Ini adalah waktu yang tepat untuk merajut kembali hubungan antara Pangeran Ketujuh dan Pangeran Kedelapan yang kemarin belum sempat terjalin baik.


“Kakak Xiang, kamu masih belum juga menjawab pertanyaanku. Ngapain Kakak ke rumahku?” Li An mengulangi pertanyaan yang sama. Li Xiang tak bisa langsung menjawab. Niat awalnya adalah menunjukkan kekuasaannya dan memberi pelajaran pada Li An. Namun, tentu ia tidak bisa mengatakannya sekarang karena Li Huanran akan segera menendangnya ke luar jika ia berkata sembarangan.


“Aku …,” Li Xiang masih kesulitan menjawab. Ia pun melirik Miao-Miao yang makan di depan Pangeran Kedelapan dengan santainya. Sebelum ia sempat menjadikan kucing itu sebagai alasan, Li An sudah lebih dulu menuduhnya lagi, “Kakak beneran mau mencuri kucingku kan? Sudah kubilang, cari kucing sendiri sana!”


“Bukan!” Li Xiang spontan menyangkal. Tangannya mengepal. Ia sangat ingin memukul bocah yang asal-asalan menuduh itu


“Eh? Xiang’er suka kucing?” Li Huanran masuk dalam diskusi. Suaranya yang lembut mendinginkan suasana. Ia sempat memperhatikan gerak-gerik ketertarikan Li Xiang pada Miao-Miao. Karena itu, ia bertanya untuk memastikan.


“Hm … entahlah. Mungkin?” Li Xiang menyesuaikan intonasi bicaranya dengan Li Huanran. Suaranya tidak meninggi seperti tadi. Ia bisa mengobrol santai dengan kakaknya yang lebih dewasa, “Tapi … Istana Kebahagiaan Abadi melarang kita punya kucing. Kenapa bocah ini memelihara kucing?”


“Namanya An. Tolong panggil dia dengan benar. Paviliun Aixin adalah asetnya. Jadi, ia bebas memiliki apa pun di sini selama itu bukan benda-benda terlarang seperti alat perang, peta bintang, dan sejenisnya,” jelas Li Huanran. Ia menatap Li An selama beberapa saat. Bocah yang dibicarakan itu malah lebih asyik dalam dunia bukunya sendiri sembari bermain bersama Miao-Miao dengan seutas tali.


“Apa? Bukannya paviliun hanya untuk orang-orang dewasa? Kenapa dia bisa mendapatkannya?” Li Xiang merasa iri. Namun, setelah memperhatikan lebih jeli lagi, ia yakin bahwa tempatnya di Istana Kebahagiaan Abadi lebih baik. Paviliun ini terlalu kecil baginya.


“Aku mana peduli? Biarkan saja paviliun kecil ini menjadi miliknya. Seluruh Kekaisaran Tang bakal jadi milikku waktu aku jadi kaisar nanti,” Li Xiang menepuk-nepuk dadanya, meninjukkan rasa percaya dirinya yang besar. Bukannya mendapat pujian, ia malah mendapat sentilan keras dari Li Huanran di dahinya.


“Ambisimu besar sekali. Gimana kamu bersaing sama Kakak Pertama nanti? Kakak Pertama sudah punya banyak prestasi, sedangkan kamu masih bocah,” kritik Li Huanran. Begitulah faktanya. Saat ini, Pangeran Pertama, Li Zhang adalah Putra Mahkota Tang. Posisinya bertambah kuat berkat Permaisuri Eminen ada di sisinya.


“Lihat saja nanti! Aku pasti bakal jadi lebih baik dari Kakak Pertama,” Li Xiang tetap berambisi. Ia pun mengambil sebuah kue kering. Saat ia sedang asyik menikmati camilannya, tiba-tiba Li An bersuara, “Apa bagusnya jadi kaisar? Emangnya Kakak Xiang nggak takut duduk di sana?”


“Hah? Buat apa takut?” Li Xiang tidak mengerti arah pertanyaan adiknya. Namun, ia tetap merasa tersindir. Li Huanran pun hanya menggeleng pelan tanpa berkomentar. Cukup mengherankan pertanyaan semacam itu dapat keluar dari lisan seorang bocah yang baru menginjak enam tahun, tapi seakan ia telah mencicipi pahit asamnya kehidupan.


“Kakak bo …,” kepala Li An lebih dulu mendapat jitakan Li Huanran sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya. Ia pun melotot pada Putri Ketiga itu. Wajah sang kakak yang sama sekali tidak merasa bersalah membuatnya jadi kesal.


“Apa?” Li Xiang penasaran, maka Li Huanran yang menjawab, “Kamu harus banyak membaca. Itu maksud An’er.”


“Buk …,” Li An ingin menyangkal, tapi lagi-lagi terdiam karena senyum seringai dan tatapan tajam Li Huanran menyuruhnya diam. Ia pun ditegur oleh sang kakak, “An’er, kamu harus pandai-pandai menjaga ini atau hidupmu tidak akan tenang.”


Li Huanran menunjuk mulut Li An. Ia pun berceramah panjang sampai Li Xiang ikut jenuh mendengarnya. Sepanjang Putri Ketiga mengomel, Li An bermain bersama Miao-Miao sambil tetap menyimak.


“Kamu mengerti?” Li Huanran menutup omelannya.

__ADS_1


“Iya,” jawab Li An singkat. Wajahnya datar seolah tak peduli, tapi ia merenung benar-benar dalam hati. Bocah itu bisa mengerti pesan kakaknya untuk menjaga tutur kata. Ia pun ingat bagaimana Li Xiang nyaris memukulnya karena ia asal menuduh dan bicara sembarangan tadi. Setelah lama terdiam, ia berkata pada Li Xiang yang masih saja makan camilan dengan lahap, “Kakak Xiang, aku minta maaf.”


“Hm? Kenapa?” Li Xiang menoleh. Ia cepat sekali melupakan masalahnya dengan orang lain. Li An pun hanya menatapnya datar. Dalam hati Pengeran Kedelapan itu, ia masih menganggap kakak terdekatnya bodoh. Namun, ia tetap mengulangi kata-katanya, “Maaf.”


“Bagus, kalian harus berhubungan dengan baik. Bagaimanapun kondisinya, kita tetap bersaudara,”Li Huanran menepuk tangannya sekali tanda senang. Ia tersenyum manis, lantas melanjutkan obrolan ke topik lainnya. Ketika mentari mulai condong ke ufuk barat, Li Xiang pamit untuk pulang. Dia kembali ke Istana Kebahagiaan Abadi tanpa sempat menunaikan hajatnya. Ia bahkan lupa dengan hal itu.


“Bukannya kamu diminta bertemu ayahanda kaisar sore ini? Kamu belum mau siap-siap?” tanya Li Huanran setelah mengantar kepergian Pangeran Kedelapan. Li An hanya menoleh. Ekspresinya yang keheranan seolah bertanya, “Buat apa siap-siap sekarang?”


“Aku bukan anak perempuan yang butuh waktu seharian buat berdandan dan menata rambut. Aku mau ke Pagoda Arsip Kecil sekarang,” akhirnya Li An menjawab. Ia ikut bangkit dan menyerahkan Miao-Miao pada Mimi. Kemudian, ia berdiri termenung menimbang-nimbang.


“Hm, benar juga,” Li Huanran seolah baru sadar bahwa adiknya itu tidak suka berias diri, “Tapi, bukannya kamu bakal telat kalau ke sana sekarang. Pagoda Arsip Kecil agak jauh. Harusnya kamu berangkat lebih pagi kalau mau ke sana.”


“Aku maunya begitu, tapi ada orang yang mengomel terus dari pagi,” sindir Li An.


“Wah … orang itu nggak bakal mengomel kalau kamu jadi anak manis dan penurut,” balas Li Huanran dengan senyum manisnya. Ia dalam mode siap bersilat lidah. Sayangnya, Pangeran Kedelapan adalah anak berkepala dingin. Ucapannya membuat Li Huanran tak jadi bertutur panjang lebar.


“Aku mau istirahat di kamar. Jangan ganggu aku,” kata Li An, lantas pergi begitu saja meninggalkan kakaknya.


...***...


“Ini adalah tulisan tangan Pangeran Kedelapan yang diserahkan oleh Pustakawan Ma,” seorang menteri tua menyerahkan tumpukan kertas yang dijilid rapi kepada Kaisar Yung Wei, “Isinya adalah sajak Dinasti Pertama. Beliau menyalin sajak ini karena tidak sengaja merusakkan buku yang dipinjamnya.”


“Dia membaca tulisan-tulisan seperti ini? Apa dia mengerti isinya?” tanya Kaisar Yung Wei setelah memeriksa secara singkat jilid yang diserahkan menteri kepercayaannya. Telunjuknya mengetuk meja berkali-kali, menunggu jawaban dari sang menteri.


“Pustawakan Ma bilang, Pangeran Kedelapan sangat aktif bertanya. Secara tidak langsung, beliau belajar pada sarjana tua itu,” jelas sang menteri, “Saya memang belum pernah bertemu dengan beliau. Namun, bila yang dikatakan Pustakawan Ma benar, saya yakin Pangeran Kedelapan akan menjadi orang besar ketika dewasa nanti.”


“Yah, kuharap semua keturunanku dapat menjadi orang-orang yang hebat. Yah ... walaupun aku sendiri masih belum dapat sehebat ayahku selama menjadi kaisar. Beliau adalah jenderal yang hebat, sementara aku selalu hidup di balik meja kerjaku dengan segunung urusan,” Kaisar Yung Wei meletakkan buku salinan putranya. Ia pun menatap langit di luar jendela. Dilihatnya burung-burung berterbangan dengan bebasnya.


"Anda adalah Kaisar Yung Wei Yang Agung. Prestasi Anda tidak kalah dengan kaisar terdahulu," hibur sang menteri dengan tulus. Dilihatnya Kaisar Yung Wei tengah tenggelam dalam angannya. Ia pun mencoba untuk menebak isi pikiran kaisar bermata sendu itu.


Jika direnungkan kembali, hidup menjadi kaisar itu tidaklah seindah yang dibayangkan. Walaupun memiliki banyak anak, selir, dan harta, serta kekuasaan, semuanya akan sirna ketika ajal menjemput. Hidupnya pun tak pernah benar-benar bebas. Ada tanggung jawab besar yang menimpa di bahunya. Waktu pun tak mau berkompromi, apalagi iba dengan dirinya yang selalu sibuk mengurus negara nan luasnya membentang dari ufuk timur sampai ufuk barat.


“Saat anak-anakku besar nanti, mereka pasti bisa menggantikanku sehingga aku bisa pensiun dengan tenang kan?” Kaisar Yung Wei bertanya pada dirinya sendiri, kemudian menatap menterinya untuk bertanya, “Putra Aixin memiliki kecerdasan yang lebih dari saudara-saudaranya. Menteri Liu, apakah menurutmu dia akan mampu menanggung beban kaisar?”


“Saya yakin beliau bisa,” jawab Menteri Liu sekadarnya. Ia adalah menteri yang bertanggung jawab atas administrasi kekaisaran. Karena itu, ia akrab dengan Kakek Ma yang menjaga Pagoda Arsip Kecil, “Namun, saya khawatir Pangeran Kedelapan tidak akan menerimanya.”


“Kenapa begitu?” Kaisar Yung Wei mengernyitkan dahi.


“Pustakawan Ma selalu bercerita bahwa Pangeran Kedelapan sangat benci dengan kekuasaan. Beliau telah menelan banyak buku-buku sejarah. Jadi, saya yakin beliau membenci takhta karena mengerti dengan tinta merah yang ditorehkan padanya,” Menteri Liu berpendapat. Ia merupakan paman dari Permaisuri Eminen. Sebagai menteri yang paling dekat dengan Kaisar Yung Wei, tentu kata-katanya dapat mempengaruhi keputusan sang kaisar.


“Hm … siapa yang tahu? Aku akan bertanya sendiri padanya nanti,” Kaisar Yung Wei tersenyum tipis. Ia pun mempersilakan Menteri Liu untuk pergi. Setelah kantornya kembali kosong, ia menghembuskan napasnya panjang. Pekerjaan yang berat masih menghantuinya, tapi ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan salah seorang putranya yang paling jauh.

__ADS_1


Di lorong, Menteri Liu berjalan dengan wajah yang suram. Ia segera kembali ke kantornya untuk menulis sepucuk surat. Setelah suratnya tersegel dengan stempel khusus, ia pun meminta seorang kurir kepercayaannya untuk mengantar gulungan itu kepada Keluarga Liu. Inti suratnya hanya satu, “Awasi pergerakan Pangeran Kedelapan!”


__ADS_2