
“An’er, apa kamu akan menerimanya?” tanya Li Xiayu penasaran.
“Ha?” Li An menatap heran pada kakaknya yang sudah heboh pagi-pagi begini, “Sejak kapan Kakak memanggilku begitu?”
“Kenapa? Tidak boleh?” tanya Li Xiayu ketus. Ia merasa sedikit tersinggung karena malah mendapat pertanyaan itu dari Pangeran Kedelapan. “Aku mendengarnya dari dayangmu. Katanya, begitu cara Kakak Ketiga dan para putri Pangeran Zhizhe memanggilmu. Masa aku tidak boleh?”
“Bukannya tidak boleh,” Li An menjawab datar, tidak ingin terlalu reaktif pada Li Xiayu yang mudah berubah perasaan, “Aku cuman kagum saja Kakak bisa akrab secepat itu.”
“Hah! Apa—?” Li Xiayu ingin protes, tapi ia segera menggelengkan kepala dan mengembalikan pertanyaan pertamanya, “Ck! Lupakan! Jadi, apa kamu akan mengambil gadis itu sebagai selirmu?”
“Aku tidak memikirkannya,” Li An kembali menjawab dengan datar.
“Jangan bohong,” Li Xiayu menatap Pangeran Kedelapan dalam-dalam, “Aku tahu kamu tertarik dengannya. Aku sudah bertemu gadis bernama Asina itu, tahu? Dia baik hati dan cantik. Hanya orang bodoh yang akan menolaknya.”
“Kalau begitu, angkat saja dia sebagai dayang Kakak,” Li An malah memberikan usulan yang sangat tidak terduga, “Kakak tertarik dengannya, kan? Kakak bisa membawanya dengan cara itu. Melihat sikap khagan, sepertinya ia tidak akan peduli dengan nasib putrinya di negeri orang.”
“Kau—!” Li Xiayu tiba-tiba menarik kerah baju Li An. Ada kemarahan yang berkobar di matanya. Tangannya terangkat tinggi-tinggi. Dalam sekali gerakan, tangan itu melayang ke pipi Li An. Ia pun membentak, “Jangan pandang para wanita seperti barang begitu! Kamu—!”
“Yang Mulia!” Mimi yang baru saja hendak mengantarkan cemilan segera melerai Li Xiayu dari Li An. Ia amat kebingungan saat ini. Ia ingin marah menggantikan Pangeran Kedelapan, tapi tidak mungkin karena posisinya hanyalah seorang dayang. Putri Ketujuh malah akan semakin marah jika ia bertindak kurang ajar begitu.
“Aku tidak pernah memandang kalian seperti itu,” ucap Li An setelah suasananya sedikit lebih dingin. Li Xiayu tercengang melihat luka di pipi saudara tirinya seolah baru sadar dengan apa yang barusan ia perbuat. Tangan halusnya yang kecil gemetaran entah karena apa. Ia pun mendengar Li An melanjutkan kata-katanya, “Namun, umumnya masyarakat berpikir seperti itu. Kalau kamu bukan wanita yang terhormat, kamu akan dipandang sebelah mata. Seorang putri seperti Asina pun masih bisa mendapat perlakuan rendah seperti itu. Karena itu, Kakak bisa menyelamatkannya, bukan?”
“Apa maksudmu?” Li Xiayu tak mampu mencerna langsung semua kata-kata yang Li An ucapkan. Pikirannya sedang kalut karena perbuatannya barusan. Emosinya juga masih belum stabil. Ia bahkan tengah berada di bawah penjagaan Mimi.
__ADS_1
“Kakak berempati pada gadis bernama Asina itu, kan?” tanya Li An memastikan sebelum ia menjelaskan lebih lanjut pada kakaknya. Setelah mendapati Li Xiayu mengangguk, barulah ia melanjutkan, “Kakak bisa memberinya tawaran untuk bekerja pada Kakak. Jika ia menerimanya, Kakak mungkin bisa menjodohkannya dengan salah satu saudara Kakak.”
“Merepotkan,” ujar Li Xiayu malas, “Kenapa bukan kamu saja yang menikah dengannya? Yang mendapat tawaran dari khagan kan kamu? Kamu juga saudaraku.”
“Aku …,” Li An memalingkan wajahnya sedikit. Wajah Putri Kecil terlintas sekilas di pikirannya. Pipinya pun samar-samar merona—sangat samar sampai tidak akan dapat terlihat kecuali jika kamu memperhatikan mimik Pangeran Kedelapan baik-baik. “Sudah punya janji dengan seseorang.”
“Eh? Apa?!” Li Xiayu sampai memukul meja saking kagetnya. Ia tidak pernah mendengar berita seperti itu selama di kekaisaran. “Jangan-jangan ….”
“Bukan, bukan gadis dari Tarkan,” Li An langsung menggeleng seolah tahu apa yang Li Xiayu pikirkan, “Lagi pula, ayahanda telah melarangku untuk menikah dengan gadis dari bangsa lain sebelum aku menikahi seorang gadis dari bangsawan kekaisaran.”
“Oh, jadi karena itu kamu menolaknya,” Li Xiayu pun manggut-manggut paham. Sekejap kemudian, ia menoleh pada Mimi dan bertanya, “Bibi, apa kamu tahu siapa gadis yang bertunangan dengan An’er?”
“Eh? Ah! Maaf, Tuan Putri,” Mimi menggeleng setelah sempat terkejut sebentar, “Saya tidak tahu.”
“Saya sudah mengatakan dengan sejujur-jujurnya, Tuan Putri,” jawab Mimi kalem, “Lagi pula, saya tidak memiliki kewajiban untuk mengikuti perintah Anda. Seandainya Pangeran Kedelapan sudah memerintahkan saya untuk merahasiakan sesuatu, saya pasti akan merahasiakannya.”
“Tuh, kan? Kamu pasti tahu!” Li Xiayu malah semakin sengit mendesak Mimi untuk menjawab rasa penasarannya, “Cepat katakan! Siapa tunangan Adik Kedelapan?”
“Aku belum punya tunangan,” Li An yang menjawab langsung, “Janji itu adalah janji tertulis yang kuikat dengan keluarganya.”
“Itu namanya pertunangan!” Li Xiayu membentak Li An dengan keras. Ia pun kembali meraih kerah Pangeran Kedelapan untuk meminta penjelasannya. “Hai, cepat katakan! Siapa gadis itu?”
“Tu–Tuan Putri!” Mimi langsung menarik Li Xiayu agar gadis itu tidak bertindak sembarangan lagi seperti tadi. Li XIayu pun meronta. Namun, kekuatannya jauh di bawah Mimi karena ia adalah gadis yang lebih suka bermalas-malasan seperti kebanyakan putri lainnya.
__ADS_1
“Buat apa Kakak tahu?” Li An malah balik bertanya, “Itu tidak penting buat Kakak.”
“Itu penting untukku!” Li Xiayu yang masih dalam pegangan Mimi berseru, “Dasar laki-laki! Kalian memang tidak peka.”
“Hah~” Li An menghela napas. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan di sini. Waktu istirahatnya pun sudah hampir habis. Sudah tiba baginya untuk pergi bekerja, “Aku pamit dulu, Kakak. Tetaplah di kamar seperti biasa. Mimi akan menemanimu sampai kami kembali.”
“Hai! Jawab dulu pertanyaanku!” Li Xiayu tidak terima lantaran ditinggal begitu saja. Namun, ia tidak bisa berbuat apa pun karena Mimi menahannya. Pada akhirnya, ia hanya dapat pasrah dan duduk tenang bersama Mimi yang tersenyum simpul padanya.
***
“Saya mendengar suara ribut barusan,” sebuah suara terdengar begitu Li An keluar dari Istana Tamu. Ia pun menoleh dan mendapati seorang pria yang usianya mungkin sepantaran dengan Wang Hongli. “Apa Tuan Putri memarahi Anda?”
“Anda menguping pembicaraan kami, Patih Olav?” Li An balik bertanya dengan dingin.
“Bukan begitu, Pangeran!” orang yang dipanggil Patih Olav segera menggeleng, “Saya baru saja datang. Saya sama sekali tidak menguping pembicaraan Anda berdua. Jadi, apa Tuan Putri memarahi Anda? Bekas tamparan itu masih jelas di sana.”
“Hah?” Li An langsung menyentuh pipinya yang tadi ditampar oleh Li Xiayu. Tamparan itu memang tidak menyakitkan, tapi ia tak menyangka bahwa itu akan berbekas. Akhirnya, Li An pun membalas, “Ck! Tuan Putri hanya meminta penjelasan.”
“Pfth!” Patih Olav terkekeh. Ia pun menepuk-nepuk pundak Li An. “Ya ampun, Baginda Khagan sudah membuat Anda kerepotan. Semoga Tuan Putri cepat mengerti.”
“...”
Li An tak membalasnya lagi. Ia sudah cukup berbicara. Patih Olav ini terkenal dengan mulutnya yang cerewet. Lebih baik tidak menyebarkan rumor yang lebih banyak lagi.
__ADS_1