
“Kamu bersumpah setia pada Pangeran Kedelapan?” Yun Jili mengerutkan kening begitu mendengar cerita sahabatnya. Itu berita yang cukup mengejutkan di sela istirahat mereka. Sang Sarjana Rubah Perak pun menambahkan pertanyaannya setelah Wang Hongli mengangguk, “Apa kamu nggak terlalu buru-buru? Pangeran Kedelapan masih kecil. Ada kemungkinan kita bakal diganti suatu saat nanti.”
“Aku sudah melaporkan sumpahku pada baginda kaisar. Beliau pun menyetujuinya. Jadi, aku tidak akan diganti sampai jiwaku terbang ke langit,” jawab Wang Hongli dengan santainya. Yun Jili malah tertawa mendengar halnya. Tawanya itu terdengar mengejek.
“Kamu serius? Aku sama sekali tidak mengerti dunia pendekar. Semudah itukah kalian menyerahkan hidup pada orang lain?” Yun Jili sungguh-sungguh bertanya. Senyum tipisnya yang khas tersungging di wajah, terlihat sedikit sisa tawa di sana.
“Nggak dong. Aku orang yang idealis, bukan cuanis. Nggak semudah itu aku kasih sumpah setia. Yah, cuman nggak sangka saja bisa bertemu orang yang cocok secepat ini,” Wang Hongli bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar saung. Ia pun memungut sebuah ranting. Dengan ranting itu, ia menulis aksara hanzi yang berarti ‘kesetiaan’.
“Pada umumnya, para pendekar tidak bersumpah setia. Mereka memiliki idealoginya masing-masing. Ada yang bergabung dalam sebuah serikat keadilan, menjadi tentara bayaran, atau meniti karir dalam dunia kemiliteran,” jelas Wang Hongli, “Ada juga yang menjadi penjahat, penyamun, dan pemimpin kelompok berbahaya lainnya. Mereka adalah orang-orang bengis yang mengotori dunia persilatan.”
Wang Hongli membuat sebuah peta konsep di tanah. Ia menggambar hanzi, lalu melingkarinya. Ada beberapa lingkaran yang masing-masing menerangkan idealisme para pendekar yang berbeda-beda. Ia menggambarnya dengan rapi seoalah itu adalah hobinya yang sudah lama dilatih.
Yun Jili duduk terdiam memperhatikan penjalasan Sang Pendekar Cenangkas Kembar dari saung. Lengannya mematok pagar sambil memangku dagu. Sesekali alisnya mengernyit saat mendengar perkataan Wang Hongli.
“Mereka adalah cuanis,” Wang Hongli menunjuk bagan para tentara bayaran, biro pengawalan, dan lain sejenisnya. Ia pun mengalihkan rantingnya ke sisi kiri, bagan para penyamun, pembunuh, dan pesakitan lainnya, “Mereka adalah sampah yang harus dibersihkan.”
“Hah? Penggolongan macam apa itu? Tidak ada ajaran seperti ini di Perguruan Pedang Langit,” ucap Yun Jili mengkritik. Ia sangat yakin bahwa peta konsep itu hanya buah pikir Wang Hongli yang dibuat asal-asalan. Sejauh yang ia tahu, dunia pendekar tidaklah seperti itu.
“Tentu saja tidak. Kami belajar jurus-jurus dan praktek. Ini adalah hasil pengamatanku sendiri sejauh ini,” perkataan Wang Hongli membenarkan dugaan Sang Sarjana Rubah Perak tanpa sengaja, “Ini adalah kenyataannya. Kalau kamu membaca legenda-legenda, baru kamu akan menemukan yang namanya jurus-jurus gaib dan perubahan jenis atau apalah itu. Jurus-jurus yang katanya membuat si pengguna bisa menyemburkan api, menghancurkan benua, mengentas samudra, atau bahkan membelah langit.”
“Aku tahu itu, tapi … bukannya itu seru untuk dibaca? Imajinasi para pengarangnya sungguh luar biasa,” Yun Jili memekarkan kipasnya, senyum tipis tetap tersungging di wajahnya seperti biasa. Pujian untuk mereka amat tulus sedalam samudra.
“Yah … entahlah. Aku bukan penikmat legenda-legenda seperti itu,” Wang Hongli mengangkat bahu.
“Oh … apa kamu penggemar fiksi barat dan kisah-kisah kesatria? Apa karena itu kamu ikut-ikutan bersumpah kesatria? Kuakui, dongeng orang-orang benua barat memang cukup menarik,” tebak Yun Jili yang dibalas gelengan tegas oleh Wang Hongli.
“Itu tak ada hubungannya sama sekali,” bantah Wang Hongli, “Aku hanya … merasa sedikit mirip dengan Pangeran Kedelapan.”
“Hah? Mirip apanya? Kamu jelas berbeda jauh dengan anak jenius seperti pangeran,” canda Yun Jili dengan tubuh yang siap mundur kalau-kalau Sang Pendekar Cenangkas Kembar hendak menjitaknya. Itu menunjukkan sedikit sifat kekanak-kanakannya yang tersembunyi di balik senyum tipis sang sarjana. Sayangnya, Wang Hongli tidak menanggapi candaan itu.
“Kami mirip,” kata Wang Hongli sambil menatap tangan besarnya dengan sendu, “Aku lahir di sebuah keluarga besar. Ada banyak gejolak yang terjadi di sana selama masa suksesi dan transisi generasi. Ibuku jadi korban dalam gejolak itu. Makanya, aku bertekad untuk menjadi lebih kuat dan membalaskan dendamku. Aku masuk ke salah satu perguruan besar, berlatih di sana selama bertahun-tahun, dan menjadi kuat sesuai keinginanku, bahkan sampai terkenal di seantero kekaisaran. Semua itu semata-mata untuk membalaskan dendamku.”
Wang Hongli terdiam cukup lama. Pemuda gagah itu seolah sedang memikirkan banyak hal sekaligus menahan air mata. Ia terus menatap tangannya dengan pilu. Setelah beberapa saat hening, barulah ia melanjutkan, “Aku pernah pergi bersama seniorku. Kami sama-sama pendendam. Ia adalah anak yang terusir dari desanya karena ketamakan seorang tetua.”
“Aku ikut membersamai perjalanannya, mengamati pembalasan demdamnya dari jarak yang tak dekat maupun jauh. Menang jadi arang, kalah jadi abu. Ia berhasil menuntaskan dendamnya, tapi ia menjadi kosong hati sampai menggila akan penyesalan setelah itu.”
__ADS_1
Kisah Wang Hongli kembali terhenti. Ada senyum getir yang tersungging di bibirnya. Kenangan yang diceritakannya itu seolah kembali terjadi di pelupuk matanya. Ia pun meneruskan, “Dendamnya pada satu orang, tapi ia membantai seluruh desanya. Saat kembali bertemu denganku, ia sudah kehilangan akalnya. Ia tak mau melanjutkan hidup dan memintaku membunuhnya.”
“Kamu benar-benar membunuhnya?” tanya Yun Jili penasaran karena lagi-lagi Wang Hongli berhenti di tengah-tengah cerita. Sang Pendekar Cenangkas Kembar pun menoleh. Senyum getirnya semakin jelas, “Ya, aku terpaksa membunuhnya demi mempertahankan diri. Ia menyerangku tiba-tiba sehingga aku tak punya pilihan lain. Saat pedangku menusuk jantungnya, kulihat hanya ada penyesalan di wajahnya. Ia menangis darah di hadapanku, lantas berwasiat agar aku tidak mengikuti jejaknya.”
“Wah … sungguh dongeng yang menarik,” Yun Jili menanggapi cerita panjang itu dengan seulas senyum tipis tak percaya, lantas memberi saran dengan canda, “Kawan, imajinasimu sangat tinggi seperti para pengarang itu. Cobalah menulis legenda. Aku yakin kisahmu akan dikenang sepanjang masa.”
“Ck, terserah kamu mau percaya atau tidak,” Wang Hongli bedecak pasrah, “Bagiku, pengalaman itu adalah peringatan keras dari Tuhan agar aku mengubur dalam-dalam niat balas dendamku. Dendam itu hanya membawa pada kerugian dan kehancuran.”
“Lalu, apa miripnya kamu dengan Pangeran Kedelapan? Jelas sekali kalian jauh berbeda,” Yun Jili kembali ke topik awal.
Senyum di wajah Wang Hongli pun berubah ramah. Ada sinar harapan di sana. Ia pun menjawab pertanyaan sahabatnya itu, “Ibunda Pangeran Kedelapan sama seperti ibuku. Beliau tertelan oleh intrik para bedebah istana. Aku ingin membimbing dan memastikan Pangeran Kedelapan tidak mendendam atas tragedi itu. Karena itu, aku bersumpah setia padanya.”
“Hm, niatmu sungguh mulia. Aku menunggu kisahmu selanjutnya,” senyum tipis di wajah Yun Jili jadi terlihat menyebalkan. Akan tetapi, itu tak sampai membuat Wang Hongli hilang kesabaran.
“Pangeran Kedelapan tidak ingin menjadi kaisar, tapi Kaisar Yung Wei berharap ia menjadi kaisar. Setidaknya, itu yang kuamati sejauh ini. Semoga Pengeran Kedelapan tidak gelap hati di masa depan,” ucap Wang Hongli yang dibalas dengan tawa sindiran oleh Yun Jili
“Sungguh menarik,” kata Yun Jili setelah menyelasaikan tawanya, “Takdir Kaisar Seorang Pangeran yang Terbuang. Itu akan jadi judul yang sesuai untuk legendamu nanti. Sayangnya, sang pangeran tokoh utamanya menolak takdir kaisar itu. Ia ingin secepat mungkin terlepas dari cengkeraman istana. Anak itu takut harus bersimbah darah saudara-saudaranya. Jadi, ia mati-matian pergi dari mahligai terkutuk itu. Begitulah sosok pangeran kecil kita, Pangeran Kedelapan. Bagaimana? Bukankah skenarioku jauh lebih baik?”
“Yah, yah. Sarjana Rubah Perak memang ahlinya membuat legenda. Jangan campurkan aku dalam imajinasi liarmu itu,” Wang Hongli berpasrah dan membuang rantingnya. Ia pun menatap langit yang cerah. Dilihatnya mentari telah condong ke ufuk tenggelamnya. Pendekar Cenangkas Kembar pun mengajak sahabatnya pergi, “Ayo, waktu istirahat kita hampir habis. Pangeran pasti sudah menyelesaikan kelasnya hari ini.”
...***...
“Pangeran, apa Anda mengerti penjelasan saya?” tanya biksu tua yang bernama Lao Bao itu. Wajahnya telah dipenuhi kerutan. Rambut dan alisnya sudah memutih seluruhnya. Ia datang dengan jubah serba putih yang sederhana dan khas untuk sosok pertapa seperti dirinya.
“Ya, Guru. Salinglah tolong-menolong, bersikap jujur, dan berkasih sayang,” jawab Li An dengan nada yang malas. Ia sudah mengerti konsep kebajikan dasar ini tanpa diajari. Karena itu, matanya jadi semakin sipit seiring lamanya Lao Bao mengajar. Ia lebih suka hal-hal yang seru seperti perdagangan yang Yun Jili ajarkan.
“Pangeran, tamak adalah kekeliruan yang paling bodoh,” nasihat Lao Bao setelah mendengar curahan hati Pangeran Kedelapan. Li An pun membalas tanpa semangat sama sekali, “Iya, Guru benar.”
Dalam hati, Li An menggerutu. Ia suka perdagangan bukan berarti ia tamak. Kalau di kekaisaran ini hanya hidup para sufi saja yang tak peduli lagi dengan hal-hal keduniawian, maka kekaisaran ini akan jadi lemah dan terbelakang, baik dalam sektor ekonomi maupun politik. Itu adalah bencana besar yang harus dihindari. Li An amat kesal memikirkannya, tapi ia tak dapat berbuat apa pun. Yah, lagi pula biksu itu mengajar bukannya untuk menghambat pertumbuhan ekonomi kekaisaran.
“Kita sudah selesai?” tanya Li An lemas. Ia berpangku tangan dan menghela napas setiap beberapa menit sekali. Bekali-kali matanya menatap ke luar, menanti Yun Jili datang menjemputnya. Ia sudah tidak tahan duduk di kelas yang kaku ini.
Kebosanan pengeran kecil itu bukannya tidak dimengerti Lao Bao. Ia merasa wajar dan tetap bersabar saja mengajar Pangeran Kedelapan. Para putra kaisar yang lain bahkan bersikap lebih parah darinya. Jika dibandingkan dengan mereka, Li An tidak ada apa-apanya.
“Hah … baiklah, Pangeran. Anda bisa beristirahat sekarang,” Lao Bao pun menghentikan kelas privatnya saat Li An benar-benar mulai terlelap. Ia lantas segera pamit dan pergi dari Paviliun Aixin. Saat keluar dari Kediaman Selir Ai itu, sang biksu tua itu bertekad bahwa ia akan membuat Pangeran Kedelapan tertarik pada pelajarannya.
__ADS_1
“Kamu sudah bebas sekarang,” Li Huanran muncul dari balik pintu ruang privat Li An. Ia masuk sambil tersenyum lembut seperti biasa. Dilihat sang pangeran kecil yang terbaring lesu di lantai. Ia pun menghampirinya untuk menghibur pangeran kecil itu.
“Ini semua gara-gara Kakak!” Li An menyalahkan begitu duduk di tempatnya. Li Huanran yang sudah duduk di samping adiknya memiringkan wajah. Raut mukanya itu seolah bertanya-tanya, “Memangnya, apa salahku?”
“Sudahlah, kamu hanya perlu bersabar dan menerima apa adanya dengan syukur,” Li Huanran menarik Li An ke pangkuannya. Ia pun mengelus-elus kepala bocah itu dengan lembut agar membuatnya merasa baikan. Sebuah syair yang indah terlantun halus dari bibirnya.
Li An hanya mendengus setelah itu. Matanya perlahan terpejam. Ia hanyut dalam elusan kasih sayang Li Huanran. Sedikit demi sedikit, nyawanya pun menguap. Ia tertidur pulas dalam pangkuan sang kakak setelah lelah belajar dalam kebosanan yang mendalam.
“Apa? Sarjana Yun sudah sampai?” Li Huanran memastikan kabar yang Mimi melaporkan. Setelah kepala dayangnya itu mengangguk, ia pun mengatakan, “Tolong katakan pada Tuan Sarjana. Siang ini, Pangeran Kedelapan sangat kelelahan. Dia sedang tidur siang sekarang.”
“Baik, Tuan Putri,” Mimi memberi hormat. Saat ia hendak keluar, Li Huanran memberinya satu pesan lagi, “Sampaikan permintaan maafku padanya. Lain kali, An’er akan mengganti kelasnya siang ini.”
Yun Jili tidak mempermasalahkan hal itu. Sarjana berjuluk Rubah Perak itu bisa memaklumi Pangeran Kedelapan yang masih kecil. Ia pun kembali bersama Wang Hongli untuk bersantai sejenak. Akan ada banyak pekerjaan dari Kaisar Yung Wei yang menantinya sore ini.
“Rubah Perak, bagaimana rencanamu selepas jadi pengajar pangeran nanti?” tanya Wang Hongli menyibak kesunyian yang meliputi perjalanan mereka ke kota. Yun Jili tidak langsung menjawab. Ia berpikir sejenak dengan mata sipitnya yang terlihat nyaris terpejam.
“Entahlah? Aku bukan orang yang suka terikat seperti dirimu. Tergantung bagaimana pangeran bergerak nantinya,” jawab Yun Jili tanpa menoleh, “Aku ingin menikah dan memiliki keluarga bahagia. Kalau aku terus mengikuti pangeran seumur hidup, aku mungkin akan melajang selamanya.”
“Pft! Menikah!?” Wang Hongli tak kuasa menahan tawanya lantaran selalu teringat kisah tragis percintaan Yun Jili di masa lalu saat kawannya itu membahas olah pernikahan, “Sudah kubilang, para gadis takut dengan pria hantu seperti dirimu. Mereka selalu melarikan diri setiap kali melihat rambut putihmu yang panjang itu.”
“Kau!” Yun Jili menjitak kepala sahabat pendekarnya, “Asal kau tahu, aku sudah menemukan tepian hatiku.”
“Wah, ada yang baru nih. Gadis malang dari mana itu?” goda Wang Hongli sambil menghindari jitakan kedua sang Sarjana Rubah Perak. Yun Jili pun menjawab, “Seorang gadis menawan dari Paviliun Aixin.”
“Apa!? Jangan harap kamu bisa meminang putri kaisar,” bisik Wang Hongli memperingatkan. Mereka telah tiba di keramaian. Akan gawat kalau tiba-tiba pendekar itu berteriak.
Buk!
Lagi-lagi kepala Wang Hongli dijitak oleh sahabatnya. Yun Jili pun menerangkan dengan air muka yang kesal, “Bukan Putri Ketiga, tapi gadis yang selalu membersamainya. Ah, siapa namanya?”
“Mimi, kepala dayang dari Putri Ketiga,” jelas Wang Hongli sambil mengusap-usap kepalanya. Bagian yang dipukul dua kali itu sudah benjol sekarang. Walaupun ia seorang pendekar handal, bukan berarti ia bisa menghindari semua serangan tiba-tiba.
“Oh, namanya Mimi. Sungguh nama yang cantik,” Yun Jili tersenyum senang, “Huh, pernyataanmu salah. Wanita itu tidak pernah takut atau menghindariku. Dia selalu tersenyum ramah padaku.”
“Yah, padaku juga,” Wang Hongli memahami bahwa sikap ramah Mimi itu hanya formalitas semata. Jadi, tidak ada yang istimewa dari mendapat senyuman darinya. Yun Jili pun menoleh kepada sahabatnya. Matanya menatap seolah berhadapan dengan saingan berat.
__ADS_1
“Kamu mengincarnya juga? Tidak, aku tidak akan kalah darimu,” kata Yun Jili penuh percaya diri, “Aku akan melamarnya dalam waktu dekat.”
“Sebaiknya kamu tidak membual atau aku benar-benar akan mendahuluimu,” canda Wang Hongli sembari memanas-manasi, “Kita lihat, bagaiamana reaksi Nona Mimi saat menerima lamaran dari hantu sepertimu?”