Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bab 048: Perbincangan dengan Kaisar


__ADS_3

Ali menelan ludahnya. Ia tak pernah menyangka bahwa hari pertemuan itu akan terjadi secepat ini. Tidak, sebenarnya dia sudah mempersiapkan diri. Ia hanya sedikit terkejut karena ternyata Kaisar Yung Wei ikut dalam pertemuan.


"Nikmatilah makananmu dengan nyaman," ucap Li An yang duduk di sampingnya, "Aku sudah memastikan bahwa makanan ini bisa kamu konsumsi. Kamu tak perlu segan."


"Benar juga," Kaisar Yung Wei menyahut, "Kalau tak salah, ada makanan-makanan tertentu yang tidak boleh kalian makan, ya? Aku menghormatinya. Seperti kata An'er, semua makanan di sini sudah dipilah untuk menyambutmu."


"Terima kasih atas keramahan dan perhatian Yang Mulia Kaisar," balas Ali dengan luwesnya, tapi sebenarnya cukup gugup di dalam hati. Menurut perkataan Li An, harusnya ia hanya bertemu dengan Selir Shu, ibunda kandung Li Huanran. Namun, tiba-tiba saja kaisar datang bergabung.


"Oh, An'erlah yang mengatur semua ini," Kaisar Yung Wei menyeruput tehnya, lalu kembali berkata, "Simpan terima kasih itu untuknya nanti."


Acara makan malam itu memang tidak sesuai dengan rencana. Kaisar Yung Wei baru memberitahukan keinginannya untuk ikut sehari sebelum pertemuan. Selir Shu yang mendengar itu pun langsung meminta Li An untuk mengaturnya.


Itu bukan acara makan malam yang besar. Hanya ada Kaisar Yung Wei, Selir Shu, Li Huanran, Li An, dan Ali. Kesannya pun sangat santai. Hanya Ali saja yang merasa gugup dan tegang. Ah, sebenarnya Li Huanran juga gugup, berbeda dengan Li An yang sangat menikmati makan malam itu.


"Hm, ini enak," puji Kaisar Yung Wei. Ia memakan sup aroma rempah yang kental. Rasa sup itu pas, tidak terlalu asin maupun terlalu hambar.


"Tentu saja," Li An membalas dengan bangga, "Ini adalah makanan yang dibuat dengan rempah-rempah dari selatan. Aku bisa mendapatkannya dengan mudah dari para pedagang asing."


Obrolan pun mengalir dengan alami. Kaisar Yung Wei banyak menanyakan perihal perdagangan pada Li An dan Ali. Kedua pemuda itu adalah pedagang yang ulet. Sudah tentu mereka mampu memberi jawaban yang memuaskan bagi sang kaisar.


"Aku datang karena penasaran dengan orang yang telah menarik perhatian putriku," ucap Kaisar Yung Wei, mulai berniat membahas inti dari pertemuan ini, "Kapan pertama kali kalian bertemu?"

__ADS_1


"Belum lama ini," Ali menyungging senyum ramah, "Pangeran Kedelapanlah yang mempertemukan kami berdua di Serikat Dagang Fuli. Itu adalah pertemuan yang sangat berkesan bagi saya."


"Hm, jadi An'er yang menjodohkan kalian?" Kaisar Yung Wei menoleh pada Li An. Pangeran Kedelapan itu pun mengangguk singkat, lantas berkata, "Itu adalah permintaan Ibunda Shu. Sebagai anak yang berbakti, tentu aku harus melaksanakannya dengan sepenuh hati."


"Ibunda Shu, ya?" Kaisar Yung Wei tersenyum tipis. Selir Shu yang duduk di sampingnya hanya terdiam dengan wajah tanpa ekspresi. Wanita itu sudah menyerahkan segalanya pada sang kaisar sejak usahanya untuk mencarikan pasangan bagi Li Huanran diketahui. 


Kaisar Yung Wei pun mengajak Ali untuk membahas bermacam hal, utamanya tentang budi pekerti dan kehidupan. Ia mendengarkan dengan baik pandangan yang Ali jelaskan padanya. Di akhir pertemuan itu, ia bahkan menyatakan restunya.


Ali tak menyangka bahwa Kaisar Yung Wei akan begitu mudahnya mengizinkan ia untuk mempersunting Li Huanran, Putri Ketiga Kekaisaran Tang. Ia pun berjanji akan menjaga sang putri sebaik-baiknya. Janji itu penuh akan ketulusan nan murni. Li Huanran tertunduk amat dalam saat mendengarnya.


Begitu pertemuan selesai, Ali dipersilakan untuk beristirahat di paviliun tamu, sedangkan Li An diajak Kaisar Yung Wei untuk pergi ke suatu tempat. Sudahlah lama keduanya tak saling berbincang pribadi dengan santai begini. Terakhir kali adalah sebelum Li An melaksanakan ujian pertamanya.


Bulan purnama terbit amat indah di langit. Cahayanya elok menerpa Kota Chang'an nan damai dan tenang. Bintang-bintang bertaburan, menemaninya menghias langit nan luasnya tak terbilang.


Li An menoleh pada ayahandanya. Mereka berdua tengah duduk di balkon paviliun yang luas. Lampu lentera kecil yang temaram menemani kebersamaan mereka.


"Kamu bahkan sudah menjadi pemimpin sebuah serikat dagang besar di usia yang semuda ini," lanjut Kaisar Yung Wei, "Orang-orang ramai melirikmu. Ada yang ingin menjadikanmu sekutu, ada yang ingin menjatuhkanmu. Kamu akan membutuhkan kekuatan yang lebih banyak. Sekarang sudah saatnya bagimu untuk membangunnya. Kamu tidak lupa dengan tugas yang kuberikan padamu, kan?"


"Tentu, Ayahanda," Li An mengangguk kecil. Ia tidak akan pernah melupakan tugas yang berat itu. Tugas untuk menjaga perdamaian di antara anggota keluarga kekaisaran.


"Kalau begitu, apa rencanamu untuk mengemban tugas itu?" tanya sang kaisar ingin tahu kesungguhan Pangeran Kedelapan.

__ADS_1


"Penguasaan atas perbendaharaan dan jalur dagang, baik jalur sutra daratan maupun jalur sutra lautan," jawab Li An lugas. Ia pun kembali menatap bulan purnama yang elok. Ada sayu samar yang terlukis di matanya.


"Itu tidak akan cukup," Kaisar Yung Wei mengingatkan, "Bagi orang keras kepala yang tak peduli dengan kekayaan, tekanan ekonomimu tidak akan berarti di mata mereka. Sanksi ekonomi itu bahkan berpotensi merugikan dirimu sendiri."


"Aku mengerti," Li An sudah pernah memikirkan hal itu berkali-kali, "Terima kasih atas nasihat Ayahanda."


"Lalu, bagaimana kamu akan membangun kekuatanmu?" Kaisar Yung Wei kembali bertanya, "Kamu bisa saja menikahi putri bangsawan ternama dari keluarga jenderal untuk mendapat dukungan militer dari mereka."


"Aku belum memikirkan perihal pernikahan," jawab Li An jujur, "Serikat Dagang Fuli adalah prioritasku saat ini."


"Kenapa?" Kaisar Yung Wei mengerutkan keningnya, "Apa karena kamu mau menjalin hubungan yang erat dengan orang-orang asing itu?"


"Hubungan yang erat?" Li An sedikit bingung mengartikan maksud sang kaisar, tapi ia memang berniat untuk menjaga hubungan baik dengan orang-orang asing. Ia pun berkata ambigu, "Mungkin begitu."


"Tidak boleh," larang Kaisar Yung Wei.


Li An tersentak dalam hati, tapi tak menampakkannya dalam gerak badan. Serikatnya akan bubar kalau Kaisar Yung Wei serius pada larangan ini. Lebih dari setengah anggota serikatnya adalah kafilah-kafilah asing.


"Kamu tidak boleh menjalin kekerabatan dengan orang asing sampai menjalin kekerabatan dengan bangsawan kekaisaran dahulu," Kaisar Yung Wei pun memperjelas maksudnya, "Kamu harus punya penyokong dari bangsamu sendiri dulu. Jangan hanya mengandalkan orang asing."


"Ah, aku mengerti," Li An bernapas lega. Maksud 'hubungan erat' yang Kaisar Yung Wei katakan tadi ternyata perihal pernikahan. "Aku akan menjalankan perintah Ayahanda."

__ADS_1


"Berjanjilah!" titah Kaisar Yung Wei. Ia selalu memperhatikan perkembangan Li An. Kedekatan putra kedelapannya itu dengan orang asing membuat ia khawatir akan sesuatu. Sang kaisar ingin mengikatnya dengan kekaisaran agar Li An selalu ingat untuk kembali sejauh apa pun ia pergi.


"Aku …," Li An menyanggupi permintaan itu, "Berjanji."


__ADS_2