Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bab 056: Saling Percaya


__ADS_3

“Apa Anda yakin, Pangeran?” tanya Yun Jili penasaran dalam perjalanan kembali ke ibu kota. Karena Li Huanran tak ada, dialah yang menemani Pangeran Kedelapan mengobrol dan berdiskusi di kereta kuda. “Anda pergi begitu saja hanya dengan meninggalkan sepucuk surat dan kenang-kenangan?”


“Tidak masalah, Kak Jili,” Li An tersenyum simpul sembari menatap ke surat balasan yang diterimanya. Surat itu berisi kabar baik. Jadi, Pangeran Kedelapan bisa bernapas dengan lega. “Aku yakin semuanya akan baik-baik saja.”


“Bagaimana kalau ada orang lain yang mendahului Anda?” Yun Jili kembali bertanya. Pertanyaannya itu terucap dengan halus lagi takzim, tapi mulus menusuk relung hati Li An. Sang pangeran pun lagi-lagi menjawabnya dengan seulas senyum simpul dan berkata, “Mereka pasti menepati janjinya. Beruntungnya aku mendapat waktu tiga musim panas. Selama aku datang sebelum tenggat waktu itu habis, mereka tidak akan menikahkannya dengan pria lain.”


“Anda percaya sekali,” komentar Yun Jili datar.


“Tentu saja,” Li An memejamkan matanya sekejap, lalu menoleh ke luar jendela, “Karena beliau orang yang amanah lagi terpercaya. Aku tidak perlu meragukan janjinya.”


Lautan hijau membentang sejauh mata memandang. Padi-padi muda baru saja selesai ditanam. Semilir angin lembut berhembus sepoi-sepoi menyejukkan. Li An melepas tusuk rambutnya sehingga tergerai menari-nari ditiup angin sejuk nan menenangkan. Ia pun tersenyum takzim, lantas bersyukur pada Yang Maha Menciptakan segala sesuatu di dunia ini.


***


“Apa itu surat cinta?” tanya Li Mei tiba-tiba sampai membuat Putri Kecil tersentak, “Ataukah lamaran?”


“...”


Putri Kecil tidak bisa menjawabnya langsung. Pipinya merona merah bagai bunga yang baru mekar. Ia ingin menyangkalnya dengan menggeleng karena malu, tapi hatinya melarang karena suatu hal.

__ADS_1


“Oh~ jadi itu memang surat cinta dari An’er, ya?” Li Mei tersenyum usil. Ia pun duduk di kursi batu yang ada di hadapan Putri Kecil. Sulaiman mungil tertidur pulas di buaian peluknya. Atap gazebo yang lebar menaungi mereka sehingga sinar mentari tidak dapat menyengatnya.


“Bukan,” Putri Kecil menggeleng. Ia mau menjawab juga akhirnya. Saat mendapati tatapan curiga Li Mei, ia pun segera melanjutkan kata-katanya agar tidak terjadi kesalahpahaman, “I-ini surat permintaan.”


“Hah?” Li Mei menatap tidak percaya, “Hei, tunggu dulu! Itu surat dari An’er yang baru datang pagi ini, kan? Atau mungkin aku salah?”


“Benar, ini surat darinya,” Putri Kecil mengangguk pelan dengan sedikit tertunduk menyembunyikan malu. Rona merah di pipinya jadi semakin kentara. Sikapnya itu membuat Li Mei jadi bingung. Dalam hati, ia hampir saja mencela Li An.


“Apa yang bocah nakal itu minta?” Li Mei bertanya dengan nada yang terdengar cukup kesal, “Dia punya segalanya. Kehormatan, harta, dan pengikut setia. Apa dia tidak tahu malu?”


“Bukan,” Putri Kecil kembali menggeleng, “Dia tidak punya segala. Sebanyak apa pun hartanya, ia tidak akan bisa membeli waktu.”


“...”


Putri Kecil menjawab dengan anggukan pelan. Pandangannya menatap ke lembar surat yang sudah ia tutup kembali agar tidak dilihat oleh orang lain. Ia merasa surat itu tidak boleh dibaca siapa pun, bahkan Li Mei ataupun Li Huanran sekalipun.


“Dasar! Bocah itu sudah membuat seorang gadis menunggu,” gerutu Li Mei gemas. Andai Li An ada di hadapannya sekarang, ia pasti akan menjitak Pangeran Kedelapan itu seperti saat mereka masih kecil dulu. “Padahal, dia sudah sukses menjodohkan kakaknya, tapi dianya sendiri malah pergi meninggalkan calon istrinya.”


“Ka–Kakak Mei,” Putri Kecil mendongak gelagapan. Wajahnya sangat memerah kali ini. Ia sangat malu ketika Li Mei menyebutnya sebagai “Calon Istri” Pangeran Kedelapan. Meski tidak suka dengan pikirannya ini, ia tetap berkata, “Ini masih belum pasti. Dia kan masih bimbang dengan keyakinannya. Karena itulah kami memberinya waktu sebanyak tiga musim panas untuk memperdalam ilmu. Semoga dia memanfaatkan waktunya dengan baik.”

__ADS_1


“Ck! Kurang pandai apa sih dia? Katanya sarjana muda?” Li Mei malah semakin gemas memikirkan perilaku sepupunya itu, “Dia bahkan bisa berbahasa asing dengan lancar sebelum aku dulu. Suamiku juga sudah memberinya banyak sekali buku yang bagus. Apa yang sebenarnya membuat dia ragu?”


“Kakak, posisinya sebagai pangeran tidaklah sederhana,” jelas Putri Kecil mencoba untuk memberi pengertian, “Aku pernah dengar dari Kakak Huanran bahwa ia mengemban sebuah tugas istimewa dari kaisar.”


“Hmph! Apa tugas itu sebegitu pentingnya sampai ia ragu menerima agama Allah?” Li Mei tetap tidak terima, “Nasibnya akan seperti Raja Rum kalau ia terus ragu seperti itu. Ia sudah punya keyakinan, ilmu, dan bukti. Namun, ia menggadaikannya dengan kekuasaan.”


“...”


Putri Kecil terdiam mendengar ucapan Li Mei itu. Rona merah di wajahnya masih tersisa, tapi air mukanya telah berubah menjadi air bening kesedihan. Ia seolah sudah lupa dengan surat Li An yang masih digenggamnya. Hatinya memohon penuh kekhusyukan pada Yang Mahakuasa agar sang pangeran dapat segera menerima hidayah-Nya.


Hari demi hari berlalu. Setiap malam, Putri Kecil senantiasa datang ke mihrabnya, membentangkan sajadah, dan berdoa pada Yang Maha Membolak-balikkan hati agar ia sekeluarga terus berada dalam petunjuk. Di atas sajadahnya pula, ia mendoakan pujaan hatinya agar segera bergabung dalam dekapan keluarga yang beriman lagi bertakwa.


Sementara itu, Li An sampai di ibu kota tanpa kekurangan apa pun. Ia bergegas melanjutkan semua pekerjaannya yang selama ini tertunda. Tiada waktu baginya untuk memikirkan cinta. Kesibukan telah membuatnya lupa dengan semua masalah yang sempat menimpanya.


Tak lama setelah kedatangannya, ia mendapat panggilan dari istana. Kaisar Yung Wei memanggilnya langsung untuk mendiskusikan suatu hal. Sang kaisar juga jelas bermaksud memberinya tugas.


“Jalur Sutra di Kekhaganan Tarkan?” Li An mengerutkan keningnya begitu melihat jalur garis pada peta yang Kaisar Yung Wei tunjukkan. Peta itu cukup detail, tapi rumit dan sukar dipahami. Hanya orang-orang profesional saja yang dapat membacanya.


“Benar, kekhaganan telah bersedia membuka pintu diplomasi dengan kita,” Kaisar Yung Wei mengangguk singkat, “Operasi militer kita di barat daratan sudah membuahkan hasil. Ini adalah tugasmu, Pangeran Kedelapan. Jadilah Duta Kehormatan untuk menerima undangan mereka! Kamu sudah dewasa dan punya pengalaman di Wilayah Utara. Jadi, kamu pasti bisa mengatasinya bukan?”

__ADS_1


Li An menatap peta di atas meja lekat-lekat. Ia berpikir sejenak. Jelas ia tidak akan bisa menolak perintah sang kaisar. Lagi pula, ia pasti akan membutuhkan Jalur Sutra itu untuk mengembangkan Serikat Dagang Fuli lebih jauh lagi. Ia pun akhirnya menjawab dengan mantap, “Baik, Yang Mulia Kaisar.”


__ADS_2