
“Aku punya kabar bagus,” bisik Shien Lubu sebelum rombongan kembali berangkat di hari kedua, “Ada seorang kepala suku yang ingin bekerja sama dengan kita. Ia akan membantu rencana ini selama kita membantunya menyingkirkan kepala suku pertama dan kedua.”
“Apa kamu yakin?” Qin Guang ragu dengan ucapan kawannya itu. Melihat sikap barbar bangsa Tarkan, ia tidak yakin bahwa mereka bisa diajak bekerja sama seolah ia lupa bahwa beberapa hari yang lalu mereka sudah menjalin persahabatan dengan Kekhaganan Tarkan.
“Ini adalah konflik antarkepala suku,” Shien Lubu kembali berbisik, “Mau dia benar atau salah, selama bisa kita manfaatkan, tentu harus kita manfaatkan.”
“Hari ini, aku dan Pangeran Agung akan memburu beruang merah di utara!" seruan Otugai membuat Shien Lubu dan Qin Guang tersentak. Ini di luar perkiraan mereka. Mereka pun terdiam dan saling melirik satu sama lain.
“Lembah beruang merah itu sangat jauh. Perjalanan ke sana akan memakan waktu tiga hari dengan kuda tercepat,” lanjut Otugai dengan suaranya yang menggebu-gebu seperti biasa, “Barang siapa hendak mengikuti kami, maka ia diperkenankan untuk ikut. Namun, ia harus bisa melindungi dirinya sendiri karena perjalanan ini tidaklah mudah.”
Barisan para pemburu seketika menjadi ramai. Mereka saling bertanya dengan orang-orang di sampingnya. Kebanyakan pemburu dari Sepuluh Suku Anak Panah Tarkan berkenan untuk ikut. Hanya beberapa dari mereka saja yang ragu.
“Ini gawat,” Qin Guang mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil menggertakkan gigi, “Kita akan kesulitan menghubungi menteri tinggi kalau jaraknya sejauh itu.”
“Tidak masalah,” Shien Lubu tidak peduli, “Bagaimanapun caranya, kita harus mengorbankan Pangeran Kedelapan.”
“Ck! Pangeran pasti akan sangat membencimu kalau dia mengetahui hal ini,” bisik Qin Guang lirih. Mereka berbaris di barisan terakhir, jadi Li An maupun Wang Hongli tidak mungkin mendengar percakapannya. Para anggota yang lain pun sedang fokus dengan perkataan Otugai Shad.
“Seperti kata Tuan Otugai,” suara Li An terdengar lantang di barisan pemburu kekaisaran. Ia memegang panji kekaisaran di tangannya. Kalau saja dipakaikan baju zirah padanya, tentu ia akan terlihat layaknya panglima perang seperti pangeran-pangeran militer lainnya, “Kita akan berangkat ke Lembah Beruang Merah hari ini. Siapa pun yang tidak berkenan, maka ia bisa tinggal. Siapa pun yang berkenan, maka ia bisa ikut.”
“Kami akan mengikuti Pangeran Agung,” seru seorang anggota Brigadir Cenangkas. Anggota lainnya pun ikut berseru setuju. Seruan mereka membuat para pengkhianat bergidik dalam diam. Pada akhirnya, seluruh anggota pemburu dari kekaisaran ikut bersama Li An ke Lembah Beruang Merah.
__ADS_1
Rombongan pun berangkat. Xiao Chyou dan kedua cecenguknya menunda rencana untuk sementara. Akan sulit jika hendak mengubahnya, padahal persiapan sudah dirampungkan sematang mungkin.
Tiga hari perjalanan berlalu dengan cepat. Serombongan besar pemburu berhenti di luar Lembah Beruang Merah. Mereka membagi kelompok untuk mengepung beruang merah, memastikan agar hewan buas itu tidak kabur ke sembarang penjuru.
“Pangeran, kita sungguh beruntung,” ujar Otugai senang, “Lihatlah ketiga beruang itu. Mari kita tangkap mereka semua.”
“Kepala Suku, orang-orang sudah tiba di posisi masing-masing,” lapor seorang pesuruh, “Mereka siap menembakkan panah kapan saja.”
“Bagus!” Otugai tanpa sadar berseru cukup keras, “Pangeran, tunjukkan kebolehanmu! Biarkan pak tua ini melihat bagaimana hebatnya seorang Pangeran Agung dar kekaisaran.”
Raungan beruang terdengar sekejap kemudian. Sepertinya, hewan-hewan buas itu sudah menyadari bahwa dirinya dalam bahaya. Mereka pun tidak kabur begitu saja, melainkan menyerbu musuh yang mengepungnya.
Li An dan para pemburu lainnya tak kalah cepat. Mereka bergegas menarik anak panah dari busurnya. Begitu satu anak panah meluncur, anak panah-anak panah lainnya ikut meluncur sehingga menjadi hujan anak panah.
Dari puluhan anak panah itu, hanya hitungan jari yang mengenai badan ketiga beruang. Para beruang itu pun tak berhenti juga. Meski mereka kesakitan, mereka tetap maju untuk menyerbu Otugai dan Li An yang pertama terlihat.
“Lindungi Pangeran Agung!” seruan Wang Hongli terdengar lantang ke seluruh penjuru. Ia pun menghunuskan pedangnya tepat di depan beruang yang sudah sangat dekat. Dengan sekali tebasan, ia membuat beruang paling depan itu ambruk.
“Tembakkan anak panah kedua!” seorang kepala suku Tarkan memberi instruksi. Tak berselang lama, hujan anak panah kedua bak turun dari langit. Sayangnya, panah-panah itu lagi-lagi tak dapat menghentikan beruang merah. Kebanyakan tembakannya meleset di tanah.
“Cukup! Biar aku menghadapinya dengan pedang seperti Pendekar Cenangkas Kembar,” Otugai menghunuskan pedangnya. Ia melesat maju untuk menghadapi beruang merah yang sedang berusaha mendaki bukit untuk mengincar para pemanah di atasnya. Saat itu juga, Li An kembali menarik anak panah. Dengan konsentrasi yang tinggi, ia mengincar mata beruang yang terakhir.
__ADS_1
“Hah! Aku mendapatkanmu!” sama seperti Wang Hongli, Otugai membunuh beruang dengan sekali tebasan. Ia bahkan memenggal kepalanya. Di momen itu, beruang terakhir mengincar titik butanya.
“Grr!!!” beruang merah terakhir mengerang kesakitan ketika sebuah anak panah menembus matanya. Anak panah itu pun disusul oleh anak panah-anak panah lainnya. Sebelum ia dapat menyerang Otugai, tubuhnya sudah ambruk dulu karena tak kuasa menahan sakit.
Meski terasa cepat, sebenarnya pemburuan beruang itu memakan waktu yang cukup lama. Hari sudah sore saat para pemburu berhasil membereskannya. Mereka pun bergegas kembali ke perkemahan dengan tiga ekor beruang yang sudah mati.
“Pangeran Agung, makanlah daging beruang ini,” ujar Otugai menawarkan, “Ini akan membuat Anda berkali-kali lipat lebih kuat.”
“Tidak, Tuan Otugai,” Li An menggeleng, “Saya tidak akan memakannya.”
“Huh? Padahal ini adalah beruang bermata satu yang kamu bunuh itu,” Otugai tak lantas memaksa setelah Li An menggeleng, “Sayang sekali, daging ini pasti tidak sesuai dengan seleramu.”
Li An hanya tersenyum simpul membalasnya. Ia sudah memiliki daging buruannya sendiri. Selain berburu beruang merah, ia juga memburu hewan lainnya yang bisa dimakan.
“Kapan kita akan menjalankan rencana?” tanya Shien Lubu gelisah. Ia tak sabar untuk melihat kebinasaan Pangeran Kedelapan. Entah oleh sebab apa, ia sangat membenci pangeran itu.
“Bersabarlah!” Xiao Chyou yang baru masuk ke tenda mengingatkan dengan kalem. Ia sudah tak ragu sama sekali sekarang. Hatinya sudah mantap untuk berpihak pada menteri tinggi. “Kita akan menjalankan rencana di dekat Sungai Daun Kuning. Begitu rencana sukses, salah seorang dari kita harus segera bergegas untuk kembali ke kekaisaran dan melaporkan hal ini pada menteri tinggi.”
“Kami mengerti,” Qin Guang mengangguk. Ia pun membaringkan tubuhnya dan merapatkan selimut. Kalau perjalanan pulang ini berjalan lancar, mereka akan sampai di Sungai Daun Kuning itu besok. Daripada membuang tenaga untuk mengobrol, lebih baik beristirahat agar besok dapat menjalankan rencana dengan maksimal.
Xiao Chyou kembali keluar dari tendanya setelah menaruh sebuah barang. Dari kejauhan, ia menatap Pangeran Kedelapan yang sedang duduk bersama Otugai dan Wang Hongli di dekat perapian. Dengan hati yang dingin, ia pun bergumam, “Maaf, Pangeran. Saya harus melaksanakan ini demi kejayaan kekaisaran.”
__ADS_1