Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bisakah Kuubah Takdir Berdarah itu?


__ADS_3

“An’er! Akhirnya kamu pulang,” seru Li Mei bahagia. Ia langsung memeluk adik sepupunya itu dengan erat. Li An sampai sedikit terkejut karenanya. Akan tetapi, ia tetap membalas pelukan Li Mei dengan hangat. “Iya, Kak. Aku pulang.”


“Hm? Kenapa Kakak Huanran di sini?” protes Li Mei begitu melihat Li Huanran juga turun dari kereta kuda. Sejak pertama kali gadis ayu itu datang ke Istana Pangeran Zhizhe, Li Mei sudah tidak menyukainya. Apalagi saat Li Huanran membawa Li An pergi dari rumahnya.


“Apa salahnya? Bukannya aku sudah memberi kabar bahwa aku juga akan ikut menginap di sini?” Li Huanran tersenyum gemas. Ia suka sekali melihat raut kesal di wajah adik-adiknya. Entah mengapa itu terasa seru baginya.


“Selamat datang, Kakak Huanran,” berbeda dengan Li Mei, Li Roulan menyambut sekutunya dengan riang. Ia merasa mendapatkan kekuatan besar dengan kedatangan Putri Ketiga itu. Persaingannya dengan Li Mei pun akan jadi semakin mudah.


“Kakak An, kenapa baru datang sekarang?” tanya Li Chen setelah kakaknya selesai beramah tamah dengan Pangeran Kedelapan. Li An tidak langsung menjawab. Ia terlihat memikirkan sesuatu terlebih dahulu, baru kemudian berkata dan menggerutu, “Ayahanda kaisar hanya mengizinkanku keluar istana saat hari libur. Kakek Bao Bao yang cerewet juga sengaja menunda liburanku, padahal aku bisa menjawb semua soal darinya.”


“Sudah, sudah. Mari masuk dulu. Huan’er dan An’er juga butuh istirahat. Jangan terlalu lama menahannya di sini,” Li Fengying menegur anak-anaknya. Mereka pun masuk ke Istana Pangeran Zhizhe. Nyonya Lu dan Nyonya Chu juga menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Setelah beberapa bulan berpisah, akhirnya Li An kembali lagi ke keluarga yang tenang baginya.


“Chen’er, aku sering berkunjung ke Pagoda Arsip Kecil. Kenapa kamu nggak pernah ada di sana?” tanya Li An menginterogasi, “Jangan-jangan kamu jadi malas belajar. Lihat saja! Kamu bakal semakin tertinggal dariku.”


“Nggak! Aku nggak pernah malas belajar,” sangkal Li Chen tegas, tapi langsung dibalas oleh Nyonya Lu, “Ya ampun … apa benar putra mama tercinta sudah rajin belajar? An’er, dia selalu lupa mengerjakan tugasnya. Hafalan karakter hanzinya pun tidak bertambah banyak sejak kamu pergi.”


Li An dan Li Chen saling berdebat setelah itu. Istana Pangeran Zhizhe jadi kembali terasa lebih ramai seperti sebelumnya. Canda tawa anak-anak jadi terdengar lebih sering, membawa suasana hangat di rumah. Mereka mondar-mandir ke seluruh bagian istana, mencari markas yang tepat untuk keluar dari pantauan Li Huanran yang telah menyebarkan dayang-dayang di seantero Kediaman Li Fengying. Anak-anak itu dengan asyiknya menghabiskan hari libur dan tertawa riang.


Li Huanran tidak pernah melihat adiknya sebahagia itu selama di Istana Kebahagian Abadi. Ia kadang tersenyum getir melihatnya. Putri Ketiga dari Kekaisaran Tang itu telah mengetahui bahwa adiknya sedang dilirik oleh banyak pihak. Mungkin saja akan ada banyak orang yang berusaha mendekati atau menyingkirkannya di masa depan.


Takdir seorang pangeran itu amat berat. Ia dituntut untuk sempurna sejak dini, unggul dari lain, dan lebih ahli dari para ahli kebanyakan. Jika ia tidak dapat memanfaatkan segala potensinya dengan baik, ia akan tertelan oleh jahatnya gejolak politik yang mencekam. Li Huanran jadi sedih ketika membayangkan senyum adiknya itu luntur apabila tak kuasa bertahan.


Li An tidak tinggal lama di Istana Pangeran Zhizhe. Ia hanya menginap selama seminggu, kemudian kembali ke Kediaman Selir Ai untuk melanjutkan kelasnya bersama Lao Bao. Saat bulan Ramadan kembali tiba, ia mendapat izin dari Kaisar Yung Wei untuk mengunjungi Guangzhou, pusat persebaran agama yang dibawa oleh orang-orang asing dari Arab.


Sang pangeran selalu mendapat banyak pelajaran baru di sana. Yun Jili yang menyertainya pun jadi ikut tertarik dengan kebudayaan orang-orang asing itu. Mereka berbaur di kampung Arab yang Kekaisaran Tang dirikan, mengamati keseharian mereka, dan menikmati cita rasa makanan mereka yang jauh berbeda dengan kekaisaran.


Li An ingin mengunjungi Kakek Sa’ad, berharap dapat belajar langsung darinya dan meminta maaf atas sikapnya yang kurang baik tahun lalu. Namun, Kakek tua itu telah kembali ke negara asalnya dan diganti oleh orang lain yang tak kalah tuanya. Walau tidak sempat bertemu dengan Kakek Sa’ad lagi, Li An masih bisa bertemu dengan Zainab dan Ali. Mereka berdua adalah anak-anak Arab yang paling dekat dengannya.


Tahun demi tahun berlalu. Li An rutin berkunjung ke Guangzhou berasama keluarga Pangeran Zhizhe setiap Bulan Ramadan. Itu adalah bulan yang paling istimewa baginya karena ia dapat keluar dari istana lebih lama dari biasanya.


Wang Hongli dan Yun Jili selalu menyertai perjalanan Li An setiap tahunnya. Mereka berdua telah menancapkan sumpah setia yang erat pada Pangeran Kedelapan itu. Yun Jili mau melakukannya demi dapat mempersunting Mimi. Li Huanran yang memberinya syarat agar Sarjana Rubah Perak itu senantiasa membantu Li An. Sang sarjana pun memberinya lebih dengan bersumpah setia sama seperti Wang Hongli.


Mata para bangsawan berpaling dari Li An karena Kaisar Yung Wei tidak lagi memberi banyak perhatian padanya. Mereka secara alami meninggalkannya sampai Li An mengikuti ujian kesarjanaan pertama yang umumnya diikuti oleh para pangeran dan anak-anak bangsawan yang berusia 12 tahun. Saat itu, usia baru menginjak 10 tahun.

__ADS_1


Li Xiang pun sempat terkejut dengan kedatangan Li An di sekolah kuil. Pangeran Kedelapan itu tak pernah sekali pun mengikuti kelas dan hanya datang untuk mengikuti ujian. Tidak hanya ikut ujian sebagai peserta termuda, Li An juga menduduki posisi tertinggi di antara anak-anak yang lainnya. Sayangnya, ia tidak mendapat nilai bagus di ujian fisik dan beladiri karena itu memang bukan bakatnya.


Li An tetap tidak pernah mengikuti kelas bahkan setelah ujian pertamanya. Padahal, Lao Bao telah berulang kali mengajaknya pergi ke sana. Namun, Li An bersikukuh untuk tidak pergi. Ia lebih suka belajar privat di rumahnya sendiri.


Tiga tahun kemudian, Li An kembali mengikuti ujian kesarjanaan. Nama Yun Jili yang merupakan pengajar Li An pun ikut terangkat olehnya. Beberapa kali Yun Jili dimintai tolong untuk mengajari anak-anak bangsawan tinggi dan berpengaruh, tapi ia tetap tidak mau menerima itu karena sumpah setianya pada Pangeran Kedelapan. Karena para bangsawan terus mendesak, Li An pun mengizinkan anak-anak mereka untuk ikut bersamanya belajar di Pagoda Arsip Kecil. Bangunan tua yang awalnya sepi itu jadi ramai sejak Li An menjadikannya kelas belajar bersama.


Walaupun tidak terjun ke dunia politik, prestasi akademik Li An terus dipantau oleh berbagai pihak yang setia mengamati perkembangannya. Ia dinilai dapat menjadi pangeran yang berpotensi membawa Kekaisaran Tang menuju masa kejayaannya. Pihak Permaisuri Eminen pun berniat memberinya dukungan. Namun, belum sempat mereka bergerak, sebuah kasus besar yang berkaitan dengan sihir menjerat sang permaisuri dan juga ibunya yang merupakan putri dari Keluarga Liu.


Kaisar Yung Wei pun menyelidiki kasus ini dengan serius. Istana kembali bergejolak karena hal itu. Para menteri ribut menuntut keadilan. Pada akhirnya, Permaisuri Eminen diturunkan dari jabatannya, sedangkan Menteri Liu sama sekali tak dapat membantu. Mereka telah kalah dalam persaingan sehingga tak ada lagi yang dapat dilakukan selain berpasrah.


Nyonya Zhouyi pun diangkat menjadi permaisuri menggantikannya. Ia adalah selir yang paling banyak melahirkan anak-anak laki-laki kaisar. Pangeran Keenam, Pengeran Ketujuh, dan Pangeran Kesembilan, serta Pangeran Kesebelas adalah putranya. Karena itu, tidak ada selir lain yang dapat mengalahkannya.


Selir Shu memutuskan untuk menutup rumah setelah sepupunya, eks-Permaisuri Enimen ditahan. Ia membatasi kunjungan yang datang ke kediamannya. Hanya anak-anak dan beberapa orang terdekatnya yang boleh berkunjung. Sejak awal, ia adalah putri Keluarga Liu yang tidak ingin terlibat dalam gejolak politik. Namun, ia tak bisa menghindar sepenuhnya. Nasibnya tak jauh berbeda dengan Selir Ai.


Li An mengajak Putri Ketiga untuk mengungsi ketika kasus itu terjadi. Ia pergi dari istana dengan alasan liburan dan menenangkan diri setelah menempuh ujian kesarjanaan tingkat ketiga. Ia tercatat sebagai sarjana muda yang paling belia dalam sejarah Kekaisaran Tang.


“An’er, upacara kedewasaanmu akan berlangsung tak lama lagi. Jalan apa yang mau kamu tempuh ke depannya?” tanya Li Huanran ketika mereka beristirahat di sebuah restoran. Langit Guangzhou amat cerah hari itu. Hanya ada sedikit awan yang melukis angkasa. Burung-burung laut berterbangan bebas di sana, menanti ikan jadi santapan mereka.


“Aku …,” Li An yang duduk di samping sang putri tak dapat langsung menjawab. Ia telah tumbuh menjadi pemuda yang rupawan. Rambutnya yang hitam legam ditata rapi sesimpel mungkin dengan sebuah mahkota perak yang menahannya. Ia pun menatap pelabuhan Guangzhou yang ramai, baru kemudian menjawab, “Aku mau menjauh dari istana.”


“Aku kan sudah bilang, takhta itu cuman kursi bersepuh emas. Apa menariknya dia?” gerutu Li An kesal. Ia amat sumpek dengan gejolak istana yang terjadi baru-baru ini. Rasanya sangat sesak setiap kali ada di sana. Padahal, proses suksesi masih jauh melihat bagaimana kondisi Kaisar Yung Wei yang masih sehat-sehat saja. Dalam hati, ia berharap agar semua ini cepat selesai.


“Bukannya kamu punya tugas dari ayahanda kaisar?” Li Huanran mengingatkan. Ia sering mendengar keluh kesah adiknya selama ini. Apalagi setiap kali Li An pulang dari panggilan Kaisar Yung Wei. Pasti ada saja yang ia keluhkan.


“Aku sudah menolaknya. Aku tidak mau menerima takdir yang berat seperti itu,” Li An mengengus kesal. Ia menggeleng keras. Sifat kekanakannya masih tidak berubah kalau ada di depan Li Huanran. Putri Ketiga pun tertawa kecil melihatnya, lantas berkata, “Mana bisa kamu menolaknya? Ayahanda Kaisar sudah membantumu membuat sebuah serikat dagang. Kamu pasti nggak bisa mengelak. Jadi, apa yang kamu katakan kepada ayahanda kaisar waktu itu?”


“Huh,” Li An terlihat enggan bercerita, tapi mengatakannya juga pada akhirnya, “Aku cuman bilang kalau kemungkinannya kecil. Jadi, aku cuman bisa mengusahakannya saja. Ayahanda kaisar pun mengerti dengan maksudku.”


“Berusahalah! Menjadi penengah di antara saudara-saudaramu memang tidak mudah. Pasti akan ada banyak masalah yang merepotkan nanti,” hibur Li Huanran dengan senyum cantiknya. Li An menoleh kepada kakaknya dengan wajah yang datar. Ia pun menghela napas, lalu kembali berujar pesimis, “Kakak kira aku bisa melawan intrik-intrik di istana? Pertumpahan darah para suksesor itu seolah sudah takdir dari takhta dan mahkota. Pengorbanan selalu ada. Bagaiamana aku bisa mengubahnya?”


“Kalau kamu yang jadi kaisar …,” Li Huanran hendak mengatakan sesuatu, tapi Li An lebih dulu menggeleng tegas dan membalas, “Kalau aku yang jadi kaisar, aku akan segera digulingkan oleh mereka. Kalaupun aku yang menang, tanganku pasti akan tetap berlumuran darah mereka.”


“Benar, lebih baik kamu nggak jadi kaisar,” Li Huanran setuju. Ia pun mengelus ubun-ubun adiknya dengan lembut. Rambut pemuda itu jadi berantakan karena ia melepas mahkota peraknya. Walaupun usia Li An sudah menginjak 15 tahun, ia tetap merasa nyaman dengan belaian kakaknya. Ketulusan dan kasih sayang Putri Ketiga telah sepenuhnya mengisi hati Li An setelah ia kehilangan ibundanya, Selir Ai. Sang putri pun melanjutkan kalimatnya, “Kalau kamu jadi kaisar, aku mungkin bakal kesusahan bertemu denganmu nanti. Hiduplah sesusai keinginanmu. Kamu berhak atas itu.”

__ADS_1


“Kakak, apa aku benar-benar bisa mengubah takdir berdarah itu? Aku cuman mau hidup dalam tenang dan damai,” Li An tertunduk. Wajahnya lesu sekuyu debu yang diterpa angin. Hatinya seolah tertekan tujuh gunung yang menghimpit dari segala penjuru. Pikirannya penuh dengan ombak gejolak politik. Ia masih tak yakin bisa melaksanakan tugasnya dari Kaisar Yung Wei.


“Jangan langsung menyerah. Teruslah berusaha dan bersabar,” Li Huanran menarik Pangeran kedelapan ke dalam pelukannya. Seandainya Selir Ai masih ada, pasti posisi ini adalah miliknya. Putri Ketiga pun tersenyum, “Masa itu masih lama.”


“Nggak,” bantah Li An lirih.


Li Huanran tidak mengerti. Jelas-jelas ayahanda kaisar mereka masih sehat. Tidak mungkin ada perebutan takhta dalam waktu dekat. Tanpa melihat ekspresi heran di wajah kakaknya, Li An menjelaskan, “Kakak Zhang tidak akan bertahan lebih lama. Bibi Gui yang lahir dari kasta rendah tidak punya kekuatan, sedangkan Bibi Eminen yang mendukungnya sudah digulingkan. Eksistensi Kakak Pertama akan segera lenyap tak lama lagi.”


Li Huanran terdiam. Ia tidak memiliki kemampuan untuk membaca situasi politik sedetail itu. Saat mendengar penjelasan dari Li An, barulah ia sadar dengan alasan ibundanya menutup rumah dan membatasi kunjungan. Situasi di istana saat ini jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.


“Lalu, apa rencanamu?” tanya Li Huanran dengan suara pelan. Ia kini bisa merasakan kekalutan adiknya di masa-masa transisi permaisuri ini. Ini baru pergantian permaisuri. Belum masuk masa suksesi kaisar. Bagaimana gentingnya suasana istana saat itu terjadi?


“Aku belum punya kekuatan atau pengaruh sama sekali. Ayahanda kaisar juga tidak akan terang-terangan memberiku bantuan,” jawab Li An dalam pelukan kakaknya, “Aku akan segera membesarkan Serikat Dagang Fúlì. Aku akan mulai membangunnya di setiap sudut Kekaisaran Tang.”


“Salama ini, kamu selalu manja seperti anak kecil. Aku sampai lupa kalau kamu sudah sebesar ini,” kata Li Huanran, lantas mencium ubun-ubun Li An sebentar. Ia pun melepaskan pelukannya, tapi tetap menaruh tangannya di pundak Li An. “Berusahalah. Kakakmu ini akan selalu mendukungmu.”


“Terima kasih, Ayunda,” untuk pertama kalinya Li An menyebutkan panggilan itu setelah bertahun-tahun Li Huanran tidak memintanya lagi. Putri ketiga pun tersenyum senang dan membalas, “Ya, adikku pasti bisa.”


...***...


“Begitulah, Putri Kecil,” ucap Li Huanran begitu selesai bercerita, “An’er akan pergi ke Quanzhou setelah urusannya di Guangzhou selesai.”


“Dia selalu jadi sosok yang hebat,” puji seorang gadis cantik yang dipanggil Putri Kecil oleh Li Huanran. Tidak seperti para putri bangsawan kebanyakan, ia menutup kepalanya dengan kain sutra tebal yang berlapis-lapis. Kain itu membuat seluruh rambutnya tertutup, tapi tidak menghilangkan pesona ayunya sama sekali.


“Tentu saja, dia adalah adikku yang paling istimewa,” ucap Li Huanran setuju. Ia pun memekarkan kipasnya, lantas menyembunyikan senyum jahil di wajahnya, “Apa kamu akan tetap diam begini. Aku yakin akan ada banyak bangsawan yang mencoba untuk dekat dengannya. Saat itu terjadi, mungkin saja ia sudah bersanding dengan orang lain.”


“Kakak! A, apa hubungannya denganku” seru Putri Kecil yang segera menoleh. Matanya menatap tajam pada Li Huanran. Ada rona merah yang cerah di pipinya. Ia pun membalas, “Kenapa Kakak selalu begitu? Aku … aku dan An’er ….”


Gadis cantik itu tak dapat menjawab. Senyum usil di wajah Li Huanran pun semakin melebar. Kipas merahnya pun tak dapat lagi menyembunyikannya. Ia selalu suka menggoda Putri Kecil itu.


“Putri Kecil, umur kalian sudah matang. An’er mungkin sudah memiliki rasa cinta di hatinya sekarang. Apa kamu akan tetap diam saja?” goda Li Huanran dengan senyum yang tidak lagi disembunyikan. Wajah Putri Kecil semakin memerah. Ia pun berseru mengingatkan, “Ih …! Kenapa Kakak nggak urusin urusan diri Kakak sendiri? Kakak kan juga masih belum menikah!”


“Oh, benar juga,” Li Huanran berpura-pura baru sadar, lantas membual, “An’erku masih kecil. Kasihan dia kalau kutinggal sendirian. Ia mungkin akan merengek seperti dulu.”

__ADS_1


“An’er nggak akan begitu!” bantah Putri Kecil, “Bukannya tadi Kakak yang bilang sendiri kalau An’er sudah besar.”


“Wah! Kamu sungguh perhatian dan imut seperti dia. Aku menantimu jadi adik iparku,” Li Huanran mengelus kepala gadis itu pelan. Putri Kecil pun semakin merona. Ia hanya dapat berseru menjawab godaan Putri Ketiga, “Kakak!”


__ADS_2