
"Kakak ...," panggil Li Rouwei mengeluh, "Aku capek."
"Istirahatlah dulu kalau begitu," Li An mengelus kepala adiknya dengan lembut. Mereka baru belajar sebentar. Namun, Li Rouwei langsung bosan karena tak terbiasa membaca. Untuk saat ini, ia diberi tugas untuk menghafal hanzi oleh Yun Jili. Agar ia mau melakukannya, Li An harus bersedia menemani.
"Kakak," Li Rouwei senang karena Li An perhatian padanya, "Ayo kita main."
"Hm? Bukannya kamu capek?" Li An mengerutkan kening, lalu membukakan kembali buku yang harus Li Rouwei baca, "Karena Rou'er sudah kembali semangat, Rou'er harus belajar lagi. Kakak pun sedang belajar sekarang."
"Kakak An ...," keluh Li Rouwei malas, "Aku nggak suka belajar."
"Tuan Putri, Anda meminta saya untuk menambahkan materinya?" kata Yun Jili yang tiba-tiba datang dengan seringai seram. Li Rouwei sangat terkejut karenanya. Ia langsung berseru membantah, "Nggak! Aku nggak mau belajar banyak-banyak!"
"Tentu, kamu tak perlu belajar sebanyak Chen'er karena kamu masih kecil," Li An menunjuk Li Chen yang tengah serius mempelajari buku-buku yang Yun Jili berikan. Putra Pangeran Zhizhe itu jadi semangat karena ada rivalnya di sini. Li An pun memandangnya dengan senyum halus, "Pelajarilah yang mampu kamu pelajari. Masih ada waktu sebelum kita kembali berangkat."
"Hm, baik," Li Rouwei terpaksa menurut.
Mimi membawakan minuman untuk mereka. Andai ia tak tahu bahwa Wilayah Utara sedang bergejolak sekarang, ia pasti berpikir bahwa ini adalah tur studi bagi para pangeran dan putri. Mereka semua terlihat harmonis dan bersemangat. Mimi sangat bangga dapat melayani mereka semua.
Saat waktu berangkat tiba, Li Rouwei berhasil menghafal beberapa kosa kata. Li An dan Yun Jili pun kompak memujinya, tapi Yun Jili tetap mengoreksinya agar ia tak terlalu berbangga diri. Akan buruk kalau sampai Li Rouwei terlampau berbangga diri. Bisa-bisa, ia malah jadi anak yang malas karena merasa pintar.
Selama beberapa hari perjalanan, aktivitas Li Rouwei tetap sama. Ia terus menempel pada Li An saat belajar. Jika Li An tak ada, ia tak akan mau belajar sama sekali. Padahal, mereka akan segera berpisah sebentar lagi. Li An akan terus melanjutkan perjalanan, sementara Li Rouwei dan Li Chen akan ditinggalkan di benteng Istana Kerajaan Kiri yang paling dekat dengan kekaisaran.
__ADS_1
"Aku nggak mau ditinggal. Aku juga mau ikut!" bentak Li Rouwei di hadapan Li An. Ini pertama kalinya putri kecil itu marah-marah pada Pangeran Kedelapan. Biasanya, ia hanya akan bermain dan bermanja jika duduk bersama sang kakak tercinta. "Aku harus ikut sampai Ibu Kota Kerajaan Kiri. Aku nggak mau ditinggal."
Begitulah Li Rouwei terus memaksa untuk ikut melanjutkan perjalanan. Ia tak membiarkan Li An pergi sampai ia diperbolehkan untuk ikut. Li Chen yang sejak awal sudah bekerja sama dengan Li Rouwei pun memberinya dukungan, sementara Li Bei memasang wajah kesal karena kedua saudaranya yang sangat susah diatur.
"Ck, karena ini aku tak mau membawanya. Dia sungguh merepotkan," keluh Li Bei, "Sebenarnya, bagaimana ia tahu kalau kita akan berangkat pagi buta? Lagian, bagaimana bisa gadis yang selalu bangun kesiangan itu jadi bangun pagi sekarang?"
"A, anu, Pangeran," seorang pasukan pengawal Li Bei hendak melaporkan sesuatu, "Semalam, tuan putri berjalan-jalan dan menanyai kami semua. Entah siapa yang membocorkannya, tapi sepertinya ada yang keceplosan semalam."
Buak!
"Hah ... kita sudah berangkat dari tadi harusnya," kata Li Bei setelah menjitak pengawalnya yang melapor itu. Ia tak pernah suka berurusan dengan anak kecil. Karena itu, ia jadi bingung sekarang.
"Guru Yun, aku nggak mau belajar kalau nggak boleh ikut," ancam Li Rouwei yang mencengkeram pakaian Li An kuat-kuat agar Pangeran Kedelapan itu tak pergi meninggalkannya. Yun Jili pun menghela napas pasrah. Ia saling bertukar pandang dengan Li An, lalu keduanya sama-sama mengangguk.
"Aku setuju," jawab Li Rouwei sebelum Yun Jili menyelesaikan kata-katanya. Jawabannya yang terburu-buru itu membuat Sang Sarjana Rubah Perak kembali menghela napas dan melanjutkan kata-katanya yang terhenti, "Berarti Anda siap untuk belajar dua kali lipat dari biasanya?"
"Ya," Li Rouwei mengangguk yakin.
"Anda tidak boleh protes dengan semua hidangan yang tersedia," tambah Yun Jili, "Anda juga harus bangun pagi-pagi setiap hari."
"Em ... baiklah," Li Rouwei terdengar sedikit ragu.
__ADS_1
"Anda juga harus mampu menjaga sikap sebagai seorang putri dari kekaisaran," Yun Jili terus menambahkan daftar syarat yang sebenarnya telah tertera sejak awal keberangkatan, tapi Li Rouwei belum mampu melaksanakannya dengan baik. Li Rouwei sendiri sampai sebal karena hanya dapat menjawab "ya" demi bisa melanjutkan perjalanan.
"Baiklah, Anda sudah berjanji, Tuan Putri," Yun Jili menggulung kembali gulungan kertas syarat yang dibawanya, "Saya tidak akan segan memulangkan Anda jika ada satu saja yang terlewat."
"Hmph! Aku tahu," Li Rouwei membuang muka, lalu menarik Li An ke keretanya. Li Chen pun mengikutinya dari belakang. Rombongan kembali melanjutkan perjalan sampai ke pusat Ibu Kota Kerajaan Kiri. Untunglah tidak ada halangan berarti.
***
"Yong Seong," panggil seorang pria paruh baya berpakaian mewah.
"Ya, Ayah," seorang anak yang usia sekitar sepuluh tahun menjawab. Anak itu membawa sebilah pedang kayu. Ia sedang berlatih seni pedang dengan seorang kakek tua yang terlihat sangat sepuh.
"Delegasi dari kekaisaran akan segera tiba," kata pria itu menginformasikan, "Menurut laporan, salah seorang putri mereka ikut dalam rombongan ini. Kuharap, kamu bisa menjaga sikapmu dengan baik dan tak tidak meremehkannya meskipun ia gadis yang lebih muda darimu."
"Tapi, kenapa kekaisaran membawa putri mereka untuk ikut serta ke kerajaan kita?" Yong Seong tidak mengerti. Ayahnya pun menggeleng. Ia juga tidak tahu maksudnya.
"Kita belum tahu. Mungkin kekaisaran hendak menguji kita," kata sang ayah. Sorot matanya terlihat sangat serius. "Pokoknya, kita harus waspada. Kalau sampai kita menyinggung mereka, bisa jadi Kerajaan Kiri musnah seketika."
"Saya mengerti, Ayah," Yong Seong menunduk hormat. Ia telah mempelajari semua etika dengan baik. Jika dibandingkan dengan Li Rouwei, tentu mereka seperti langit dan bumi.
Namun, siapa yang bisa menebak perilaku sang putri? Sejauh ini, hanya Li An yang dapat mengajarinya dengan baik. Putri nakal itu tidaklah sesederhana yang terlihat. Entah masalah apa yang akan diberikannya pada Yong Seong nanti.
__ADS_1
Keesokan harinya, Rombongan Li Bei sampai di gerbang kota. Yong Seong ikut serta dengan ayahnya untuk menyambut delegasi. Ia menatap barisan panjang yang dikawal ketat oleh pasukan bersenjata lengkap. Hanya dengan melihatnya, Yong Seong bisa tahu betapa hebatnya kekaisaran. Apabila Kerajaan Kiri dapat mengambil simpati mereka, konflik dengan dua kerajaan lainnya pasti bukan lagi masalah. Kerajaan Kiri pun akan mampu menggenggam seluruh Wilayah Utara.