Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Relasi


__ADS_3

“An’er, sini!” seru Li Huanran begitu melihat adiknya sampai di halaman Restoran Bangau Putih. Li An pun mendongakkan wajahnya ke atas, mengikuti asal suara yang memanggilnya. Dilihatnya Li Huanran melambai-lambaikan tangan dan menyuruhnya untuk segera naik ke lantai dua.


Li An hanya mengangguk pelan, lalu mendenguskan napas. Ia pun naik menuju tempat kakaknya duduk. Sampai di sana, Li Huanran menyambutnya dengan senyum manis yang khas di bibirnya, “Kalian datang tepat waktu. Makanannya baru saja sampai.”


“Terima kasih sudah memesankan untuk kami juga,” ucap Li An lirih. Ia pun duduk di hadapan kakaknya dan menyantap makan siang yang sudah tersedia. Uap hangat masih mengepul di sana, menandakan bahwa makanan itu benar-benar belum lama diangkat dari panggangan.


“Kamu sudah selesai dengan urusanmu di kantor?” tanya Li Huanran di tengah sesi makan siang. Sebagai seorang kakak yang sangat dekat dengan adiknya, ia mengerti bahwa Li An memiliki kesibukan yang luar biasa. Ia bisa maklum seandainya waktu yang katanya liburan pascaujian sarjana ini menjadi jadwal inspeksi dadakan.


“Hm, sudah. Apa ada tempat yang mau kakak kunjungi?” Li An mengangguk. Setengah makanannya yang berkuah mulai tandas. Ia pun mengambil minuman berupa sari buah yang dituang pada cangkir kecil yang lebih mirip dengan mangkok karena cekungannya yang sedikit lebih lebar.


“Gimana kalau kita berkunjung ke Gunung Mata Air? Nona Shen bilang, tempat itu sangat indah dan mempesona,” ajak Li Huanran.


“Gunung?” Li An berpikir sejenak, “Itu ide bagus. Aku dan Kakak Hong bisa latih tanding di sana. Kakak tidak keberatan kalau kita naik kuda kan?”


“Tentu tidak,” Li Huanran setuju saja dengan usulan itu, “Nona Shen juga nggak masalah kan?”


“Tentu, Tuan Putri,” Shen Huifeng menggangguk takzim.


Li An melirik putri dari Keluarga Shen itu sekilas. Ia sedikit ragu dengan kemampuan Shen Huifeng dalam menunggang kuda. Dengan gumaman yang lirih, ia berharap, “Semoga saja nggak ada masalah di Gunung Mata Air nanti.”


Kuda-kuda terbaik disiapkan. Bersama beberapa pengawal yang dipimpin oleh Wang Hongli, Li An dan rombongannya pergi ke Gunung Mata Air. Li Huanran juga membawa dayang-dayangnya yang pandai berkuda. Masing-masing dari mereka membawa perlengkapan panah untuk berburu.


“Nona Shen, apa kamu juga suka berburu?” tanya Li Huanran di atas kudanya. Mereka sedang dalam perjalanan menuju padang yang ditunjukkan Shen Huifeng. Sebentar lagi, tempat itu akan terlihat.


Shen Huifeng menggeleng dengan ragu-ragu. Ia tak pernah menyangka bahwa Putri Ketiga akan naik ke gunung bukan sekadar untuk menikmati alam saja, tapi juga sekalian berburu. Itu adalah hobi yang umumnya disukai oleh para pangeran. Putri dari Keluarga Shen itu pun menjawab,“Saya tidak pandai memanah. Biasanya, saya dan Kakak Ling ke mari hanya untuk menemani Kakak Pertama sambil melihat-lihat pemandangan di sekitar.”


“Kalau kamu mau, aku bisa mengajarimu memanah,” Li Huanran menawarkan. Walau sebenarnya sedikit keberatan, Shen Huifeng tetap menerima tawaran itu. Ia memaksakan senyum di bibirnya agar tidak menyinggung sang putri. Toh, sepertinya latihan memanah juga bukan ide yang buruk.


“Ini tempatnya,” Shen Huifeng menghentikan kudanya bersamaan dengan berhentinya pemandu dari Kota Quanzhou yang juga merupakan seorang pemburu di Gunung Mata Air ini. Rombongan pun serentak ikut menghentikan kuda. Mereka disambut oleh pemandangan alam yang begitu indah di sana. Walaupun tempat mereka tidak terlalu tinggi dari atas permukaan laut dan masih jauh dari puncak, pusat Kota Quanzhou sudah terlihat amat kecil oleh mereka.


“An’er, ayo kita lomba berburu,” tantang Li Huanran. Li An yang baru saja mau turun dari kudanya jadi sedikit tersentak. Ia pun melotot pada Li Huanran dan membalas, “Nggak mau. Pasti aku yang menang. Lagian, Kakak kan sudah janji buat ngajarin Nona Shen cara memanah.”


“Hmph! Dasar sombong! Kamu nggak bakal bisa memanah sepandai ini kalau nggak kuajarin dulu,” cibir Li Huanran, “Awas saja kalau sampai kamu nggak dapat hasil buruan satu pun.”


“Aku kan memang nggak ada niat berburu,” protes Li An. Sejak awal, ia hanya ingin bertamasya biasa ke Gunung Mata Air. Entah bagaimana ide berburu itu bisa muncul. “Aku ada latih tanding sama Kakak Hong setelah ini. Kakak sendiri jangan pergi jauh-jauh. Kalau Kakak kesasar, nanti aku yang repot.”


“Hais … harusnya aku yang bilang begitu,” Li Huanran menepuk pundak Li An. Tinggi mereka saat ini sudah sama. Padahal, dulu Li An tidak lebih tinggi dari pundak kakaknya. Anak laki-laki itu sungguh tumbuh dengan cepat pada masanya. “Aku akan membawakanmu anak kelinci nanti.”


“Jangan,” tolak Li An tegas dengan suara yang dingin, “Berikan saja kelinci itu pada Mimi untuk dimasak.”

__ADS_1


Li Huanran malah menyeringai. Ia pun menepuk tangannya sekali, lalu mengolok adiknya, “Ya ampun, kamu masih saja tidak tega meilhat hewan berbulu yang imut mati. Apa kepergian Miao-Miao masih mengganggumu.”


“Nggak! Aku bukan anak kecil lagi,” bantah Li An, kali ini dengan berseru sedikit kesal. Itu malah membuatnya terlihat lebih kekanak-kanakan. Shen Huifeng pun tidak menyangka bahwa Pangeran Kedelapan akan bereaksi seperti demikian. Mungkin ini sisi imut nan hangat Pangeran Kedelapan yang dimaksud oleh Li Huanran.


“Hm, kamu nggak perlu takut. Aku bakal kasih kamu tiga ekor anak kelinci,” goda Li Huanran yang kemudian dibalas oleh Li An, “Hmph! Aku bakal kasih burung berdarah buat Kakak.”


“Wah, kalau begitu kita jadi berlomba,” Li Huanran sukses mempengaruhi adiknya untuk ikut berburu. Li An pun memberi isyarat pada Wang Hongli untuk menunda latih tandingnya. Ia mengambil perlengkapan memanahnya dan berjalan menuju ke pinggiran hutan bersama beberapa orang.


“An’er, jangan pergi jauh-jauh,” seru Li Huanran dari tempatnya berdiri. Li An sebenarnya kesal mendengar itu, tapi ia tidak punya muka untuk berbalik arah sekarang. Saat ini, tujuan utamanya adalah memburu burung paling gelap di hutan dan menyerahkannya pada Li Huanran.


“Nah, sekarang kita bisa latihan memanah dengan tenang,” ucap Li Huanran pada Shen Huifeng yang sejak tadi termangu. Ia pun memberikan sebuah busur dan selusin anak panah pada gadis cantik itu. Tak jauh dari mereka, seekor tupai merambat di sebatang pohon yang lumayan besar.


“Lihat tupai itu!” kata Li Huanran sambil menarik anak panahnya. Matanya membidik dengan cermat. Anak panah pada busurnya siap ditembakkan kapan saja. Dengan satu tarikan napas, anak panah itu pun meluncur cepat ke arah tupai yang dibidik.


Srak!


Anak panah Li Huanran berhasil mengenai si tupai, tapi hanya di pergelangan kakinya saja. Hewan berbulu cokelat itu pun langsung terjatuh dan berlari menajuh sebelum ditangkap oleh dayang-dayang Li Huanran yang mulai mendekat.


“Sayang sekali, padahal dia tupai yang cantik,” ucap Li Huanran dengan nada yang sama sekali tidak merasa rugi.


Shen Huifeng bergidik mendengarnya. Ia merasa iba saat melihat tupai yang terkena panah Li Huanran itu kabur menjauh. Mengetahui hal itu, Li Huanran berkomentar, “Hm, ternyata kamu mirip dengan An’er dalam hal ini.”


“A—apa Tuan Putri tidak kasihan pada tupainya?’ Shen Huifeng harus memberanikan diri untuk bertanya. Li Huanran pun menoleh, “Aku sama sekali nggak ada niat buat bunuh dia kok. Cuma mau menangkapnya saja biar tupai itu dirawat sama An’er nanti. Mau gimana lagi kalau dia dah kabur?”


“Sa—saya masih belum mengerti,” Shen Huifeng tergugup seketika saat Putri Ketiga menyodorkan busur dan anak panah padanya. Ia menerima perlengkapan memanah itu dengan terpaksa dan patuh saja mengikuti instruksi Li Huanran.


“Kamu tidak perlu mencengkeram busurnya, cukup ditahan saja,” kata Li Huanran membimbing, “Tarik anak panahnya dengan tiga jari. Posisikan jarimu itu seperti pengait saat menarik tali busurnya. Ketika hendak menembak, lepaskan saja kaitan ketiga jarimu.”


Shen Huifeng susah payah mengikuti instruksi Putri Ketiga. Tangannya langsung bergetar begitu menarik tali lebih dari setengah jalan. Menarik busur itu lebih berat dari yang ia duga. Ia merasa ingin segera melepas anak panah agar jari-jemarinya tidak sakit lagi.


“Tahan sebentar. Wajar tanganmu gemetaran karena ini adalah kali pertama kamu mencobanya,” Li Huanran memberi pengarahan. Sebelum ia melanjutkan kata-katanya itu, anak panah Shen Huifeng lebih dulu. Gadis itu sudah tidak kuat menahan tarikan pada busur.


“Ma—maaf, Tuan Putri,” wajah Shen Huifeng tertunduk lesu. Tangannya masih saja gemetaran, sedangkan busurnya telah jatuh ke tanah. Ia menggigit bibirnya guna menahan sakit yang teramat nyeri di tangannya.


“Apa tali busur itu mengenai lenganmu?” tanya Li Huanran yang segera menarik tangan Shen Huifeng yang masih gemetar. Ia pun menyibak lengan baju Nona Shen perlahan dan mendapati memar gelap di tangan si putri dari Keluarga Shen itu. Sang putri pun segera meminta dayangnya untuk mengambilkan salep.


“Saya minta maaf,” Shen Huifeng kembali mengucapkan kata-kata itu. Li Huanran hanya menghela napasnya. Ia pun menepuk pundak Shen Huifeng dan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.


“Aku juga melukai lenganku saat awal-awal mencoba panahan,” hibur Li Huanran, “Kamu hanya perlu terus berlatih dan berlatih. Lama-lama kamu akan terbiasa dengan itu.”

__ADS_1


“Saya harus mencoba lagi?” Shen Huifeng memasang wajah memelasnya sampai membuat Li Huanran tersenyum hambar. Putri Ketiga pun menjawab, “Kamu istirahat saja. Mana mungkin aku memaksamu? Lagian, aku punya kompetisi kecil dengan adikku.”


Shen Huifeng bernapas lega. Tak lama kemudian, seorang dayang datang menghampirinya. Dayang muda itu membawakan salep dan mengoleskannya pada lengan Nona Shen yang memar.


“Tenang saja, tuan putri kami bukanlah wanita yang jahat,” kata dayang muda itu. Ia pun menyunggingkan senyum yang ramah dan mengajak Shen Huifeng mengobrol sambil mengobatinya. “Beliau hanya terkadang usil kepada Pangeran Kedelapan. Kami sudah biasa melihat itu.”


“Terima kasih,” balas Shen Huifeng lirih. Pagi ini, ia sangat gugup dan takut saat diminta ayahnya untuk menyambut Pangeran Kedelapan dan Putri Ketiga. Ini adalah pertama kalinya bagi ia. Intuisinya mengatakan bahwa ia harus berhati-hati. Ia bahkan sempat berpikir bahwa Pangeran Kedelapan akan semena-mena menggunakan kekuasaannya untuk menekan Keluarga Shen. Ia sama sekali tidak menyangka kalau putri dan pangeran yang datang ke rumahnya sangat jauh berbeda dari dugaan.


Ketika hari menjelang sore, Li An kembali membawa beberapa ekor burung, salah satunya burung gagak hitam. Li Huanran sendiri membawakan buruan yang sesuai dengan janjinya. Ia menangkap tiga ekor anak kelinci kecil yang masih hidup.


“Buang gagak jelek itu!” titah Li Huanran tegas. Li An pun menolaknya dengan tegas pula, “Nggak mau! Kakak kembalikan dulu anak-anak kelinci itu pada induknya.”


“Hais …,” Li Huanran menepuk jidatnya, “Padahal aku membiarkannya hidup biar kamu mau memeliharanya. Apa boleh buat kalau kamu nggak suka. Aku bakal minta Mimi buat menyate kelinci-kelinci ini.”


“Kejam,” balas Li An singkat. Ia sama sekali tidak melanjutkan pembelaannya pada kelinci-kelinci kecil yang malang itu karena kalau ia melakukannya, Li Huanran pasti akan mempermainkannya lagi. Biarlah kelinci-kelinci mungil itu jadi santapan spesial mereka besok pagi.


“Mau kamu apakan bangkai gagak itu? Daging gagak nggak enak sama sekali,” tanya Li Huanran heran. Gagak adalah salah satu hewan yang paling dibincinya selain kodok atau katak. Sejak mengetahui hal itu, Li An selalu memberinya gagak setiap kali mau membalas keusilannya.


“Memangnya Kakak pernah makan daging gagak?” balas Li An yang kemudian menunjuk pria paruh baya yang tadi memandu mereka sampai ke gunung, “Pemburu itu mau membelinya untuk dijadikan umpan. Jadi, Kakak nggak perlu takut karena makan malam ini adalah burung merpati.”


“Baiklah, kelincinya besok pagi kalau begitu,” Li Huanran menyeringai cantik.


Li An berdecak pelan, lantas menjawab ketus, “Terserah.”


“Kita harus pulang sekarang. Langit akan segera gelap,” Li Huanran melangkah ke kudanya. Para pengawal dan dayang pun bangkit dari duduknya mengikuti Li Huanran untuk naik ke kuda masing-masing. “Nona Shen, terima kasih sudah merekomendasikan tempat yang seru ini.”


“Sama-sama, Tuan Putri,” jawab Shen Huifeng singkat.


...***...


“Kami hanya pergi ke Gunung Mata Air untuk berburu,” Shen Huifeng menceritakan pengalamannya hari ini saat makan malam bersama keluarganya. Shen Chao pun mengerutkan kening, lalu bertanya, “Bagaimana dengan Pangeran Kedelapan?”


“Pangeran Kedelapan adalah sosok yang tidak bisa didekati. Aku hanya bisa berbincang dengan Putri Ketiga saja,” jawab Shen Huifeng sambil tertunduk. Ia bisa mengerti maksud ayahnya saat ia disuruh untuk memandu perjalanan sang pangeran. Namun, ia tidak banyak melakukan apa-apa pada akhirnya.


“Hah … aku mengerti. Ucapanmu itu benar. Aku juga merasakan hal yang sama dari Pangeran Kedelapan,” Shen Chao menghembuskan napasnya sekaligus membuang jauh-jauh harapan yang tak pasti, “Setidaknya, kamu punya hubungan yang baik dengan Putri Ketiga.”


“Ya,” Shen Huifeng membalas lirih, “Putri Ketiga memang sosok yang baik hati.”


“Apa kamu mendapat sesuatu dari beliau?” Shen Ling tiba-tiba bertanya.

__ADS_1


“Anak kelinci,” Shen Huifeng menunjuk ke halaman rumahnya yang kini terdapat seekor kelinci mungil yang beruntung di sana. Walau begitu, kelinci itu masih terlihat ketakutan, bahkan setelah kakinya yang terluka diperban. “Putri Ketiga ingin aku merawatnya. Semoga kelinci itu bisa bertahan hidup yang lama.”


“Benar, rawatlah pemberian Putri Ketiga dengan baik. Barangkali itu berguna untukmu di masa depan,” Shen Chao mengulas senyum. Meskipun putrinya tidak mendapat hasil yang sesuai harapannya, ia tetap senang karena relasinya dengan keluarga kekaisaran telah terjalin rapi.


__ADS_2