Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bab 071: Kakek Tua dari Hutan


__ADS_3

"Pangeran, Anda tidak boleh memaksakan diri," ucap Wang Hongli khawatir. Ini sudah hari ketiga sejak mereka memasuki hutan. Belum ada tanda-tanda pengejaran dari orang-orang Tarkan. Masalahnya, luka Li An semakin parah, ia bahkan terkena demam tinggi yang parah.


"Aku masih bisa," balas Li An lirih. Ia berjalan dengan tongkat di tangannya. Dari wajahnya yang pucat, terlihat jelas bahwa ia sedang mati-matian menahan sakit yang semakin menjadi. Tubuhnya bahkan gemetaran tanpa ia sadari.


"Tidak, Pangeran," Wang Hongli menggeleng. Tangannya bergegas menyahut badan Li An yang barusan hendak ambruk. Ia menatap wajah pemuda itu dengan iba.  "Kita harus beristirahat sekarang. Lagi pula, orang-orang Tarkan itu mungkin mengira bahwa kita sudah mati."


"..."


Li An ingin menyanggah, tapi tenaganya memang sudah habis. Tubuhnya tak kuat lagi untuk memaksakan diri berjalan, apalagi di medan yang sulit dan tak dikenal. Pada akhirnya, ia pun menuruti permintaan Wang Hongli untuk beristirahat.


Sebenarnya, Wang Hongli tahu satu dua hal mengenai herbal. Ia bisa saja meracikkan obat untuk Li An. Saat masih di perguruan dulu, ia juga mempelajari berbagai ilmu tentang herbal dan racun—yah, meskipun tidak intensif sih. Andai ia memiliki bahan-bahannya, ia pasti akan membuatkan obat untuk Pangeran Kedelapan sesegera mungkin.


"Kami tidak menemukan herbal yang Anda maksud, Ketua," lapor Ma Yuan dengan wajah yang penuh penyesalan. Sama seperti yang lain, ia juga terluka akibat pertempuran tempo hari, tapi lukanya yang paling ringan di antara mereka.


“Begitu, ya?” Wang Hongli menoleh sebentar pada pendekar muda itu, lalu kembali memalingkan wajahnya pada Li An, “Kita tidak boleh menyerah. Terus cari herbal-herbal itu sembari melanjutkan perjalan.”


“Ha!” seru Ma Yuan membalas patuh. Akan tetapi, seruan itu tak sekeras biasanya. Ia sedang dalam kondisi yang kurang baik sekarang.


“Apa panasnya semakin tinggi?” seorang pendekar yang usianya tak jauh berbeda dari Wang Hongli menatap Li An yang terbaring lemas. Ia adalah Jin Mi, salah satu pendekar yang ikut mengawal Li An menjauh dari pertempuran.


“Kelihatannya sudah lebih membaik dari kemarin,” seorang pendekar yang seusia Ma Yuan menyahut. Ia adalah Sue Fang. Di Brigadir Cenangkas, ia terkenal sebagai sosok yang humoris. Sayangnya, ia tidak bisa sedikit pun menghibur Pangeran Kedelapan yang sedang kesakitan begini.


“Mana ada membaik?” Jin Mi menepuk pundak Sue Fang yang terluka sehingga pendekar muda itu berseru protes. “Sepertinya, beliau tidak akan bisa berjalan sama sekali. Bagaimana kalau kita buatkan tandu?”

__ADS_1


“Ide bagus,” Wang Hongli langsung setuju, “Kita tidak bisa membiarkan Pangeran Agung terus memaksakan diri.”


Wang Hongli pun mencari dahan pohon yang cocok untuk membuat tandu itu, sedangkan Ma Yuan mencari akar-akaran atau apa pun yang bisa dimanfaatkan sebagai tali. Sebelum mentari memanjat langit sepenuhnya, mereka telah selesai membuatkan tandu itu.


“Apa kita langsung melanjutkan perjalan ke timur sekarang?” tanya Sue Fang yang mengikat bagian terakhir. Melihat anggukan Wang Hongli, ia segera membawa tandu itu ke dekat Li An. “Mohon maaf, Pangeran. Kita harus segera melanjutkan perjalanan. Anda harus bersabar atas penderitaan ini untuk sementara.”


Li An yang matanya terpejam mendengar kata-kata itu, tapi ia tidak kuasa untuk membalasnya sama sekali. Apa yang dapat ia lakukan hanya pasrah. Tiga luka panah yang tertancap di tubuhnya terasa semakin parah setiap detik. Demamnya pun semakin tinggi. Dalam hati, ia berpikir bahwa sore ini mungkin akan menjadi senja terakhirnya. Andai Wang Hongli mendengarnya, pendekar bujang itu pasti akan mengomel dan sangat bersedih.


“Harusnya, aku tidak membiarkan dia terikat padaku sampai membujang begitu,” batin Li An penuh penyesalan. Ia terbaring lemah di atas tandu, dipanggul oleh keempat pendekar setia yang menyertainya. “Usianya sudah masuk kepala tiga, kan? Apa dia tidak pernah tertarik untuk menikahi seorang gadis?”


Hawa di sekitar semakin dingin, pertanda bahwa hari mulai senja. Sakit dan nyeri yang diderita Li An semakin parah. Namun, ia tidak bisa melakukan apa-apa selain menahannya. Kalau saja bisa memilih, ia mungkin akan memilih untuk mati sekarang daripada terus menderita.


Angin sepoi-sepoi berhembus pelan. Dibawanya hawa dingin yang datang dari pegunungan. Bagai menusuk tulang, hawa dingin memperparah sakit yang menyelimuti Li An.


“Malang sekali pemuda itu,” lanjut si kakek tua, “Dia mungkin tidak akan bisa melewati malam ini dengan selamat.”


“Jangan lancang, Pak Tua!” Wang Hongli reflek berseru karena termakan emosi. Andai sebelah tangannya tidak memanggul tandu Li An, ia pasti sudah menghunuskan pedangnya. Dalam kondisinya saat ini, ia tidak peduli meskipun kakek itu sudah tua dan tidak mungkin bisa melawannya sama sekali.


“Hais …, anak muda jaman sekarang memang tidak tahu yang namanya sopan santun,” si kakek tua berjalan mendekati Wang Hongli tanpa takut sama sekali. Ia bahkan melotot pada pendekar hebat itu seolah menantangnya untuk bertarung, padahal ia hanyalah seorang pria bungkuk yang bahkan tidak bisa berjalan kecuali dengan bantuan tongkat.


“Anak muda yang malang,” si kakek tua yang bungkuk itu mendongak dan kembali mengulang kata-katanya. Karena tubuhnya yang pendek, ia bisa melihat bagian bawah tandu. “Luka itu sudah infeksi. Bagaimana cara kalian merawatnya? Bukankah dia adalah tuan muda kalian yang berharga?”


“Itu …,” Wang Hongli tak bisa berkata-kata. Ia bukanlah seorang otak otot yang sukar berpikir. Emosinya yang tadi sempat meluap pun sudah berhasil ia kendalikan kembali, “Mohon maaf, Kisanak. Apakah Anda bisa menolong tuan muda kami?”

__ADS_1


“Hm?” si kakek tua itu mengerutkan keningnya yang sudah banyak berkeriput, “Kenapa kamu pikir aku bisa membantu tuan mudamu?”


“Anda pasti sudah lama tinggal di sekitar sini, bukan?” Wang Hingli hanya menerka. Saat mendengar ucapan kakek tua itu tadi, ia berpikir bahwa mungkin kakek tua itu adalah seorang yang bijak. “Saya ingin mencari herbal untuk membuat obat. Barangkali Anda—”


“Kamu bisa meramu herbal?” si kakek tua menatap Wang Hongli dari atas sampai bawah. Sosok pendekar itu tidak tampak seperti seorang herbalis sama sekali. Meski begitu, Wang Hongli menjawab tanpa ragu, “Saya pernah mempelajarinya.”


“Berapa banyak herbal yang kamu ramu setiap harinya?” tanya si kakek tua penasaran.


“Em~” Wang Hongli kini terlihat ragu, lantas menjawab, “Saya tidak meramu herbal setiap hari.”


“Kalau begitu, berapa kali dalam sebulan?” tanya si kakek tua lagi.


“Tugas saya adalah mengawal,” Wang Hongli mulai merasakan “sesak” dari pertanyaan-pertanyaan itu, “Saya sangat jarang meramu herbal.”


“Hah? Apa kamu bahkan tidak meramu herbal paling tidak sekali setiap musimnya?” si kakek tua tampak geram. Wajahnya seperti orang tua yang kesal pada cucunya karena gagal menjalankan tugas.


“Sebenarnya, saya meramu saat diperlukan saja, jadi …,” belum sampai Wang Hongli menyelesaikan kata-katanya, sebuah tongkat tetiba terayun ke wajahnya. Benturan tongkat itu tidak sakit sama sekali, hanya membuat Wang Hongli kaget.


“Dengan ketekunan seburuk itu, kamu mau meramu herbal? Tidak! Itu bahkan tak pantas disebut tekun!” bentak si kakek tua. Ia pun berdecak, “Ck, ikuti aku! Biar aku yang meramukan obat untuknya. Kalian para pendekar tidak bisa diandalkan sama sekali dalam hal ini.”


“...”


Wang Hongli tidak bisa protes. Lagi pula, ia tidak berniat membuang kesempatan ini sama sekali. Bagaimanapun juga, keselamatan Pangeran Kedelapan adalah prioritas utamanya. Ia harus menyelamatkan Li An bagaimanapun caranya.

__ADS_1


__ADS_2