Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bab 062: Hadiah dari Ertamis


__ADS_3

“Pangeran, hari perburuan sebentar lagi. Persiapkan diri Anda!” seru Otugai dengan semangat membaranya yang tak pernah padam. Pria kekar itu selalu bertambah semangat setiap kali membahas perburuan. Ia adalah tipe orang yang suka terhadap tantangan-tantangan ekstrim.


“Ya, saya mengerti,” Li An hanya mengangguk pelan dengan jawaban yang datar.


“Hai, Anda sudah menyiapkan panah terbaik, kan?” Otugai merangkul Li An dengan akrabnya. Mereka jadi terlihat seperti guru dan murid yang sangat dekat. “Kami akan menyediakannya kalau Pangeran belum punya.”


“Saya sudah menyiapkan panah yang sesuai dengan saya,” Li An melepas rangkulan tangan besar di lehernya. Jujur saja, ia merasa risih dengan perlakuan sok akrab itu.


Panah kekaisaran dan panah kekhaganan jauh berbeda. Kekhaganan memiliki panah yang yang kecil dengan jangkauan yang pendek. Panah itu terbuat dari tanduk hewan buruan yang keras. Biasanya, orang-orang Tarkan menggunakannya sambil berkuda. Mereka amat lihai melakukan penyergapan jarak dekat.


Berbeda dengan kekhaganan, panah kekaisaran besar-besar. Jangkauannya pun cukup jauh. Panah itu dibuat dengan kayu terbaik yang diasah oleh ahli terbaik dibidangnya. Pasukan pemanah kekaisaran memiliki keunggulan pada jarak tempuh panah yang mereka tembakkan, sedang para pemanah kekhaganan memiliki keunggulan dalam memanah jarak pendek. Mereka akan jauh lebih mengerikan pada pertarungan terbuka tanpa benteng.


“Hoh~ saya menantikan pertunjukan panah dari seorang pangeran kekaisaran,” Otugai menyeringai samar. Ada nada meremehkan pada ucapannya. Ia tidak yakin bahwa pangeran yang kurus seperti Li An akan mampu menarik anak panah dari busurnya.


“Kita lihat saja nanti,” Li An menanggapinya dengan enteng.


Negosiasi masih terus berjalan. Li An dan para diplomat kekaisaran masih mengupayakan pengamanan terhadap jalur sutra. Bagaimanapun juga, jalur itu adalah jalur perdagangan internasional. Setiap negeri yang dilaluinya harus memastikan agar jalur itu dapat digunakan dengan aman, bukannya malah menjarah para pedagang yang melewatinya.


Li An juga sempat bertemu dengan tengkulak-tengkulak dagang dari kekhaganan. Mereka bersedia mempertemukan Pangeran Kedelapan dengan para petani dan tukang kebun yang menguasai daerah-daerah subur di kekhaganan. Dari pertemuan itu, Li An menanamkan pengaruh Serikat Dagang Fuli pada perekonomian kekhaganan. Ertamis Khagan sama sekali tidak keberatan dengan itu. Ia malah senang karena perdagangan di negeri akan berkembang dengan lebih baik.

__ADS_1


Pekerjaan Li An semakin banyak setiap harinya. Di pagi hari, ia selalu memiliki janji pertemuan dengan orang-orang Tarkan maupun rapat dengan para anggota delegasi. Setelah serangkai pertemuan itu, ia akan sibuk berkutat dengan pena, kertas, dan tinta. Sarjana muda itu harus menulis laporan untuk diserahkan pada Kaisar Yung Wei nantinya.


Sesekali, Li Xiayu menghampirinya karena bosan. Gadis yang sedikit lebih tua dari Li An itu selalu merengek minta diantar jalan-jalan ke luar. Ia bosan terus terkurung di kamarnya. Padahal, itu adalah hasil dari keluhannya sendiri.


Saat berjalan-jalan, Li An dan Li Xiayu kadang bertemu dengan Asina. Li Xiayu selalu menyapanya dengan senyum yang ramah, sedangkan Li An memalingkan muka—ia sedang berusaha untuk menjaga hatinya. Asina sendiri malah menundukkan wajahnya dengan malu-malu. Ia masih saja terjebak dalam kesalahpahamannya yang fatal.


Hari demi hari berlalu. Bulan purnama di malam hari pun hampir terbit dengan wujud utuhnya. Satu atau dua hari lagi, bulan itu pasti bercahaya dengan sempurna. Acara perburuan bersama disiapkan dengan seksama.


Sehari sebelum acara perburuan dimulai, Ertamis Khagan mengumpulkan para menteri dan tamu dari kekaisaran di istananya. Ia mengadakan perjamuan yang amat mewah. Di pertemuan yang meriah itu, ia ingin memberikan hadiah pada Li An selaku kepala delegasi dan pangeran dari kekaisaran.


“Kita sudah semakin akrab selama beberapa hari ini,” kata Ertamis memulai sambutannya, “Ini adalah hari yang mulia. Setelah hari ini, perdamaian dan persahabatan antara Tang dan Tarkan akan terwujud.”


“Pangeran Tang Yang Agung, izinkan saya memberi sesuatu pada Anda sebagai tanda persahabatan. Majulah!” seru Ertamis pada Li An. Panggilan Pangeran Agung itu sudah tersemat pada diri Li An sejak hari pertama. Kewibawaan dan kesarjanaannya yang kental membuat Pangeran Kedelapan mendapat panggilan itu di antara orang-orang Tarkan. Anggota delegasinya pun jadi ikut-ikut memanggilnya demikian. Bagaimanapun juga, ia adalah Duta Agung dari Kekaisaran Tang.


Li An maju ke hadapan para hadirin. Kasak-kusuk di sana-sini mulai terdengar samar begitu ia melangkahkan kakinya. Suaranya seperti sarang lebah yang baru dibangun oleh para lebah pekerja.


“Panggilkan Asina untuk masuk,” seru Ertamis lagi. Ucapannya kali ini membuat Li An tersentak dalam diam, tapi ia bisa menyembunyikannya. Tak lama kemudian, Asina masuk ke ruang takhta diiringi pelayan-pelayan di kedua sisinya. Setiap pelayan itu membawa nampan berisi hadiah yang berbeda-beda. Meskipun jumlahnya tidak sebanyak yang Li An berikan pada kekhaganan saat ia sampai, jumlah hadiah itu tetaplah banyak untuk seorang pribadi.


“Pangeran, Asina adalah putriku yang istimewa,” kata-kata Ertamis itu membuat Asina terenyuh. Ia seolah baru mendapat pengakuan setelah selama ini merasa diabaikan karena kelemahannya. Wajahnya tertunduk dalam. Pipinya yang merona merah tersamarkan oleh riasan. Ia sudah menanti-nantikan hari ini datang

__ADS_1


“Pangeran, Engkau adalah pria sejati yang selalu setia pada pendirianmu. Aku menghormati dan menghargai keteguhanmu. Engkau juga telah menunjukkan kebijaksanaan dan kebaikan hatimu. Sikap itu adalah keteladanan yang terukir dalam hatiku,” ucapan Ertamis kali ini membuat Li An keheranan. Ia belum mampu menangkap maksud dari ucapan penguasa tertinggi Tarkan itu, apalagi ucapan Ertamis selanjutnya, “Aku sudah mendengar pendapat Tuan Putri dari Asina. Karena itu, aku tak perlu ragu lagi. Engkau pun tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi setelah ini.”


Ertamis berhenti sejenak. Ia menyunggingkan senyum bangga. Li An memicingkan mata, merasa aneh dengan ucapan yang sejak tadi Ertamis katakan. Hati Asina berdegup kencang. Gadis itu menutup matanya karena malu mendengar ucapan Ertamis selanjutnya.


“Hari ini, aku menyerahkan Asina kepadamu,” lanjut Ertamis dengan luwesnya. Seketika, ruangan takhta menjadi ramai. Itu adalah ucapan khagan mengandung banyak makna di dalamnya. “Dia adalah milikmu sekarang. Kuharap, kamu memperlakukannya dengan baik sebagaimana kebaikan yang terpancar pada dirimu. Aku percaya bahwa Engkau pantas menerima putriku. Ah, ada satu hal yang perlu kutekankan. Aku tidak menerima penolakan.”


Li An menelan ludah dan menarik napas dalam-dalam di tengah sorak-sorai para hadirin. Tidak ada kesempatan untuk menolak. Kalau ia sampai menolak, diplomasi bisa saja malah kandas seketika karena Ertamis merasa tersinggung. Itu tidak baik bagi kedua negara. Maka, Li An pun memberikan satu jawaban yang sebenarnya terpaksa, “Saya menerimanya. Saya pasti akan menjaganya sebaik mungkin.”


Hati Asina berdesir mendengar ucapan yang singkat itu. Wajahnya semakin tertunduk dalam karena malu. Rona di wajahnya juga semakin kentara. Ia diam-diam berusaha menatap Pangeran Agung yang dikaguminya. Sayangnya, ia terlalu takut dan malu untuk melakukan hal itu.


Setelah acara itu, Asina tidak kembali ke kamarnya yang biasa. Ia mengikuti Li An ke Istana Tamu. Mulai hari ini, ia adalah “milik” Pangeran Agung, juga dayang dari Li Xiayu. Ia sudah siap untuk mengabdi.


Li An segera menulis surat untuk mengabarkan kesuksesan diplomasi dan segala arsip yang selama ini sudah dicatatnya. Selain itu, ia juga menuliskan surat-surat khusus terkait Asina pada Kaisar Yung Wei dan Keluarga Putri Kecil. Ia harus menyampaikan pesan pada Keluarga Putri Kecil agar tidak terjadi kesalahpahaman. Lebih baik menyampaikan baik-baik daripada menimbulkan prasangka yang buruk karena berita yang datang dari pihak ketiga.


“Saya tidak ingin menyakiti hati Nona Asina,” ucap Li An begitu ia sampai di kamarnya, “Namun, ini adalah janji saya dengan Baginda Kaisar Yung Wei. Saya tidak akan mendekati Anda sampai ….”


“Tuan,” jawab Asina lirih setelah mendengar ucapan itu. Meski hatinya merasa tersayat, ia tetap menerimanya dengan lapang dada. Lagi pula, ia sudah siap dengan ucapan yang lebih pedas daripada kata-kata itu. “Hamba adalah milik Tuan. Hamba akan menerima semua perintah Anda. Juga, tolong jangan berbahasa formal pada hamba.”


“Kamu adalah wanita yang terhormat,” Li An mengucapkan hal itu dengan spontan, “Kamu pantas menerimanya.”

__ADS_1


“Anda orang yang lebih terhormat daripada hamba,” Asina tersenyum tipis. Ucapan Li An telah menghibur dirinya. Setidaknya, ia pasti akan mendapat perlakuan yang baik sebagaimana janji Putri Li Xiayu. “Mohon berbicara dengan santai kepada hamba selayaknya sepasang ….”


__ADS_2