Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bab 058: Putri Ketujuh


__ADS_3

Perjalanan Li An dan delegasi kekaisaran memakan waktu sampai sebulan lebih. Mereka menyusuri berbagai medan untuk bisa sampai ke Ibu Kota Tarkan. Gunung, hutan, bahkan sabana yang luas. Sebenarnya, mereka bisa saja sampai lebih cepat jika sudi melewati Gurun Maut selama sepuluh hari. Namun, kondisi di sana sangatlah sulit, apalagi dengan rombongan kereta-kereta kekaisaran yang tidak desain medan gurun itu.


“Kita hampir sampai, Pangeran,” lapor seorang ajudan dari Brigade Cenangkas yang dipimpin Wang Hongli, “Menurut pemandu, kita akan sampai di sana sebelum mentari bersinar tepat di atas kepala.”


“Terima kasih,” balas Li An singkat, “Kamu bisa kembali.”


“Ha!” ajudan itu pun pergi meninggalkan Li An.


“Kamu anak yang kaku, ya?” ucap seorang gadis yang duduk di seberang Li An. Gadis itu mendorong mangkuk sarapannya yang sudah tandas ke depan. Ia menatap Pangeran Kedelapan dengan raut wajah keheranan.


“Begitulah,” jawab Li An datar, “Aku memang begini dari dulu.”


“Dasar muka papan!” cela gadis itu, “Bagaimana kamu menjalani hidup dengan kekakuan seperti itu.”


“Kenapa aku harus memikirkannya?” tanya Li An balik, “Aku tinggal mengikuti arusnya, tapi aku juga punya misi dan tujuan yang jelas.”


“Ck, karena itulah aku benci istana,” gadis itu berdecak sebal dan manyun, “Istana terlalu mengekang.”

__ADS_1


“Kalau begitu, kenapa Kakak sudi ikut dalam delegasi ini?” Li An menaruh mangkuknya setelah menghabiskan sarapan. Meski wajahnya datar, akan terlihat kerutan samar di dahinya jika diperhatikan dengan teliti.


“Aku juga tidak mau! Ini pemaksaan. Kenapa harus aku yang pergi?” gadis yang dipanggil kakak oleh Li An itu menaruh kepalanya di meja kini. Ada raut frustasi di matanya. Ia adalah Putri Ketujuh, Li Xiayu. Usianya tidak terpaut jauh dengan Pangeran Kedelapan. “Adik Kedelapan, kudengar orang-orang Tarkan itu bangsa yang keras dan bengis. Kenapa aku yang dikirim untuk pergi? Padahal, aku sudah berusaha keras untuk bertahan hidup di istana.”


“...”


Li An tidak bisa memberi jawaban. Mulutnya kelu. Pada dasarnya, para wanita di kekaisaran tidak terlalu dipandang. Para putri bahkan harus pasrah ketika tiba saatnya mereka harus dinikahkan secara politik demi kekaisaran.


“Tidak bisakah kamu membantuku?” tanya Li Xiayu dengan berurai air mata, padahal ia terlihat angkuh beberapa saat yang lalu seakan tidak peduli sama sekali dengan nasibnya, “Bukankah kamu bisa menolong Kakak Ketiga kemarin?”


“...”


“Kakak—,” ucapan Li An tersendat sejenak. Pada akhirnya, ia luluh pada tangisan Putri Ketujuh. Ia memang tak bisa berbuat banyak. Lagi pula, diplomasi itu tidak melulu harus diikat dengan pernikahan. Ia pun menatap sendu pada Li Xiayu yang masih tersedu-sedu. “Kakak tidak perlu menunjukkan diri kalau memang tidak suka. Selama Kakak Ketujuh tetap di Istana Tamu, Kakak tidak akan diperhatikan sama sekali.”


“Apa kamu mau mengurungku?” Li Xiayu mendongak. Ia tak suka dengan usulan itu. Sejatinya, ia adalah gadis aktif yang suka berpetualang ke segala penjuru. Sayangnya, petualangannya itu hanya terbatas di Istana Kebahagiaan Abadi saja.


Sebenarnya, ia iri pada Li Huanran yang lebih bebas dengan dalih menjadi Wali Pangeran Kedelapan. Ia bahkan beberapa kali berusaha untuk mendekati Li An. Namun, kekakuan Pangeran Kedelapan itu membuatnya segan sehingga selalu urung untuk barang bertukar sapa saja, apalagi dengan perilakunya yang terkesan angkuh di mana-mana.

__ADS_1


“Hanya itu yang bisa kulakukan,” balas Li An tegas, “Aku tidak akan memaksa kalau Kakak tidak suka.”


“Ugh~” Li Xiayu tetap merasa keberatan. Ia bersungut-sungut pelan sampai tak terdengar oleh siapa pun, bahkan Li An yang ada di hadapannya. Sejujurnya, ia cukup penasaran dengan penampakan Istana Kekhaganan yang konon tak kalah dengan istana-istana di kekaisaran.


“Minimal,” Li An memberi opsi lain, “Kakak Ketujuh harus selalu menutup wajah ke mana pun Kakak pergi.”


“Ck!” Li Xiayu berdecak. Ia juga tidak suka dengan cadar yang menutupi setengah wajahnya. Ia pun membuang wajah dari Li An.


“Pangeran, kita sudah siap untuk berangkat,” lapor seorang pria muda yang akhir-akhir ini cukup akrab dengan Li An. Ia adalah Xiao Chyou, Kepala Petugas Logistik. Selama perjalanan ini, ia selalu berusaha keras mendekati Pangeran Kedelapan.


“Kita berangkat,” Li An pun berdiri, “Kakak, ayo bergegas.”


“Hmph,” Li Xiayu kembali berpaling dengan kedua tangan menempel di dada, tapi ia tetap mengindahkan himbaun Li An. Ia pun berkata dengan ketus, “Aku tahu.”


Xiao Chyou melihat peristiwa itu tanpa berkata sepatah kata pun. Pikirannya sibuk menganalisis sesuatu. Ia jadi ingat dengan pembicaraan bersama seorang menteri tinggi sebelum berangkat. Pria muda itu pun menelan ludah. Ia masih bingung untuk berpihak pada siapa.


“Hah~” Xiao Chyou menghela napas. Kekalutan dalam dadanya semakin kusut setiap kali ia memikirkan hal itu. Karirnya akan menanjak tinggi kalau ia berpihak pada menteri itu. Namun, ia tidak ingin mencari masalah dengan keluarga kekaisaran. Ia pun menggeleng pelan, memutuskan untuk melupakan konflik batin itu sejenak, lantas berjalan mengikuti Pangeran Kedelapan dan Putri Ketujuh.

__ADS_1


Delegasi sampai di ibu kota pada sore hari, cukup melenceng jauh dari perkiraan pemandu. Yah, setidaknya masih akurat dalam sehari. Begitu sampai di Ibu Kota Kekhaganan, iring-iringannya disambut meriah oleh istana dan para warga ibu kota yang penasaran. Mereka diterima baik selayaknya para utusan-utusan kenegaraan.


__ADS_2