
“Baginda, orang-orang kekaisaran dan Kepala Suku Kedua sudah berkhianat,” lapor seorang pesuruh yang tiba-tiba datang menghadap Ertamis Khagan. Ia sangat terburu-buru sampai tidak melihat sosok yang sedang duduk bersama dengan khagannya itu.
“Apa maksudmu?” bukan Ertamis yang bertanya, tapi Yun Jili yang menatap curiga, “Siapa yang mengkhianati siapa?”
“Orang-orang kekaisa—” pesuruh itu hendak mengulang ucapan, tapi urung setelah menyadari bahwa yang bertanya adalah seorang petinggi dari delegasi kekaisaran. Ia sudah lupa bahwa masih ada orang kekaisaran di ibu kotanya.
“Baginda Khagan, kita harus mengonfirmasi dahulu berita ini,” ucap Yun Jili kemudian.
“Aku mengerti,” Ertamis mengangguk setuju. Ia pun memerintah menterinya untuk membentuk tim khusus, sedangkan Yun Jili meminta seluruh pendekar Brigadir Cenangkas yang tersisa di ibu kota untuk berkumpul. Ia tidak mungkin diam saja dalam situasi ini.
“Kami akan mencari Pangeran Agung dan rombongannya,” kata Yun Jili menyerahkan kepemimpinan delegasi pada seorang sarjana kepercayaannya, “Kalian tunggulah di sini dan amati situasinya. Jangan bertindak gegabah. Ucapan dan tindakan kalian selama di sini mewakili harkat dan martabat kekaisaran.”
“Kami mengerti,” sarjana kepercayaan itu menjura. Ia mengantar kepergian Yun Jili sampai di gerbang ibu kota. Begitu ia hendak kembali ke Istana Khagan, pasukan Tarkan tiba-tiba menahannya.
Yun Jili terus melanjutkan perjalanannya tanpa mengetahui hal tersebut. Seluruh delegasi kekaisaran ditahan sebagai sandera. Yun Jili dan Brigadir Cenangkas yang ada di luar kota pun berstatus buronan. Beberapa hari kemudian, setelah ia mengirim seorang pendekar untuk memberi kabar pada sarjana kepercayaannya, barulah ia tahu bahwa kondisi Ibu Kota Khagan telah berubah.
“Ke mana kita akan menuju, Tuan?” tanya salah seorang Pendekar Cenangkas.
“Sungai Daun Kuning,” jawab Yun Jili singkat. Hanya itu satu-satunya petunjuk yang ia punya. Semoga saja ia masih memiliki kesempatan untuk mendapat petunjuk baru di sana. Bagaimanapun caranya, ia harus bisa menemukan Pangeran Kedelapan.
Perjalanan memakan waktu seharian penuh siang dan malam. Begitu sampai di sana, Yun Jili masih bisa melihat bekas pertempuran yang terjadi. Mayat-mayat manusia yang tewas di pertempuran itu bahkan masih ada. Sepertinya, tidak ada pihak yang berusaha membereskan semua kekacauan itu.
__ADS_1
Bau busuk menyengat di sana. Hawa mencekam dan angker menyeruak tak tertahankan. Seorang pendekar muda bahkan hampir muntah melihat bekas medan pertempuran yang tragis itu.
“Tuan Rubah Perak, di sini saudara-saudara kita,” seru seorang pendekar tua yang berwajah keras. Ia menggigit bibir. Meski kebanyakan mayat yang dilihatnya sudah tak dapat dikenali, ada beberapa pendekar yang masih utuh wajahnya. Seragam mereka juga masih dapat terlihat jelas meski terkoyak di sana-sini.
Yun Jili bergegas menuju ke tempat pendekar tua itu. Ia sampai di sana dan mendapati mayat-mayat berseragam Brigadir Cenangkas. Tangannya pun mengepal kuat. Ia langsung berseru memberi perintah, “Cari saudara-saudara kita yang lain! Kalau masih ada yang selamat, segera beri dia pertolongan pertama!”
“Apakah masih ada yang bakal selamat setelah pertempuran beberapa hari yang lalu?” si pendekar tua berujar lirih penuh pesimistis, tapi memang realistis, “Kita sudah sangat terlambat.”
“...”
Yun Jili tak dapat berkata-kata. Ia hanya dapat terdiam memandangi mayat para Pendekar Cenangkas yang telah gugur. Ada selusin pendekar yang ia temukan di sini. Pandangannya pun beralih ke seberang sungai. Ada sebuah petunjuk yang ia dapat di sini.
“Di sini juga,” seru yang lainnya lagi.
Beberapa mayat Pendekar Cenangkas tersebar di medan pertempuran, tapi tak ada yang sebanyak di dekat bantaran Sungai Daun Kuning. Fakta itu membuang Yun Jili semakin yakin.
“Apakah ada yang menemukan Ketua Wang?” tanya Yun Jili kemudian. Tak ada yang menjawab. Dalam hati, Sang Sarjana Rubah Perak berharap agar kebisuan itu menjadi pertanda baik. Kalau Wang Hongli tidak ditemukan di tempat ini, ada kemungkinan ia masih hidup bersama Pangeran Kedelapan. Dengan penuh harap, Yun Jili pun kembali berseru, “Cari lebih teliti! Pastikan kalian sudah mencari di setiap sisi!”
Seharian, Yun Jili dan para Pendekar Cenangkas menyusuri bekas medan pertempuran. Mereka tidak menemukan lagi seorang pendekar pun setelah tangah hari. Yun Jili memerintahkan agar para pendekar yang tewas di bawa ke seberang sungai. Karena situasi yang darurat, ia tidak akan bisa melaksanakan prosesi pemakaman sebagaimana biasanya. Sebagai gantinya, ia menyuruh para pendekar untuk menggali lubang besar dan mengubur mereka yang telah tewas sekaligus.
“Tiga bangsawan hilang, sisanya tewas. Empat pendekar hilang termasuk Ketua Wang, sisanya tewas,” lapor seorang pendekar kepada Yun Jili. Setelah terdiam sejenak, ia melanjutkan, “Pangeran Agung tidak ditemukan.”
__ADS_1
“Kita harus mencari mereka yang hilang,” Yun Jili memberi keputusan. Wajahnya teramat sendu. Tangannya masih saja terkepal sejak tadi. Rambut putihnya yang keperakan menari-nari ditiup angin. Hatinya diliputi kegusaran dan kecemasan yang silih berganti. Ia marah pada dirinya yang tidak bisa segera menolong Li An. Ia juga harap-harap cemas agar dapat segera bertemu dengan tuannya itu.
“Tuan Rubah Perak! Senior Ling masih bernapas,” seru pendekar muda yang bertugas untuk menguburkan para pendekar yang tewas. Ia segera menyuruh kawannya untuk mengambilkan air. Sesuai perintah Yun Jili, ia bergegas memberi pertolongan pertama pada yang selamat.
“Siapa yang selamat?” Yun Jili dan para pendekar yang sedang beristirahat langsung berkumpul. Mereka mendapati Ling Bao yang tubuhnya gemetaran. Raut wajah pendekar itu terlihat amat sangat kesakitan.
“Senior, minumlah air ini! Kami akan menyelamatkanmu,” seru si pendekar muda. Ling Bao terbatuk-batuk setelah menerima air yang diberikan oleh pendekar muda itu. Ia pun berusaha membuka matanya. Mulutnya bergerak-gerak seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tak ada suara yang keluar dari lisannya.
“Hari sudah hampir gelap. Kita tidak akan sempat mengantar Pendekar Ling berobat di ibu kota,” Yung Jili menatap ufuk barat yang mulai memancarkan sinar senja kemerahan. Ia sedang dilema sekarang. Prioritas utamanya adalah menemukan Pangeran Kedelapan, sedangkan ia tidak ingin Ling Bao mati begitu saja. Ia juga membutuhkan petunjuk darinya untuk menemukan Li An.
“Tu–an Ji–li,” suara lirih dari Ling Bao akhirnya terdengar. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi lisannya kembali kelu. Setiap kali ia hendak berkata, rasa sakit langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. Namun, ia tetap memaksakan diri. Dengan suara yang terbata-bata dan samar, ia menyampaikan pesan pada kawan-kawannya.
“Kalian harus segera menemukan Pangeran Agung. Beliau sedang terluka. Masuklah ke dalam hutan dan cari beliau. Wang Hongli pergi membawanya ke arah mentari terbit.”
Ling Bao kembali pingsan setelah menyampaikan petunjuk itu. Kondisinya saat ini sedang sangat kritis. Denyut nadinya pun hampir tidak terasa, tapi masih ada pertanda kehidupan tipis yang tersisa di tubuhnya.
Yun Jili memanfaatkan informasi itu sebaik-baiknya. Ia bergegas membagi kelompok untuk menyusuri hutan esok pagi. Hari sudah semakin gelap sekarang. Mereka tidak bisa sembarangan masuk ke hutan. Selain itu, ia juga memutuskan untuk mengurus korban perang yang lain sekalian membuat pos di seberang Sungai Daun Kuning yang cukup jauh dari medan pertempuran.
Kondisi semakin runyam begitu Yun Jili mendapat kabar mengenai situasi di ibu kota. Ia tak menyangka bahwa pendekar yang dikirimnya untuk memberi kabar pada sarjana di sana kembali dengan keadaan terluka. Situasi yang bertambah buruk itu membuat Yun Jili semakin gelisah.
“Kita tidak bisa berdiam di sini,” ucap Yun Jili setelah mendengar kabar buruk itu, “Bongkar tenda-tenda dan kumpulkan seluruh pendekar. Kita semua harus masuk ke hutan sebelum orang-orang Tarkan menemukan kita.”
__ADS_1