Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Tempat Tinggal di Istana


__ADS_3

“Kamar kita bersebelahan,” ucap Li Huanran sambil tersenyum manis di depan pintu kamar Pangeran Kedelapan. Sebelum kembali ke istana, ia telah meminta orang kepercayaannya untuk mengatur ulang tata letak kamar. Dengan begini, ia akan lebih mudah bertemu Li An, “Kalau kamu bermimpi buruk di malam hari, kamu bisa mengetuk kamarku.”


“Aku bukan anak penakut. Hmph!” Li An menutup kamarnya dengan keras. Melihat itu, Li Huanran hanya tertawa kecil. Rasanya seru setiap kali menggoda adik kecilnya ini. Yah, walaupun akan lebih baik kalau dia tersenyum riang.


Selama di Istana Kebahagiaan Abadi yang merupakan mahligai para pengeran dan putri, Li Huanran selalu mengajak Li An ke mana pun ia pergi. Gadis itu sangat paham bahwa tidak ada satu pun orang yang dipercayai oleh adiknya di istana ini selain ia. Jadi, ia berharap Li An dapat tetap merasa tenang selagi tinggal di istana.


“Huan’er, inikah putra Selir Ai?” tanya seorang wanita beriasan tebal. Li Huanran mengajak Li An berjalan-jalan di sekitar Istana Kekaisaran pada hari-hari pertamanya. Ia mengunjungi hampir setiap tempat, termasuk kediaman ibunya, Selir Shu.


“Benar, Ibunda. Namanya Li An, Pangeran Kedelapan,” jawab Li Huanran sekaligus memperkenalkan Li An. Bocah itu duduk dengan sopan sebagaimana yang Putri Ketiga ajarkan. Wajahnya sedikit tertunduk. Matanya sama sekali tidak memandang ke Selir Shu sehingga wanita itu berkomentar, “Sungguh anak yang dingin. Ah, bukan. Mungkinkah kamu gugup?”


Li An tidak menjawab. Ia malah memalingkan muka sehingga Li Huanran yang mengambil alih jawabannya. Putri Ketiga menjelaskan kondisi Li An pada ibunya sebagaimana yang ia tahu sambil berharap Li An tidak tersinggung atau keberatan dengan hal itu.


“Aku mengerti. Itu memang suatu yang sulit di atasi, apalagi tidak ada pelindung di pihaknya,” Selir Shu membicarakan ibu Li An, Selir Ai. Wanita itu tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia tidak membeberkannya terlalu dalam sehingga Li An tidak menyadarinya. Andai saja Li An mengerti bahwa ibunda Putri Ketiga itu tahu kasus mengenai Selir Ai, ia pasti akan berusaha meminta keterangan.


“Kami akan berkunjung lagi lain waktu,” ucap Li Huanran begitu mendapati tanda-tanda kesuntukan di wajah Li An, “Terima kasih jamuannya, Ibunda.”


“Baiklah, aku juga tahu Pangeran Kedelapan sudah bosan,” Selir Shu menatap Li An dengan dingin. Peringainya berbeda jauh dengan Li Huanran yang murah senyum—atau mungkin memang begitu peringai aslinya tanpa topeng. Li An tidak peduli dengan tatapan menusuk itu. Wajahnya pun tak kalah dinginnya. Sungguh membuat Selir Shu tertarik, “Nak, sebelum kamu pergi, biar aku tanya. Apa kamu ingin menjadi kaisar?”


“Tidak akan,” jawab Li An singkat. Itu kalimat pertama yang keluar dari lisannya sejak masuk ke Kediaman Selir Shu. Sorot matanya mengandung keseriusan seakan ingin menekankan bahwa ia tak mau berlama-lama di mahligai bak sangkar emas ini.


“Baguslah kalau begitu,” Selir Shu menyentuh kepala Li An sambil menatapnya tajam. Dengan setulus hati, ia berpesan, “Maka, menjauhlah dari istana sejauh-jauhnya dan jadilah apa pun yang kamu mau. Kudengar, kamu ingin jadi sarjana. Impianmu sungguh mulia. Jadilah pahlawan di mana pun kamu berada.”


Pahlawan adalah orang hebat yang berpengaruh baik bagi sekitarnya. Ia membawa maslahat ke mana pun dirinya pergi. Langkah yang ditapakinya tidaklah mudah. Akan ada banyak halang rintang yang menghadang. Saat kematian datang, saat itulah usai tugas sang pahlawan. Begitu yang dimaksud Selir Shu.


“Terima kasih atas nasihat Bibi Shu,” Li An memberikan hormatnya, tapi tetap dengan wajah yang dingin nan datar. Selir Shu tidak peduli. Ia bahkan tidak mengantar kepergian Li An bersama putrinya. Saat keberadaan mereka benar-benar menghilang, barulah ibunda Putri Ketiga itu bernapas panjang, lantas bergumam, “Aixin, Kamu telah berhasil menjauhkannya dari istana. Sayang sekali … kamu tetap menjadi korban dari intrik kekuasaan ini.”


***


“Kita sudah berkeliling terlalu lama, aku mau pulang sekarang,” protes Li An dengan kesal. Ia terus mengikuti Putri Ketiga sejak tadi. Mereka berkunjung ke saudara-saudara yang lain, mulai dari Pangeran Pertama sampai Putri Kelima. Namun, masih belum selesai juga sampai sekarang.


“Kita masih belum bertemu dengan Pangeran Ketujuh, putra Selir Zhaoyi. Besabarlah sedikit lagi, “ pinta Li Huanran lembut. Ia sudah berulang kali membujuk adiknya. Menurutnya, sangat penting bagi Li An untuk mengenal saudara-saudarinya lebih dekat.


“Nggak mau. Aku mau pulang,” seru Li An dengan suara yang ditahan. Ia tidak suka jadi mencolok. Ada banyak dayang dan kasim yang mondar-mandir di sini. Jadi, ia menekankan penolakannya itu dengan tatapan mata yang tajam.

__ADS_1


“An’er, tempatnya sudah dekat. Aku janji … ini yang terakhir,” bujuk Li Huanran dengan mata sipitnya yang tak gentar melawan tatapan menusuk Pangeran Kedelapan. Mereka saling beradu pandang dalam diam selama beberapa saat sampai Li An berkata, “Apa Kakak pikir aku tidak tahu jumlah saudaraku? Mana mungkin ini yang terakhir?”


“Wah … kamu memang cerdas. Kita akan melanjutkan sisanya besok setelah yang satu ini,” Li Huanran tersenyum manis. Ia ngotot mengajak Li An untuk bertemu Pangeran Ketujuh. Sayang sekali kalau pergi terlalu dini, sedangkan ruangan pangeran itu sudah ada di depan mata.


“Nggak mau!” tolak Li An tegas. Ia pun berpaling dan hendak pergi begitu saja. Namun, Li Huanran menahan pundaknya tanpa peduli dengan keberatan bocah itu. Saat mereka hampir ribut lagi, pintu kamar terdekat tiba-tiba terbuka. Keluarlah seoarang anak yang usianya kira-kira dua tahun lebih tua dari Li An.


“Siapa yang berisik di depan kamarku?” bentak anak itu. Ia melotot tajam pada Li An dan Li Huanran. Bukannya merasa bersalah, Li Huanran malah tersenyum santai seperti biasa, lantas menyapa, “Hai, Xiang’er. Akhirnya, kamu keluar juga.”


“Oh! Kakak Huanran rupanya. Lama tak berjumpa, Kak. Hm? Siapa anak itu?” Li Xiang menunjuk Li An yang berwajah masam. Air mukanya sudah tidak sekeruh tadi dan malah terkesan polos. Li Huanran pun mengenalkan, “Dia Li An, Pangeran Kedelapan. Adik laki-laki pertamamu.”


“Benarkah? Kudengar Pangeran Kedelapan anak yang aneh,” kata Li Xiang sembarangan. Pangeran Ketujuh mengucapkan hal itu tanpa berpikir panjang, apalagi memperhatikan ekspresi Li An yang berubah drastis setelah mendengarnya. Ia malah berkenalan dengan gelagat sok akrab setelah itu, “Yah … pokoknya selamat datang! Perkenalkan, aku Li Xiang. Ayo kita bermain pedang setelah ini.”


“Hmph! Aku nggak mau lagi di sini. Kakak Aneh main saja sendiri,” Li An menepis genggaman Putri Ketiga. Ia pun berlari sebelum dirinya ditangkap lagi. Mumpung letaknya tidak terlalu jauh, ia ingin mengunjungi suatu tempat.


“Apa katamu!?” Li Xiang berseru kesal. Ia tak menyangka akan mendapat olokan dari adik yang baru ditemuinya. Selama ini, tak ada yang berani bersikap sembarang padanya seperti itu. Setiap orang akan bersikap hormat padanya bahkan para menteri-menteri tua.


“Xiang’er, harusnya kamu tidak bilang begitu padanya. Dia bukannya aneh, tapi sensitif pada lingkungan sekitar dan orang asing. Hah …,” Li Huanran membuang napasnya. Ia sudah meletakkan beberapa dayang di berbagai tempat. Jadi, Putri Ketiga dapat mengetahui ke mana arah bocah itu pergi. Selama masih di sekitar istana, maka tidak terlalu masalah. Ia akan segera menyusulnya setelah ini.


“Kakak galak! Aku akan mengadukanmu pada ibunda,” Li Xiang malah mengancam. Ia memasang wajah tegas sok berkuasa. Namun, Li Huanran tidak peduli sama sekal dan membalas dengan santai, “Silakan saja. Bibi Zhaoyi tidak akan mengurus masalah sepele seperti ini. Apa kamu masih belum paham?”


“Hmph! Dia bukan apa-apa dibandingkan denganku. Aku akan menjadi kaisar di masa depan. Lihat saja nanti!” Li Xiang berpaling dari Putri Ketiga dan langsung kembali ke kamarnya. Ia tahu maksud Li Huanran. Ibunya adalah sosok selir yang ambisius. Terakhir kali ia mengadu, malah dirinya yang kena marah. Lagi pula, ia tidak benar-benar berniat untuk melakukan itu. Sebagai pangeran yang berambisi untuk menjadi kaisar, ia akan berusaha mengatasi masalahnya sendiri.


Li Huanran pun berpaling ke luar dan menyusul Li An. Ia dituntun oleh seorang dayang terdekatnya ke sebuah komplek yang baru-baru ini kosong. Gadis itu lantas mengerutkan kening, “Yah, wajar saja dia datang ke mari. Mimi, siapkan teh dan camilan. Aku ingin melihat sesuatu yang membuat adikku tak dapat melupakan Bibi Ai.”


“Hamba terima titah Yang Mulia Putri,” gadis dayang yang dipanggil Mimi menunduk hormat, lantas pergi menyiapkan teh dan camilan yang diminta majikannya. Sementara itu, Li Huanran masuk ke komplek yang dikunjungi adiknya.


Itu adalah komplek kecil yang bisa dibilang sederhana untuk ukuran Istana Kebahagiaan Abadi. Hanya ada satu taman dengan sebuah saung di halamannya. Tanaman-tanamannya pun sudah mulai layu dan tak terawat. Rumput liar tumbuh di mana-mana.


“Apa kamu ingin tinggal di sini lagi?” tanya Li Huanran begitu melihat Pangeran Kedelapan di saung taman. Bocah itu sedang menulis sesuatu. Walaupun tidak terlalu rapi, tapi sangat bagus untuk ukuran anak-anak seusianya.


“Apa kalian akan mengizinkannya?” Li An balas bertanya dengan nada yang datar. Ia sama sekali tidak berpaling dari kertasnya. Kuasnya terus menari dengan hati-hati, melukiskan sebuah kata yang sedikit demi sedikit dapat mulai terbaca. Aksara hanzi itu bertuliskan “Ai” yang berarti cinta.


“Selama kamu memiliki wali yang menemanimu, maka itu tidak masalah,” Li Huanran tersenyum hangat. Kali ini, Li An menoleh dengan tatapan yang masih saja datar dan dingin. Ia termangu sesaat melihat ekspresi kakaknya yang selalu terlihat ramah itu.

__ADS_1


“Sebanarnya,” Li An hendak menanyakan sesuatu yang telah mengganjal hatinya sejak lama, “Kenapa Kakak selalu mengikutiku? Apa untungnya buat Kakak?”


“Kamu sungguh anak yang peka,” kata Li Huanran setelah tertawa kecil, “Secara materi, tentu aku tidak mendapat keuntungan apa pun darimu.”


Li Huanran duduk di samping adiknya. Wajahnya yang riang dan selalu tersenyum kini membuat Li An teringat akan sesuatu. Namun, sesuatu itu masih belum jelas kentara, hanya sebatas rasa nostalgia yang menghangatkan relung hatinya.


“Namun, secara politik, aku dapat keuntungan darimu,” lanjut Li Huanran sambil mengacak rambut adiknya dengan sebelah tangan. Li An tidak menepis tangan Putri Ketiga yang mengelus-elus kapalanya itu. Ia hanya mengerutkan kening, tak percaya dengan argumen Li Huanran, “Mana mungkin Kakak dapat keuntungan dariku? Pasti Kakak hanya bermimpi.”


“Tidak, tidak. Aku sungguh mendapat keuntungan darimu yang lemah dan cuekan. Hais … para saudara dan saudari sampai iba terhadapmu,” ucapan Li Huanran membuat Li An membuang muka. Ia tidak butuh rasa iba semacam itu. Baginya, cukup mereka tidak mengusiknya seperti gadis yang satu ini.


Saat itulah Mimi datang membawa pesanan Li Huanran. Putri Ketiga menyambutnya dengan senang hati. Berbeda dengan Li An yang tampak keberatan kerana meja saungnya jadi penuh oleh kudapan-kudapan manis kesukaan kakaknya.


“Saat ini memang belum. Namun, kalau aku terus di sampingmu, aku bisa lebih leluasa untuk menjauh dari istana sama sepertimu,” Li Huanran berkata dengan santainya, “Asal kamu tahu, kalau seandainya reinkarnasi benar-benar ada, aku tidak ingin lahir kembali sebagai putri keluarga kerajaan.”


“Kalau Kakak juga sumpek sama istana, kenapa Kakak bersikeras bawa aku ke mari?” Li An memainkan sebuah kue kering di tangannya. Ia membolak-balik kue itu dan menekannya sampai kemudian pecah. Setelah itu, barulah ia memakannya.


“Karena itu perintah dari ayahanda kaisar. Setiap pangeran dan putri harus mengenyam pendidikan di istana, termasuk dirimu. Setelah usiamu genap 12 tahun, barulah kamu bisa memilih fokus apa yang kamu sukai. Kalau kamu cerdas, kamu bisa menyelesaikannya di umur 10 tahun, tapi itu kasus yang jarang,” jelas Li Huanran panjang lebar, “Tenang saja, aku pastikan kamu hidup dengan damai selama di istana.”


“Hah? Bukannya kakak bilang aku cuman tinggal sebentar di istana?” protes Li An. Ia pun menagih janji Li Huanran di Kediaman Pangeran Zhìzhě. Putri Ketiga malah memekarkan kipasnya dan menutupi setengah wajah, “Benar sih, tapi kan aku cuman bilang bakal bantu kamu buat minta ke ayahanda kaisar. Keputusan ada di tangan beliau nanti. Persiapkan alasan terbaikmu untuk membujuknya agar kamu bisa segera kembali ke pelukan sepupu Mei.”


“Hah? Apa maksud Kakak? Dasar pengkhianat!” cibir Li An. Li Huanran malah tertawa kecil . Ia pun menceritakan berbagai pengalamannya di Istana Kebahagiaan Abadi. Telah banyak suka duka dialaminya. Entah itu dimarahi Selir Shu, bertengkar dengan saudara atau saudari yang lain, sampai mendapat pujian dari ayahanda kaisar. Li An yang menyimaknya jadi tidak bisa fokus melanjutkan kaligrafi hanzi yang ia buat.


“Makanya, pasti tidak buruk kalau kita tinggal di sini. Kalau kamu tidak ingin memiliki terlalu banyak pelayan, maka tidak masalah. Aku akan mengaturnya dengan mudah,” cerita Li Huanran kembali ke titik awal pembahasan, yaitu tinggal di Kediaman Selir Ai yang sedang kosong sekarang. Li Huanran khawatir karena bisa jadi komplek ini akan dialihfungsikan jika tidak segera diklaim. “Jadi, bagaimana? Apa kamu setuju untuk tinggal di sini bersamaku, An’er?”


“An’er?” tanya Li Huanran sekali lagi karena pandangan Li An tidak terfokus padanya. Ia pun mengikuti arah pandang bocah itu menuju. Saat pandangannya sampai di sana, barulah ia mendengar suara Li An, “Kucing. Itu kucing.”


Li An berlari dari tempat duduknya, menghampiri binatang berbulu oranye yang kurus itu. Kedua tangannya pun meraih seekor anak kucing kecil yang menyusup ke halaman Selir Ai. Li Huanran tersenyum lembut melihat. Ia baru tahu kalau adiknya suka binatang seperti kucing.


“Kamu ingin merawatnya? Kita tidak akan bisa membawanya masuk ke komplek utama Istana Kebahagiaan Abadi,” Li Huanran mendekat untuk mengambil kesempatan emas ini. Li An yang sibuk bermain dengan kucing kecil itu pun memberi solusi tanpa menoleh, “Kakak bilang mau tinggal di sini kan? Kakak atur saja sendiri.”


“Tidak, kita harus minta sama-sama ke ayahanda kaisar hari ini,” rencana Li Huanran berjalan dengan mulus, tapi dia tidak akan mebiarkan Li An bermalas-malasan sehingga ia harus bekerja sendiri, “Ayahanda juga ingin segera bertemu denganmu. Datanglah bersamaku nanti.”


“Hm, baiklah,” Li An asal menjawab. Ia pun membawa kucing barunya ke dalam rumah, sementara Li Huanran meminta Mimi untuk mengambilkan kertas dan pena. Ia menuliskan sesuatu, lantas meminta gadis dayang itu untuk mengantarkan suratnya pada Selir Shu.

__ADS_1


__ADS_2