Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Perjalanan ke Quanzhou


__ADS_3

“Pangeran, rombongan sudah siap berangkat,” lapor Wang Hongli selaku kepala pengawal. Li An pun mengangguk. Ia masih ada obrolan dengan Ali sedikit lagi, “Bagus, sebentar lagi kita berangkat.”


“Siap, Pangeran,” Wang Hongli memberi hormatnya.


“Anda selalu melebihi ekspektasi saya, Pangeran,” kata Ali dengan senyum ramahnya, “Siapa yang akan menyangka bahwa anak kecil yang pemalu itu sudah menjadi sosok yang begitu hebat dan tersohor sekarang?”


“Tidak ada yang istimewa dari itu,” Li An menjawab datar. Namanya memang dikenal oleh banyak orang sekarang, tapi ia tak punya cukup pengaruh untuk mewujudkan tugasnya dari sang ayahanda kaisar. Ia yang sekarang masih sangat lemah dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Bisa jadi, ia disingkirkan dari panggung kekaisaran bila salah bertindak sedikit saja.


“Yah, baiklah,” Ali setuju saja karena ia sudah mengenal peringai pangeran yang diam-diam menghanyutkan itu, “Ini adalah nama-nama kafilah yang sudah saya siapkan di Quanzhou. Anda cukup memanggil mereka ketika sampai di Quanzhou nanti.”


“Terima kasih,” Li An menerima sebuah gulungan yang diikat rapi dengan pita berwarna gelap. Ia pun memberi salam dan pamit undur diri. Namun, sebelum ia sempat beranjak dari tempatnya, Ali kembali memanggilnya, “Ngomong-ngomong, Pangeran. Apakah Anda masih belum mau menerimanya?”


Pertanyaan Ali membuat Li An terdiam dan merenung. Ia sedang memikirkan banyak hal sekarang. Di tambah dengan apa yang ditanyakan oleh Ali itu, delimanya jadi semakin bertambah. Ia pun menggeleng, “Maaf, sepertinya belum bisa. Aku masih punya banyak urusan lain yang harus kuselesaikan.”


“Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan urusan-urusan itu,” seru Ali karena Li An sudah berpaling jauh darinya. Li An pun berhenti. Ia menoleh ke belakang dan menjawab, “Ada. Banyak sekali malah.”


Ali terdiam. Ia pun menggumamkan sesuatu dan berpaling masuk ke kediamannya. Di depan pintu masuk, Zainab berdiri nantinya. Melihat itu, Ali pun menggeleng pelan, lalu mengucapkan salam kepada adiknya dan berkata, “Sayang sekali. Pangeran masih belum mau menerimanya.”


“Ha? Terus kenapa harus laporan ke aku?” tanya Zainab dengan wajah yang seolah dibuat heran. Ali pun mengelus-elus dagunya yang mulai berjanggut. Ia lantas menghela napas, lalu berkata, “Hah … padahal kalian sepantaran.”


“Iya, tahu. Terus kenapa?” tanya Zainab lagi dengan sedikit rona merah yang menghias pipinya, nadanya terdengar sebal kali ini. Ia pun membuang wajah, berusaha menghilangkan bayangan yang muncul di benaknya. Gadis itu lantas menggelembungkan pipi saat tiba-tiba Ali menertawakannya.


Rombongan Li An berjalan dengan kecepatan konstan. Dengan banyaknya kereta kuda dan muatan di dalamnya, mereka tidak akan dapat berjalan dengan cepat. Perjalanan mereka dari Guangzhou ke Quanzhou akan memakan waktu sekitar satu minggu lebih.


“Lagi-lagi kita meninggalkan Guangzhou,” ucapan Li Huanran memecah keheningan di dalam kereta kuda utama. Li An membuka matanya begitu mendengar suara Putri Ketiga itu. Ia pun menoleh ke luar jendela. Dilihatnya tembok besar yang membentengi kota.


“Kamu benar-benar jahat. Kenapa tidak mampir ke Kediaman Paman Fengying dulu?” tanya Li Huanran protes. Li An pun mengerutkan kening. Ia lantas menjawab, “Kemarin kan sudah? Aku juga sudah pamit sama Paman Fengying kok kemarin.”


“Yah, paling nggak kan mampir sekali lagi sebelum berangkat tadi,” Li Huanran tak ingin terlihat salah. Ia memekarkan kipasnya, menyembunyikan setengah wajahnya seperti biasa. Li An hanya menghela napas pasrah, membiarkan kakak perempuannya menang, “Iya, sih. Lagian kita juga dah berangkat. Masa mau balik lagi.”


“Nggak usah kok,” balas Li Huaran dengan senyumannya yang terulas cantik, “Oh, ya. Kamu kok bisa memonopoli kebanyakan transaksi rempah yang yang dibawain orang-orang asing sih?”


“Hm? Gampang kok. Orang-orang dari Kepulauan Selatan yang memproduksi rempah punya hubungan dekat sama pedagang-pedagang Arab dan Pars, sedangkan para pedagang Arab itu punya regulasi dagang yang kompleks dalam agama mereka,” jelas Li An sambil memilin-milin ujung rambutnya, “Aku tinggal belajar saja bahasa mereka semua, terus mendalami regulasinya. Jadi, mereka bakal merasa aman setiap kali berkerja sama dengan Serikat Dagang Fuli.”


“Wah, emangnya kamu bisa semua bahasa orang-orang asing?” tanya Li Huanran penasaran.


“Cuman yang punya hubungan dekat saja kok,” jawab Li An sambil menatap ke luar jendela. Kalau saja ia bisa membaca dan menulis dengan nyaman di dalam kereta kuda ini, tentu ia akan melakukannya. Ada beberapa buku beraksara Arab yang Ali hadiahkan padanya.


Li Huanran mengikuti arah mata adiknya memandang. Dilihatnya pertanian luas yang dikelola oleh rakyat Kekaisaran Tang. Mereka terlihat amat giat bekerja. Lautan padi yang hijau menjadi pemandangan indah yang menyejukkan mata.


“Mereka orang-orang yang hebat,” gumam Li An sambil terus menatap ke luar jendela, “Tanpa keberadaan mereka, Kekaisaran Tang tak akan dapat berdiri sekokoh ini.”

__ADS_1


“Yah, karena itu, kita sebagai keluarga kekaisaran harus bisa membawa kemakmuran pada mereka,” Li Huanran menutup kembali kipasnya. Ditatapnya Li An yang tengah fokus melihat ke luar. Ia seakan bisa mengetahui isi pikiran bocah yang hampir dewasa itu. Dengan suaranya yang lirih, Putri Ketiga pun menghela napas dan bergumam, “Hah … betapa cepatnya waktu berlalu.”


Perjalanan Li An jadi jauh lebih lama dari yang diperkirakan. Itu karena keinginan Li An untuk menetap selama sehari di setiap desa yang disambanginya. Dalam sehari itu, ia melakukan banyak pengamatan, wawancara, dan interaksi dengan penduduk sekitar. Meskipun ia tidak mengungkapkan namanya sebagai pangeran, para warga dapat langsung tahu bahwa ia adalah bagian dari salah satu keluarga bangsawan kekaisaran.


“Kamu yakin ini nggak apa-apa? Kalau para mitramu pada pergi gimana?” tanya Li Huanran ketika rombongan lagi-lagi berhenti di salah satu desa. Padahal mereka akan sampai ke Quanzhou pada esok lusa jika mereka lekas berangkat.


“Aku sudah kirim kurir untuk pergi duluan kok. Direktur Cabang Quanzhou yang nanti akan mengurusnya terlebih dahulu,” balas Li An santai. Ia sedang duduk di bawah naungan sebuah pohon besar. Tangannya sibuk mencatat jurnal perjalanan yang telah dilaluinya. Ia sangat yakin bahwa jurnal ini akan bermanfaat di masa depan.


“Hais … kamu sibuk terus sama buku,” keluh Li Huanran yang kemudian ikut duduk di samping adiknya, “Kamu kan jadi nggak bisa mengurus yang lain?”


“Hm, masa?” tanya Li An tanpa menoleh sedikit pun dari kertas dan penanya, “Urusan kayak apa yang Kakak maksud?”


“Hm … misal,” Li Huanran menggantungkan sebentar kata-katanya, “Pertunangan! Para pangeran yang lain kan dah pada punya tunangan di usiamu sekarang. Bahkan ada yang sudah menikah.”


“Kakak sendiri kan lebih parah dari aku,” kali ini Li An berpaling dari kertasnya. Ia menatap Li Huanran dengan pandangan heran seakan bertanya, “Kok Kakak malah bilang kayak gitu ke aku sih?”


“Ini salah siapa coba,” Li Huanran langsung memekarkan kipasnya dan membuang muka, pura-pura merajuk, “Aku dulu juga dah pernah punya tunangan tahu. Kalau bukan gara-gara kamu ….”


“Eh? Kakak masih belum merelakan bedebah itu?” Li An mengerutkan kening sambil sedikit memiringkan wajahnya tak percaya.


“Nggak! Nggak mungkin!” bantah Li Huanran. Tangan kirinya yang kosong langsung mengepal emosi. Sebuah memori lama tiba-tiba terlintas di benaknya. Ia jadi ingin menjitak Li An guna melepaskan emosinya.


“Hmph!,” Li Huanran segera pergi meninggalkan Li An. Ia jalan ke kereta kuda sambil bersungut-sungut kesal. Li An hanya dapat menghela napas melihat tingkah laku kakaknya yang emosional itu.


Dulu, Li Huanran memang pernah terikat dalam sebuah ikatan politik dengan salah satu putra bangsawan terkemuka. Walaupun itu sekadar pertunangan politik, Putri Ketiga tetap mencintai tunangannya. Ia bahkan langsung cinta pada pandangan pertama. Tunangannya pun menunjukkan hal yang serupa. Jika dilihat dari jauh, mereka mungkin bisa jadi calon pasangan paling serasi abad ini.


Tunangan Li Huanran sering berkunjung ke Paviliun Aixin. Ia bahkan suka memberi banyak hadiah yang romantis pada Li Huanran. Kata-kata yang terucap dari bibirnya selalu mengandung isyarat cinta yang mendalam. Li An selaku pemilik rumah sampai jengkel mendengarnya. Ia berharap agar setidaknya putra bangsawan itu tahu tempat. Namun, ia tak berbuat apa-apa karena itu bukan urusannya.


Yah, Li An berpikir begitu pada awalnya. Ia sama sekali tidak peduli dengan kehadiran putra bangsawan itu di kediamannya. Namun, segalanya berubah saat seketika putra bangsawan itu menunjukkan muka aslinya.


Ia memandang rendah kepada Li An setiap kali Li Huanran tidak ada bersamanya. Bodohnya, putra bangsawan itu bahkan berani mengejek Li An secara terang-terangan di luar Paviliun Aixin. Tentu saja di tempat yang tidak ada seorang pun dapat membela lawannya.


Li An segera meminta Wang Hongli untuk menyelidiki putra bangsawan itu. Dalam waktu kurang dari sehari, Pangeran Kedelapan langsung mendapat informasi yang mengejutkan. Ia bahkan rela meninggalkan pelajarannya yang tengah berlangsung saat itu demi kembali ke kediamannya bersama regu prajurit Wang Hongli.


Kedatangan Li An yang tergesa-gesa tentu membuat para penghuni Paviliun Aixin keheranan. Apalagi, Pangeran Kedelapan itu datang bersama regu prajurit Sang Pendekar Cenangkas Kembar. Ia membanting pintu rumahnya dengan keras, membuat Li Huanran dan tunangannya yang sedang berbincang di taman terkejut seketika.


Tanpa menjelaskan apa-apa, Li An segera meminta prajuritnya untuk memeriksa semua hadiah yang datang pada kakaknya. Ia bahkan juga meminta makanan yang terhidang di taman agar diperiksa juga.


Saat Li Huanran masih dalam keadaan bingung dan bertanya-tanya, datang Yun Jili dan Mimi bersama seorang ahli obat ternama. Mimi yang segera memeluk tuan putrinya sangat membuat Li Huanran terkejut, sedangkan putra bangsawan yang jadi tunangan sang putri tengah ditodong pedang oleh prajurit Li An. Pemuda dari keluarga ternama itu berseru marah atas perlakuan tidak sopan mereka.


Ahli obat yang datang bersama Yun Jili menemukan zat afrodisiak pada makanan yang dihidangkan di taman. Para prajurit juga menemukan lilin aroma, parfum, dan berbagai hadiah lainnya yang mengandung zat serupa. Fakta itu membuat Li Huanran sangat terkejut. Ia memandang tunangannya tak percaya.

__ADS_1


Di waktu yang bersamaan, pasukan yang merapat ke Paviliun Aixin bertambah. Mereka adalah pasukan pengawal keluarga kekaisaran yang datang atas perintah dari Kaisar Yung Wei untuk menangkap tunangan Li Huanran.


Semua itu berlalu dengan cepat di bawah pengawasan dan pengarahan Li An. Sejak mendapat laporan dari Wang Hongli bahwa tunangan kakaknya adalah orang yang suka berkunjung ke rumah bordil dan main wanita, ia langsung meminta seorang kurir menyampaikan hal itu pada Kaisar Yung Wei. Karena itu, Kaisar Yung Wei lekas bergerak mengatasinya. Perintah sang kaisar itu membuat para menteri dan sarjana menilik kasus ini dengan berbagai sudut pandang yang berbeda.


Keluarga bangsawan yang bersangkutan segera memutuskan hubungannya dengan putra mereka yang sempat bertunangan dengan Li Huanran. Pertunangan itu pun juga langsung dibatalkan. Elektabilitas mereka di kekaisaran juga merosot seketika.


“Kakak adalah orang yang paling syok ketika mendengar dan melihat bukti-bukti itu,” gumam Li An yang kini duduk sendirian di bawah pohon, “Dia bahkan sampai mengurung dirinya di kamar selama beberapa hari.”


Kasus itu juga menjadi salah satu alasan Li Huanran masih melajang sampai saat ini. Sejak pertunangannya dibatalakan, ia tidak lagi mau menerima pertunangan dengan para bangsawan. Ia lebih memilih untuk terus bersama dengan Li An sebagai walinya.


“Kalau dulu kakak jadi menikah dengan bedebah itu, kira-kira siapa orang yang bisa menggantikannya sebagai waliku?” ucap Li An, lantas tersenyum getir, “Menjadi keluarga kaisar sungguh merepotkan. Aku bahkan tidak bisa menaruh kepercayaan yang hakiki pada keluargaku sendiri.”


Saat Li An masuk menyusul kakaknya ke kereta kuda, ia langsung berterima kasih dengan suara sendu. Li Huanran yang masih sedikit kesal jadi keheranan karenanya. Li An pun memperjelasnya, “Kakak, terima kasih sudah menjadi orang yang tulus kepada adikmu ini.”


Perjalanan Li An berlanjut. Mereka sampai di gerbang Quanzhou pada sore hari. Jian Hai, Direktur Serikat Dagang Fuli cabang Quanzhou menyambut mereka di sana. Li An menerima laporan darinya selama perjalanan menuju ke penginapan yang sudah disiapkan.


“Semuanya sudah tercatat dengan baik sesuai perintah Anda, Pangeran,” Jian Hai menutup laporannya. Li An pun mengangguk. Ia menerima sejilid buku yang berisi data perdagangan serikat, lantas mengizinkan Jian Hai untuk pergi.


“Terima kasih atas kerja kerasmu,” ucap Li An yang dibalas dengan anggukan takzim oleh Jian Hai. Pria paruh baya itu pun berkata, “Suatu kehormatan bagi saya dapat bekerja untuk Pangeran Kedelapan.”


Setalah Jian Hai pergi, Li An mengajak Wang Hongli untuk makan malam. Di meja yang telah ditentukan, Li Huanran sudah menunggu bersama Mimi dan Yun Jili. Merekaa tampak sedang tertawa bersama ketika Li An dan Wang Hongli sampai.


“Akhirnya, kalian datang juga,” sambut Li Huanran senang. Ia langsung mengajak Li An untuk duduk di sampingnya. Putri Ketiga pun bertanya protes, “Kenapa lama sekali?”


“Biasanya kan memang lama,” balas Li An datar, “Ada banyak yang harus kuperiksa setelah ini.”


“Hais … jangan terlalu berlebihan. Nanti kamu sakit,” Li Huanran mengingatkan. Li An pun mengangguk patuh. Di tengah makan malam, Yun Jili membuka sebuah topik yang baru ditelitinya. Ia mengungkapkan kekagumannya pada aturan yang ditetapkan oleh orang-orang asing dari Arab.


“Mereka tidak mau menerima bunga dalam bentuk apa pun, padahal hal ini sangatlah menguntungkan untuk bisnis jika mereka pandai memainkannya,” ungkap Yun Jili, “Dalam keyakinan mereka, hal itu disebut riba yang hukumnya haram atau terlarang.”


“Yah, aku setuju dengan mereka,” kata Li An sambil meletakkan sumpit di tangannya, “Pada dasarnya, praktik itu menrugikan salah satu pihak dalam transaksi. Perusahaan besar yang terjebak dalam utang bunga ini bisa bangkrut sewaktu-waktu karena tunggakannya yang membengkak. Bunga yang dihasilkan bahkan bisa jadi lebih mahal daripada harga asli barang transaksi.”


“Benar, praktik bunga dalam lingkungan masyarakat menengah pun tak jauh berbeda,” Yun Jili setuju, “Hal ini dapat menyebabkan ketimpangan ekonomi yang sangat besar. Dalam kasus terburuk, orang yang bersangkutan mungkin akan menjual anak-anak atau keluarganya demi melunasi utang yang tidak masuk akal itu. Terkadang, itu masih belum cukup untuk melunasi utang mereka”


“Praktik demikian cenderung dilakukan oleh orang-orang yang gemar berjudi,” Wang Hongli masuk dalam obrolan, “Mereka terlilit utang yang menumpuk-numpuk karena kekalahan sampai tega menjual anak-anaknya sebagai budak.”


“Hais … para lelaki itu, mereka selalu membicarakan hal-hal yang berat,” Mimi menghela napas. Dalam pangkuannya, seorang bayi mungil berusia sekitar dua tiga tahunan tertidur dengan lelap. Li Huanran hanya tertawa kecil melihat gerutuan dayangnya, ia pun berkomentar, “Yah, begitulah kapasitas mereka. Akan lebih bagus kalau mereka juga memiliki kadar perhatian yang sama pada perasaan.”


Malam di Quanzhou semakin larut. Namun, lampion-lampion di pusat perbelanjaan kota masih terang benderang dengan indahnya. Orang-orang berkecukupan mondar-mandir di sana, menikmanati cantiknya malam di kota perdagangan yang ramai. Seorang pria paruh baya datang ke penginapan yang dikelola oleh Serikat Dagang Fuli. Ia meminta izin untuk dapat bertemu dengan Li An.


“Salam, Pangeran Kedelapan,” seorang pesuruh menghampiri Li An dan keluarganya di penghujung makan malam, “Saya Yuan dari kediaman wali kota. Wali kota mengundang Anda dalam sebuah jamuan. Ada yang ingin beliau perbincangkan bersama Anda. Mohon Pangeran berkenan untuk datang.”

__ADS_1


__ADS_2