
“Selamat datang, Pangeran. Senang sekali melihat Anda ke mari setelah lama tidak bertemu,” sambut Kakek Ma yang sempat terkejut saat mendapati Li An tidak datang sendiri. Ia pun juga menyambut dua orang lainnya yang datang bersama Pangeran Kedelapan.
“Kakek, apa buku-buku yang kuminta sudah datang?” tanya Li An kemudian. Sebelum kembali ke istana, ia meminta Kakek Ma untuk mencari arsip mengenai orang-orang asing dari tanah Arab. Meskipun sudah pernah bertemu dan berinteraksi dengan mereka secara langsung, Li An merasa masih harus mencari tahu tentang mereka lebih jauh.
“Saya sudah menemukannya, Pangeran. Namun, itu adalah dokumen perdagangan sejak ratusan tahun silam. Apa Anda yakin ingin membaca perkamen itu?” tanya Kakek Ma memastikan pilihan Li An. Ada noktah penyesalan yang terlihat jelas di wajahnya.
“Apa tidak data lain tentang mereka? Seperti budaya atau keyakinan mereka mungkin?” Li An memperjelas permintaannya. Yun Jili memperhatikan pangeran kecil itu dengan seksama. Ia tak menyangka bahwa majikan kecilnya lebih tertarik dengan budaya negeri asing daripada filsafat yang umum dipelajari keluarga kekaisaran.
“Oh, pantas saja baginda kaisar menyuruhku untuk fokus mengajarinya berkuda dan melindungi diri. Ternyata Pangeran Kedelapan memiliki selera yang unik,” bisik Wang Hongli yang kemudian dibalas dengan anggukan kecil oleh Yun Jili.
“Baginda kaisar ingin kita menemani Pangeran Kedelapan mengembara,” ucap Yun Jili dari balik kipas yang dibawanya. Kali ini, Wang Hongli yang mengangguk. Pemuda berbadan tegap itu pun tersenyum senang. Ia mulai membayangkan petualangan seru yang mungkin akan dilaluinya beberapa tahun lagi.
“Sayang sekali, saya tidak menemukan arsip seperti itu. Hanya riwayat perdagangan tua yang berkaitan erat dengan orang-orang asing dari tanah Arab itu,” Kakek Ma pun mengungkapkan penyesalannya, “Saya sudah menaruh perkamennya di ruang baca yang biasa Anda pakai. Sekali lagi, saya minta maaf.”
“Apa Paman Fengying tidak memilikinya?” Li An mengingat gulungan yang dibaca Li Fengying saat masih di Guangzhou. Ia sangat yakin bahwa gulungan itu bukan dokumen perdagangan.
“Pangeran Zhizhe? Ah, mungkin saja beliau punya. Orang tua ini sama sekali tidak ingat dengan Menteri Urusan Luar Negeri. Padahal, kami saling berdekatan,” Kakek Ma menggaruk belakang kepalanya yang beruban. Topi futounya jadi miring karena itu. Ia pun berjanji, “Saya akan coba menyalinnya jika Pangeran Zhizhe mengizinkan. Mohon Pangeran bersabar.”
“Terima kasih, Kakek Ma,” Li An pun pergi ke ruang baca favoritnya. Yun Jili dan Wang Hongli mengikutinya di belakang. Mereka memperhatikan interior Pagoda Arsip Kecil yang memamerkan kesan kuno. Ada banyak ukiran artistik nan rumit yang menghiasinya.
“Apa Pangeran tertarik dengan perdagangan?” tanya Yun Jili begitu melihat Li An mulai membuka perkamen yang Kakek Ma siapkan.Ia sudah memiliki bayangan mengenai pelajaran yang tepat untuk Li An. Jadi, sisanya tinggal menautkan bakat pangeran kecil itu dengan minatnya.
“Hm? Perdagangan?” Li An menoleh, “Entahlah, aku cuman mau membacanya sedikit.”
“Itu adalah buku yang berat. Sarjana muda pun belum tentu memahaminya,” Wang Hongli berkomentar. Walaupun tidak sepintar Yun Jili, ia tetaplah pemuda yang lahir dari keluarga besar. Ia memiliki kepantasan untuk disebut sebagai sarjana muda di samping gelarnya sebagai pendekar.
“Yah, memang sulit,” Li An setuju dengan pendapat itu. Yun Jili pun memberi saran, “Saya lihat Anda tertarik dengan kebudayaan orang-orang asing. Bagaimana kalau kita memulai pelajaran tentang Jalur Perdagangan? Materi ini akan sangat penting untuk Anda di masa depan.”
“Jalur Perdagangan?” Li An berusaha memahami maksud Sarjana Rubah Perak.
Yun Jili mengangguk. Ia pun meminjam sebentar perkamen yang Li An buka. Sebelum memulai penjelaskan, ia membolak-balik dokumen yang dijilid itu. Dahinya mengkerut setelah beberapa saat. Ia pun menghela napas dan menutupnya dengan air muka kecewa, “Ah, maaf. Saya kira ada peta di dalam dokumen jilid ini.”
“Peta?” Li An bangkit dari duduknya dan menyisiri rak-rak di dalam ruang baca. Tak perlu waktu lama untuk menemukan arsip yang dicarinya. Ia pun menarik sebuah buku tebal yang kertas-kertasnya agak mencuat keluar, meminta benang jilid yang baru. “Maksudmu yang seperti ini?”
Yun Jili menerima sebuah lembaran kulit yang terlihat sangat tua. Kulit itu adalah peta dari Zaman Tiga Negara yang kini sudah tidak relevan, tapi cukup sekadar untuk pengetahuan dasar. Sang Sarjana Rubah Perak pun tak menyangka akan menemukan benda yang amat penting itu di pagoda kecil ini.
__ADS_1
Wang Hongli diam memperhatikan. Sejujurnya, pendekar muda itu tidak suka yang namanya belajar. Namun, ia tidak bisa mengalihkan pandangannya pada Pangeran Kedelapan di hari pertama bekerja. Ia masih berusaha membaca watak bocah yang jadi majikannya.
“Ini sudah cukup,” Yun Jili tersenyum tipis, “Kurasa akan lama jika kita menjelaskan Zaman Tiga Negara lebih dulu. Kita bisa membahas sejarah itu nanti. Mari kita ulas materi Jalur Perdagangan.”
Sejak ratusan tahun silam, hubungan dagang antara Dunia Timur dan Dunia Barat saling terhubung, baik melalui darat maupun laut. Keduanya tersambung dengan berbagai jalur dan rute yang bermacam. Jalur ini tidak hanya berdampak pada aspek perdangangan semata, melainkan juga pada politik, kebudayaan, agama, dan hal-hal lain yang terkait erat dengan kehidupan manusia di setiap rute yang dilaluinya.
“Sebagai contoh,” Yun Jili mengulas agama yang banyak dianut oleh rakyat kekaisaran selain Taoisme. Agama itu berkembang dari Hindustan di Benua Tengah. Para pandita mereka datang bersama pedagang, pengelana, bahkan utusan resmi negara. “Kaisar Tang membangun hubungan baik dengan mereka. Jadi, wajar kita menemukan banyak biksu dan kuil Budha di Ibu Kota Chang’an dan wilayah-wilayah Kekaisaran Tang lainnya.”
Yun Jili juga menyinggung agama-agama yang datang dari Benua Barat. Terutama agama yang berkembang di dua kekaisaran utama di sana, Rum dan Pars. Ia bahkan juga membahas utusan-utusan yang dikirim oleh negara baru yang dibangun bangsa Arab, Negara Khilafah.
“Pangeran sangat tertarik dengan mereka, bukan?” Yun Jili mengonfirmasi pengamatannya. Ia pun melanjutkan setelah Li An mengangguk, “Saya telah membaca sebagaian hasil investigasi Pangeran Zhizhe mengenai bangsa Arab. Mereka adalah bangsa bersuku-suku yang hidup di padang pasir. Tidak banyak tempat yang subur di sana. Sebelum Utusan Tuhan datang, mereka menyembah dewa-dewa yang dimenifestasikan dalam bentuk patung. Sang Utusan Tuhan itu dapat menyatukan bangsanya yang bersuku-suku dengan satu agama yang bijak dan luhur, yaitu agama yang tidak menyembah dewa-dewa selain Tuhan Yang Maha Esa.”
“Kudengar, karena alasan itu mereka menolak untuk bersujud kepada baginda kaisar,” Wang Hongli menyahut. Yun Jili mengangguk, “Yah, itulah alasan mereka. Makanya baginda kaisar memutuskan untuk tidak mempermasalahkannya. Kalau kita membunuh dan bertindak semena-mena pada delegasi negara lain, maka sama saja kita mengumumkan perang kepada mereka. Itu sangat buruk melihat bagaimana malangnya Kekaisaran Pars yang telah berjaya ratusan tahun dapat kalah oleh negara terpencil yang baru lahir.”
“Apakah karena orang-orang Arab terlalu kuat?” Li An penasaran.
“Entahlah?” Yun Jili menaikkan bahu, “Kekaisaran Pars sendiri sangatlah kuat. Mereka memiliki tentara terlatih, persenjataan lengkap, dan gajah-gajah perkasa yang banyak. Sampai sekarang, saya tidak percaya kekaisaran itu sudah ditaklukkan.”
“Apa itu berdampak pada Kekaisaran Tang?” di kepala Li An bermunculan berbagai pertanyaan. Jika melihat dari pengalaman interaksinya dengan orang-orang asing dari Arab itu, mereka tidak membawa pengaruh selain dalam aspek ekonomi dan sosial di kota-kota perdagangan.
“Pengaruh Negara Khilafah sungguh besar. Akan bagus kalau kita bisa melihat betapa luasnya Kekaisaran Pars yang mereka taklukan. Sayang sekali kita tidak bisa melihat Dunia Barat dalam peta ini,” Yun Jili memilin-milin anak rambutnya yang seputih salju, lalu menghela napas, “Yah, peta semacam itu adalah aset berharga. Kita tidak akan bisa sembarangan mengaksesnya.”
Setelah itu, Yun Jili menjelas jalur perdagangan maritim. Jarinya mengetuk beberapa titik di peta kuno. Semuanya adalah koordinat pelabuhan dan pusat perdagangan yang dimiliki Kekaisaran Tang.
“Di sinilah kita menjual dan menerima komoditas-komoditas yang langka dan berharga seperti rempah yang berasal dari kepulauan di selatan,” kata Yun Jili dengan senyum tipisnya. Wang Hongli tepar di sampingnya sejak beberapa saat yang lalu karena bosan, sedangkan Li An masih khidmat mendengarkan.
“Kepulauan di selatan? Mereka orang yang seperti apa?” tanya Li An penasaran. Selama hidupnya, hanya orang-orang asing dari Arab yang pernah ia lihat. Ia sangat yakin bahwa penampilan orang-orang kepulauan selatan pasti juga berbeda dari penduduk Kekaisaran Tang.
“Hm, mereka memiliki ribuan suku yang berbeda. Sulit mendeskripsikannya,” Yun Jili menggaruk kepalanya dengan satu jari, “Aku sendiri juga belum bertemu banyak dari mereka.”
Waktu berlalu tanpa terasa selama Yun Jili dan Li An asyik berdiskusi. Saat Wang Hongli terbangun, hari sudah menjelang sore. Kebetulan kelas pertama Pengeran Kedelapan telah usai kala itu. Mereka pun mulai bersiap untuk kembali.
“Dadah, Kakek Ma,” pamit Li An yang dibalas anggukan dengan senyuman takzim oleh Kakek Ma. Sebagaimana saat berangkat tadi, bocah itu menunggang kuda bersama Wang Hongli. Ia duduk di depan sambil berusaha membiasakan diri dengan ketinggian kuda.
Ketika sampai di depan Paviliun Aixin, Li An melihat kakaknya sudah menunggu. Tampaknya, Li Huanran baru saja berniat menjemput Pangeran Kedelapan karena ia tak kunjung pulang. Karena kesal, putri itu pun mencubit pipi Li An dengan gemas.
__ADS_1
“Bukannya aku sudah bilang?” Li Huanran mengomel, “Jangan pulang terlalu sore. Aku pikir ada apa-apa yang terjadi padamu.”
“Kenapa Kakak khawatiran begitu?” protes Li An setelah berhasil membebaskan pipinya dari cubitan sang kakak, “Biasanya aku memang pulang jam segini!”
“Ih … pokoknya jangan pulang terlalu sore. Kalau ada apa-apa gimana?” sewot Li Huanran. Ia pun menoleh ke Yun Jili dan Wang Hongli yang masih berdiri mematung, “Tuan Pendekar, Tuan Sarjana, terima kasih sudah menjaga adikku. Tapi, lain kali jangan pulang terlalu sore. Pangeran Kedelapan punya jadwal lainnya selain belajar dan berlatih.”
“Apa!?” Li An hendak membantah, tapi Li Huanran sudah lebih dulu membungkamnya.
“Baik, Tuan Putri. Mohon maaf atas kelancangan kami,” jawab Yun Jili mewakili. Mereka pun diizinkan untuk pergi. Sebelum beranjak, Wang Hongli melaporkan bahwa akan ada timnya yang berjaga di sekitar Paviliun Aixin mulai hari ini.
Li Huanran hanya mengangguk. Ia pun menyeret adiknya masuk ke dalam Paviliun Aixin. Yun Jili dan Wang Hongli saling berpandangan setelah melihat kejadian itu. Beberapa saat yang lalu, mereka yakin bahwa Li An adalah anak yang dewasa. Namun, anak kecil tetaplah anak kecil. Sikap Li An di depan Putri Ketiga sudah menjelaskan semuanya.
...***...
“Begitulah, Baginda,” ucap Yun Jili usai melaporkan hasil pengamatannya di hari pertama, “Sesuai yang Pustakawan Ma ceritakan, Pangeran Kedelapan memiliki kemampuan pemahaman yang tinggi. Selama dididik dengan tepat, beliau akan menjadi sosok yang penting di masa depan sekalipun tidak menjadi kaisar.”
“Sarjana Rubah Perak pun mengakui talenta putraku. Aku senang mendengarnya,” Kaisar Yung Wei tersenyum bangga. Pria paruh baya pun meminta pada sarjana muda itu agar segera menyusunkan pelajaran terbaik untuk Li An sambil terus mengawasi pertumbuhannya. Ia berjanji akan memberi konpensasi yang sesuai di masa depan.
“Terima kasih, Baginda. Suatu kehormatan bagi saya dapat menjadi pengajar Pangeran Kedelapan yang berbakat,” Yun Jili pun pamit undur diri. Langit semakin memerah redup saat ia keluar dari ruangan sang kaisar. Di tengah perjalanan pulang, ia bertemu dengan pria tua berjubah gelap.
“Sarjana Rubah Perak, lama tidak bertemu. Saya tidak menyangka Anda sudah sebesar ini sekarang,” sapa Menteri Liu berbasa-basi. Yun Jili hanya membalas seadanya dan tersenyum tipis seperti biasa. Ia sedang malas berurusan panjang dengan seorang petinggi istana. “Salam, Menteri Dalam.”
“Bagaimana sosok Pangeran Kedelapan menurut Anda?” Menteri Liu lantas menanyakan hajatnya setelah cukup berbasa-basi. Itu bukanlah hal yang harus dirahasiakan. Jadi, Yun Jili menjawabnya tanpa sungkan, “Beliau anak yang cerdas. Bukankah Menteri Dalam sudah mendengarnya? Selain itu, Pangeran Kedelapan memiliki dua sisi yang unik. Kadang beliau bersikap dewasa, kadang bersikap seperti anak kecil pada umumnya.”
“Hanya itu?” Menteri Liu merasa agak sebal dengan senyuman tipis Yun Jili yang terlihat sinis. Namun, tidak ada yang dapat disalahkan dari sikap sarjana muda itu. Mungkin saja hanya perasaan Menteri Liu yang berlebihan.
“Jawaban seperti apakah yang Menteri Liu harapkan?” tanya Yun Jili selidik. Ia tak melepaskan senyum tipisnya sama sekali, “Saya baru sehari bersama Pangeran Kedelapan. Tidak ada informasi penting yang bisa Anda dapat dari saya.”
“Hah … begitu, ya? Aku memang terlalu buru-buru,” Menteri Liu sedikit membuang muka, memikirkan berbagai skenario yang mungkin akan terjadi ke depannya. Sebelum ia beranjak pergi, Yun Jili mengucapkan kata-kata yang menarik perhatiannya, “Ah? Mungkinkah Anda penasaran dengan kemungkinan Pangeran Kedelapan menjadi kaisar?”
“Apa Anda mengetahuinya?” Menteri Liu tidak menyangkal tebakan Yun Jili sama sekali. Sarjana berambut putih itu pun menjawab penuh keyakinan, “Hampir tidak mungkin beliau menjadi kaisar. Namun, saya yakin beliau bisa jadi dukungan besar bagi saudaranya yang hendak menjadi kaisar.”
“Mengapa Anda berpikir demikian?” Menteri Liu tidak serta merta percaya. Yah, lagi pula, itu hanya dugaan semata. Yun Jili lantas mengungkapkan, “Pertama, karena Pangeran Kedelapan sendiri yang mengungkapkan keengganannya. Kedua, beliau lebih tertarik dengan negeri asing daripada Kekaisaran Tang sendiri. Terakhir, beliau tidak memiliki pendukung yang kuat. Saya harap jawaban ini cukup memuaskan Anda.”
“Tentu saja. Lagi pula, ini bukan sesuatu yang penting. Saya pamit lebih dulu. Terima kasih atas penjelasan Anda, Sarjana Rubah Perak,” Menteri Liu memberi hormat sekenanya. Ia pun pergi meninggalkan Yun Jili dengan spekulasi-spekulasi yang baru, sementara Yun Jili pergi dengan harapan kecil yang simpel. “Semoga saja tidak ada hal-hal yang merepotkan ke depannya.”
__ADS_1