Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Sebelum Ke Wilayah Utara


__ADS_3

Li An merapatkan selimutnya ketika angin malam yang halus nan dingin bertiup. Ia pun mendongakkan wajah ke langit, menatap bulan yang sempurna cahayanya indah. Ada kilas rindu yang melintas di hati kecilnya. Dulu, setiap kali purnama terbit di langit, ia selalu ditamani Selir Ai memandanginya. Sejak sang ibu pergi tak jelas rimbanya, malam-malamnya pun menjadi sepi dan mencekam.


Air mata yang bening menetes di pipi Li An. Pangeran Kedelapan tiba-tiba menangis dalam hening kerinduannya. Sampai saat ini, ia masih tak dapat berita sama sekali tentang ibunya. Padahal, ia sudah mencoba untuk menelusurinya sejak lama. Namun, tak satu pun titik terang didapatkannya.


“Ibunda …,” gumam Li An dengan suara yang amat lirih. Ia berpaling dari rembulan. Matanya pun disuguhi bunga-bunga teratai malam yang sedang bermekaran. Cahaya bulan membuatnya jelas dipandang. Bunga-bunga ini … dulu pernah ditanam juga oleh Selir Ai. Setelah Paliviliun Aixin ditinggalkan selama beberapa bulan, mereka layu dan mati. Lalu, Li Huanran menanamnya kembali karena Li An menyukainya.


Li An masih meneteskan air mata saat bibirnya menyungging selembar senyum. Ia berjongkok memandang ke kolam kecil yang sebagiannya tertutup oleh teratai mekar. Bunga-bunga bermahkota magenta itu cukup menjadi pelipur rindu bagi sang pangeran. Kehadirannya membuat Li An dapat menyelam ke masa lalu yang lebih dalam.


Semilir angin kembali bertiup mengantar dingin ke setiap tempat yang dilaluinya. Li An kini terduduk di saung tempat ia biasa bercengkerama dengan Li Huanran. Putri Ketiga menjadi satu-satunya keluarga yang dapat ia percaya sekarang.


Sebentar lagi, Li An akan menginjak usia dewasa. Saat hari itu tiba, hak perwalian Li Huanran akan habis. Sang putri pun pasti akan segera dinikahkan dengan orang yang terpandang. Lagi-lagi, Li An akan kembali ditinggalkan oleh orang yang disayanginya.


“Hah … aku bukan anak kecil lagi hari itu,” Li An tersenyum getir, sadar bahwa ia masih memiliki sikap kekanakan yang tak bisa ditanggalkannya begitu saja, “Kakak punya haknya untuk memilih. Aku tidak bisa terus bergantung padanya di sisiku.”


Malam semakin dingin. Mata Li An mulai melek merem setiap beberapa detik. Ia pun kembali ke kamar dan membaringkan diri. Dalam ketenangan yang sunyi, ia terlelap sampai sinar mentari menyusup masuk ke kamarnya.


“Kakak …!” suara Li Rouwei mengagetkan Li An yang baru terbangun. Gadis kecil itu pun tertawa senang. Jarang sekali ia bisa mengagetkan kakaknya yang kalem dan hemat bicara ini. “Kakak, Kakak. Kenapa Kakak baru bangun sekarang?”


“Sejak kapan kamu di sini,” alih-alih menjawab, Li An malah balik bertanya.


“Baru saja,” jawab Li Rouwei dengan suara bocahnya, “Kakak Huanran minta aku bangunin Kakak. Katanya, Kakak An sudah berkali-kali dipanggil, tapi nggak bangun-bangun.”


“Hm? Begitu, ya?” ucap Li An sambil menata rambutnya yang tergerai panjang. Ia pun mengikatnya dengan pita yang tersedia di kamar. Setelah selesai bersiap, ia langsung keluar kamar bersama Li Rouwei yang sejak tadi berceloteh menceritakan sesuatu.


“Semalam kamu kerja lagi, ya?” tanya Li Huanran begitu Li An dan Li Rouwei sampai di ruang makan. Makanan di meja masih lengkap, menandakan kalau Li Huanran pun belum menyantap sarapannya. Li An menggeleng, “Nggak kok. Cuman kepikiran masalah akhir-akhir ini saja semalam. Jadi, aku agak kesulitan buat tidur.”


“Hah … dasar,” Li Huanran menghela napasnya sambil mengambil posisi menghadap meja, “Kamu tuh kebanyakan mikir masalah terus. Nanti kamu cepat tua loh.”


“Nggak kok,” Li An membantah. Ia juga sudah duduk menghadap meja, begitupun Li Rouwei—gadis itu akan bergabung sarapan bersama mereka meskipun dia sudah makan istananya. “Aku kan awet muda. Kakak juga.”


“Kamu muji atau nyindir sih?” Li Huanran tersenyum pahit, tapi juga senang. Li An mengangkat pundaknya, lantas menjawab, “Entah, dua-duanya mungkin. Kakak kan cantik, tapi belum menikah juga sampai sekarang.”


Tak!


Sumpit Li Huanran menubruk tembok karena Li An berhasil menghindari lemparannya. Pangeran muda itu pun memasang sikap waspada, siap mengelak kapan pun serangan berikutnya datang. Li Rouwei yang melihat keduanya hanya dapat menatap heran tak mengerti.


“Kamu kira untuk siapa aku melajang sampai sekarang? Hmph!” Li Huanran mengambil sumpit yang baru, lalu kembali menyantap sarapannya. Li An tersenyum tipis, ia pun berkata, “Yah, Kakak yang terbaik. Adikmu yang merepotkan ini minta maaf.”


Sarapan pagi itu berakhir dengan tenang. Setelah bercengkerama bersama kakak dan adiknya selama beberapa saat, Li An pun kembali ke kamarnya guna memikirkan hal-hal yang harus ia persiapkan untuk perjalanan ke Wilayah Utara.

__ADS_1


“Kenapa Kakak An sering sibuk?” tanya Li Rouwei begitu Li An masuk ke kamarnya, “Kakak-kakak yang lainnya nggak sesibuk dia. Mereka suka berburu, bermain-main, dan bersantai. Apa Kakak An mau jadi kaisar?”


“Dia memang begitu,” Li Huanran mengulas senyum pada adik perempuannya yang paling sering berkunjung ke mari dan membuat masalah, “Dia melakukannya justru agar tidak menjadi kaisar. Sejak kecil, dia selalu berusaha menghindar dari urusan internal politik, tapi dia tidak bisa menghindar sepenuhnya, bahkan semakin terseret.”


“Kakak An nggak mau jadi kaisar? Jadi kaisar kan enak? Bisa berbuat apa-apa semaunya,” tanya Li Rouwei dengan polosnya.


Li Huanran menggeleng. Ia sering berdiskusi dengan Li An, jadi ia sangat mengerti bagaimana cara berpikir adik kesayangannya. Menjadi pemimpin suatu negeri yang amat luas tidaklah semudah yang dibayangkan. Tanggung jawabnya tidak bisa dipandang sebelah mata.


“Kamu salah,” ucap Li Huanran, “Menjadi kaisar justru terkekang. Karena itu, Li An tidak pernah mau melirik takhta barang secuil pun.”


“Terkekang apanya? Ayahnya kan bisa berbuat apa-apa? Para putri dan pangeran seperti kita pun juga begitu kan?” Li Rouwei tidak mengerti maksud kakaknya. Li Huanran kembali menggeleng, “Kita, para putri dan pangeran memang bebas saat masih muda. Kita bisa bermain ke mana pun kita mau. Kita bisa mendapat apa pun yang kita mau. Namun, kita akan memiliki tanggung jawab yang besar saat dewasa nanti. Para putri akan menikah dan menjadi nyonya dalam rumah tangga suaminya, sementara para pangeran akan bertanggung jawab atas posisi tertentu sesuai dengan kemampuan yang ia punya. Makanya, An’er dan Xiang’er bekerja sangat keras untuk meraih cita-citanya masing-masing. An’er mau jadi sarjana ahli perdagangan, sedangkan Xiang’er mau jadi panglima dan kaisar.”


“Hm, Kakak Xiang memang mau jadi kaisar, tapi kan yang jadi putra mahkota sekarang Kakak Zhang. Gimana Kakak Xiang bisa jadi kaisar nanti?” Li Rouwei menanyakan hal yang selama ini ia penasaran, tapi baru bisa ia tanyakan sekarang. Li Huanran pun berpikir sejenak. Sebenarnya, jawaban atas pertanyaan itu cukup rumit untuk dijawab.


“Saat ini, ayahanda kaisar sehat sentosa dan mencengkeram kuat takhtanya. Ayahanda bisa menurunkan Kakak Zhang kapan saja dan menggantinya dengan siapa pun yang beliau kehendaki,” jelas Li Huanran panjang lebar, “Kalau Xiang’er menunjukkan prestasi yang lebih baik dalam karirnya, mungkin ayahanda kaisar akan mempertimbangkannya untuk naik menjadi putra mahkota. Hal itu juga bisa dipicu oleh faktor-faktor lainnya.”


“Faktor-faktor lainnya? Seperti apa?” Li Rouwei terus bertanya. Baginya, mendengar penjelasan dari Li Huanran lebih seru daripada menyimak pelajaran dari para pengajarnya yang kolot dan tua. Kedua putri itu memiliki ketertarikan yang berbeda dari para putri kebanyakan. Saudari-saudari mereka biasanya lebih suka hal-hal yang ringan dan indah untuk dilihat.


“Gejolak politik misalnya. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini saat Bibi Eminen diturunkan dari takhta permaisurinya,” jelas Li Huanran, “Bibi Eminen dan Keluarga Liu adalah pendukung utama Kakak Zhang. Saat beliau disingkirkan dari posisinya, kedudukan Kakak Zhang pun dalam dunia politik pun akan terpengaruh banyak.”


“Jadi, saat ibuku naik jadi permaisuri, kakak-kakak kandungku bisa mendapatkan kedudukan yang lebih kuat?” tebak Li Rouwei setelah menganalisa penjelasan Li Huanran dengan baik. Putri Ketiga tersenyum senang. Pertanyaan Li Rouwei itu menandakan bahwa penjelasannya cukup jelas untuk dimengerti anak berusia delapan tahun. Ia pun menjawab, “Tepat sekali! Namun, itu tetap tidak akan semudah yang dibayangkan. Mereka harus berusaha dengan baik untuk melampaui prestasi Kakak Pertama. Konflik di Wilayah Utara ini menjadi salah satu momentum yang sangat baik.”


“Bisa jadi,” Li Huanran tersenyum tipis menanggapinya, “Tapi An’er tidak akan mengharapkannya. Sudah kubilang, dia tidak pernah mau menjadi kaisar. Baginya, jabatan itu terlalu merepotkan. Ia pasti akan berusaha menolaknya kalaupun diajukan untuk menjadi putra mahkota. Perjalanannya kali ini hanya untuk menunjukkan pengabdiannya sebagai pangeran yang bertanggung jawab di Kekaisaran Tang.”


“Apa sebegitunya Kakak An nggak mau jadi kaisar? Kakak An kan pintar, harusnya mudah dong baginya buat jadi kaisar,” celoteh Li Rouwei seakan merasa aneh dengan keengganan Pangeran Kedelapan. Li Huanran pun mengacak rambut adiknya yang cerewet dan overaktif itu, “Yah, dia memang pintar dan pandai berpikir. Namun, justru karena itu ia semakin tak sanggup menjadi kaisar. Kecerdasannya itu bisa jadi cenderung membuatnya ragu-ragu dalam membuat keputusan.”


“Masa begitu?” Li Rouwei tidak percaya. Li Huanran pun memekarkan kipasnya, “Entahlah, siapa yang tahu?”


...***...


“Chen-Chen, kenapa kamu lama sekali?” tanya Li Rouwei dengan suara cemprengnya yang nyaring. Gadis kecil itu berkacak pinggang. Dia terlihat kesal dengan keterlambatan Li Chen yang baru sampai. Ia sudah menunggu cukup lama di tempat yang khusus ini.


“Hah …,” Li Chen menghela napas, “Bukan aku yang terlambat, tapi kamu yang datang terlalu cepat. Asal kamu tahu, aku langsung bergegas ke mari setelah kelasku selesai.”


“Kelasmu yang terlalu lama, aku datang tepat waktu,” LI Rouwei tak terima disalahkan, “Kamu juga .harusnya bisa lebih cepat lagi.”


“Bukan aku yang mengajar di kelas. Kenapa kamu menyalahkanku?” Li Chen pun tak terima disalahkan, “Salahkan Kakek Bao yang terlalu lama bercerita.”


“Hmph! Sudahlah. Lupakan itu,” Li Rouwei memperbaiki posisi duduknya, bersiap mendiskusikan masalah serius. Ia pun mengusir semua dayang yang menemaninya. Awalnya, mereka terlihat ragu. Namun, mereka pun segera pergi setelah melihat ekspresi kesal di wajah Putri Kesembilan.

__ADS_1


“Wah, sepertinya mereka sangat takut padamu,” komentar Li Chen dengan sedikit takjub, “Apa yang kamu lakukan pada mereka?”


“Bukan urusanmu,” jawab Li Rouwei dingin. Li Chen terbengong sesaat. Ia merasa sikap egois gadis ini semakin bertambah setiap harinya. Pemuda itu pun memutuskan untuk memakluminya saat ini, “Oke, oke. Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?”


“Chen-Chen,” panggil Li Rouwei memastikan lawan bicaranya memperhatikan dengan baik. Tanpa berbasa-basi sedikit pun, ia langsung masuk ke intinya, “Ayo ikut ke Wilayah Utara.”


“Hah? Memangnya kita bisa pergi ke sana?” tanya Li Chen ragu. Li Rouwei pun menyeringai bangga. Dengan suara yang lirih, dia menyuruh Li Chen mendekat, “Aku punya ide.”


Buk!


“Aduh! Kenapa kamu malah memukulku?” protes Li Rouwei kesal. Kepalanya langsung ditepuk oleh Li Chen begitu selesai berbisik. Ia pun reflek mengelus kelapanya karena kaget. Bibirnya menggelembung besar seperti ikan buntal.


“Dasar! Itu bukan ide yang bagus,” giliran Li Chen yang protes, “Gimana kalau peti yang kamu masuki nggak bisa dibuka setelah itu? Kamu bakal kelaparan. Kamu sampai kamu mati, Kakak An yang bakal kerepotan.”


“Siapa bilang aku mau mati?” Li Rouwei menghentak meja dengan kedua tangannya sampai Li Chen terkejut. Begitu pula para dayang yang menunggu di luar. Hati mereka jadi berdebar kencang karena mendengar kalimat tidak wajar yang keluar dari mulut gadis kecil itu.


“Lalu, apa rencanamu?” Li Rouwei kembali melirihkan suaranya. Li Chen berpikir sejenak. Ia pun membisikkan buah pikirnya pada Li Rouwei. Putri Kesembilan itu mengangguk beberapa kali. Ia kembali menyeringai pertanda setuju dengan ide Li Chen.


Namun, begitu pemuda itu selesai memberikan rencananya, Li Rouwei langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dengan satu gerakan yang cepat, ia menepuk kepala Li Chen sekeras ia menghentak meja. Li Chen pun mengaduh dan protes. Dengan entengnya, Li Rouwei membalas, “Ini balasan karena kamu duluan yang memukulku tadi. Hmph!”


...***...


“Putri Kecil,” panggil Li Huanran dengan riangnya, “Lama tak jumpa.”


“Selamat datang, Kakak Huanran,” sambut seorang gadis ayu yang kepalanya dibalut rapi dengan kerudung berbahan sutra. Ada aura positif yang keluar darinya, sebuah pancaran elok yang akan membuat orang-orang memandang baik dirinya.


“Kamu jadi makin cantik saja tiap hari,” kata Li Huanran berbasa-basi. Putri Kecil pun membalasnya serupa, “Kakak Huanran juga makin cantik, apalagi kalau pakai kerudung kayak aku. Mau coba nggak? Aku dah siapin kainnya loh.”


Li Huanran tak dapat menolak karena melihat wajah Putri Kecil yang memandangnya penuh harap. Ia pun duduk di depan sebuah cermin, sementara Putri Kecil dan para dayang mengelilinginya dengan berbagai kain lebar yang cantik.


“Mana yang mau Kakak coba dulu?” tanya Putri Kecil saat para dayang membentangkan kain-kain yang mereka bawa. Li Huanran pun tampak berpikir sejenak. Ia lantas memilih sebuah kain cerah berwarna merah yang senada dengan gaunnya sekarang.


“Baiklah!” Putri Kecil menepuk tangannya sekali, ia pun mengambil kain yang Li Huanran pilih, “Kakak diam saja. Ini tidak akan selama merias rambut.”


“Putri Kecil,” panggil Li Huanran saat para dayang sedang melepas atribut-atribut di kepalanya, “An’er akan pergi ke Wilayah Utara tak lama lagi. Apa kamu nggak ada rencana buat mengantar kepergiannya?”


Putri Kecil terdiam sejenak. Ia pun tersenyum simpul dan menjawab dengan ringan pertanyaan Putri Ketiga, “Sampaikan salamku padanya. Sayang sekali, aku tidak bisa ikut mengantarnya. Kakak pasti mengerti.”


“Haha, kamu masih saja malu-malu begitu,” Li Huanran menyungging senyum takzimnya, “Aku pasti menyampaikannya.”

__ADS_1


__ADS_2