
"Dia sudah datang?" tanya Li An pada seorang pelayan yang bertugas, "Apa dia sudah menunggu lama?"
"Tidak, Pangeran," pelayan itu pun menggeleng, "Beliau juga baru datang."
"Syukurlah," Li An menghela napas lega, "Berarti kita tidak membuatnya menunggu lama."
"Siapa dia?" tanya Li Huanran lirih.
"Kakak akan tahu sebentar lagi," Li An tersenyum simpul, "Sebelum bertemu dengannya, Kakak harus memakai pakaian yang lebih sesuai lagi. Hai, tolong suruh dia menunggu sebentar lagi."
"Kenapa tidak langsung menemuinya?" tanya Li Huanran heran selepas Li An memberi perintah pada pelayannya. Ia pun memeriksa pakaiannya. Menurutnya, ia sudah menggunakan pakaian yang pantas untuk bertemu secara formal.
"Orang itu sangat bermartabat dan menjunjung tinggi kehormatan wanita," jelas Li An sambil menarik kakaknya ke sebuah ruangan, "Dia selalu menjaga pandangan dan taat pada perintah agamanya."
"Hm," Li Huanran masih belum mengerti.
"Pangeran," seorang pelayan wanita datang membawakan sebuah aksesoris kepala, "Ini dia barang yang sudah Anda pesan."
"Terima kasih," ucap Li An yang kemudian berpaling kepada kakaknya, "Kakak, pakailah ini untuk menutup kepala dan wajahmu. Dengan begitu, kalian akan bisa berbicara dengan lebih nyaman dan santai. Kakak juga tidak perlu lagi menggunakan kipas itu untuk menyembunyikan ekspresi."
"Oke," Li Huanran menerimanya tanpa protes. Ia pun menerima aksesoris kepala yang melebar itu. Ada sebuah kain tipis yang menjuntai panjang ke bawahnya. Kain itu akan menutupi penggunanya dari pandangan orang-orang, tapi si pengguna sendiri masih bisa melihat ke luar.
__ADS_1
"Kakak sudah siap, kan?" tanya Li An sekali lagi untuk memastikan, "Ayo kita masuk sekarang."
Li Huanran mengangguk. Tangannya menggandeng lengan Pangeran Kedelapan yang kini sudah semakin besar, padahal dulu lengan itu sangatlah mungil.
Hati Li Huanran mendadak berdebar begitu melewati pintu masuk. Suasana sekitar seolah-olah berubah seketika begitu ia sampai di dalam ruangan. Ada perasaan asing yang tiba-tiba menerjang.
"Maaf sudah membuatmu menunggu lama," kata Li An pada seorang pemuda yang sudah duduk di ruangan itu, "Lama tidak berjumpa. Ini sudah hampir setengah tahun, bukan? Atau malah lebih?"
"Entahlah, Pangeran," pemuda itu menyungging senyum simpul yang khas, "Tapi, kita memang sudah lama tak berjumpa."
Li Huanran menundukkan wajahnya sejak memasuki ruangan tadi. Ia belum berani mendongakkan wajah meskipun penasaran dengan pemuda yang akan dikenalkan oleh adiknya. Hatinya bahkan semakin berdebar saat mendengar suara pemuda itu.
"Ali," panggil Li An yang kemudian memperkenalkan kakaknya, "Perkenalkan, ini kakakku, Putri Ketiga. Namanya Li Huanran."
"Salam, Tuan Duta Muda," Li Huanran memberanikan dirinya untuk mendongakkan wajah. Dilihatnya seorang pemuda tampan khas orang-orang asing yang tersenyum simpul padanya. Umur keduanya mungkin saja sepantaran. Mereka akan sangat cocok apabila proses perjodohan ini berjalan lancar.
Pemuda bernama Ali bin Zaid itu memiliki jenggot yang tebal, hitam legam, dan tertata rapi. Ada aura istimewa seorang diplomat pada dirinya. Dengan statusnya yang hebat itu, ia memang pantas mempersunting putri kaisar, apalagi untuk mempererat hubungan bilateral kedua negara melalui jalur kekeluargaan.
"Baiklah," Li An menepuk tangannya sekali, mengambil perhatian dari kedua insan yang baru saling bertemu di depannya, "Mari kita mulai rangkain proses 'perkenalan' ini."
Li An sudah cukup banyak mempelajari ragam syara' yang membentuk budaya dalam Islam. Menurutnya, syara' itu memiliki cara yang baik untuk mempersatukan kedua insan yang akan membentuk bahtera rumah tangga. Mulai dari proses saling memperkenalkan diri, berbagi visi dan misi dalam berkeluarga, sampai membangun komitmen bersama. Semua proses itu terkawal dengan baik dalam aturan syara'.
__ADS_1
Tidak seperti budaya kuno dari negeri-negeri barat jauh, dalam syara' itu tidak ada yang namanya pacaran. Proses saling mengenal itu butuh pengawasan agar tidak terjadi "kecelakaan" yang meruntuhkan harkat dan martabat. Ada pembimbingan yang ketat selama proses itu, termasuk dalam proses pembentukan visi dan misi berkeluarga.
Seperti yang sudah Li An katakan pada Selir Shu kemarin, pernikahan itu bukan melulu soal cinta. Para pecinta terkadang lupa dengan tanggung jawab yang harus ditanggungnya. Karena itulah mereka harus dibimbing dan diingatkan agar tidak celaka.
Pernikahan itu membutuhkan komitmen yang kuat, bukan macam omong kosong para buaya darat yang sesumbar rela mendaki gunung dan mengarungi samudra demi sang pasangan tercinta. Komitmen itu harus dibangun bersama agar kedua insan dapat menjalaninya dengan setulus hati. Tanpa komitmen itu, tak pantaslah seorang pecinta dipegang cakap lisannya.
Satu dua kali pertemuan tidak cukup untuk saling mengenal. Karena itulah Li Huanran beberapa kali datang menemui Ali bersama Li An. Satu minggu berlalu, tampaklah kecocokan pada keduanya. Maka, sudah saatnya meneguhkan hati dan menancapkan komitmen yang hakiki.
"Apa Kakak sudah yakin dan mantap akan menerimanya?" tanya Li An dalam salah satu perjalanannya pulang dari menemui Ali.
Li Huanran tak langsung menjawab. Ia terdiam di tempatnya. Perkenalannya dengan Ali berjalan lancar. Ia pun sudah menyelidiki perangai asli pemuda itu secara rahasia. Tidak yang membuatnya berat hati. Akhirnya, ia pun mengangguk pelan.
"Baiklah kalau begitu," Li An tersenyum senang, "Saatnya bagi Ali untuk bertemu dengan Bibi Shu."
"Apa kamu tidak mau memanggilnya ibu?" tanya Li Huanran mendengar Pangeran Kedelapan menyebut ibu kandungnya bibi.
"Hm," Li An menjawab spontan, "Bibi kan tak pernah memintaku untuk memanggilnya ibu."
"An'er, kalau aku yang memintamu," ucap Li Huanran yang tengah diliputi beribu perasaan, "Apa kamu mau memanggil ibunda 'ibu'?"
"Aku tidak masalah," jawab Li An enteng, "Bagaimana dengan bibi sendiri? Apa beliau tidak akan tersinggung?"
__ADS_1
"Dasar, ibunda selalu mengharapkannya walaupun ia tak mau menunjukkannya dengan jelas," Li Huanran menepuk kening Li An dengan ujung kipasnya, "Cobalah panggil ia dengan benar saat mengobrol dengannya."
"Baiklah," Li An mengangguk paham, "Kebetulan, aku harus melaporkan kemajuan ini kepada beliau."