Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bab 045: Pertemuan di Gedung Serikat


__ADS_3

"Putri Kecil," panggil Li Huanran lesu, "Apa matahari akan terbit dari Barat?"


"Uhuk!?" Putri Kecil tersentak kaget sampai nyaris memuntahkan teh yang baru saja diminumnya. Ia pun segera menelan minuman di mulutnya itu, lalu buru-buru menoleh pada Putri Ketiga, "Kenapa Kakak berpikir begitu?"


"Entahlah, mungkin karena An'er," Li Huanran menjawab asal. Tidak, itu adalah kata-kata yang keluar langsung dari hatinya. Jadi, memang itulah sebab kegalauannya.


"An'er?" Putri Kecil mengerutkan keningnya. Gadis yang selalu menutup kepalanya dengan kain sutra tebal itu menatap heran. Pagi ini, Li Huanran tiba-tiba datang untuk menemuinya. Putri Ketiga itu berwajah masam seperti tak bersemangat, beda dari sosok sang putri yang biasanya ceria.


"Dia kan sudah tumbuh dewasa," tambah Li Huanran. Ia menatap teh poci yang ada di tangannya dengan pandangan sayu. Minuman estetik itu menyebarkan wangi harum yang mempesona seolah membawa ketenangan pada siapa pun yang ada di sekitarnya.


"Lalu?" Putri Kecil masih belum mengerti. Ia tahu bahwa Putri Ketiga memang sangat menyayangi Li An sampai rela menunda pernikahannya sendiri. Namun, ia tak bisa percaya bahwa Li Huanran akan jadi seperti ini setelah Pangeran Kedelapan mengadakan upacara kedewasaannya. Mana mungkin sang putri 'menyayangi' adiknya sendiri sebagai seorang laki-laki? Itu tidak mungkin, kan?


"Tidak!" batin Putri Kecil menggeleng kuat. Hatinya menolak keras prasangka aneh itu. Entah mengapa, ia merasa ada yang menyentil hatinya. Wajah ayu gadis itu pun sedikit merona merah karenanya.


"Putri Kecil," panggil Li Huanran lagi. Ada senyum tipis yang terukir di bibirnya, "Kapan kamu akan jadi adik iparku?"


"Heh?" Putri Kecil langsung menoleh dengan wajah yang semakin merona bak kilauan senja di langit. Imajinasinya memang sudah berlebihan. Tidak mungkin Putri Ketiga menyayangi adiknya sebagai seorang laki-laki.


"Ayolah, kalian sudah cukup umur. An'er sudah melaksanakan upacara kedewasaannya. Banyak putri mengantri untuk jadi istrinya," cecar Li Huanran beruntun, "Kamu akan menyesal kalau sampai keduluan gadis lain. Hatinya mungkin akan segera tertambat kalau kamu tidak bergerak cepat. Atau … apa kamu tidak keberatan jadi yang kedua?"


"Ka–kakak … aku, aku …," muka Putri Kecil semakin memerah lagi. Ia pun buru-buru menutup wajah karena malu. Ekspresinya yang imut itu membuat Li Huanran terhibur. Sedih hati Putri Ketiga pun jadi terlipur karenanya.


"Semangat, Putri Kecil," kata Li Huanran sambil menepuk-nepuk kepala gadis itu, "Kamu sudah mendapat tiket emas dariku. Selama kamu bergerak cepat, An'er pasti langsung menerimamu."


***

__ADS_1


"Kakak, apa Kakak mau ikut?" tanya Li An hari itu. Li Huanran belum juga pindah dari Paviliun Aixin. Tampaknya, ia sudah terlalu betah di kediaman adiknya yang kecil itu.


"Ke mana?" Li Huanran langsung menoleh.


"Ke serikat," jawab Li An, "Kebetulan para pemimpin kafilah sedang bertandang di ibu kota. Ada keluarga Kakak Mei juga di sana. Kita sudah lama tak bertemu dengannya, kan?"


"Hm, baiklah," jawab Li Huanran setuju.


Li An pun segera menyiapkan kereta kudanya untuk pergi ke Gedung Serikat Dagang Fuli di Ibu Kota Chang'An. Mereka berangkat menuju pusat perbelanjaan kota, tempat serikat berada. Begitu sampai di sana, seorang pelayan langsung menyambut mereka.


"Selamat datang, Pangeran," ucap pelayan paruh baya yang kemudian menatap ke Li Huanran, "Selamat datang, Tuan Putri."


Tanpa basa-basi lebih panjang lagi, pelayan itu segera mengantar Li An untuk masuk ke dalam serikat. Telah berkumpul ratusan orang di sana sehingga aula serikat yang luas jadi terasa sumpek. Orang-orang itu adalah utusan-utusan para pedagang dan kafilah yang punya urusan dengan serikat.


"An'er, Kakak Huanran," panggil seorang wanita yang kepalanya dililit rapi dengan kain sutra. Wanita itu tersenyum senang. Tampak ada kebahagiaan di wajahnya.


"Hai," sapa Li Mei yang tengah menggendong seorang bayi nan tampan dan imut. Ada seorang lelaki berperawakan orang asing yang menemaninya. Lelaki itu adalah seorang pedagang sukses yang juga suami Li Mei. Namanya Uwais. Mereka menikah sekitar satu atau dua tahun yang lalu, beberapa bulan sebelum terjadinya kerusuhan di istana.


"Wah, apa Kakak Huanran masih saja menempel pada An'er?" goda Li Mei begitu saja. Begitulah kebiasaannya. Li Huanran sudah hafal dengan perilaku usil sepupunya itu. 


"Hm, apa ada masalah Mei'er?" dari balik kipasnya yang mekar, Li Huanran balik bertanya sambil menekan emosinya. Meskipun kata-kata Li Mei amat sederhana, ucapan putri wanita muda itu sangatlah tepat menusuk di hati. 


"Tentu, tidak ada," jawab Li Mei dengan riangnya, "Kakak bisa terus beralasan untuk menjaga An'er, tapi Kakak harus ingat kalau dia sudah besar. Cobalah mencari …."


"Ya ampun, dia imut sekali," Li Huanran langsung mengalihkan perhatian, "Siapa namanya?"

__ADS_1


"Namanya Sulaiman," jawab Li Mei masih dengan nada riangnya, "Benar, kan? Dia memang buah hatiku yang paling imut. Kelak, dia pasti akan tumbuh hebat seperti Baginda Sulaiman yang menguasai timur dan barat."


"Su … apa?" Li Huanran kesulitan mengeja nama yang Li Mei beri tahukan.


"Li Shing," ucap Li Mei menambahkan, "Kakak bisa memanggilnya Shing'er saja."


"Kakak Mei, Uwais," panggil Li An yang hendak memberi selamat, "Selamat atas anugerah yang kalian dapatkan."


"Hehe, terima kasih, An'er," balas Li Mei senang, sedangkan Uwais hanya tersenyum dalam diam membiarkan istrinya mengobrol dengan Pangeran Kedelapan dan Putri Ketiga.


"Hai, Kakak Huanran," panggil Li Mei dengan nada usilnya. Efek pengalihan isu Li Huanran telah habis. Jelas sekali Li Mei ingin menggodanya lagi, "Kakak tahu? Shing'er sangat lucu. Dengan melihat wajahnya saja, hatiku jadi tenang. Kakak pasti akan paham setelah menikah dan punya anak nanti."


Li Mei terus berceloteh tentang putranya sampai beberapa saat. Sebenarnya, Li Huanran akan sangat menikmatinya apabila Li Mei tidak menggunakan nada yang usil dan provokatif itu. Setelah puas bercerita, putri Pangeran Zhizhe itu pun akhirnya bertanya, "Kakak Huanran, kapan Kakak akan me-ni-kah?"


Li Mei sengaja menekankan kata itu karena mengharapkan jawaban serius. Li Huanran pun mengeratkan genggaman pada kipasnya demi meredam emosi. Ia menyeringai tipis di balik kipasnya itu dan berkata, "Wah, Mei'er sungguh perhatian. Doakan saja aku agar secepatnya mendapat pasangan. Mendengar ceritamu, aku jadi tidak sabar."


"Ekhem!" Li An berdehem keras sampai Li Huanran, Li Mei, dan Uwais menoleh padanya. Ia pun menatap kepada kakaknya dengan serius, sedangkan Li Huanran menoleh padanya heran. Pangeran Kedelapan pun tersenyum simpul, "Ini sungguh kebetulan yang baik. Ada seorang teman yang ingin kukenalkan pada Kakak. Karena Kakak pun juga sudah tidak sabar menantinya, ayo kita segera bertemu dengan orang itu."


"Heh?" Li Huanran tersentak kecil. Ia jadi tak percaya bahwa semua ini kebetulan semata. Li An, Li Mei, dan juga pria bernama Uwais itu pasti sudah merencanakannya. Sang putri pun menoleh pada Li Mei, tapi Li Mei malah tersenyum jahil sambil mengangkat bahu seolah menyangkal prasangka itu.


"Ini berita bagus! Kakak, segera temui pria itu!" Li Mei ingin mendorong Li Huanran untuk mendukungnya, tapi tiba-tiba Sulaiman menangis sehingga ia harus segera menenangkannya. Wajahnya pun berubah panik. Di paras mudanya yang ayu itu, terlihat aura keibuan yang kental pada seorang wanita.


"Sayang sekali, sepertinya kami harus pergi lebih dulu," Uwais yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara, "Terima kasih atas keramahtamahan Anda berdua, Pangeran, Putri. Mei'er, ayo kita istirahat dulu. Kasihan Sulaiman."


"Hm, baiklah," Li Mei mengangguk patuh. Ia pun pamit kepada kedua sepupunya, "Dadah, Kakak Huanran, An'er. Nanti kita bertemu lagi. Sampai jumpa."

__ADS_1


"Nah, silakan ikuti aku, Kakak," ucap Li An kemudian. Ia tersenyum lebar melihat wajah merona kakaknya yang sudah seperti kepiting rebus di balik kipas. Ekspresi seperti itu sangat jarang sekali terlihat di wajah sang putri. Tanpa menolak sedikit pun, Putri Ketiga akhirnya berjalan mengikuti Li An.


__ADS_2