
Sejak hari pertamanya datang, Li Huanran selalu mengikuti adik kecilnya. Ke mana pun Li An pergi, pasti ada Li Huanran di sampingnya. Para dayang sampai menggosipkan hal itu. Mereka mengira bahwa Li An akan segera dibawa kembali ke Istana Kebahagiaan Abadi dengan Putri Ketiga sebagai walinya menggantikan Selir Hien, ibu kandung Pangeran Kedelapan dan Selir Ai, ibu asuhnya.
Li Mei sampai kesal mendengarnya. Li Roulan sok tidak peduli karena masih kesal pada Li An. Li Xiulan tidak bereaksi apa-apa, sedangkan Li Chen masih berusaha untuk mengerti. Saat bocah itu paham, ia langsung memastikannya pada Li An.
“Mana mungkin aku ke tempat mengerikan itu?!” Li An kaget sendiri saat ditanya oleh si bungsu. Ia pun menggerutu panjang, mengemukakan alasan-alasannya menolak mentah-mentah hal itu. Ia sengaja mengatakannya keras-keras di depan Li Huanran agar gadis itu mengerti..
Putri Ketiga pun menutup setengah wajahnya dengan kipas merah bersulam latus emas. Benda kesayangannya yang tertinggal itu baru sampai ke Istana Pangeran Zhìzhě kemarin. Ia menyembunyikan ekspresi seriusnya, tapi mata sipitnya yang semakin sipit saat berpikir dalam membuat ia masih sedikit terlihat di mata orang yang jeli. Tugasnya jadi semakin berat dengan gerutuan Li An itu. Bagaimanapun caranya, ia harus bisa membawa Li An kembali ke hadapan Kaisar Yung Wei, ayahandanya.
“Kakak An nggak bakal pergi kan?” Li Chen memastikan kesimpulannya.
“Hm, pokoknya aku nggak sudi ke sana!” tegas Li An mantap. Li Chen langsung bersorak senang. Ia jadi bisa melanjutkan ambisinya untuk mengalahkan Pengeran Kedelapan. Bocah bungsu itu pun berlari untuk mengabarkannya pada para putri Pangeran Zhìzhě dan dayang-dayang yang bergosip. Ia memaksa siapa pun untuk percaya karena beritanya berasal langsung dari Li An sendiri.
Li Mei ikut senang seperti adiknya saat mendengar kabar itu. Li Roulan entah mengapa menjadi kesal, sedangkan Li Xiulan hanya menyunggingkan selarik senyum tipis. Nyonya Lu dan Nyonya Chu hanya dapat tertawa kecil melihat reaksi anak-anaknya.
“Mereka semua sayang kamu, ya,” ucap Li Huanran dengan untaian nadanya yang lembut. Sebagai putri yang cerdas, ia lebih suka sugesti dan jalan damai. Gadis ayu itu pun mengatupkan kipasnya, “Kalau jadi kamu, aku juga nggak bakal mau pergi dari sini.”
“Tuh tahu,” balas Li An singkat. Ia tetap fokus pada buku-buku dan gulungannya. Raut wajahnya dingin. Sangat tidak cocok dengan anak seusianya yang seharusnya banyak berekspresi dan mencurahkan perasaan. Li Huanran menghela napas miris setiap kali memikirkan itu.
“Kamu takut sama apa di istana?” tanya Li Huanran menyelidik. Ia harus punya lebih banyak imformasi untuk mengatasi masalah bocah itu. Jika ia bisa mengatasi ketakutan adiknya, ia pasti bisa menjalankan misinya.
“Semuanya, apalagi Kakak,” ucap Li An ketus. Ia masih sangat sebal dengan Putri Ketiga. Bocah itu merasa kehilangan ruang privasi semenjak Li Huanran datang. Sungguh gadis yang merepotkan.
“Jahatnya … padahal aku cantik begini. Kenapa kamu nggak lari kalau takut sama aku?” balas Li Huanran dingin. Ia kembali mengembangkan kipasnya. Tangannya gemas ingin mencubit bocah yang sok dewasa itu.
“Kakak yang jahat. Kenapa Kakak ngikutin aku terus?” Li An menutup bukunya. Ia sudah muak dengan kesumpekan ini. Matanya beradu pandang dengan Li Huanran. Keduanya sama-sama dingin seolah ada dua badai angin yang saling berlawanan.
“Hais, kita kan saudara seayah. Masa aku nggak boleh ikut sama kamu?” Li Huanran tersenyum di balik kipasnya. Ia berniat mengganggu adiknya sekarang. Pasti sangat seru melihat ekspresi kesal bocah itu. Selama ia bisa mengendalikan keadaan, hal seperti kemarin tak akan terjadi lagi. Lagi pula, ia sudah semakin mengerti karakter Li An.
“Kakak pengganggu!” bentak Li An yang kemudian pergi dari ruang bacanya di Pagoda Arsip Kecil. Li Huanran pun mengikutinya dari belakang. Saat ia bangkit, bangkit pula para dayangnya yang bersiap di ruang lain. Inilah yang membuat Li An semakin terganggu.
“Kakak bisa pergi nggak sih?” Li An berhenti di depan Pagoda Arsip Kecil. Ia sudah sangat kesal sekarang. Tangan mungilnya mengepal erat. Ditatapnya Li Huanran sedingin-dinginnya. Ia benar-benar ingin kabur dari mereka. Namun, setiap kali ia mendapat tempat persembunyian, pasti akan ada yang dayang segera menemukannya. Persebaran mereka membuat Li An frustasi.
“Bisa kok,” Li Huanran tertawa kecil di balik kipasnya. Baginya, bocah kecil itu terlihat seperti kucing mungil yang sedang marah. Sangat imut dan menggemaskan. Bagaimanapun caranya, ia harus membawa Pangeran Kedelapan kembali ke Istana Kebahagiaan Abadi. Li Huanran pun menyebutkan syaratnya agar ia membebaskan Li An barang sehari, “Panggil dulu aku Ayunda Huanran atau Ayunda An. Ayo panggil yang benar. Nanti aku pergi deh.”
“Hmph!” Li An langsung berpaling begitu mendengar syaratnya. Ia tidak sudi sama sekali untuk lakukan hal itu. Gengsinya lebih besar daripada perasaan frustasi yang ia rasakan. Padahal, gengsi itu sama sekali tidak berguna untuknya.
__ADS_1
“Kakak An … Kakak An …,” panggilan Li Chen jadi kesempatan emas bagi Li An. Bocah itu pasti hendak mengajaknya meninggalakan buku-buku di Pagoda Arsip Kecil dan bermain. Biasanya, ia akan menolak ajakan si bungsu itu mentah-mentah. Namun, berhubung ia tak bisa berkonsentrasi dengan adanya Li Huanran, maka ini menjadi opsi kabur paling baik sekarang.
“Kakak Huanran, Kakak Huanran,” seorang gadis kecil menarik-narik gaun cerah Li Huanran. Suara gadis itu sangat lirih, tapi masih bisa terdengar. Gadis itu adalah Li Xiulan. Ia ingin mengajak Putri Ketiga mengobrol di suatu tempat bersama Li Roulan.
Li An segera menarik Li Chen berlari. Dalam hati, ia berterima kasih pada Li Xiulan yang telah mengalihkan perhatian kakaknya. Agar para dayang menyebalkan itu tidak dapat menggapainya, ia pun mengajak Li Chen memanjat pagar batu. Dengan kemampuan dasar bela dirinya, ia bisa melakukan itu walaupun harus bersusah payah. Apalagi Li Chen yang masih kecil.
Seorang dayang sampai berteriak heboh saat melihat kedua pangeran itu berada di puncak pagar. Ia segera meminta penjaga untuk menurunkan mereka. Namun, sebelum penjaga itu datang, Li An dan Li Chen lebih dulu melompat ke sisi lain dari tembok dan lanjut berlari. Mereka tertawa girang saat berhasil melewati tantangannya.
“Ayo sembunyi sebelum kita ketahuan,” ucap Li An sambil terus berlari. Tawanya masih tersisa. Ia tak menyangka bermain bisa jadi seasyik ini. Li Chen juga sama. Ia merasa permainan petak umpet ini jadi lebih menyenangkan.
Mereka pun berhenti saat mulai kelelahan. Keduanya terengah-engah berat. Li An berusaha mengatur napasnya, sedangkan Li Chen langsung terduduk di tanah yang berumput hijau. Mereka harus istirahat dulu sebelum lanjut bermain.
“Pangeran An, Pangeran Chen, rupanya Anda berdua di sini,” sebuah suara berat membuat Li An dan Li Chen sangat terkejut sampai berteriak kencang. Kalau saja tenaga mereka masih tersisa, pasti mereka sudah lari tunggang langgang sekarang.
“Paman Guang kenapa di sini? Paman teman atau musuh?” Li Chen berteriak dengan suara yang cempreng sambil menuding seolah ada pedang di tangannya. Li An bernapas lega. Selama orang itu bukan dayangnya Li Huanran, ia pasti tidak berada di pihak mereka.
“Ah, maaf telah membuat Anda berdua terkejut, Pangeran,” Ma Guang mengangkat kedua tangannya, mengisayaratkan ketundukannya pada Li Chen dan Li An. Ia sempat mendengar kabar tentang rumor permainan petak umpet sejak kemarin. Jadi, ia mengira permainan itu masih berjalan sampai sekarang. “Saya akan berada di pihak Anda.”
“Bagus! Ikuti perintahku mulai sekarang,” ucap Li Chen yang kini mengambil peran pura-pura menjadi seorang kapten. Li An tertawa geli melihatnya. Ma Guang yang telah terseret dalam permainan ini hanya tersenyum maklum.
“Ayo kita naik ke tempat yang tinggi! Kita harus memburu informasi sebanyak-banyaknya,” seru Li Chen yang kemudian langsung berlari ke tengga sebuah bangunan bertingkat empat yang tak jauh dari sana. Li An dan Ma Guang pun saling bertukar pandang. Mereka pun akhirnya mengikuti si bungsu yang terlarut dalam perannya.
“Paman Guang, laporkan situasi,” bisik Li Chen lirih, tapi terdengar jelas di telinga prajurit jangkung itu.
“Situasinya aman sentosa, Pangeran. Kita bisa menikmati pemandangan dari sini,” jawab Ma Guang serius. Ia masih belum terlalu mengerti aturan dari permainan petak umpet istana ini. Jadi, ia belum tahu musuh mana yang dimaksud Li Chen.
“Bagaimana dengan kakakku?” tanya Li An sambil tetap fokus mengamati pergerakan tim kakaknya. Ia terseret dalam keseriusan peran Li Chen. Ketegangannya jadi kerasa karena tingkah si bungsu itu.
“Maksud Anda Putri Ketiga?” Ma Guang memastikan.
“Hm,” angguk Li An tanpa menoleh. Ma guang pun melaporkan, “Terakhir kali saya lihat, Putri Ketiga sedang mengobrol dengan Putri Roulan dan Putri Xiulan. Sepertinya beliau sedang membicarakan hal yang serius.”
“Dayang-dayangnya?” lanjut Li An. Ia tidak bisa pergi sebelum mengetahui status mereka.
“Apa maksud Anda?” Ma Guang tidak mengerti arah pertanyaan Li An.
__ADS_1
“Lupakan!” Li An mendapat sebuah ide cemerlang, “Chen’er, ayo kita buat basis pertahanan.”
“Basis?” Li Chen tidak mengerti. Ma Guang pun menjelaskannya sehingga Li Chen langsung setuju setelah itu. “Di mana kita membuatnya?”
“Pagoda Arsip Kecil,” usul Li An. Sejak awal, tujuannya adalah kembali ke tempat itu. Ia ingin segera membaca buku-bukunya lagi. Karena itu, sebelum Li Chen protes, ia berkata, “Kita harus menghimpun dan menganalisis informasi sebaik-baiknya. Tidak ada tempat yang lebih cocok selain Pagoda Arsip Kecil. Tempat itu sepi dan tenang.”
Li Chen langsung setuju. Ia pun meminta Ma Guang untuk mengantar mereka ke Pagoda Arsip Kecil. Kalau bersama dengan prajurit yang besar dan jangkung itu, pasti tidak ada orang yang berani mengejar dan mengusik mereka. Ini adalah rencana yang sempurna.
“Chen’er! An’er! Ketemu juga kalian!” bentakan Li Mei yang nyaring mengagetkan Li An dan Li Chen. Mereka langsung sembunyi di belakang Ma Guang saking kagetnya. Ternyata dugaan Li Chen salah. Masih ada Li Mei yang tak tertandingi di Istana Pangeran Zhìzhě. Sekali tahuan olehnya, pasti mereka akan diseret ke suatu tempat yang melelahkan untuk latihan seni pedang.
“Paman Guang, beri kami waktu. Halangi Kakak Mei! Kami akan membuat pertahanan di Pagoda Arsip Kecil,” Li Chen berlari sambil membocorkan letak bakal markasnya. Li An menepuk dahi karena kecerobohan bocah itu. Ia pun ikut berlari sebelum Li Mei menangkapnya.
“Pa, Pangeran …,” Ma Guang tertegun.
“Paman Guang, minggir! Akan aku kejar mereka,” titah Li Mei yang membuat Ma Guang tidak dapat berkutik. Bagaimanapun, ia tidak bisa melawan anak-anak tuannya, Apalagi putri sulungnya yang terkenal energik dan tomboi.
“Chen’er! An’er! Awas kalian kalau nggak berhenti sekarang,” teriak Li Mei mengancam. Teriakan itu membuat adrenalin Li An dan Li Chen terpacu. Mereka pun berlari lebih cepat seolah-olah dikejar harimau yang galak. Kalau mereka telat sedikit saja, mereka akan diseret ke tempat latih tanding setelah ini.
“Chen’er, ayo cepat. Jangan sampai Kakak Mei menangkap kita,” Li An berlari mendahului si bungsu. Ia berlari melebihi batasannya sampai tersandung oleh sebuah batu di taman. Tubuhnya terbentur keras di atas rerumputan.
“Aduh!” Li An tergeletak di tanah dengan napas ngos-ngosan. Badannya sakit semua, tapi ia berusaha menekan semua rasa sakit itu agar tidak menangis. Dadanya sesak. Matanya terpejam kuat.Tangannya bergetar hebat. Jari-jemarinya mengepal erat, menahan sakit yang semakin menjadi.
“An’er,” sebuah panggilan cemas terdengar di telinga Li An sebelum ia menangis. Ia lantas terisak dengan air mata yang bercucuran. Pandangannya jadi kabur tertabir air. Tubuhnya pun segera diangkat oleh seseorang. Ia digendong entah ke mana.
“Dasar An’er ceroboh!” bentak Li Mei saat tangis Li An mulai mereda, “Kenapa kamu lari waktu kupanggil, hah?”
Li An membuang muka dan enggan menjawab. Pangeran malang itu tak berani saling bertatap muka dengan kakak-kakak perempuannya. Ia malu mengakui kesalahannya hari ini. Mukanya kusam dengan raut yang cemberut.
“Sudahlah, Mei’er. An’er masih sakit. Jangan kamu marahin lagi,” Li Huanran menyibak ketegangan yang terjadi. Bukannya berhenti, Li Mei malah mengalihkan kekesalannya, “Ini juga salah Kakak. Kalau kakak nggak datang, An’er kan nggak bakal jatuh.”
“Eh? Aku kan nggak ngapa-ngapain. Waktu An’er jatuh, aku baru ngobrol bareng sama si kembar loh. Bukannya kamu yang main kejar-kejaran sama mereka,” balas Li Huanran santai. Kedua putri itu malah saling menyalahkan. Li An jadi terganggu karenanya.
“Kalian berisik! Kakak An jadi keganggu. Ribut di luar sana!” usir Li Chen yang ikut sebal.
“Benar kata Chen’er. Lebih baik Kakak Huanran dan Kakak Mei selesaikan masalah ini di luar,” Li Roulan mendukung si bungsu. Li Xiulan mengangguk pelan setuju. Ia pun berkata dengan suara yang lembut, “Biar kami saja yang merawatnya.”
__ADS_1
Li Huanran dan Li Mei ingin protes dengan pengusiran itu. Namun, sebelum mereka sempat mengungkapkan satu patah kata pun, Nyonya Lu lebih dulu masuk dan menyuruh mereka untuk keluar. Wanita itulah yang akan menjaga Li An.
“Cepat sembuh, An’er” ucap Li Xiulan yang keluar terakhir. Suaranya lirih dan nyaris tak terdengar, tapi Li An tetap mengangguk dan menerimanya setulus hati.