Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bab 073: Titipan si Pertapa Tua


__ADS_3

“Apa kondisimu sudah membaik, Bocah?” tanya Tabib Ong di pagi hari ketika Li An pertama kali membuka matanya sejak kemarin. Tabib tua itu tengah menumbuk sesuatu di cobek. Bau herbal yang khas tercium menyengat di ruangan itu.


“Saya …,” Li An berusaha bangkit. Ia merasa tubuhnya sangat berat sampai-sampai kedua tangannya hampir saja gagal untuk menopang badan. Dengan mata yang masih berusaha membiasakan diri dengan intensitas cahaya di pagi hari, pandangannya menyapu sekitar. Ia menatap seorang kakek tua yang kini tengah berkutat dengan alat-alat peramu herbal.


“Hm? Bagaimana?” Tabib Ong menoleh pada Li An karena merasa tidak mendengar keluhan pemuda itu dengan baik, “Kamu masih sakit, kan?”


“Di mana … ini?” bukannya menjawab, Li An malah balik bertanya.


“Di rumahku,” jawab Tabib Ong singkat. Hais … itu bukan jawaban yang Li An harapkan. Ia bahkan belum mengenal siapa kakek tua itu.


“Siapa …?” Li An kembali bertanya.


“Ong,” jawab Tabib Ong lagi, “Panggil aku Tabib Ong. Aku melihatmu dibawa empat orang pendekar kemarin sore. Jadi, aku menyuruh mereka membawamu ke mari. Sudah lama sejak aku menggunakan kemampuanku untuk mengobati orang lain selain encok si Pertapa Tua. Sekarang jawab pertanyaanku, Bocah! Apakah kamu masih sakit?”


“...”


Li An hanya mengangguk pelan. Kepalanya tengah diliputi berbagai pertanyaan. Namun, rasa sakit dan perih yang terus menusuk tubuh memaksanya untuk bungkam.


“Begitu, ya?” Tabib Ong mengelus dagunya yang berjanggut putih, “Lebih baik kamu berbaring saja. Jangan terlalu memaksakan diri. Para pendekarmu itu sedang berburu dan mengumpulkan makanan sekarang. Kamu tidak perlu cemas sama sekali.”


Hari demi hari berlalu. Luka dan demam yang Li An derita berangsur sembuh. Dalam beberapa hari lagi, ia bisa saja melanjutkan perjalanan untuk kembali kekaisaran dan meminta bantuan.


“Tanah Suci?” Li An yang saat itu tengah duduk-duduk bersama Wang Hongli mengerutkan keningnya, “Kakek Pertapa Tua itu dari Tanah Suci di Barat?”


“Begitulah yang beliau ceritakan, Pangeran,” jawab Wang Hongli. “Dulunya, ia adalah seorang rahib di negerinya. Karena suatu sebab, beliau diusir oleh pemerintah di sana.”

__ADS_1


“Kak Hongli, aku harus bertemu dengan Kakek Pertapa Tua itu,” ujar Li An yang tiba-tiba teringat dengan Ali. Ada bara yang menyala di hatinya, tapi ia tidak tahu bara apakah itu. Bara itu mendorong jiwa kesarjanaannya untuk mencari tahu sesuatu.


“Baiklah, Pangeran,” Wang Hongli mengangguk, “Mari ikuti saya.”


Wang Hongli mengantar Li An ke puncak bukit yang ada di sebelah gubuk Tabib Ong. Mereka butuh setengah hari untuk sampai ke sana. Ada lereng yang harus mereka lalui sebelum mendaki Bukit Pertapa Tua.


“Kakek Pertapa Tua,” panggil Wang Hongli sembari mengetuk pintu sebuah rumah kecil dengan tempurung jari tengahnya, “Tuan muda kami hendak bertemu dengan Anda.”


“Masuklah!” suara parau si Pertapa Tua terdengar dari dalam rumah kecil itu.


Wang Hongli pun mendorong pintu sampai terbuka. Begitu masuk, ia mendapati seorang kakek tua berpakaian wol putih yang tengah berlutut menghadap ke arah Barat. Kakek tua itu pun bangkit dan berbalik untuk menyambut kedatangan tamunya.


“Sayang sekali, aku tidak memiliki apa-apa untuk menyambut tamu,” jawab si Pertapa Tua dengan paraunya, “Maafkan aku. Mari kita duduk di luar.”


Wang Hongli dan Li An mengangguk tanpa protes. Mereka pun duduk di atas sebuah batu besar yang menghadap ke Barat. Dari atas batu itu, mereka bisa melihat luasnya belantara hutan yang rimbun.


“Tanah Suci,” jawab Li An tanpa berbasa-basi, “Apa benar Kakek Pertapa Tua dari Tanah Suci di Barat?”


“Benar, tapi itu sudah berpuluh, bahkan ratusan tahun yang lalu,” jawab si Pertapa Tua, “Itu adalah masa yang sudah sangat lampau.”


“Kakek Pertapa Tua,” panggil Li An yang hatinya kembali tersulut bara misterius, “Tolong ceritakan pada saya mengenai Tanah Suci itu.”


“Kamu anak muda yang penuh semangat,” si Pertapa Tua tersenyum lembut, “Ini suatu keberuntungan bagiku. Sudah lama aku tidak mengobrol tentang Tanah Suci selain padamu dan para pendekarmu itu.


Nak, Tanah Suci itu adalah bumi yang diberkati, tanah para nabi dan rasul,” si Pertapa Tua mulai menceritakan negeri asalnya itu, “Ia adalah negeri yang subur. Segala sesuatu yang tumbuh di sana adalah yang terbaik di dunia. Buah-buahan, zaitun, dan segala macam komoditas lainnya.”

__ADS_1


Si Pertapa Tua pun menceritakan pengalaman masa keemasannya dulu saat masih menjadi rahib. Ia menceritakan kisah bagaimana ia berjuang bersama gurunya, lalu bersama murid-muridnya melawan para ahli bid’ah yang mengubah isi Al-Kitab.


“Guruku sampai ditangkap oleh Kaisar Rum karena perbedaan paham yang dianutnya. Kami menyembah Allah Yang Maha Esa, sedangkan kaisar itu mengikuti ordo yang memanifestasikan ketuhanan Allah menjadi tiga,” si Pertapa Tua pun menghela napas, “Aku tidak mengerti, bagaimana bisa mereka menganggap Yang Satu menjadi tiga? Nak, apabila seorang membawakanmu tiga buah apel, lalu ia berkata, ‘Ini adalah apel yang satu.’ Apakah kamu akan percaya?”


Li An mengerutkan keningnya, berusaha mencerna maksud pertanyaan si Pertapa Tua. Ia merasa pernah mendengar paham seperti itu, tapi entah di mana. Mungkin pada salah satu ekspedisinya dalam melebarkan pengaruh Serikat Dagang Fuli.


“Guruku mengalahkan mereka dengan telak dalam sebuah pertemuan, tapi pengaruh kaisar lebih kuat sehingga guruku tetap dianggap sesat oleh mereka,” lanjut si Pertapa Tua, “Padahal, merekalah yang sebenarnya sesat.”


“Kakek, apakah Anda sudah mendengar bahwa Tanah Suci itu sudah berpindah tangan?” tanya Li An setelah si Pertapa Tua terdiam cukup lama. Mendengar pertanyaan itu, si Pertapa Tua mengerutkan keningnya dengan tatapan yang seolah meminta penjelasan.


“Benarkah? Aku baru saja mendengarnya,” kata si Pertapa Tua kemudian, “Siapakah pemilik Tanah Suci itu sekarang?”


“Orang-orang muslim,” jawab Li An, “Begitulah mereka menyebut dirinya. Saya mendengar berita itu dari kawan saya yang seorang berkebangsaan Arab.”


“Nak, apa ucapanmu itu sungguh-sungguh?” si Pertapa Tua membelalakkan matanya. Samar-samar, terlihat raut senang di wajahnya. Li An pun menegaskan jawabannya, “Begitulah yang saya dengar, Kakek. Saya memang belum melihatnya sendiri. Namun, saya sudah berniat untuk pergi ke sana suatu saat nanti.”


“Benar, Nak! Benar!” seru si Pertapa Tua penuh semangat, “Pergilah ke Tanah Suci itu! Andai pria tua ini masih memiliki fisik yang kuat, pria ini pasti akan pergi sendiri ke sana. Namun, itu sudah tidak mungkin untukku yang sekarang. Untuk datang ke gubuk Tabib Ong saja sudah sulit bagiku.”


“Em … Kakek, mengapa Anda berdua membuat rumah di bukit yang terpisah?” tanya Wang Hongli kemudian. Ia sudah penasaran dengan hal itu sejak kemarin-kemarin. Namun, entah mengapa ia baru bisa menanyakannya hari ini.


“Entahlah, aku sudah tiba di sini lebih dulu,” jawab si Pertapa Tua, “Tanyakan saja pada Tabib Ong. Dialah yang memilih untuk membuat gubuk di bukit seberang.”


Selepas menjawab pertanyaan itu, si Pertapa Tua kembali menoleh pada Li An, lalu berkata, “Nak, bolehkah pria tua ini menitipkan satu hal padamu?”


“Silakan saja, Kakek,” Li An mengangguk takzim.

__ADS_1


“Ini hanya sebuah permintaan kecil karena kamu berniat pergi ke Tanah Suci,” si Pertapa Tua menatap Li An penuh harap dan kebahagiaan, “Tolong sampaikan salamku pada pemimpin orang-orang beriman yang menguasai Tanah Suci itu. Sungguh, aku yakin ia adalah pemimpin terbaik selama ia mengambil hukum dari Hukum Allah.”


“Baiklah, saya akan mencatat salam ini dan memberikannya pada Pemimpin Negeri Khilafah saat berkunjung ke sana nanti,” Li An kembali mengangguk, “Saya akan berusaha sebaik mungkin agar pesan ini dapat tersampaikan.”


__ADS_2