Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bab 049: Perdebatan di Tengah Diskusi


__ADS_3

Di hari berikutnya, Ali secara resmi mengajukan lamaran. Antara kedua belah pihak pun saling berdiskusi lebih dalam lagi terkait pernikahan yang akan segera dilakukan. Mereka menyetujui Guangzhou sebagai tempat resepsi. Di samping itu, ada syarat-syarat tertentu yang harus kedua belah pihak penuhi.


"Huan'er harus masuk Islam katamu?" tanya Kaisar Yung Wei di sela diskusi itu. Orang-orang yang turut serta dalam diskusi pun diam menunggu jawaban. Hanya orang yang diperkenankan saja yang boleh bicara.


"Benar, Yang Mulia Kaisar," jawab Ali penuh keberanian, "Itu adalah aturan syara' yang ada dalam din saya. Saya tidak diperbolehkan untuk menikah selain dengan wanita yang beriman."


Beberapa pasang mata memicing tak suka pada syarat yang Ali berikan. Namun, mereka tak berani menyela karena Kaisar Yung Wei belum memberikan izin pada siapa pun untuk menanggapinya. Kaisar Yung Wei sendiri terdiam sebentar. Sejak kedatangan Sa'ad dan rombongannya dahulu, ia sudah tertarik dengan Islam. Hatinya pun mungkin sudah tersentuh oleh keindahan agama itu. Sayangnya, kekuasaan besar yang digenggamnya membuat ia harus berpikir ribuan kali sebelum memutuskan.


"Bagaimana menurutmu, Huan'er?" Kaisar Yung Wei melirik pada Li Huanran yang ikut dalam diskusi itu. Sama seperti sang kaisar, Putri Ketiga sudah tertarik dengan Islam sejak dulu. Ia bahkan telah belajar satu dua hal tentang Islam dari wanita-wanita Arab setiap kali menemani Li An ke Guangzhou di bulan Ramadan. Tanpa ragu sedikit pun, sang putri pun menjawab dengan mantap, "Saya tidak keberatan."


"Baiklah kalau itu pilihanmu," Kaisar Yung Wei tersenyum simpul. Ia mungkin terhalang oleh kekuasaannya untuk lebih mendekat pada cahaya itu, tapi putrinya yang satu ini punya jalan yang luas untuk memeluknya. Tidak ada alasan baginya untuk menghalangi Putri Ketiga dari apa yang ia pilih.


"Mohon izin, Yang Mulia Kaisar," seorang pemuda muda nan tampan berdiri dan meminta izin untuk bicara. Pemuda itu adalah seorang sarjana muda yang cukup terkenal dari Keluarga Liu. Ayahnya adalah seorang pegawai istana sekaligus adik kandung dari Selir Shu. Jadi, bisa dibilang bahwa ia adalah sepupu dekat Li Huanran sendiri. Namanya Liu Hao. Usianya sedikit lebih tua dari Putri Ketiga.

__ADS_1


"Bicaralah," ucap Kaisar Yung Wei memberi izin.


"Terima kasih, Yang Mulia Kaisar," Liu Hao memberi hormat. Ia pun mengungkapkan keberatannya atas persyaratan yang Ali berikan. Menurutnya, itu adalah penghinaan besar. Dari kata-kata yang diucapkannya, ia bahkan terlihat seolah ingin menghalangi pernikahan Putri Ketiga dengan Duta Muda Khilafah.


"Cukup, Tuan Muda Liu!" panggil Li An memotong. Wajahnya masam. Ia jelas tersinggung dengan pendapat Liu Hao. Bagaimanapun juga, ialah yang menjodohkan Li Huanran dengan Ali. "Kamu tidak punya hak untuk melarang Putri Ketiga mengambil pilihannya, sedangkan Baginda Kaisar Yung Wei sudah memberikan izin pada putri."


"Pangeran …?!" Liu Hao menoleh pada Pangeran Kedelapan dengan wajah tak terima. Ia paling benci dengan Li An. Tuan muda dari Keluarga Liu itu bahkan pernah menghina sang pangeran yang merupakan sarjana termuda. Ada iri dan dengki yang mengendap di hatinya.


"Mohon maaf, Yang Mulia Kaisar," Li An pun menoleh pada ayahandanya dan menundukkan kepala. Ia sadar bahwa dirinya telah lancang karena berbicara tanpa seizin sang kaisar. Ucapan Liu Hao telah membuatnya tidak sabar sampai berbuat seperti itu. "Saya tidak suka mendengar ucapannya yang jelas menentang Yang Mulia Kaisar."


"Hm? Apa lagi kalau itu bukan menentang?" Li An membalasnya dengan ucapan yang dingin, tapi mengena, "Apakah Anda berniat menggurui Baginda Kaisar?"


"Bukan!" bantah Liu Hao keras, "Mana mungkin saya berani menggurui Baginda Kaisar? Saya hanya tidak setuju dengan syarat yang diajukan oleh orang itu."

__ADS_1


Ali tetap duduk dengan tenang meskipun Liu Hao menudingnya dengan hawa permusuhan yang jelas. Tak ada gunanya membalas perbuatan sarjana muda itu. Lagi pula, Pangeran Kedelapan sudah mengurusnya.


"Apakah begini etika seorang sarjana yang merupakan kerabat keluarga kaisar?" Li An mengalihkan topik pembicaraan, menyerang sikap gegabah Liu Hao di sebuah forum semiformal.


Liu Hao langsung terprovokasi oleh pertanyaan itu. Ia tidak terima dipertanyakan seperti itu, apalagi oleh sarjana yang bahkan jauh lebih muda darinya. Kasak-kusuk di ruangan pun mulai terdengar. Tempat yang tadinya tenang itu kini menjadi sebuah forum debat kusir antara Pangeran Kedelapan dengan Liu Hao.


"Diam!" seru Kaisar Yung Wei tegas. Seisi ruangan pun menjadi hening. Hawa yang dingin menyeruak seketika. "Beraninya kalian berdebat di hadapanku. Kalian telah membuat ruangan ini jadi buruk. Apa kalian tidak sayang lagi dengan nyawa kalian, hah?"


Li An menundukkan wajah. Meskipun hatinya sempat berdebar takut, ia tetap berpikir dengan tenang. Meskipun jarang bertemu dengan Kaisar Yung Wei, ia tetap mengerti bagaimana sifat ayahandanya itu. Berbeda dengan Liu Hao yang malah ingin berdalih.


"Yang Mulia Kaisar, saya …," ucap Liu Hao tanpa pikir panjang. Ia berdiri di tempatnya dengan raut muka pucat. Ketampanan dan kesarjanaan yang tadi terlihat dari sosoknya menghilang seketika.


"Bukankah sudah kubilang untuk diam, hah?" Kaisar Yung Wei menatap Liu Hao dengan tajam. Pemuda yang ditatapnya pun langsung tertunduk. Putra dari Keluarga Liu itu sedang ketakutan sampai tak dapat berpikir jernih.

__ADS_1


Li An menatap Liu Hao dengan dingin. Ia pernah mendengar rumor bahwa pemuda itu menyimpan hati pada Putri Ketiga. Sayangnya, ia malah membuat masalah dengan Pangeran Kedelapan, adik kesayangan sang putri. Secara otomatis, Li Huanran pun jadi tak pernah mau membuka hati untuknya. Li An pun juga selalu menghalangi pemuda itu untuk mendekat pada kakaknya.


Pada dasarnya, Liu Hao telah menghancurkan token emasnya sejak lama. Ia bahkan enggan memperbaiki hubungannya dengan Li An. Tak hanya sampai di situ, ia juga berkolusi dengan orang-orang yang membenci Pangeran Kedelapan untuk menjatuhkannya.


__ADS_2