Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Sang Wakil Kaisar


__ADS_3

Inspeksi Li An di Kota Quanzhou jadi jauh lebih lama dari yang dijadwalkan karena permasalahan antara Keluarga Shen dan Kafilah Aman. Sebagai pihak yang diminta untuk menjadi penengah oleh kedua belah pihak, ia berkewajiban untuk mengawasi berjalannya negosiasi sampai akhir.


“Pangeran Kedelapan memasuki ruangan,” seru seorang penyeru.


Orang-orang di dalam balairung pun serentak berdiri, termasuk Wali Kota Quanzhou yang duduk di sebuah kursi khusus di ujung ruangan. Mereka memberi salam hormat yang mulia kepada Li An. Setelah pangeran muda itu duduk di kursinya dan mempersilakan orang-orang untuk duduk, barulah mereka duduk.


Berbagai susunan acara pun dimulai. Bermula dengan sambutan dari Wali Kota Shen, diteruskan oleh juru bicara Serikat Dagang Fuli selaku penengah, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan kedua belah pihak. Masing-masing dari mereka menunjukkan komitmennya untuk meniti jalan terbaik dalam mengatasi masalah ini.


Saat acara utama berlangsung, berbagai perdebatan sengit memanas. Namun, Li An tak perlu turun tangan langsung untuk mendinginkannya karena Shen Chao dapat mengendalikan para audiens dengan baik.


Kafilah Aman menuntut perubahan pada kesepakatan kontrak mengenai investasi dan pinjaman. Mereka juga menyinggung masalah pencicilan barang yang diduga mengandung manipulasi harga.


Keluarga Shen membantah tuduhan itu. Mereka berdalih bahwa apa yang Kafilah Aman tuntut adalah bagian dari tradisi yang telah mengakar. Para tetua mereka masih tetap bersikukuh untuk tetap mempertahankan kontrak lama. Orang-orang tua yang kolot itu tidak ingin ada perubahan apa pun dalam kontrak karena yang demikian akan mengurangi keuntungan di pihak Keluarga Shen.


“Saya mengerti maksud Ketua Muda Masaira,” ucap Shen Diwei mengambil alih pembicaraan dari pihaknya, “Maskipun itu sangat disayangkan bagi kami, kami akan menerimanya dengan lapang dada.”


“Kurang ajar kau, Diwei!” teriak seorang tetua dari Keluarga Shen. Seluruh audiens sontak menoleh, termasuk Li An yang duduk di kursi kehormatannya. Seakan tak punya urat malu, tetua itu kembali berseru, “Apa kebijaksanaanmu sudah habis? Kontrak ini dibuat oleh para leluhur. Apa hakmu main mengubahnya?”


“Tetua Jingwei, mohon redakan amarah Anda,” Shen Chao angkat suara menyibak ketegangan. Ia melakukan hal itu bukan karena putranya dicaci maki oleh petinggi Keluarga Shen, melainkan karena ada sosok anggota Keluarga Kekaisaran Tang yang turut hadir menyaksikan sidang di balairung ini. Ia pun menegaskan keberadaan Li An, “Kita duduk di ruang yang sama dengan Pangeran Kedelapan.”


Shen Jingwei tidak peduli. Ia malah melotot ke tempat Pangeran Kedelapan duduk, berniat memintanya untuk menghentikan negosiasi ini. Namun, keberaniannya langsung menciut saat ditatap balas oleh Li An dan Wang Hongli bagai seekor ular yang kehilangan taringnya dibidik elang.


“Tuan Muda Shen, lanjutkan pidato Anda,” kata Li An dengan suara tegas yang dan jelas.


“Terima kasih, Pangeran,” ucap Shen Diwei takzim, “Sebelum itu, izinkan saya mewakilkan permintaan maaf Tetua Jingwei pada para audiens semua. Harap Anda sekalian dapat memaafkan kami.”


“Itu masalah lain,” seru seseorang dari kursi Kafilah Aman, “Lanjutkan saja ucapanmu.”


Shen Diwei tersenyum getir dan menelan ludah. Ia pun menghembuskan napasnya sejenak, baru kemudian melanjutkan, “Saya telah beberapa kali berdialog dengan Ketua Muda Maisara. Saya mengerti bahwa tujuan utama kalian adalah untuk menaati perintah agama yang murni. Itu adalah hal yang bisa kami maklumi. Selain itu, kalian telah memaparkan dampak-dampak negatif dari praktek perdagangan yang kita lakukan selama ini. Saya setuju dengan itu dan dengan ini saya menyatakan suara dari Keluarga Shen ….”


“Diwei! Hentikan omong kosongmu!” seorang pria paruh baya dari Keluarga Shen menginterupsi ucapan Shen Diwei. Pria berkumis tebal itu berdiri di tempatnya dengan wajah yang galak. Shen Chao jadi berwajah masam saat melihatnya. Pria itu adalah adiknya yang berambisi untuk mendapat posisi patriak di lingkaran keluarga.


“Keluarga Shen belum seutuhnya setuju dengan wacana itu. Jangan seenaknya menjadi lidah bagi Keluarga Shen di hadapan Pangeran Kedelapan,” cerocos si pria paruh baya, “Mentang-mentang punya peringkat yang tinggi di ujian kesarjanaan, kamu berani berbuat sembarangan. Dasar bodah bau kencur! Pengalaman masih dangkal, berani-beraninya menyelisihi para orang tua yang bijak. Pergi ....”


Duak!


Sebauh benturan yang keras terdengar menyeruak ke penjuru balairung. Suaranya amat menggelegar dan menggetarkan hati setiap orang yang mendengarnya. Mereka pun reflek menengok pada sumber suara berbunyi.

__ADS_1


“Apakah para tetua dari Keluarga Shen tidak memiliki muka sama sekali?” seru Li An dengan intonasi yang tinggi dan terdengar geram, “Kalian tahu aku ada di sini, tapi kalian masih berani meninggikan suara di hadapanku. Apa kalian pikir aku yang muda ini hanyalah boneka pajangan belaka di kursi kehormatan? Sungguh, aku senantiasa memperhatikan gerak-gerik kalian. Aku tidak ingin ada petaka yang menimpa kekaisaran ini hanya karena keegoisan beberapa orang bodoh dari sebuah keluarga kecil. Ketahuilah bahwa aku datang di sini sebagai wakil kaisar atas urusan perdagangan dengan orang-orang asing.”


“Bu—bukan begitu, Pangeran …,” pria berkumis tebal ingin meluruskan kesalahpahaman, tapi lidahnya kelu karena terus ditatap galak oleh Wang Hongli. Ia pun tak dapat mengucapkan sepatah kata pun setelah itu.


Seluruh audiens ikut terdiam. Balirung pun menjadi hening setelah Li An selesai bercakap. Tak ada seorang pun yang berani menyahut atau berbicara kecuali setelah Pangeran Kedelapan mengizinkan.


“Aku telah melihat komitmen Tuan Muda Shen dalam masalah ini,” lanjut Li An setelah beberapa saat terdiam mengatur hatinya, “Sebelum aku memutuskan hasilnya, apakah ada lagi yang ingin Anda sampaikan?”


“Ada, Pangeran,” balas Shen Diwei penuh hormat. Pandangannya terhadap Li An sedikit berubah setelah melihat pangeran muda itu membungkam salah satu petinggi dari Keluarga Shen. Ia pun bertekad untuk terus menjalin hubungan yang baik dengannya setelah acara ini selesai.


“Silakan katakan,” Li An memberi izin.


“Kita telah saling berdialog beberapa hari yang lalu. Begitupun Kafilah Aman. Saya dengar, mereka telah bertemu dengan Anda di hari yang sama,” Shen Diwei berbasa-basi sejenak, baru kemudian mengajukan permintaannya, “Saya ingin pembahasan kerja sama di antara kita segera dilakukan. Dengan begitu, kita akan semakin cepat bersepakat pada sebuah keputusan.”


“Sampaikan masalah itu setelah audiensi ini selesai. Kita harus membicarakannya di forum yang berbeda,” Li An mengangguk pelan, mengisyaratkan persetujuan pada permintaan Tuan Muda Shen. Ia pun menoleh kepada Maisara dan mendapatinya mengangguk pula. Akhirnya, Pangeran Kedelapan pun memutuskan hasil negosiasi antara Keluarga Shen dengan Kafilah Aman tanpa mengacuhkan interupsi para tetua Keluarga Shen.


Acara pun ditutup setelah perwakilan Keluarga Shen dan Kafilah Aman menandatangani kontrak yang baru. Saat Li an hendak keluar dari balairung, ia didatangi oleh Shen Chao dan Shen Diwei. Keduanya memberi hormat kepada Pangeran Kedelapan.


“Terima kasih atas bantuan Pangeran,” ucap Shen Chao beramah tamah.


Li An hanya mengangguk sekilas. Reaksinya itu membuat Shen Chao mati kutu, tak tahu harus berbuat apa. Shen Diwei pun maju mewakili, “Pangeran, apakah Anda ada waktu setelah ini? Mari kita makan bersama untuk merayakan perdamaian ini.”


“Ah, tentu saja, Pangeran. Saya akan segera berdialog dengan mereka,” Shen Diwei menggaruk kepalanya yang tak gatal, salah tingkah atas penolakan tegas Li An. Ia tak menyangka sama sekali bahwa dirinya akan langsung ditolak mentah-mentah oleh sang pangeran.


“Lalu, Wali Kota Shen,” Li an menoleh ke Shen Chao, “Masalah tahanan di perseteruan waktu itu masih belum tuntas. Segera ajukan masalah ini pada Majelis Hukum Kota agar mereka bisa segera bertindak. Kalau tidak, negosiasi kalian dengan Kafilah Aman tidak akan banyak berguna dan rapuh.”


“Baik, Pangeran,” Shen Chao mengangguk segan, “Saya akan segera mengatasinya. Pangeran Kedelapan tidak perlu khawatir.”


Li An pun beranjak pergi dari hadapan mereka. Ia langsung meluncur ke gedung serikatnya untuk mengonfirmasi kabar yang diterimanya di tengah acara tadi. Sesampainya di sana, ia langsung disambut oleh seorang kasim dari ibu kota.


“Yang Mulia Kaisar Yung Wei meminta Anda untuk segera kembali ke ibu kota,” ucap kasim istana itu memberi kabar, “Ada hal mendesak yang ingin baginda kaisar sampaikan.”


“Berikan suratnya,” pinta Li An mengonfirmasi. Si kasim pun memberikan sebuah gulungan kertas kepada Pangeran Kedelapan. Ia lantas mundur dan menunggu jawaban dari sang pangeran.


“Aku mengerti. Kami akan berangkat setelah selesai menyiapkan perbekalan. Sampai kan ketersediaanku pada baginda kaisar,” kata Li An setelah selesai membaca surat yang diterimanya. Si kasim pun mengangguk dan segera bersiap untuk kembali ke ibu kota sesuai perintah Li An.


“Jian Hai, awasi perkembangan Keluarga Shen dan Kafilah Aman ke depannya. Laporkan padaku secara berkala,” pesan Li An begitu sampai di kantor direktur serikat. Jian Hai langsung mengangguk. Ia sudah mendengar bahwa Pangeran Kedelapan mendapat panggilan dari istana.

__ADS_1


“Kirimkan juga surat-surat ini kepada deruktur cabang lainnya. Ingatkan mereka untuk segera melaporkan setiap kabar ketika surat-surat ini sampai pada mereka,” Li An menyerahkan lembar-lembar berupa kabar pembatalan safarinya. Dalam surat-surat itu juga tercantum berbagai pertanyaan mengenai kondisi setiap cabang serikat di kota masing-masing.


“Jian Hai menerima titah Pangeran,” ujar Jian Hai takzim, “Saya akan segera mengirimkannya dengan kurir tercepat dan terbaik milik serikat.”


“Yah, kutunggu juga kabar terbaru darimu ke depannya,” ucap Li An sebelum pergi.


Jian Hai mengangguk. Ia langsung menghembuskan napas begitu Pangeran Kedelapan pergi. Terbayang dibenaknya setumpuk tugas tambahan yang harus ia kerjakan tak lama lagi. APalagi Keluarga Shen dan Kafilah Aman akan segera mengajukan proposal. Sejenak, ia merasa berat hati untuk melakukannya. Namun, ia tidak boleh mengecewakan Pangeran Kedelapan demi kelangsungan karirnya. Ia pun segera beranjak setelah sedikit merenggangkan tubuh.


...***...


“Apa?” Li Huanran mengerutkan kening saat mendengar kabar dari Li An. Ia sedang minum teh bersama Shen Huifeng ketika itu. Sang Putri Ketiga pun bertanya dengan nada yang sedikit protes, “Pulang? Bukannya masih ada beberapa kota yang harus kita datangi?”


“Yah, harusnya begitu,” balas Li An sekenanya, “Tapi ini perintah langsung dari ayahanda kaisar. Bibi Shu juga minta Kakak buat pulang. Nih, surat dari beliau.”


Li Huanran menerima gulungan yang Li An serahkan dengan air muka penasaran. Ia membaca surat itu dengan teliti, lalu segera meminta Li An untuk bersiap setelah selesai membacanya.


“Tuan Putri, sepertinya ada hal yang sangat mendesak,” ucap Shen Huifeng setelah terdiam cukup lama sejak kedatangan Li An, “Saya izin pamit jika tidak ada lagi yang perlu diperbincangkan.”


“Ah, benar juga. Sayang sekali, padahal aku cukup menikmati waktu minum teh denganmu,” Li Huanran meraih tangan Shen Huifeng dengan kedua tangannya. Ia pun meminta seorang dayang untuk mengambilkan sebuah hadiah.


“Ini untukmu. Terima kasih sudah bercerita banyak hal tentang Quanzhou. Semoga kita bisa bertemu lagi di masa depan,” kata Li Huanran sambil menyerahkan hadiah yang disiapkannya. Itu adalah sepasang anting mutiara bersepuh emas dan giok cantik berwarna cerah. Shen Huifeng sampai merasa sungkan menerimanya.


“Ambil saja. Ini adalah tanda pertemanan kita. Jaga giok ini baik-baik. Barangakali benda ini berguna untukmu di masa depan,” Li Huanran memaksa sampai Shen Huifeng mau menerima hadiahnya. Begitulah kebiasaan sang putri. Ia selalu memberi hadiah pada siapa pun yang telah menjadi bagian dari sahabatnya seperti para putri Pangeran Zhizhe.


“Saya pasti akan menjaga hadiah Tuan Putri sebaik-baiknya,” ucap Shen Huifeng lantas menyimpan hadiah itu di tempat yang aman. Ia mengerti maksud Li Huanran tadi. Giok yang ia dapat itu bisa jadi tanda bahwa ia memiliki relasi yang erat dengan Keluarga Kekaisaran Tang. Itu adalah harta yang amat berharga sampai pantas disebut pusaka keluarga Shen Huifeng. Ia pun pamit undur diri sekali lagi dan beranjak pergi dari penginapan Li Huanran.


“Dia sudah pergi. Apa kamu bisa menjelaskan detailnya sekarang?” Li Huanran melirik Li An yang baru saja hendak melangkah masuk ke penginapan. Pangeran Kedelapan itu pun menghela napas. Ia lantas menjelaskan, “Masalah penting pokoknya. Kemungkinan Serikat Dagang Fuli bakal dilibatkan. Kalau nanti aku harus pergi lagi, Kakak nggak usah ikut lagi.”


“Eh? Kenapa memangnya?” Li Huanran menuntut penjelasan lebih lanjut.


“Masalah di Utara. Kakak pasti ‘dah dengar kabar anginnya, ‘kan?” Li An memberi petunjuk. Li Huanran pun ber-oh pelan, lalu membiarkan Li An pergi dari hadapannya tanpa bertanya lagi.


Selain Yun Jili dan Wang Hongli, ada satu lagi abdi setia yang bersumpah pada Li An. Dia adalah Ma Shifu, kasim tua yang selalu tanggap menerima setiap tugas dari Pangeran Kedelapan. Persiapan bekal perjalanan Li An selesai dengan cepat sehingga di keesokan harinya mereka sudah dapat meluncur ke ibu kota.


“Kek Shifu, apa semua sudah diperiksa dengan teliti?” tanya Li An memastikan. Kasim yang wajahnya sudah penuh dengan kerutan itu pun mengangguk, lalu menjawab, “Pangeran Kedelapan tidak perlu risau. Semuanya aman sentosa. Tidak ada lebih maupun kurang. Kita akan sampai dalam 13 belas hari perjalanan kecuali kalau ada sesuatu yang tidak terduga di tengah-tengahnya.”


“Bagaimana dengan catatan yang kuminta?” Li An mengingat sesuatu yang ingin dibacanya.

__ADS_1


“Direktur Jian sudah menyerahkannya kemarin. Saya sudah menaruh catatan itu di kereta Pangeran sesuai yang Anda perintahkan,” jawab Ma Shifu mantap. Perjalanan pulang pun dimulai. Li An langsung sibuk berkutat dengan dengan catatan yang dimintanya sampai membuat Li Huanran menggeleng-geleng miris.


Kalau saja itu bukan masalah yang benar-benar penting, Li An tak akan mau bekerja sekras itu. Masalah yang mungkin akan dihadapinya nanti amat berkaitan dengan perang antarkerajaan di wilayah Utara. Kekaisaran Tang telah beraliansi dengan salah satu di antaranya. Kalau sampai perang itu kalah, kemungkinan wilayah Utara Kekaisaran Tang akan berada dalam masalah besar. Sebagai pangeran yang disiapkan untuk membawa kemakmuran pada setiap jengkal tanah yang dilaluinya, Li An tidak rela membiarkan hal itu terjadi.


__ADS_2