
"Dia mengatakan itu?" Li Huanran menatap tak percaya begitu Li An selesai menceritakan masalahnya kemarin. Gadis itu pun menghela napas, lantas menggerutu pelan, "Heh, dia pikir ini novel romansa klasik? Kolot!"
"Imajinasinya mungkin dipenuhi dengan karya-karya fiksi tentang cinta terlarang atau kawin lari," Li An menduga-duga, lalu menoleh pada Putri Kesembilan yang duduk di sampingnya, "Rou'er, jangan tiru para tokoh utama di novel-novel jahat seperti itu. Mereka hanya mempromosikan perzinaan dan pengkhianatan terhadap keluarga."
"Novel itu apa?" Li Rouwei tak mengerti.
"Maksudku cerita tulis," Li An memberi pengertian, "Seperti cerita tutur yang sering kamu dengar. Bedanya, kamu harus membaca sendiri karya sastra semacam itu."
"Inti amanatnya," Li Huanran menambahkan, "Kamu jangan sampai terobsesi pada nafsu cinta yang tidak sepantasnya seperti pada novel-novel klasik. Jangan mendekati zina barang sejengkal pun. Ketika kamu tertarik pada seseorang nantinya, dekatilah ia dengan cara yang patut. Jika kalian memang cocok, segeralah menjalin hubungan pernikahan yang resmi tanpa menundanya."
"Seperti Kakak?" tebak Li Huanran dengan polosnya. Meski ia tak mengerti semua maksud dari ucapan kedua kakak tirinya itu, ia tetap mendapat esensi dari pesan tersebut. Intinya, ia harus berhati-hati menjalin sebuah hubungan antar manusia.
"Kurang lebih begitu," jawab Li Huanran dengan seulas senyum simpul. Ia tidak menyangka akan mampu seakrab ini dengan Li Rouwei. Biasanya, ia sudah terganggu hanya dengan ucapan gadis kecil yang cerewet itu.
"Kakak, Kakak," panggil Li Rouwei yang kini menoleh pada Li An, "Apa maksudnya Kakak menjual Kak Huanran ke orang asing?"
"Hah? Dari mana kamu dengar berita seperti itu?" Li Huanran yang tadinya tenang dengan kehadiran Putri Kesembilan jadi memicingkan mata. Itu adalah berita ngawur yang jelas-jelas jauh dari kebenaran.
"Para pelayan membicarakannya tadi pagi," jawab Li Rouwei tanpa merasa bersalah sedikit pun. Yah, dia memang tak bersalah sih.
__ADS_1
"Itu hanya gosip," Li Huanran membantah berita bohong itu, "Jangan dipercaya."
"Hm," Li An mengangguk setuju pada ucapan kakak tercintanya, "Kamu harus hati-hati saat mendengar kabar dari orang fasik, apalagi para penggosip. Cobalah untuk mengecek kebenaran berita itu sebelum mempercayainya."
“Mengecek?” Li Rouwei berusaha memahami maksudnya.
“Ya,” Li Huanran mengangguk, “Memastikan bahwa kabar itu benar.”
“Hm,” Li Rouwei pun mulai paham, “Baiklah, aku mengerti.”
Perjalanan ke Guangzhou berjalan lancar tanpa hambatan. Sepanjang perjalanan itu, mereka beberapa kali mendengar gosip yang beredar di tengah masyarakat kekaisaran. Tentu saja gosip tentang pernikahan Putri Ketiga.
Di samping kasak-kusuk yang meresahkan itu, ada juga gosip yang justru mencela Pangeran Kedelapan karena menjual kakaknya demi keuntungan pribadi. Padahal, sudah jelas bahwa hal itu adalah kebohongan yang mengada-ada. Dalang di baliknya pun merupakan orang-orang yang dengki dan iri hati pada Li An.
“An’er, apa kamu baik-baik saja?” tanya Li Huanran khawatir. Dilihatnya Li An yang bermuka datar, bahkan terkesan dingin. Mereka tengah beristirahat di sebuah restoran saat mendengar rumor itu.
“Jangan pedulikan itu, Kak,” Li An tak ingin peduli. Lagi pula, rumor yang sudah menyebar itu memang susah dihentikan, apalagi kalau terus didengungkan oleh orang-orang bayaran. Gosip semacam itu pasti akan hilang dengan sendirinya setelah pernikahan Li Huanran sukses dijalankan.
“Kakak akan terus dihina jika seperti itu,” seru Li Rouwei tak terima dengan ketidakacuhan kakak laki-laki kedelapannya, “Kirimkan para pendekar cenangkas kembar! Hajar orang-orang kurang ajar itu!”
__ADS_1
“Rou’er, dari mana kamu belajar kekerasan seperti itu?” Li An justru mengkhawatirkan sifat adiknya yang terkesan ngeri. Itu sangat tidak wajar dikatakan oleh anak-anak seusia Putri Kesembilan. Yah, kecuali kalau lingkungan sekitarnya membuat ia jadi demikian.
“Kakak Xiang,” jawab Li Rouwei jujur. Walaupun agak jengkel pada kakak kandungnya itu, Putri Kesembilan tetaplah mengagumi ketegasan Li Xiang. Ia sangat suka saat melihat kakaknya memerintah Pasukan Baja Merah di Wilayah Utara dulu.
“Hais …,” Li An menghela napas heran. Ucapan Li Rouwei tidak sepenuhnya salah. Masalahnya, rumor itu tak akan bisa diselesaikan dengan tangan basi semata. Hal itu malah akan memperbanyak rumor buruk yang beredar. Pangeran Kedelapan bukanlah orang yang suka kekerasan seperti itu.
“Tenanglah, Rou’er,” kata Li Chen dengan entengnya, “Aku dan Kakak An sudah melakukan tindakan bijak untuk meluruskan gosip itu.”
“Hah?” Li Rouwei menampakkan wajah tak percaya karena hal itu dikatakan oleh Li Chen, “Tindakan kayak apa?”
“Kabar itu harus dibalas dengan kabar,” jawab Li Chen dengan bangganya seolah ia adalah seorang sarjana muda yang bijak, “Kami menyebarkan berita sebenarnya dengan menceritakan fakta itu pada para sastrawan, penyair, dan pembaca dongeng.”
“Bohong!” Li Rouwei sungguh tak percaya, “Aku tak pernah mendengarnya sampai sekarang. Hanya ada kabar buruk tentang Kakak An saja yang terdengar.”
“Di sekitar ibu kota memang begitu,” Li Chen kembali membalas dengan enteng, “Kamu akan melihat hasil usaha kami di kota-kota dekat Guangzhou nanti.”
Ucapan Li Chen itu benar. Begitu sampai di kota-kota yang dilalui oleh jalur dagang serikat, berita-berita baik tentang Li An berdengung kencang. Orang-orang bahkan membicarakan betapa hebatnya rombongan Pangeran Zhizhe yang membawa Putri Ketiga dan Pangeran Kedelapan ke Guangzhou. Akhir-akhir ini, mereka telah mendengar banyak cerita tentang ketulusan Li An dalam mencarikan jodoh untuk kakaknya tercinta.
“Kamu mendengarnya, kan?” Li Chen tersenyum bangga, sedangkan Li Rouwei memalingkan wajah karena gengsi. Mereka pun sampai di kota tujuan dengan selamat. Sesampainya di sana, Li An dan orang-orangnya segera menyiapkan segala hal yang harus diurus untuk melaksanakan pernikahan Putri Ketiga. Sementara itu, Li Huanran tengah sibuk belajar banyak hal di tengah Keluarga Pangeran Zhizhe.
__ADS_1