
Di hari kesembilan perjalanan pulang ke ibu kota, Li An singgah di sebuah kota yang ramai. Seperti biasa, ia selalu menyempatkan diri untuk berkeliling kota persinggahannya bersama sang kakak. Li Huanran mengikutinya dengan wajah tertutup tudung sehingga Li An terlihat seperti bangsawan muda yang sedang berjalan-jalan dengan kekasihnya. Hampir tak ada orang yang mengenalnya sebagai seorang pangeran karena Li An sangat jarang menunjukkan sosoknya pada publik. Hanya namanya saja yang tenar sampai telinga para rakyat jelata.
“Salam, Pangeran Kedelapan,” sapa seorang pria berpakaian megah yang ditemani oleh seorang pemuda rupawan seumuran Li An. Keduanya memberi hormat pada sang pangeran. Li An pun menjawab salam itu sekadarnya.
“Ada perlu apa Tuan Wang menemui saya?” tanya Li An dengan nada dinginnya yang seperti biasa. Ia sedang duduk menikmati sore bersama Li Huanran di sebuah restoran yang dekat dengan penginapannya saat pria itu tiba-tiba menyapa.
“Saya hanya ingin berbincang dengan Anda, Pangeran. Suatu kehormatan dapat bertemu dengan sarjana termuda di penjuru Kekaisaran Tang,” jawab pria bermarga Wang itu. Ia adalah Wang Shujin, Kepala Bangsawan Keluarga Wang saat ini sekaligus paman dari Wang Hongli, sementara pemuda yang di sampingnya adalah Wang Chang, Tuan Muda Keluarga Wang. Seandainya Wang Hongli tak dapat melebur ambisi dendamnya, posisi tuan muda itu pasti ada di genggamannya sekarang.
Li An menghela napas. Sebenarnya, ia sedikit keberatan dengan kedatangan kedua tamu tak diundang itu. Pangeran Kedelapan tidak ingin momen kebersamaannya dengan sang kakak diusik karena sebentar lagi mungkin ia akan diberi tugas oleh Kaisar Yung Wei untuk pergi ke tempat yang jauh. Namun, Li Huanran yang menyembunyikan wajahnya di balik tudung mengangguk kecil, mengisyaratkan bahwa ia tidak merasa terganggu sama sekali.
“Pangeran Kedelapan pasti sudah mendengar kabar dari Wilayah Utara,” Wang Shujin mencomot topik paling hangat di kalangan bangsawan baru-baru ini. Li An pun mengangguk. Ia bahkan diperintahkan pulang karena hal itu.
“Perang tiga kerajaan di Wilayah Utara tidak juga mereda sampai sekarang. Padahal, Kekaisaran Tang sudah mengintervensinya sejak era kaisar terdahulu,” detil Wang Shujin mengarahkan pembicaraan, “Mereka sangat gigih bertahan. Di kesempatan terakhir beberapa tahun lalu, invasi yang kita lakukan juga menuai kegagalan.”
“Kerajaan Tengah masih memiliki banyak sumber daya saat itu,” Li An menganalisis cerita Wang Shujin dengan berita yang sudah didapatkannya, “Dengan perang yang terus berlangsung di antara mereka sampai saat ini, kekuatan mereka kemungkinan sudah jauh melemah. Apa Tuan Wang berpikir ini adalah waktu yang tepat untuk mengintervensi lagi?”
“Semua orang membicarakan hal itu, Pangeran,” Wang Shujin mengerutkan keningnya. Ia pun meminta seorang pelayan untuk menuangkan arak pada cangkirnya. Setelah meneguk sedikit, barulah ia melanjutkan, “Para bangsawan sangat yakin bahwa ini adalah waktu yang paling tepat untuk menaklukan Wilayah Utara. Tentara kekaisaran juga berada dalam keadaan terbaiknya. Pasti kita akan mendapatkan kemenangan besar dalam waktu dekat jika wacana ini disetujui. Selain itu, Kerajaan Kiri juga berada di pihak kita.”
“Kerajaan Kiri, ya?” Li An mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Dilihatnya mentari yang mulai pamit untuk kembali ke peraduannya dengan mewarnai awan-awan di angkasa. Langit jadi kemerahan-merahan suram karena sinarnya. “Mereka adalah yang paling lemah di antara tiga kerajaan, tapi paling dekat dengan kita. Seandainya kakekku tidak membantu mereka dulu, mungkin mereka sudah tidak ada lagi sekarang.”
“Benar, setelah perang ini selesai, kekaisaran pasti akan mendapatkan kejayaan yang lebih besar,” Wang Shujin terkekeh keras, sementara Li An tersenyum getir. Perang tetaplah perang. Itu adalah mimpi buruk bagi siapa pun yang mengalaminya, apalagi bagi pihak negara yang lemah. Tidak ada waktu tidur saat mendapati bayang-bayang perang itu terus mengintai mereka.
Li An pun mengalihkan pandangannya pada Li Huanran yang sejak tadi diam seribu bahasa dengan ketenangan nan anggun. Ia jadi merasa khawatir kalau-kalau suatu saat nanti perang terjadi di tengah-tengah Kekaisaran Tang, sementara ia tidak dapat melindungi kakaknya karena diutus ke perbatasan Utara yang jauh. Ia pasti akan sangat tertekan saat itu.
“Pangeran, apakah Anda tidak ingin ambil peran dalam invasi kali ini?” Wang Chang tiba-tiba bertanya sehingga menyadarkan Li An dari perenungannya, “Kabarnya, beberapa pangeran akan ikut terjun dalam peperangan nanti. Apakah Anda akan jadi salah satunya?”
“Aku? Entahlah. Lagi pula, ini masih wacana yang belum disetujui oleh baginda kaisar. Bisa jadi kita berperang, bisa jadi kita berdamai,” jawab Li An dengan intonasi yang datar dan terkesan tak peduli pada pertanyaan Tuan Muda Wang, “Kalaupun nanti aku diperintahkan untuk maju, maka aku akan maju. Tergantung dari bagaimana baginda kaisar memberi perintah padaku.”
“Anda adalah seorang sarjana, Pangeran,” Wang Shujin menepuk paha putranya di bawah meja. Pertanyaan Wang Chang itu bisa dibilang lancang. Jika saja yang ditanya bukanlah Pangeran Kedelapan yang terkenal pendiam, ia mungkin akan dihukum berat sekarang dengan tuduhan menghina keluarga kekaisaran. “Kekaisaran Tang lebih membutuhkan Anda di istana daripada di medan perang.”
“Justru istana adalah medan perang sesungguhnya. Aku tidak pernah mau berdiam lama-lama di sana. Kalau sampai kita salah mengambil keputusan di pertemuan nanti, akibatnya pasti akan fatal.” jawab Li An sedikit ketus sehingga Wang Shujin pun menelan ludahnya sambil berharap sang pangeran tidak tersinggung oleh kata-katanya. Bukan kekuatan militernya yang dipertimbangkan dari Pangeran Kedelapan, tapi pengaruh dan relasinya yang kuat dalam perdagangan dengan orang-orang asing. Akan gawat kalau sampai Serikat Dagang Fuli membaikot Keluarga Wang karena menyinggung Pangeran Kedelapan.
“Pangeran Kedelapan tidak perlu risau. Kita pasti bisa mendapatkan kemenangan besar atas Kerajaan Tengah dengan mudah, lalu kita akan menguasai Kerajaan Kanan,” ucap Wang Shujin optimis setelah melihat tak ada gelagat buruk pada Li An. Ia pun kembali terkekeh, lalu mengisi lagi cangkir araknya yang kosong.
__ADS_1
“Semoga saja begitu,” balas Li An yang kemudian bergumam pelan, “Semoga Kekaisaran Tang senantiasa dalam kedamaian dan ketenteraman, di luar maupun dalamnya.”
Li An pun tersenyum getir. Gumamannya itu nyaris seperti harapan kosong. Rasanya tidak mungkin istana terlepas dari konflik. Hanya intensitas dan pengaruhnya saja yang berbeda-beda. Biasanya tergantung dari kemampuan sang kaisar yang berkuasa dalam mencengkeram kekuasaannya.
“Hari sudah petang, saatnya saya kembali ke penginapan,” ucap Li An sambil menatap kakaknya, lalu menoleh pada Wang Shujin, “Sampai jumpa lagi di Ibu Kota Chang An, Tuan Wang.”
“Ah! Baik, Pangeran,” Wang Shujin mengangguk takzim, “Semoga kedamaian abadi melimpahi Pangeran Kedelapan.”
Li An dan Li Huanran pergi meninggalkan restoran. Setelah punggung mereka lenyap di balik pintu, Wang Chang pun bertanya pada ayahnya, “Mengapa ayah menepuk kakiku tadi? Aku tidak mengatakan kesalahan sedikit pun.”
“Dasar bodoh,” umpat Wang Shujin dengan nada ringan, “Itu biasa-biasa saja karena Pangeran Kedelapan bukanlah pangeran biasa. Beliau orang yang bijak dan penuh perhitungan. Berhati-hatilah saat menjalin relasi dengannya di masa depan.”
“Apa hebatnya jadi sarjana termuda. Sebentar lagi, aku juga akan lulus dari ujian kesarjanaan,” tanya Wang Chang dengan suara yang terdengar agak sebal kali ini. Ia malah mendapat pukulan dari ayahnya. Tuan Muda Wang itu pun langsung menggosok kepalanya dengan sebelah tangan.
“Lulus apanya? Kamu bahkan baru saja selesai tingkat kedua saat Pangeran Kedelapan lulus tingkat ketiga,” omel Wang Shujin, “Ingatlah! Pangeran Kedelapan juga sudah memimpin serikat sejak muda. Beliau dapat menarik perhatian orang-orang asing dalam waktu yang singkat. Kamu nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan Pangeran Kedelapan. Contohlah beliau dalam berbagai aspek. Kalau saja beliau tidak ada, mungkin Hongli sudah merebut posisimu sekarang.”
“Itu karena ada Sarjana Rubah Perak di sampingnya. Pangeran Kedelapan juga dekat dengan Menteri Urusan Luar Negeri. Wajar saja beliau bisa sukses menjalin relasi dengan orang-orang asing sejak dini. Jalannya terlalu mulus untuk ditapaki,” Wang Chang tetap saja bersikukuh menyangkal. Yah, tebakannya memang tidak seratus persen salah. Namun, perjuangan Li An tidaklah semudah yang Tuan Muda Wang itu bayangkan. Wang Chang pun langsung mendapat omelan dari ayahnya yang mulai mabuk.
***
"Ya," jawab Li An lirih. Ia tidak menoleh sama sekali dan terus berjalanan memasuki aula penginapannya. Itu membuat Li Huanran penasaran. Putri Ketiga pun bertanya, "Kenapa? Kamu sakit? Atau cape? Jangan-jangan kamu kebanyakan kerja lagi."
"Nggak, kok," bantah Li An dengan suara yang sama lirihnya.
"Terus kenapa? Kamu kelihatan sedih kayak anak kucing yang mau ditinggal pergi sama induknya," Li Huanran usil membaca mimik adiknya. Li An pun menjawab, "Yah, mirip. Lebih tepatnya, aku yang bakal pergi."
"Eh!? Jangan-jangan ...," Li Huanran spontan menutup mulutnya, menyembunyikan senyum usil di bibirnya. Padahal, wajahnya saja sudah tertutup oleh tudung, "Kamu ada gadis yang ...."
"Nggak gitu," Li An langsung menyangkal apa pun yang hendak kakaknya katakan. Li Huanran lagsung merengut. Mereka kini telah sampai di ruang pribadi penginapan. Putri Ketiga pun menggerutu, "Hmph! Padahal aku belum bilang apa-apa."
"Yah, pokoknya nggak ada hubungannya sama orang lain kayak yang Kakak pikirin," Li An duduk dan menyandarkan tubuhnya di kursi. Li Huanran berdecak kesal. Adiknya itu sungguh tidak peka diajak bercanda. Ia pun usil bertanya, "Apa karena kamu bakal pergi jauh habis ini? Kamu takut kalau nggak aku temenin, ya?"
"Hm?" Li An menoleh pada Li Huanran yang menunggu jawaban. Sejenak kemudian, ia pun mengangguk dan menjawab, "Ya, makanya Katak harus jaga diri baik-baik sewaktu aku pergi nanti."
__ADS_1
"Hais ... ternyata kamu memang masih anak kecil," Li Huanran berdiri di hadapan adiknya, lalu mengelus kepala pangeran muda itu dengan lembut, "Kamu nggak perlu pergi kalau kamu memang nggak mau pergi. Kalau pun kamu memang harus pergi, aku nggak keberatan kok buat menemani."
"Nggak, Kakak nggak boleh ikut sama sekali," cegah Li An tegas, "Kakak duduk yang manis saja di istana. Wilayah Utara itu nggak kayak Guangzhou dan Quanzhou. Di sana bahaya. Kakak malah jadi beban kalau ikut aku ke sana nanti."
"Aku bisa jaga diri sendiri tahu!" seru Li Huanran tersinggung. Ia langsung menekan kepala adiknya sebal. Li An pun mengaduh pelan tanpa berniat membalas. Salahnya sendiri. Bocah itu sering sekali tidak mengacuhkan kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Sama saja. Aku justru tambah takut kalau Kakak ikut. Kalau Kakak kenapa-napa gimana coba?" jelas Li An, "Pokoknya, Kakak jaga diri baik-baik di istana."
"Hmph! Aku bukan anak kecil yang tertutup kayak kamu. Harusnya aku yang bilang begitu. Kamu pasti kesepian kalau pergi sendiri ke sana. Hah ...," Li Huanran menghela napas berat. Kedua tangannya mencengkeram pundak Li An. Ia pun memeluk adiknya itu seketika. Dengan suara yang lirih di samping telinga Pangeran Kedelapan, ia mengomel, "Dasar! Padahal dulu kamu nggak pernah mau deket sama aku.”
“Aku nggak bakal pergi sendiri. Ada Kakak Hong dan Kakak Yun. Kakek Shifu dan lainnya juga bakal ikut,” balas Li An, “Kakak baik-baik di rumah sama Mimi. Hati-hati sama orang luar. Jangan sampai kejadian waktu itu terjadi lagi.”
Li Huanran langsung melepas pelukannya dan mencubit kedua pipi Li An karena kata-katanya itu. Seringai di wajahnya terlihat sangat sebal. Namun, itu sama sekali tidak menakuti Li An.
“Sakit,” Li An menepis tangan kakaknya setelah Li Huanran mecubit pipinya lebih keras. Sekali lagi ia menegaskan pada kakaknya untuk tidak ikut. “Wilayah Utara bukan daerah yang sederhana. Tidak ada yang bisa menjamin keselamatan selain Yang Maha Kuasa atas seluruh alam.”
“Ck! Iya-iya. Kamu sendiri harus jaga diri baik-baik. Jangan sampai pulang tinggal nama,” Li Huanran mewanti-wanti. Li An pun tersenyum tipis. Ia berjanji pada kakaknya bahwa ia akan pulang dengan selamat.
“Kamu harus lebih banyak senyum kayak gini ke depannya,” Li Huanran lagi-lagi mengelus kepala adiknya, “Kamu kan jadi lebih rupawan kalau tersenyum. Jangan lupa jaga kesehatan. Kalau memang sudah cape, istirahat dulu. Jangan terlalu memaksa diri buat bekerja.”
“Hm, baiklah,” Li An mengangguk pelan. Sekilas, ia terlihat seperti anak polos yang penurut. Namun, walaupun ia berkata begitu, tabiatnya yang workaholic akan membuat ia mengacuhkan semua peringatan kakaknya itu.
Rombongan Li An kembali berangkat di pagi buta. Perjalanan mereka lancar meskipun ibu kota sedang ramai-ramainya oleh banyak tamu yang datang dari berbagai penjuru kekaisaran dan mancanegara, baik itu untuk urusan politik maupun perdagangan, juga urusan-urusan lainnya.
...***...
Tempat ini adalah taman yang asri. Berbagai tanaman cantik yang langka tumbuh di sana. Sungai kecil yang indah mengalir lembut di tengahnya. Hanya para putri kekaisaran yang boleh memasukinya.
“Kakak An sudah sampai?” tanya seorang gadis kecil memastikan kabar yang diterimanya. Ia sedang asyik bermain di pinggir sungai saat mendengar berita kedatangan Pangeran Kedelapan itu.
“Benar, Tuan Putri,” jawab seorang dayang paruh baya yang paling dekat dengan sang putri, “Pangeran Kedelapan telah sampai di istana siang ini. Kabarnya, beliau sedang menghadap Yang Mulia Kaisar Yung Wei saat ini.”
“Kakak An pasti ikut ke Wilayah Utara juga kan?” sang putri kembali bertanya. Si dayang pun terdiam tak kuasa menjawab. Lagi pula, sang putri tidak mengharapkan jawaban darinya. “Kalau itu Kakak An, aku pasti bisa ikut dengannya ke Wilayah Utara.”
__ADS_1
“Tu—Tuan Putri, Mo …, “ si dayang ingin membujuk tuan putrinya, tapi segera terdiam saat ditatap tajam oleh sang putri. Ia pun menunduk dalam tak berani melawan putri dari Permaisuri Zhaoyi itu, Putri Li Rouwei.