Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Serikat Dagang Fuli


__ADS_3

“Namamu Shen Huifeng kan?” pertanyaan yang Li Huanran lontarkan menyibak kecanggunan di dalam kereta kuda. Gadis yang ditanya pun terkesiap. Ia masih gugup karena duduk satu kereta yang sama dengan seorang putri dari Kekaisaran Tang.


“Be—benar, Tuan Putri,” jawab Shen Huifeng terbata. Gadis dari Keluarga Shen itu masih takut-takut memandang wajah Li Huanran untuk waktu yang lama. Ia selalu merasa rendah diri setiap kali melihat kecantikan Putri Ketiga walaupun sebenarnya ia memiliki wajah yang tak kalah cantik, apalagi dengan riasannya yang tebal.


“Hais … santai saja. Aku tidak akan menggigitmu,” canda Li Huanran dengan senyum usilnya. Mata pengamatnya yang tajam telah aktif sejak pertama kali kereta berjalan. Ia terus mengamati tingkah laku putri dari keluarga wali kota itu dengan seksama, memastikan tidak ada kepura-puraan di dalamnya.


“Mo—mohon maaf, Tuan Putri. Ba—bagaimana bisa saya lancang begitu?” Shen Huifeng menundukkan kepalanya dalam-dalam seakan menunjukkan kesungguhannya dalam meminta maaf.


Li Huanran mengerutkan kening. Rasanya tidak akan mudah menebak peringai gadis di hadapannya itu. Ia harus terus mengamatinya lebih lama. Sang putri pun kembali menyungging senyum usiil, lantas berkata, “Hm, padahal kamu sangat bersemangat saat menjawab perkataan An’er tadi. Apa kamu membenciku?”


“Sa—saya tidak berani, Tuan Putri,” balas Shen Huifeng dengan posisi yang masih menundukkan kepalanya. Li Huanran yang seolah menikmati hal itu pun kembali bertanya, “Lalu, ada apa denganmu? Apa jangan-jangan ….”


Jantung Shen Huifeng berdetak kencang. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Entah mengapa, ia merasa akan mendapatkan masalah setelah ini. Matanya pun terpejam. Ia tak mau membayangkan hal itu lebih jauh.


“Hah … sudahlah. Jangan terus menunduk seperti itu. Apa lehermu nggak sakit?” Li Huanran mengurungkan niatnya. Ia sama sekali tidak dapat menemukan celah pada gadis itu. Mungkin karena ia sangat pandai berakting atau memang begitulah peringainya.


Shen Huifeng langsung menggeleng dan menegakkan tubuhnya. Namun, ia masih belum berani bertatapan langsung dengan Putri Ketiga. Baginya, itu adalah perbuatan lancang yang mungkin akan menyinggung sang putri.


“Wali Kota Shen bilang, kamu akan memandu kami,” Li Huanran mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Dilihatnya kehidupan kota yang sibuk, jalan-jalan besar yang padat, dan ratusan orang yang mondar-mandir setiap detik. “Apa kamu hafal tempat-tempat di kota ini?”


“Sa—saya sering main keluar bersama Kakak Ling. Walaupun belum berkunjung ke semua tempat, saya yakin dapat memandu Tuan Putri dan Pangeran Kedelapan mengelilingi kota kami dengan baik,” jawab Shen Huifeng hati-hati. Li Huanran pun menoleh padanya dengan ekspresi datar tak percaya. Ia lantas menggeleng-geleng pelan sambil menghela napas.


“Hais … kalau begitu, tegakkan tubuhmu dengan benar. Tatap lawan bicaramu dengan baik. Jaga sopan santunmu. Lalu, perbaiki gaya bicaramu yang terbata-bata itu,” kata Li Huanran mengajarkan tata krama dasar berinteraksi kepada Shen Huifeng. Ia menodongkan kipasnya pada gadis itu seolah menekankan bahwa sang putri wali kota harus benar-benar melakukannya.


“Sa—saya akan berusaha,” balas Shen Huifeng masih saja terbata-bata.


“Ck! An’er tidak akan suka gadis sepertimu,” Li Huanran melempar umpan dengan nada yang ketus. Ia penasaran dengan reaksi yang akan ditunjukkan oleh gadis di hadapannya itu. Kira-kira, apakah gadis itu akan bereaksi seperti dugaannya?


“Saya,” Shen Huifeng malah membuang muka. Suaranya lirih sehingga hampir mirip dengan gumaman, “Tidak pantas berada di sisi pangeran. Beliau amat jauh dan tinggi. Sekalipun saya punya ambisi yang besar, saya tidak akan pernah bisa meraihnya.”


“Hm?” Li Huanran menyeringai usil. Meskipun reaksi Shen Huifeng jauh dari dugaannya, setidaknnya gadis itu tetap memakan umpannya, “Padahal, kukira kamu langsung jatuh cinta pada adikku di pandangan pertama. Apa dia bukan tipemu?”


Shen Huifeng kembali terkesiap. Ia tidak pernah menyangka akan mendapat pertanyaan seperti ini. Pipinya pun langsung merona meski kepalanya terus menggeleng. Ia tidak dapat sepenuhnya menyangkal bahwa dirinya terpesona dengan ketenangan Pangeran Kedelapan. “Bu—bukan begitu, Tu—Tuan Putri ….”


“Bagaimana?” Li Huanran melampar senyum, gemas dengan reaksi Shen Huifeng. Putri Wali Kota Shen ini sungguh mirip dengan seseorang yang dikenalnya. Yah, tidak terlalu mirip sih. Bagi Li Huanran, Putri Kecil lebih cocok untuk adiknya.


“Pa—pasti banyak gadis lain yang lebih pantas daripada saya,” jawab Shen Huifeng setelah dapat mengendalikan dirinya kembali. Jari-jemarinya mencengkeram gaun putih yang ia kenakan. Wajahnya tertunduk dalam demi meleburkan gejolak hati yang menerjang.


Li Huanran terus menggoda gadis itu selama perjalanan guna menghapus kebosanannya. Sesekali ia mengajari Shen Huifeng cara untuk meningkatkan kepercayaan dirinya. Tidak perlu yang muluk-muluk. Cukup berlatih untuk terbiasa dengan orang lain saja.


“An’er juga sangat pemalu dulu,” kata Li Huanran begitu mengingat masa-masa awalnya bertemu Li An, “Dia sangat sulit didekati dan selalu menghindariku. Dia bahkan sering memarahiku tanpa sabab yang jelas. Akan tetapi, dia pasti selalu bercerita padaku bila ada masalah. Pokoknya, walaupun sikapnya dingin begitu, dia juga punya sisi imut yang hangat.”

__ADS_1


“Benarkah?” Shen Huifeng mulai terbiasa menghadapi Li Huanran. Gadis dari Keluarga Shen itu tak dapat membayangkan sisi imut dan hangat dari sosok sedingin Pangeran Kedelapan yang bahkan tak sungkan sama sekali dengan ayahnya.


“Yah, begitulah,” Li Huanran memekarkan kipasnya. Sudah cukup pembicaraan tentang Li An. Putri Ketiga telah mendapat gambaran umum mengenai Shen Huifeng. Kesimpulannya mengatakan bahwa gadis itu memang asalnya pemalu seperti gadis lain kebanyakan.


Kereta kuda sedikit bergoyang saat hendak berhenti. Li Huanran pun melihat ke pintu yang seketika terbuka. Li An tampak sudah menunggunya di luar. Sang putri pun mengajak Shen Huifeng untuk segera beranjak dari kereta.


“Nona Shen,” panggilan Li An membuat Shen Huifeng gagal fokus, “Apa pun yang Putri Ketiga katakan di dalam tadi, jangan dengarkan dia.”


“Apa? Ba—baik, Pangeran” Shen Huifeng mengganguk saja walau tidak begitu mengerti, sedangkan Li An sudah berpaling darinya dan masuk ke sebuah bangunan berpilar merah. Li Huanran hanya menahan tawa. Sepertinya Li An benar-benar telah menguping pembicaraan mereka tadi.


“Nggak usah dipikirin, dia memang selalu begitu,” Li Huanran menepuk pundak Shen Huifeng, “Dia memang agak cuek kalau sama lawan jenis.”


“Hm?” Shen Huifeng semakin tidak paham. Gadis itu pun hanya dapat membuntuti Li Huanran yang mulai berjalan masuk mengikuti Li An. Padahal, harusnya ia yang menjadi pemandu bagi mereka.


“Kakak ajak saja Nona Shen berkeliling, aku ada urusan dengan Direktur Jian,” ucap Li An begitu Li Huanran dan Shen Huifeng sampai di dalam Gedung Serikat Dagang Fuli Cabang Quanzhou, “Kakak Hong, ayo ikut aku.”


“Baik, Pangeran,” Wang Hongli segera mengikuti junjungannya.


“Lihat kan? Dia sama sekali tidak peka,” Li Huanran menggerutu, “Memang lebih baik kamu tidak mengharapkannya.”


“Ya,” jawab Shen Huifeng lirih. Li Huanran pun mengajak kawan barunya berkeliling kios-kios yang terdapat di sekitar gedung serikat. Kios-kios itu berada dalam afiliasi Serikat Dagang Fuli. Ada banyak barang dijual di sana. Mulai dari rempah-rempah, giok dan mutiara, sampai kuda di tempat khusus yang disiapkan oleh serikat.


Li Huanran mengajak Shen Huifeng masuk ke sebuah restoran yang masih berada dalam lingkaran Serikat Dagang Fuli. Ia pun menunjukkan sebuah lencana yang merupakan tanda identitasnya sebagai putri Kekaisaran Tang. Para pelayan pun langsung mengutamakan pesanannya. Mereka bersikap amat sopan kepada Putri Ketiga itu.


“Bisa kamu panggilkan pesuruh?” pinta Li Huanran setelah selesai memesan makanan. Pelayan yang menerima pesanannya pun mengangguk. Tak lama kemudian, seorang pria tua datang memenuhi panggilan sang putri.


“Dia harusnya ada di kantor pusat serikat,” kata Li Huanran memberi petunjuk, “Cari dan minta dia untuk segera datang ke mari jika urusannya sudah selesai.”


“Baik, Tuan Putri,” si pesuruh tua menyatukan kedua tangannya takzim, “Saya akan segera menyampaikannya kepada Pangeran Kedelapan.”


“Nah, kita tinggal menunggu sekarang,” Li Huanran mengulas senyum pada Shen Huifeng setelah pria pesuruh itu pergi, “Ceritakan tentang Quanzhou sebanyak yang kamu tahu.”


...***...


“Direktur Jian, apa kamu sudah menggali informasi terkait Keluarga Shen dan saudagar asing yang bergaduh?” tanya Li An begitu sampai di kantor pusat Serikat Dagang Fuli Cabang Quanzhou.


Jian Hui mengangguk. Ia pun mencarikan dokumen yang terkait dengan permintaan Pangeran Kedelapan. Itu tidak membutuhkan waktu lama karena beritu ini masih tergolong baru.


“Saudagar yang menuntut perubahan kontrak dengan Keluarga Shen adalah Kafilah Aman. Mereka pedagang asing dari Arab yang belum bisa berasosiasi dengan kita karena kontrak kerja samanya dengan Keluarga Shen,” jelas Jian Hui, “Beberapa hari lalu, utusan dari mereka datang kepada kami dan membicarakan kemungkinan kerja sama dengan Serikat Dagang Fuli. Karena Pangeran memang akan datang ke mari, jadi sebenarnya kami berniat untuk menyampaikannya pada Pangeran di rapat esok hari.”


“Itu akan menjadi masalah bagi Keluarga Shen. Walaupun relasi dagang mereka tidak hanya Kafilah Aman, tapi kamar dagang itu tetaplah salah satu yang terbesar di sisi mereka,” ucap Li An sambil memeriksa dokumen yang Jian Hai serahkan, “Apa Keluarga Shen belum mengetahui rencana mereka itu?”

__ADS_1


“Sepertinya belum, Pangeran. Namun, di antara tetua mereka pasti sudah ada yang mengira bahwa Kafilah Aman akan segera mendekati Serikat Dagang Fuli,” Jian Hai mengenal beberapa tetua di Keluarga Shen. Ia bahkan berteman akrab dengan mereka. Ia sangat tahu bahwa di antara para tetua itu ada jenius hebat yang ahli dalam perdagangan.


“Yah, karena itu mereka meminta kita untuk menjadi penengah,” Li An masih tetap fokus pada dokumen di tangannya. Sudah beberapa lembar ia baca. “Itu membuat Kafilah Aman harus berpikir dua kali untuk bekerja sama dengan kita jika negosiasi tidak berjalan dengan lancar. Namun, itu bisa jadi berefek terbalik dan jika Kafilah Aman tetap memutuskan untuk berasosiasi dengan kita, maka kita akan ikut terseret dalam polemiknya.”


“Bagaimana keputusan Anda mengenai hal ini, Pangeran?” Jian Hui menatap pemuda di hadapannya dengan seksama. Ia penasaran dengan reaksi pemuda yang berhasil menjadi sarjana termuda itu.


“Kita harus mengamati dulu situasinya dengan baik,” jawab Li An, lantas meletakkan dokumen yang Jian Hai berikan, “Lagi pula, keputusan dari Keluarga Shen belum final. Kita pastikan saja mereka tetap menjalin kerja sama dengan baik. Akan lebih baik jika mereka mau berkolaborasi dengan kita setelah masalah ini selesai. Jadi, kita tak perlu khawatir lagi dengan masalah Kafilah Aman.”


“Saya mengerti,” angguk Jian Hai. Itu adalah keputusan yang wajar bagi Pangeran Kedelapan untuk berhati-hati. Pengalamannya masih perlu diasah agar dapat mengambil keputusan yang lebih baik dan bijak meskipun itu berisiko.


“Kirim utusan ke Kafilah Aman untuk mencari tahu lebih lanjut terkait konflik mereka dengan Keluarga Shen,” titah Li An kemudian. Jian Hai pun kembali mengangguk. Saat ia hendak keluar ruangan untuk memenuhi perintah Li An, seorang pesuruh datang hendak bertemu Pangeran Kedelapan.


“Hm, Putri Ketiga sudah menungguku di Restoran Bangau Putih?” Li An memastikan.


“Benar, Pangeran. Tuan Putri Ketiga menitipkan ini untuk disampaikan kepada Anda,” si pesuruh menyerahkan surat yang Li Huanran titipkan. Saat Li An membacanya, pangeran muda itu pun menghela napas dan menggeleng-geleng pelan.


“Kamu boleh kembali sekarang,” Li An meremas surat yang kakaknya kirimkan, “Aku akan segera menyusul Putri Ketiga.”


“Baik, Pangeran,” si pesuruh lantas memberi salam dan pamit undur diri.


Li An pergi bersama Wang Hongli berjalan bersama ke tempat tujuan. Ia tak memiliki banyak kenalan di Kota Quanzhou yang ramai ini. Mungkin hanya ada beberapa pemuda yang seusia atau sedikit lebih tua darinya di Quanzhou. Mereka pun hanya sebatas relasi yang terbentuk melalui interaksi perdagangan. Jadi, hanya Pendekar Cenangkas Kembar saja yang bisa menemaninya, sedangkan Yun Jili dan Mimi memutuskan untuk pulang lebih cepat karena putra mereka rewel.


“Apakah Anda tidak lelah terus bekerja meski di hari libur?” tanya Wang Hongli selama perjalanan. Li An menoleh. Dengan wajah datarnya yang minim ekspresi, ia menjawab, “Apakah seorang pangeran benar-benar memiliki hari libur?”


“Tentu saja, bisa dibilang …,” Wang Hongli menggantungkan kata-katanya sejenak, “Para pangeran dan putra bangsawan pada umumnya selalu memiliki hari libur.”


“Benar juga,” balas Li An datar seolah tak peduli dengan fakta itu.


“Anda adalah pengeran paling rajin yang pernah saya lihat,” puji Wang Hongli tulus.


“Tidak juga, Kakak Xiang jauh lebih hebat dariku. Aku tak pernah menang dengannya sekalipun,” Li An malah tersenyum getir mengenang semua kekalahannya di bawah Pangeran Ketujuh. Ia sama sekali tak memandang prestasi akademiknya jika membandingkan diri dengan Li Xiang.


“Itu karena Pangeran Ketujuh memang memiliki bakat bela diri yang mumpuni, sedangkan bakat Anda lebih tertumpu pada kesarjanaan,” hibur Wang Hongli, “Bagaimana kalau kita latih tanding sore ini?”


“Hm? Sudah jelas Kakak Hong yang akan menang,” kata Li An malas. Wang Hongli pun memberi semangat, “Hais … Pangeran, Anda sudah lama tidak berlatih. Ada baiknya sesekali merenggangkan badan. Sebagai seorang pangeran, Anda juga harus tetap mengasah ilmu bela diri dan seni berpedang dengan rutin.”


“Hah … baiklah-baiklah,” ucap Li An pasrah, “Semoga saja kakakku tidak meminta dibawa ke tempat yang jauh nanti.”


“Yah, semoga saja,” Wang Hongli baru ingat kalau ada Putri Ketiga yang selalu menempel pada tuannya. Jika tuan putri itu meminta pergi ke suatu tempat di Quanzhou, Pangeran Kedelapan hanya dapat menurut.


Sejak awal, liburan yang Li An ambil hanya untuk mengisi waktu bersama kakaknya sekaligus menghindar dari gejolak istana yang sedang memanas. Namun, alih-alih mendapat liburan yang pantas, Li An malah tetap sibuk bekerja di setiap cabang serikatnya.

__ADS_1


__ADS_2