Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bab 44: Pertemuan dengan Selir Shu


__ADS_3

Setelah beberapa hari sibuk dengan upacara kedewasaannya, akhirnya Li An mendapat ketenangan walaupun hanya sehari. Di hari yang cerah itu, ia diundang oleh Selir Shu, ibu kandung Li Huanran untuk mendiskusikan sesuatu. Mereka duduk berdua saja di kediaman sang selir dengan para pengawal yang menjaga di depan seperti biasa.


"Bagaimana kabarmu setelah cukup lama berjalan-jalan ke luar?" tanya Selir Shu dengan nada bicaranya yang dingin seperti biasa. Ia menuangkan teh herbal kepada adik kesayangan putrinya. Teh herbal itu amat wangi seakan dapat mengantarkan ketenangan.


"Perjalanan itu menyenangkan. Aku mendapat banyak pengetahuan baru selama di sana," jawab Pangeran Kedelapan, "Sesampainya di istana ini, aku malah merasa mendapat semakin banyak tekanan."


"Heh, itu wajar," Selir Shu memberikan teh yang diseduhkannya untuk Li An, "Salahmu sendiri bertindak terlalu mencolok. Siapa yang tidak tertarik untuk menjodohkan putrinya dengan sarjana termuda dari keluarga kekaisaran sekaligus pemilik serikat dagang terbesar saat ini?"


"Mereka terlalu membesar-besarkannya saja," gumam Li An sembari menerima teh herbal itu. Ia tersenyum tipis. Ada rona merah yang samar di pipinya.


"Yah, anggaplah begitu," Selir Shu mulai menyeruput seduhan tehnya yang masih panas. Ia meminumnya sedikit, lalu menaruh kembali minuman itu, "Lalu, apakah ada gadis yang menarik perhatianmu?"


"Hm?" Li An mengerutkan keningnya, tak menyangka sama sekali bahwa Selir Shu akan menanyakan hal itu. Ia pun memejamkan matanya sebentar seolah tengah mencoba untuk mengingat-ingat. Detik kemudian, ia menggeleng pelan. "Aku belum memikirkan masalah itu sampai saat ini."


"Umurmu sudah 16 tahun, ini sudah saatnya bagimu untuk memikirkan pernikahan," ucap Selir Shu mensugesti. Li An pun menggeleng, "Aku 'masih' 16 tahun. Masih ada banyak waktu untuk memikirkannya. Lagi pula, masalah pernikahan itu bukan sekadar percintaan belaka."


"Kamu benar," Selir Shu setuju dengan kalimat terakhir Pangeran Kedelapan, "Pernikahan memang bukan melulu soal cinta. Namun, umumnya manusia ingin menikah dengan orang yang ia cintai."


"Bibi, suka dan cinta itu sekilas mirip, tapi sebenarnya memiliki perbedaan yang besar," ujar Li An sembari mengambil sebuah kue kering yang Selir Shu jamukan, "Bagiku, suka adalah perasaan ketertarikan semu yang umum dirasakan oleh manusia pada lawan jenisnya, sedangkan cinta adalah perasaan tulus manusia kepada seorang yang ditakdirkan padanya."

__ADS_1


"Kamu tidak salah," Selir Shu tersenyum tipis. Tak banyak orang bisa melihat senyumannya itu. Sejak dulu, ia terbiasa menyembunyikan ekspresinya. Apalagi setelah ia menutup diri sejak terungkapnya kasus Permaisuri Eminen. "Cinta memang tidak dibutuhkan untuk menyatukan dua insan dalam satu pelaminan. Namun, cinta itu akan tumbuh di tengah harmoninya kehidupan rumah tangga setelah pernikahan."


"Hm," Li An mengangguk kecil, "Aku memang benar."


"An'er," panggil Selir Shu kemudian, "Kamu sudah membohongiku!"


"Eh?" Li An tersentak tak mengerti.


"Mana mungkin kamu paham hal-hal seperti itu jika belum memikirkan perihal pernikahan sebelumnya?" cecar Selir Shu, "Katakan padaku dengan jujur! Siapa gadis yang selalu bersemayam di benakmu?"


"Bibi …," Li An nyaris kehabisan kata-kata, "Itu … aku kan membaca itu dari buku."


"Katakan saja!" desak Selir Shu dengan dinginnya, "Lihatlah! Mukamu saja memerah. Kamu pasti sedang memikirkan gadis itu, kan?"


"Po-pokoknya, aku belum mau memikirkan pernikahan itu," jawab Li An sambil memalingkan wajah. Ia menolak untuk memberi tahu sosok gadis yang mengisi hatinya. Itu adalah masalah pribadi yang ingin ia simpan sendiri. "Juga, bukannya Kakak Huanran yang seharusnya lebih berhak menerima pertanyaan itu?"


"Dasar, Bocah!" Selir Shu mengepalkan tangannya. Andai ia tak memiliki sayang sama sekali kepada Li An, sudah tentu ia melempar gelas poci pada pemuda itu. "Kamu pikir gara-gara siapa putriku tidak jadi menikah, hah?"


"Kakak hampir saja celaka saat itu," Li An menolak untuk menerima kesalahannya, "Bibi kan juga tahu kalau pada akhirnya keluarga pria itu terkena kasus. Aku hanya ingin melindungi kakak."

__ADS_1


"Bukan, bukan yang itu. Aku sangat berterima kasih padamu kalau yang berkaitan dengan kasus itu," Selir Shu menghela napasnya sebentar sebelum melanjutkan, "Masalahnya, Huan'er malah menjadikanmu sebagai alasan untuk menolak perjodohan sejak terjadinya kasus itu. Kamu harus bertanggung jawab penuh atas apa yang terjadi."


"Kenapa itu jadi salahku?" tanya Li An kritis. Jelas dia protes. Pembuat onarnya kan bukan dia. Mana mungkin dia mau disalahkan?


"Kamulah akar masalahnya," tegas Selir Shu yang kemudian menyeringai seram dan bertanya, "An'er, kamu sayang dengan kakakmu, kan?"


"Iya," jawab Li An spontan. Ia kembali mengambil kue kering yang tinggal tersisa beberapa buah saja di atas piring.


"Maka, jangan biarkan dia melajang seumur hidup," ucap Selir Shu kemudian. Li An yang sebelumnya tengah menengok ke samping sambil mengunyah kue langsung menoleh. Pandangannya seolah bertanya, "Apa Kakak Huanran sebegitunya tak mau menikah?"


"Aku ingin ia mendapat suami yang akan mencintainya dengan tulus," tambah Selir Shu, "Bukan sekadar karena alasan politik semata."


"Apa Bibi tidak mau mencarikan sendiri pasangan untuk Kakak Huanran?" tanya Li An penasaran. Kue kering di piring semakin sedikit. Tampaknya, Pangeran Kedelapan suka sekali dengan kue itu. "Aku merasa tidak punya calon yang baik untuk Huan'er. Kalau aku meminta temanku untuk mencarikannya, mereka pasti akan mencarikannya dengan motif politik."


"Baiklah," Li An pun menerimanya begitu saja, "Tapi, apa kakak akan menerima pria yang kutawarkan padanya?"


"Coba saja ajak dia berkenalan dengan pria itu dulu," ucap Selir Shu kemudian, "Kalau dia mantap dengan pria itu, segera laporkan padaku. Aku ingin menilainya sendiri setelah itu."


"Hm, aku mengerti," Li An mengangguk paham.

__ADS_1


"Jangan sampai lupa," Selir Shu mewanti-wanti kembali, "Cari orang yang akan benar-benar mencintai Huan'er!"


"Akan kulakukan," kebetulan Li An sudah memikirkan satu nama, "Bibi kan tahu kalau aku juga menyayangi Kakak Huanran. Aku pasti mencarikan jodoh terbaik untuknya."


__ADS_2