
Li An menolak untuk ikut dalam kelas di kuil saat ia diundang oleh seorang biksu. Bocah itu tidak suka keramaian. Jadi, dia bersikeras untuk belajar bersama Yun Jili saja di kediamannya atau Pagoda Arsip Kecil.
Biksu yang bersangkutan sempat mengadukan penolakan itu kepada Kaisar Yung Wei. Ia adalah guru besar yang betanggung jawab atas pendidikan para pengeran. Namun, sang kaisar tidak berbuat apa pun selain menyuruh sang biksu untuk membiarkan Pangeran Kedelapan memilih jalannya sendiri. Hal itu pun sempat menimbulkan keributan.
Awalnya, para menteri hendak menentang pengistimewaan itu. Setiap pangeran dan putri harus belajar sesuai dengan aturan yang telah ditentukan sejak generasi terdahulu. Akan tetapi, mereka tiba-tiba urung melakukannya setelah mendengar penjelasan seorang sarjana tua dari Keluarga Wu, keluarga asal Selir Zhouyi.
Menteri Liu jadi merasa curiga dengan gerak-gerik mereka. Pria tua yang bertanggung jawab atas administrasi kekaisaran itu pun mengurung dirinya di kantor untuk merenungkan berbagai kemungkinan arah angin politik Kekaisaran Tang di masa depan. Ia berpikir amat keras sampai sebagian pekerjaannya terbengkalai. Sayangnya, ia tak kunjung mendapat jawaban atas apa yang dicarinya itu.
"Mohon maaf, Baginda," Menteri Liu mengungkapkan penyesalannya saat sampai di ruangan Kaisar Yung Wei. Ia mendapat panggilan karena beberapa pekerjaan yang tersendat pada dirinya. Kaisar Yung Wei pun tidak bisa tinggal diam melihatnya.
"Apakah yang membuat Menteri Liu sangat gelisah sampai mengabaikan tanggung jawabnya begini?" tanya Kaisar Yung Wei dengan kepala dingin. Ia amat yakin dengan kemampuan menterinya yang berbakat itu. Jadi, ia tidak langsung menghakiminya dengan gegabah.
"Kaisar, Anda telah memberi Pangeran Kedelapan banyak perhatian. Orang-orang ramai membicarakan beliau," Menteri Liu pun mengatakan sejujurnya, "Saya bisa mengerti maksud Anda menimbang betapa cerdasnya pangeran. Namun, saat Anda membebaskan pangeran dari kelasnya di kuil, itu ...."
"Sama saja merusak aturan yang ada?" tebak Kaisar Yung Wei begitu Menteri Liu terdiam. Ia sudah mengetahui gerak-gerik para menteri yang hendak menentang, tapi tak kunjung datang. Semua gerak-gerak di istana terpantau olehnya. Namun, ia masih belum tahu maksud Sarjana Tua Wu menghentikan mereka. Entah pak tua itu membantunya, atau malah bermakar di baliknya.
"Benar, Baginda. Hal ini malah bisa berdampak buruk kepada Pangeran Kedelapan di masa depan," Menteri Liu mengangguk. Ia pun memberikan buah pikirnya yang matang selama beberapa hari ini. Pria tua itu yakin bahwa Pangeran Kedelapan akan sulit mendapatkan dukungan jika tidak ikut dalam kelas di kuil pada usianya yang belia menimbang besarnya pengaruh kuil.
"Itu adalah pilihannya. Aku ingin melihat bagaimana Pangeran Kedelapan akan mengatasi masalahnya ini di masa depan kelak," Kaisar Yung Wei hanya tersenyum. Ia pun menambahkan, "Lagi pula, pelajaran-pelajaran di kuil tidak cocok untuknya. Ia mungkin akan semakin memberontak jika terlalu dipaksa."
Pada akhirnya, Menteri Liu tetap gagal membujuk Kaisar Yung Wei atas masalah Pangeran Kedelapan. Hal itu membuatnya semakin yakin bahwa kaisar menyiapkan sesuatu untuk pangeran yang terasing itu. Namun, ia tetap tak dapat menemukan jawabannya selama apa pun ia berpikir.
Saat sang Menteri Dalam tengah sibuk memikirkannya, Li An sedang bersantai di saung Paviliun Aixin sambil menggambar kaligrafi hanzi. Ia belajar dengan tenang bersama Miao-Miao yang sesekali mengajaknya bermain. Li Huanran sedang bersama Liu Meili saat itu, jadi tak ada yang mengganggunya sampai Pangeran Ketujuh datang.
"Hai! An-An. Kenapa kamu nggak datang-datang?" tanya Li Xiang dengan kesal. Pagi ini, ia datang ke Paviliun Aixin bersama sang biksu untuk mengajak Pangeran Kedelapan berangkat ke kuil. Namun, lagi-lagi Li An menolak dengan berbagai alasan. Untung saja Yun Jili segera datang saat itu.
"Aku sibuk. Kakak Xiang main di luar saja sana," usir Li An dengan nada yang lembut. Ia sedang malas berdebat dengan bocah ambisius itu. Entah sejak kapan ia merasa dijadikan saingan oleh kakaknya.
"Apa? Jelas-jelas kamu cuman mainan sama Miao-Miao. Mau berdalih apa lagi kamu?" tuding Li Xiang sebal.
Li An menghentikan goresan hanzinya begitu Li Xiang menerobos masuk sembarangan ke rumahnya dan membuat keributan. Ia jadi tak bisa berkonsentrasi kerana itu. Makanya, ia mengambil Miao-Miao dan bermain dengannya untuk mengatasi kebosanan. Di samping itu, ia bersikap waspada agar anak kucingnya tidak dicuri.
"Barusan aku mengerjakan PR dari Kakak Rambut Putih. Kakak Xiang datang menggangguku, jadi aku tidak bisa melanjutkannya," Li An terang-terangan menyalahkan, "Sebentar lagi Kakak Hong akan datang. Aku mau latihan dengannya. Kakak Xiang pergi saja sana."
"Hah? Bocah kurus kecil kayak kamu mau latihan apa?" cibir Li Xiang. Sebenarnya, ia agak iri dengan Li An yang dilatih oleh Pendekar Cenangkas Kembar. Pendekar muda itu adalah salah satu idolanya. Sayangnya, ia tidak bisa asal menuntut. Lagi pula, ia sudah punya pelatihnya sendiri yang juga pendekar hebat.
"Kakak, apa Kakak nggak diajari kalau sombong itu membawa kejahatan pada diri sendiri?" tanya Li An menyindir. Ia sama sekali tidak memberi muka pada kakaknya yang datang tanpa diundang itu, tapi masih mau sekadar bermain kata dengannya.
"Cih, bocah lemah! Hadapi aku kalau berani. Kita latih tanding habis ini," tantang Li Xiang penuh percaya diri. Ia sangat yakin dengan kemampuan bela dirinya. Pelatihnya pun mengakui kalau ia adalah seorang jenius bela diri.
__ADS_1
"Hm? Kakak Xiang tidak tahu malu? Apa Kakak tidak diajari untuk melindungi saudara yang lebih lemah?" Li An terus menyindir sambil menolak tantangan kakaknya. Mengetahui kemampuan lawan adalah kekuatan. Ia tidak perlu bertarung dalam pertandingan yang jelas-jelas tak bisa dimenangkannya.
"Kamu penakut!" ejek Li Xiang, mencoba memprovokasi adiknya.
Li An hanya menoleh dan menatap datar. Wajahnya itu seolah berkata, "Apa aku harus peduli?"
"Kakak, biar kuberi tahu. Kekuatan yang sejati adalah kesabaran dalam hati," Li An berpatuah, "Seorang jenderal gagah bisa jadi mati konyol dalam peperangan karena emosi. Aku tidak mau Kakak menderita seperti itu di masa depan. Makanya, kuperingatkan sekarang."
"Hmph! Tahu apa kamu? Dasar sok bijak!" Li Xiang enggan menerima nasihat adiknya. Ia bersikeras menantang Li An untuk bertarung dengannya di lapangan. Namun, Li An tetap menolak dengan gigih, "Aku memang bukan orang bijak. Itu patuah yang kubaca dari buku. Aku yakin itu bermanfaat, jadi aku membagikannya kepada Kakak dengan senang hati."
"Kamu banyak alasan ...!" belum selesai Li Xiang berkata, tiba-tiba Li An menepuk pundaknya dan kembali berpatuah, "Kakak, kamu memang anak yang kuat dan berbakat. Kakak Hong bahkan memuji bakatmu. Sayangnya, ada yang kurang dalam darimu. Kekurangan itu ada di sini."
Li An menunjuk dada Pangeran Ketujuh. Li Xiang terdiam bukan karena terkesima dengan patuah itu, tapi karena ia baru mendengar kalau Pendekar Cenangkas Kembar memuji bakatnya. Ia pun meminta keterangan lebih lanjut tentang hal tersebut pada Li An.
"Ih ...! Tanya saja sendiri. Kakak Hong sudah datang tuh, tapi jangan ganggu aku latihan," Li An sampai merasa risih. Ia pun menunjuk Wang Hongli yang baru saja sampai di kediamannya. Pendekar muda itu hendak menjemput Li An untuk berangkat latihan sore. Ia sempat terkejut saat tiba-tiba Pangeran Ketujuh menghampirinya.
“Apa Pangeran Ketujuh mau ikut latihan bersama kita sore ini?” Wang Hongli menoleh pada Li An, meminta persetujuannya. Li An ingin langsung menolak, tapi Li Xiang sudah lebih dulu menyahutnya dengan semangat, “Iya, iya. Aku akan ikut latihan bersama Pendekar.”
“Bagaimana dengan Senior Xiao? Bukankah harusnya Anda bersama dengannya?” Wang Hongli tidak ingin mencuri murid dari kakak seperguruannya, jadi ia ingin memastikan dulu kondisi seniornya itu. Li Xiang malah mendengus dan memutar matanya. Ia terlihat malas menjelaskan, tapi tetap berkata, “Entahlah, Pendekar Pedang Lentur sedang minum arak … mungkin? Aku ingin berduel dengan An-An. Ayo cepat ke lapangan.”
“Hai!” Li An ingin protes, tapi Wang Hongli malah sudah menyetujui tantangan itu tanpa meminta persetujuannya, “Kakak, tapi aku baru latihan sebentar.”
“Hmph! Hanya sekali,” Li An pun berpaling untuk menitipkan Miao-Miao pada Li Huanran atau Mimi. Tak lama kemudian, ia datang dengan wajah yang kesal. Mulutnya pun terlihat menggerutu sebal. Sepertinya sempat terjadi sesuatu di dalam.
“Ayo pergi sebelum kakakku datang,” Li An mempercepat langkahnya. Li Xiang terlihat heran, sedangkan Wang Hongli hanya tersenyum ramah. Sejujurnya, ia gemas melihat tingkah laku Li An yang sesuai dengan usianya. Saat bersama Yun Jili, pengeran kecil itu selalu terlihat dewasa.
“Kita lomba lari dulu,” ajak Li An begitu sampai di lapangan latih tanding, “Lima putaran.”
“Yakin? Nanti kamu kecapean?” tanya Li Xiang meremehkan. Sebagai anak yang jenius bela diri, tentu ia sangat percaya diri dengan kecepatan berlarinya. Li An hanya menyeringai sinis. Ia pun meminta Wang Hongli untuk mengawasi lombanya.
Li Xiang dan Li An segera berlari begitu Wang Hongli selesai menghitung. Keduanya melesat dengan cepat. Namun, Li Xiang dapat langsung memimpin tak lama kemudian. Ia tersenyum bangga saat dapat memperpanjang jaraknya di Li An, sedangkan Li An sendiri juga tersenyum, tapi terlihat licik.
“Cih! Anak lambat,” cibir Li Xiang ketika ia berhasil menyalip Li An lebih dari satu putaran. Ia terus mempercepat langkahnya setiap waktu, jadi ia bisa menyelesaikan lima putaran dalam beberapa menit saja. Napasnya terenggah-enggah begitu selesai berlari. Peluh keringat membasahi seluruh badan dan wajahnya.
“Ayo kita mulai,” Li An langsung menyodorkan pedang begitu sampai di garis finis. Ia berlari dengan kecepatan konstan dan napas yang teratur. Di putaran terakhir pun, ia memilih berjalan kaki untuk pendinginan sejenak. Melihat betapa lelahnya Li Xiang, ia tersenyum senang. Rencana pertamanya berhasil.
“Kamu! Kenapa kamu nggak serius lari?” bentak Li Xiang kesal. Ia masih belum selesai mengatur napasnya. Terlalu berlebihan jika langsung berduel sekarang. Li An malah hanya mengangkat alisnya. Ia pun menjawab tanpa rasa bersalah, “Aku lari, kok. Tanya saja Kakak Hong.”
“Tapi, Anda berjalan di putaran terakhir,” balas Wang Hongli begitu mendengar namanya disebut. Li An tetap tidak merasa bersalah, “Biarin. Aku memang nggak ada rencana buat menang dari kakak yang berbakat. Ayo mulai duelnya sekarang.”
__ADS_1
“Kamu ….,” Li Xiang ingin mengatakan sesuatu. Namun, wajah Li An yang mengesalkan membuatnya urung. Bocah itu berani-beraninya memprovokasi sang kakak dengan berkata, “Eh, Kakak Berbakat masih capek? Yah, mau gimana lagi? Kita istirahat dulu.”
Li Xiang tidak berniat membalas provokasi yang dilancarkan Li An dan ingin tetap beristirahat. Akan tetapi, kata-kata Li An setelah itu membuatnya tak dapat menahan diri, “Kakak kuat kan? Ini baru lima putaran. Apa Kakak cuman kuat segitu? Beneran nggak mau mulai sekarang.”
“Ah …! Cepat naik. Kita duel sekarang,” Li Xiang buru-buru bangkit. Ia pun mengambil pedang kayunya. Ada hawa intimidasi galak yang terpancar dari tubuhnya. Namun, Li An melihatnya tanpa peduli. Hawa itu tak ada apa-apanya dibandingkan wibawa Kaisar Yung Wei.
“Main yang serius!” bentak Li Xiang. Matanya melotot tajam. Ia membentuk kuda-kuda penyerang. Begitu Wang Hongli memberi aba-aba, ia akan segera melesat maju dan menyabetkan pedangnya.
“Iya, iya,” Li An menjawab malas. Ia memasang mata elangnya, mata selidik yang waskita. Dengan kuda-kuda yang dibentuknya, ia mengambil posisi yang tepat untuk membaca arah serangan lawan. Begitu Li Xiang menyerang, ia langsung memosisikan pedangnya untuk memblokir tebasan.
Duak!
Pedang Li Xiang menghempas tanah, sementara Li An menghindar ke samping dan melancarkan serangan. Sayangnya, Li Xiang dengan cepat berkelit. Ia pun kembali menyabetkan pedang.
“Kamu kira, kemampuanku bakal berkurang kalau aku capek, hah?” Li Xiang bertanya sinis. Ia terus menebas walaupun semua tebasan itu dapat ditepis oleh Li An. Li An sendiri tidak membalas pertanyaan provokatif itu. Matanya fokus mencari celah yang tepat, tapi pertahanan Li Xiang terlalu kokoh meskipun ia terus menyerang. Saat menemukan celah pun, Li An tak dapat memanfaatkannya karena belum cukup berkemampuan.
Tak!
Duel kecil itu tidak berlangsung lama. Pedang Li An luput dari tangannya saat ia berusa menangkis serangan Li Xiang yang sangat kuat. Staminanya pun sudah banyak terkuras. Peluh keringat sudah mulai membasahi pakaiannya.
“Cukup!” Wang Hongli menghentikan pertarungan. Ia lantas memuji kemenangan Li Xiang. Bocah itu tersenyum bangga karenanya. Wang Hongli pun juga menghibur Li An agar tidak berkceil hati, “Anda juga hebat Pangeran Kedelapan. Pertahanan Anda sangat kuat sampai dapat bertahan sejauh ini. Untuk anak yang baru sebentar berlatih bela diri, itu sudah sangat baik.”
“Aku baik-baik saja,” balas Li An dengan datar. Bocah itu benar-benar tidak peduli dengan kekalahannya. Ia menatap kedua tangannya yang masih sedikit gemetaran. Telapak tangannya memerah. Rasanya masih nyeri karena terlalu banyak menangkis serangan Li Xiang tadi. “Aku mau istirahat dulu.”
“Silakan, Pangeran,” Wang Hongli mengerti, “Anda bisa beristirahat lebih lama dan kembali berlatih nanti.”
“Pendekar Hong, apa kamu mau jadi guruku?” tanya Li Xiang menawarkan saat Li An pergi menjauh, “Aku bisa memberimu lebih dengan persetujuan ibunda.”
“Maaf, Pangeran,” Wang Hongli langsung membalas, “Saya melatih Pangeran Kedelapan atas perintah baginda kaisar langsung. Saya juga tidak bisa bersikap lancang pada Senior Xiao. Mohon Anda jangan mengulanginya lagi.”
“Apa itu penting? Aku akan jadi kaisar di masa depan. Saat itu terjadi, kamu akan kuberi posisi yang tinggi,” Li Xiang masih terus berusaha membujuk. Namun, Wang Hongli justru semakin menolak. Ia menerima tawaran Kaisar Yung Wei untuk menjadi penjaga dan pelatih Pangeran Kedelapan bukan sekadar memenuhi perintah, tapi juga untuk menghindari intrik politik di masa suksesi nanti. Sama seperti Li An, ia membenci hal-hal semacam itu.
“Sayang sekali,” Li Xiang menghela napas kecewa, tapi tetap memberi kesempatan sebelum beranjak pergi, “Tawaranku terus terbuka. Pendekar Hong bisa datang padaku kapan saja bila berubah pikiran.”
“Kenapa Kakak Hong nggak terima saja tawaran itu?” pertanyaan Li An membuat Wang Hongli terkesiap. Bocah itu sudah berdiri tegap di samping sang pendekar. Ia berwajah dingin dan datar sebagaimana bisanya. Wang Hongli pun menjawab, “Bukankah tadi saya sudah bilang? Ini adalah perintah kaisar. Saya tidak bisa melanggarnya begitu saja.”
“Dengan pengaruh Bibi Zhouyi, mudah saja dia mengubah keputusan ayahanda kaisar,” Li An tidak menerima alasan itu. Wang Hongli pun tersenyum, “Tidak sesederhana itu, Pangeran. Menjadi guru Anda juga merupakan keputusan saya. Ini adalah suatu kebanggaan bagi saya.”
Wang Hongli terdiam sejenak sebelum berlutut di hadapan Li An. Ia pun menundukkan kepalanya dan berkata penuh hormat, “Saya, Wang Hongli, Pendekar Cenangkas Kembar bersumpah setia kepada Pangeran Kedelapan, Pangeran An Aixin. Izinkan saya melindungi Anda dengan segenap jiwa dan raga saya. Saya bersumpah atas nama Tuhan Yang Mahatunggal.”
__ADS_1