
“An’er sudah baikan kan?” tanya Nyonya Lu sambil memegang tangan mungil Li An dengan lembut. Matanya menatap sendu pangeran malang itu. Jika diperhatikan lebih detail, ternyata anak itu sangat kurus dan kecil. Saat terjatuh tadi, tangisannya sangat keras sampai terdengar di Paviliun Utama.
Li An mengangguk pelan. Walaupun lukanya masih perih, ia bisa menahan sakit itu dengan baik. Meskipun ia kecil begitu, ia adalah anak yang tangguh. Malu sekali rasanya saat di gendong ala tuan putri oleh Li Huanran tadi. Kalau saja ia tidak jatuh sampai kesakitan, ia pasti memberontak keras saat digendong seperti itu.
“Lain kali hati-hati, ya. Bibi akan menasihati kakak-kakakmu nanti,” Nyonya Lu menyentuh kening Li An, memastikannya tidak demam. Ia pun menyelimuti pangeran kecil itu dan menyuruhnya untuk beristirahat. Sebelum keluar, Nyonya Lu mengecup ubun-ubun Li An dan berbisik, “An’er, ingatlah bahwa kamu juga keluarga kami. Di mana pun kamu berada, kamu tetaplah bagian dari keluarga kami yang berharga.”
Li An terdiam sambil memandang punggung Nyonya Lu yang kemudian hilang di balik pintu. Sekarang, ia kembali terjebak dalam kesendiriannya yang biasa. Kesendirian yang sunyi, tenang, dan mendamaikan. Tak ada lagi kakak cerewetnya yang mengganggu, apalagi dayang-dayang penguntitnya yang menyebalkan.
“Hah …,” Li An membuang napasnya bosan, lalu menghadapkan posisi tidurnya ke kanan. Ia merasakan hal yang berbeda pada kesendiriannya hari ini. Padahal, biasanya ia suka dengan suasana yang sepi seperti di Pagoda Arsip Kecil sebelum kedatangan Li Huanran. Mungkin perhatian yang Putri Ketiga berikan itu telah mempengaruhi dirinya. Walaupun tidak ingin mengakuinya, Li An merasa hal itu benar.
Li An hanyalah pangeran lemah yang tidak memiliki kekuatan maupun pendukung selain orang-orang terdekat yang berbelas kasih padanya. Ia hanya anak biasa yang lahir dari rahim seorang selir. Ibunya pun meninggal pascapersalian. Kalau saja Selir Ai tidak mengambilnya dalam buaian, ia mungkin sudah terbaring di liang lahat sejak lama. Lalu, buat apa Putri Ketiga itu repot-repot ingin menyeretnya ke Istana Kebahagiaan Abadi?
“Bunda …,” air mata Li An menetes saat mengingat ibundanya, baik Selir Ai maupun Selir Hien. Walaupun ia tak tahu bagaimana rupa ibu kandungnya, Selir Ai sering menceritakan kisah sang ibu yang menyayanginya. Parasnya yang cantik jelita dengan mata sipit, lesung pipit, dan senyum ayu. Wataknya yang pendiam, pemalu, dan penuh kasih sayang. Maka, sampailah kasih sayang itu kepada Li An dengan lisan Selir Ai.
Dulu, Li An tidak pernah mengharapkan perhatian siapa pun selain dari Selir Ai. Ia tidak peduli dengan saudara-saudari seayahnya, apalagi ayahnya sendiri yang sibuk dengan urusan istana dan kenegaraan. Pangerang terasing itu lebih suka dengan keadaannya yang tenang dan damai bersama Selir Ai seorang.
Namun, Li An merasa jenuh dan kesepian sekarang. Apalagi, Selir Ai sudah tidak ada di sisinya. Setelah Nyonya Lu dan kakak-kakaknya pergi, ia mendapati sebuah rongga kosong dalam dadanya. Rongga yang hangat saat ia berkumpul bersama mereka dan dingin saat mereka meninggalkannya.
Air mata Li An pun mengalir dalam sunyi. Matanya tertutup rapat diliputi waktu yang dengan kejam berlalu. Wajah sendunya melemas. Ruhnya pergi mengembara ke alam bawah sadar yang penuh dengan misteri. Entah mimpi apa yang ia alami, mentari tiba-tiba menyiram pandangan matanya ketika ia terbangun.
“Matahari sudah tinggi. Apa kamu masih mau tidur lagi?” suara lembut seorang gadis mengusik telinga Li An. Suara itu sangat khas. Suara yang akhir-akhir ini mengganggu kedamaian sang pangeran terasing.
“Ayo, An’er. Sudah saatnya kamu bangun,” Li Huanran menepuk-nepuk pipi Li An pelan, “Makan dulu sini. Kemarin malam kamu belum makan loh. Nanti kalau tambah sakit gimana?”
Li An malah membuang muka dan menarik selimutnya untuk menutupi wajah. Ia tidak ingin diganggu oleh kakaknya yang cerewet itu. Lebih baik ia menunggu Li Mei atau Li Chen saja yang membangunkannya.
Li Huanran tersenyum sebal. Ia jadi ingat dengan saudara kandunganya yang seperti batu saat dibangunkan. Tangannya pun dikepal dan diremas kuat-kuat. Akalnya berjalan cepat mencari cara untuk menjahili bocah pemalas itu.
Putri Ketiga menarik selimut yang menutupi wajah Li An. Tidak ada reaksi, berati Li An sudah kembali terlelap lagi. Li Huanran pun menuangkan sedikit air segar yang ia bawa bersama sarapan Li An ke tangannya. Senyumnya mengembang saat membayangkan wajah kesal Pangeran Kedelapan, adik kesayangannya.
Plak!!!
Li Huanran menempelkan tangannya yang lembab dan dingin ke pipi Li An. Seketika itu juga, Li An terkesiap. Ia pun langsung menarik kembali selimutnya. Wajahnya ditutup rapat-rapat. Jari-jemarinya mencengkeram erat ujung selimut itu agar tidak ditarik lagi oleh Li Huanran.
Tangan Li Huanran juga ikut mecengkeram selimut. Ia kesal karena Li An tidak kunjung bangun juga dan malah semakin bandel. Senyumnya yang sinis masih tersungging. Dengan cepat dan kuat, ia pun menarik selimut Li An dan membuangnya ke lantai. Tak cukup sampai situ, Putri Ketiga pun berteriak, “Hai, Bocah! Bangun sebelum aku menyirammu dengan air!”
__ADS_1
Li An tetap enggan menggubris. Ia kini menggunakan bantalnya untuk menutupi kepala. Apa pun yang terjadi, ia tidak ingin Li Huanran yang pertama kali ia lihat saat terbangun. Ia berjanji dalam hati, kalau kakak menyebalkannya itu pergi, ia akan bangun dari peraduannya. Tidak! Jelas itu hanya omomg kosong dalam keegoisannya saja.
Mata sipit Li Huanran semakin sipit karena kesal, tapi senyum mengerikannya tidak juga hilang. Ia pun menarik bantal yang menutupi kepala adiknya, lantas benar-benar menyiramkan segelas air ke wajah bocah pemalasnya itu. Kekesalannya seakan tumpah bersama air yang ia tuang. Namun, ia tidak menyangka bahwa keputusannya telah berakibat fatal.
Li An memang langsung terbangun setelah itu, tapi ia terbangun dengan tangis yang menjadi-jadi. Sepercik air masuk ke telinganya. Ia langsung marah-marah dan menyalahkan Li Huanran karena hal itu, “Kakak jahat! Telingaku jadi sakit!”
Li Huanran pun juga terkejut melihat tangis adiknya. Ia sungguh tidak bermaksud melakukan itu. Dengan spontan, ia menarik Li An dalam pelukannya. Tangannya menepuk-nepuk punggung pangeran mungil itu agar segera tenang. Kemudian, ia membaringkan Li An di pangkuannya sambil mengucapkan kata-kata lembut.
Untung saja Li An tenang dengan cepat di pangkuan kakaknya. Kalau ia menangis lebih lama, Li Mei pasti akan datang dan menyalahkan Li Huanran. Putri Ketiga itu sedang malas berdebat dengan sepupu yang paling cerewetnya sekarang.
“Masih sakit?” tanya Li Huanran dengan halus. Senyum tipisnya tersungging indah. Gadis yang lembut itu mengelus-elus kepala adiknya dengan penuh kasih sayang. Ini adalah jurusnya yang paling ampuh untuk membuat Li An anteng.
Li An tidak menjawab. Tangis dimatanya masih membekas jelas. Raut wajahnya masam penuh kesal. Namun, rona pertanda amarah itu luntur perlahan-lahan. Matanya kembali terpejam. Li An kecil yang haus perhatian merasakan kehangatan dan kelembutan di dadanya. Inilah jiwa yang ia dambakan untuk mengisi rongga kosong di dadanya sejak kemarin.
“An’er, bangun. Sarapan dulu. Kalau masih sakit, nanti boleh tidur lagi kok,” ucap Li Huanran sambil mendorong adiknya untuk duduk. Kakinya sudah kesemutan karena terlalu lama tertindih kepala adiknya, tapi ia tidak berniat mengeluhkan hal itu sama sekali.
Kali ini Li An langsung bangun. Raut wajahnya tidak lagi kesal, tapi lebih terkesan dingin. Ia menatap kakaknya sejenak dengan malas. Melihat itu, Li Huanran pun menyentil dahinya dengan keras. Li An reflek menutup dahinya yang disentil sang kakak. Tatapannya kembali tajam, tapi pipinya menggelembung sehingga tampak menggemaskan. Li Huanra tertawa cekikikan melihat itu.
“Nah … nah … makan dulu,” Li Huanran hendak menyuapkan sarapan yang ia bawa untuk adiknya. Li An menolak dan membuang muka. Namun, sang Putri Ketiga terus memaksanya dengan senyum menuntut. Li An pun dengan enggan dan sebal menerima suapan itu.
“Kakak Huanran, apa bocah pemalas itu sudah bangun?” suara Li Roulan terdengar dari luar. Tak lama kemudian, pintu kamar Li An terbuka. Untung saja Pangeran Kedelapan itu sudah menghabiskan sarapannya. Kalau tidak, Li Roulan pasti akan menjadikannya olok-olokan.
“Ternyata sudah. Gimana? Sudah enakan?” tanya Li Roulan dengan nada yang menyebalkan. Li An tidak suka membalas yang seperti itu. Untuk menjawab sepupunya yang paling sinis itu, ia berjalan keluar tanpa memberi muka sedikit pun pada Li Roulan.
“Hai! Jawab kalau ditanya!” seru Li Roulan kesal. Sayangnya, Li An sudah menghilang di balik pintu. Li Huanran pun menepuk pundak gadis itu sambil tersenyum hangat seolah memberi semangat. Ia keluar dan meminta dayangnya untuk membereskan kamar Li An. Setelah ini, ia harus segera bersiap untuk menjalankan rencana selanjutnya.
...***...
“Kenapa Kakak Huanran di sini?” tanya Li Mei dengan suara cemprengnya yang nyaring. Tatapannya tampak tajam seolah sedang berhadapan dengan rival besar. Ia terang-terangan menunjukkan permusuhan pada Li Huanran. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan berlibur. Ada danau indah yang hendak mereka kunjungi.
Putri Ketiga hanya tersenyum kecil di balik kipas merahnya. Ia menertawakan keimutan Li Mei yang jalas-jelas kesal dengan kehadirannya. Kalau dibandingkan, wajah kesalnya itu mirip-mirip tipis dengan Li An saat Li Huanran membuatnya menangis beberapa hari yang lalu. Sungguh wajah anak-anak yang menggemaskan.
“Kanapa Kakak malah tertawa?” protes Li Mei keras. Ia tahu benar gadis ayu yang duduk di depannya itu sedang menertawakannya. Li Huanran pun mengatupkan kipas merahnya. Habis tawanya, bersisa senyum sinis. Ia memberi jawaban pada Li Mei dengan tatapan dari mata ke mata.
Li An yang duduk di samping Li Huanran menghembuskan napas panjang. Ia memalingkan muka dari kakak-kakak perempuannya yang cerewet. Sebenarnya, ia ingin mengobrol dengan Li Chen. Namun, si bungsu dari Istana Pangeran Zhìzhě itu sudah tertidur dengan bersandar pada pundak kakak kandungnya.
__ADS_1
Keributan di kereta kuda Li An menghening dengan sendirinya. Li Mei akhirnya tertidur karena lelah beradu argumen dengan Putri Ketiga yang lebih dewasa darinya. Ia tidur sambil memangku kepala adiknya. Wajahnya yang tenang terlihat lebih cantik daripada saat ia sedang kesal.
Hawa kantuk dari Li Chen dan Li Mei cepat menyebar. Li An menguap lebar dengan matanya yang nyaris tertutup. Li Huanran pun mengelus kepalanya. Dengan satu sentuhan lagi, ia menaruh kepala Li An dalam pangkuannya. Kesadaran Li An masih ada sayup-sayup saat itu. Setelah Li Huanran melantunkan syair yang merdu untuknya, barulah ia terlelap.
“Hah …,” Li Huanran membuang napas sendu melihat adik-adiknya tertidur pulas, “Enaknya jadi anak-anak. Mereka sangat polos dan sesuka hati. Tak ada apa pun yang harus mereka khawatirkan. Seandainya boleh berharap, aku mau jadi anak-anak selamanya.”
Kereta kuda berguncang saat berhenti di tempat tujuan. Guncangannya yang keras membuat anak-anak terbangun. Li Huanran segera membantu Li An untuk bangkit, sedangkan Li Mei malah nyaris mendorong Li Chen dari pangkuannya. Untuk saja Li Chen tidak terjatuh.
“Kita sudah sampai. Ayo lekas turun,” Li Huanran membuka pintu keretanya. Ia pun keluar duluan. Li Roulan dan Li Xiulan yang berangkat pakai kereta lain juga sudah turun. Mereka segera menghampiri Putri Ketiga dan saling berbisik-bisik. Kadang mereka bertiga tertawa bersama, kemudian saling mengangguk satu sama lain.
“Sesuai yang sudah kita sepakati kemarin, kita akan lomba main perahu sekarang,” Li Roulan angkat bicara setelah anak-anak dari Istana Pangeran Zhìzhě keluar semua, “Timnya sudah dibagi. Aku bersama Xiu’er, Kakak Mei bersama Chen’er, dan An’er bersama Kakak Huanran.”
“Tunggu! Aku mau timnya diganti,” Li Chen mengangkat tangannya dan berseru keras, “Aku mau sama Kakak An. Kami kan sama-sama laki-laki. Kami pasti akan mengalahkan kalian.”
“Benar, kita harus mengulang kembali undiannya …,” ucapan Li Mei tertahan. Ada yang ingin ia sampaikan, tapi ia merasa itu tidak bisa disampaikan. Li Roulan pun memotongnya dengan nada yang menyebalkan seperti biasa, “Ada apa Kakak Mei? Apa Kakak ngotot ingin bersama An’er seperti adik bungsu.”
Li Mei tidak membantahnya. Namun, wajahnya terlihat kesal. Ia pun berkata, “Aku tidak peduli dengan siapa, yang penting An’er jangan bersama Kakak Huanran.”
“Eh? Kenapa begitu?” Li Huanran jelas tidak bisa menerima pengajuan Li Mei.
“Karena Kakak berbuat curang. Mana mungkin Kakak selalu bersama An’er setelah tiga kali undian diulang? Kakak curang kan? Ngaku sekarang!” protes Li Mei sebal. Ia sangat yakin dengan tebakannya. Putri ketiga itu pasti berbuat curang untuk merebut Li An dari Istana Pangeran Zhìzhě.
“Tepat!” batin Li Huanran dalam hati. Ia pun tersenyum licik dan menutup setengah wajahnya dengan kipas, lantas berkata, “Itu keberuntunganku. Lagian, apa masalahnya kalau aku duduk bersama adikku?”
“Ih …! Pokoknya undian harus diulang!” paksa Li Mei.
“Hais … baiklah, Me’er,” Li Huanran cepat mengalah. Li An yang menjadi sentral dari masalah ini hanya menonton dengan malas di tempat tunggu. Walau begitu, ia tetap memperhatikan bagaimana undiannya berjalan. Setelah tiga kali diulang seperti kemarin, muncullah anggota tim yang baru.
“Ck! Padahal, aku sudah setuju dengan hasil undian sebelumnya. Kanapa Kakak banyak protes?” tanya Li Roulan dengan kesal. Ia duduk di atas perahu bersama Li Mei yang sama kesalnya. Mereka pun mulai saling menyalahkan dan berdebat seperti biasa.
“Tak apa-apa, Chen’er. Walaupun tidak bersama An’er, kamu akan tetap menang bersamaku,” Li Xiulan mengusap kepala Li Chen dengan lembut. Li Chen pun mengangguk. Sepertinya, hanya mereka berdua saja yang serius untuk menang dalam perlombaan ini.
“Kita tidak akan kalah, kok. Walaupun tidak bersama kasim pendayung seperti mereka, kita bisa sampai paling cepat nanti. Serahkan saja padaku,” Li Huanran menepuk-nepuk pundak adiknya dengan senyum percaya diri. Li An hanya membalasnya dengan tatapan yang malas. Karena itu, lagi-lagi dahinya disentil oleh Li Huanran.
“Kakak!” Li An berseru kesal. Ia pun merajuk dan enggan membantu kakaknya untuk mendayung. Namun, hal itu bukan masalah yang besar bagi Li Huanran. Selama rencananya berjalan lancar, ia tidak keberatan untuk mendayung sampai akhir.
__ADS_1