
"Kakak An! Selamat datang,” seru Li Rouwei begitu melihat Li An masuk ke Paviliun Aixin. Gadis kecil itu langsung berhambur memeluk Pangeran Kedelapan seolah sudah beribu tahun tak bertemu. Ia menyambut Li An dengan senyum termanisnya.
“Rou’er, kamu sudah nunggu dari tadi?” Li An mengelus kepala Li Rouwei yang dikepang dua, “Kakak Huanran mana?”
“Di sana, ayo ikut kita minum teh,” Li Rouwei menarik-narik lengan Li An dengan semangat ke taman di halaman rumah. Seperti yang Li Rouwei katakan, Li Huanran sedang menunggu di sana. Putri Ketiga duduk dengan anggun di saung yang tidak berubah sejak lama itu.
Sekelompok kucing juga menyambut kedatangan Li An dengan mengeong gemas. Ada yang besar, ada yang kecil. Ada yang berbulu cerah, ada yang berbulu gelap. Mereka semua adalah anak-anak kucing generasi kedua dan ketiga di Paviliun Aixin, satu-satunya tempat yang membolehkan peliharaan masuk di komplek Istana Kebahagiaan Abadi.
Li An mengambil salah satu anak kucing yang mirip dengan Miao-Miao, kucing berbulu oranye kepirangan yang belang-belang. Ia pun duduk bergabung dengan kakak dan adiknya yang sudah menunggu sejak tadi. “Rou’er kapan sampai di sini?”
“Dah lama,” jawab Li Huanran sambil melirik Putri Kesembilan itu, “Setelah kamu pergi, dia datang.”
“Kakak An, Kakak An,” panggil Li Rouwei mencari perhatian, “Kakak ngomongin apa sama ayahanda kaisar tadi?”
“Cuma laporan biasa sih,” Li An menjawab dengan tersenyum simpul. Pertanyaan itu selalu menjadi pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Li Rouwei setiap kali ia selesai berkunjung pada Kaisar Yung Wei seolah-olah ia sedang menginterogasinya. Yah, itu bukanlah masalah sekalipun Li Rouwei melaporkannya pada Permaisuri Zhaoyi, “Sama dikasih perintah untuk ikut rapat besok lusa.”
“Rapat tentang Wilayah Utara, ‘kan?” Li Rouwei bertanya semangat.
“Hm, iya. Kok kamu tahu?” Li An mengerutkan keningnya. Itu memang bukan rapat rahasia. Namun, biasanya para putri dan pangeran yang masih di bawah usia 12 tahun tidak akan peduli dengan itu, sedangkan Putri Kesembilan masih berusia sekitar delapan sampai Sembilan tahun. Anak-anak seusianya biasanya tidak terlalu suka urusan politik dan maunya bermain saja.
“Hehe, tahu dong. Mata dan telingaku ada di mana-mana. Aku tahu semua yang terjadi di Istana Kebahagiaan Abadi,” ucap Li Rouwei sambil menepuk-nepuk dadanya bangga. Ia merasa bisa mengetahui semuanya sebagai putri bungsu dari Permaisuri Zhaoyi.
“Ya, bagus sih. Tapi kan … itu nggak penting buat kamu sekarang,” ucapan Li An meruntuhkan semua kesombongan Li Rouwei. Putri kecil itu pun menggelembungkan pipinya dan berseru marah kalau ia juga harus tahu keadaan di dalam dan luar istana.
“Aku adalah putri dari Kekaisaran Tang. Aku harus tahu kondisi setiap jengkal tanah Kekaisaran Tang,” tegas Li Rouwei. Ia pun menanyakan niat aslinya, “Kakak An, Kakak bakal pergi ke Wilayah Utara, ‘kan?”
“Belum pasti,” jawab Li An singkat, lalu memakan sebuah kue kering yang Li Huanran siapkan di meja saung, “Tergantung dari keputusan rapatnya.”
“Kalau Kakak ke Wilayah Utara, aku ikut ya,” pinta Li Rouwei sambil memasang wajah terimutnya. Li Huanran tersedak mendengar itu, sedangkan Li An mengerutkan kening. Pangeran Kedelapan pun langsung menjawab dengan tegas, “Nggak boleh. Di sana bahaya, apalagi kalau kamu perginya sama aku.”
“Emang kenapa?” Li Rouwei tidak percaya. Li An pun menyentil dahinya, lalu menjawab, “Wilayah Utara sedang bergejolak. Perang bisa terjadi kapan saja. Kamu bakal jadi beban kalau ikut ke sana.”
Li Huanran tertawa kecil di balik kipasnya yang barusan mekar, sementara Li Rouwei berseru-seru marah, “Apanya yang beban? Aku punya banyak dayang. Kakak kan nggak perlu ngurus aku. Cuman tinggal temani saja ke sana. Apa susahnya?”
“Kalau kamu pergi sama aku, berarti aku yang harus tanggung jawab atas kamu. Bibi Zhaoyi pasti marah besar kalau sampai kamu kenapa-napa,” jelas Li An kompleks, “Lagian, aku ke sana bukan buat liburan. LIburanku sama Kakak Huanran jadi terganggu nih gara-gara masalah di Wilayah Utara. Kalau boleh milih, mending aku nggak berangkat ke sana. Toh, kalau kamu memang mau banget pergi ke sana, kenapa nggak sama Kakak Xiang saja?”
“Nggak mau! Kakak Xiang nakal!” jawab Li Rouwei tajam, “Aku bakal ditinggal di tengah hutan kalau berangkat sama dia nanti.”
“Hah? Memangnya kamu pernah ditinggal di tengah hutan sendirian gitu?” Li Huanran mengatubkan kipasnya dan sedikit memiringkan wajah, tertarik pada pernyataan adik perempuan kesembilannya. Li Rouwei pun mengangguk cepat, lalu menceritakan, “Aku pernah ikut Kakak Xiang pergi berburu, terus dia malah ninggalin aku di tengah hutan. Dia bilang aku lambat. Hmph! Padahal Rou’er gadis yang lincah.”
__ADS_1
“Wah, padahal Xiang’er sayang banget sama kamu loh,” Li Huanran tak percaya dengan cerita Putri Kesembilan, “Masa dia tega ninggalin kamu kayak gitu. Pasti kamu yang salah.”
“Sayang apanya?” bantah Li Rouwei keras, “Kakak Xiang pelit. Dia nggak pernah mau nemenin Rou’er. Dia sukanya latihan terus. Badannya pasti bau kalau selesai latihan.”
“Hais … dia kan mau jadi panglima yang cakap. Jelas dia harus banyak latihan. Kamu juga jangan dekat-dekat sama dia habis latihan kalau memang nggak suka baunya,” Li Huanran mendeteksi masalah buruk yang mungkin saja akan membuntuti adik kesayangannya, “Terus, kenapa kamu datangnya ke An’er?”
“Suka-suka aku. Kakak An kan lebih baik,” jawab Li Rouwei jujur.
“Baik? Dia?” Li Huanran menunjuk Li An yang tengah bermain bersama beberapa anak kucing. Baginya, Li An lebih cocok disebut dingin, cuekan, tapi kadang imut dan perhatian dengan caranya sendiri. Karena itu, ia tak setuju saat Li Rouwei menyebutnya baik.
“Iya, Kakak An selalu memberi jananan setiap kali aku berkunjung. Dia juga harum. Kalau sama aku kan Kakak An perhatian,” Li Rouwei pun mencibir kakak perempuan ketiganya. Ia merasa memiliki posisi yang lebih baik daripada Li Huanran di mata Li An.
“Bocah …!” seru Li Huanran tertahan. Seandainya ia tak dapat mempratikkan etiket kebangsawanan dengan baik, ia pasti akan menjambak adik kecilnya yang nakal itu. Putri Kesembilan sudah sangat lancang padanya. Ia pun menutukkan kipasnya ke kepala Li Rouwei perlahan.
“Aduh!” Li Rouwei pura-pura kesakitan dan mengelus kepalanya dengan kedua tangan. Ia pun memasang wajah merajuk, lalu melapor pada Li An, “Kakak An! Kakak Huanran memukulku.”
Li An pun meminta Li Rouwei untuk mendekat padanya dengan isyarat tanpa bersuara sedikit pun. Ia mengelus dengan lembut kepala gadis kecil yang tengah terisak itu untuk menghiburnya, lalu pura-pura berbisik dengan suara yang masih dapat didengar Li Huanran, “Cup, cup. Kakak Huanran memang kadang-kadang kasar begitu. Jangan dekat-dekat dengannya kalau temperamennya sedang buruk. Itu faktor bulanan.”
“Hm,” Li Rouwei mengangguk walaupun tidak mengerti seluruh penjelasan Li An, “Kakak An, tinggalkan saja Kakak Huanran. Ayo main sama Rou’er di dalam.”
“An’er,” panggil Li Huanran dengan nada sinisnya. Ia ingin membuat perhitungan dengan adik kesayangannya itu. Kipasnya digenggam erat, siap meluncur ke kepala Li An tepat saat sampai pada jarak serangnya. Pangeran muda itu baru saja menyinggung suatu sensiitif.
“Ada apa?” potong Li Huanran dengan seringai yang seram.
Li An yang melihatnya bergidik ngeri, sedangkan Li Rouwei malah semakin memprovokasi Putri Ketiga dengan mengejek dan menjulurkan lidahnya. Gadis kecil itu pun menarik tangan Li An sambil berseru, “Kakak An, ayo lari.”
Keduanya pun berlari meninggalkan Li Huanran begitu saja. Putri Ketiga yang melihat kenakalan kedua bocah itu hanya dapat berdiri termangu dan menggenggam kipasnya lebih erat sembari menahan emosi demi menjaga martabatnnya di depan para dayang. Kalau ia sampai terpancing oleh permainan Putri Kesembilan itu, ia pasti akan jadi buah bibir di antara dayang-dayangnya.
“Hah … sudahlah. Kalian,” Li Huanran menunjuk dayang-dayangnya yang terdiam menunggu perintah, “Bawakan camilan ini pada mereka. Biarkan mereka bermain seperti biasa.”
“Baik, Tuan Putri,” sambut para dayang. Li Huanran pun menoleh pada Mimi, “Mimi, utus seorang pesuruh untuk memanggil Pangeran Ketujuh ke mari. Katakan padanya, Putri Kesembilan sedang berkunjung ke Paviliun Aixin. Gadis kecil itu harus segera dijemput kakaknya.”
Mimi pun menerima perintah Putri Ketiga dan melaksanakannya dengan segera, sementara Li Huanran menunggu dirinya sambil duduk kembali di saung taman dengan anggun nan menawan. Ia bermain bersama Yun Annchi, putri sulung Mimi yang mulai aktif berjalan ke sana-ke mari.
“Kakak An,” panggil Li Rouwei lirih, “Kenapa Kakak Huanran nggak ngejar kita? Dia nggak seru banget.”
Li An tertawa kecil. Ia telah duduk di ruang belajarnya sembari bermain dengan anak-ana kucing yang mengikutinya ke mari. Diperhatikannya Putri Kesembilan yang bersungut-sungut sambil mengamati pergerakan Li Huanran yang pasif.
Setelah bosan melihat ke luar, Li Rouwei pun mendekati Li An yang tengah membaca buku sambil mengelus-elus anak kucing di pangkuannya. Putri Kesembilan itu selalu mencium bau harum yang khas setiap kali mendekati Pangeran Kedelapan, apalagi dari rambutnya yang hitam mengkilap nan tergerai panjang sampai punggung karena mahkota pangerannya yang dilepas.
__ADS_1
“Kakak An, kenapa rambut Kakak selalu wangi?” Li Rouwei meraba rambut Li An yang terlihat lembap dan licin. Ada wangi buah-buahan yang natural di sana. Ia pun membandingkan rambut sang pangeran dengan rambutnya. Ada perbedaan yang kentara di sana.
“Aku pakai minyak rambut,” jawab Li An simpel. Ia biarkan Li Rouwei bermain dengan rambutnya. Toh, ia sedang tidak sibuk dan ingin bersantai sekarang. Li Rouwei pun memilin-milin rambut kakaknya di jari. Setiap kali habis di ujung, rambut-rambut yang mengkilap itu akan segera tergerai kembali.
“Aku juga pakai minyak rambut. Kok hasilnya beda? Kakak pakai minyak apa?” tanya Li Rouwei sambil menyisir-nyisir rambut kakaknya. Ia suka melakukannya karena rambut Li An yang halus dan lurus. Baunya yang khas buah-buahan juga membuatnya tambah suka. Li An pun menjawab pertanyaannya, “Minyak zaitun. Aku pakai minyak zaitun yang tumbuh di Daratan Mediteran. Para pedagang asing yang menjualnya.”
“Wah, aku boleh minta nggak? Kakak punya banyak kan?” Li Rouwei tertarik.
Li An kembali tertawa. Matanya yang sipit terpejam. Ia terus mengelus-elus anak kucing di pangkuannya. Dengan senyum yang mengembang tipis, ia pun menawarkan, “Aku punya beberapa sih. Mau coba?”
“Mau!” jawab Li Rouwei semangat, “Mana? Mana?”
“Kamu tunggu dulu di sini,” Li An menaruh anak kucingnya. Ia pun bangkit berdiri, lalu pergi meninggalkan Li Rouwei sebentar. Saat kembali, pangeran muda itu membawa sebuah botol di tangannya. Ketika dibuka penutup botol itu, bau alam yang natural semerbak keluar dari sana seperti aroma rerumputan yang harum.
“Rou’er!” panggil sebuah suara serak-serak basah yang tiba-tiba masuk ke ruang belajar Li An, “Kamu ngapain ke sini?”
Li Rouwei yang baru saja selesai memakai minyak zaitun langsung menoleh dengan wajah yang kesal pada pemilik suara itu. Saking kesalnya, ia pun membentaknya, “Kakak cerewet! Justru, kenapa Kakak yang ke mari?”
“Apa!?” Li Xiang terguncang sebab dipanggil cerewet. Yah, dia memang sedikit keras kalau terkait dengan adik perempuan kandungnya, “Aku ke sini karena Kakak Huanran memanggilku. Katanya, kamu bikin masalah lagi di sini.”
“Hmph! Sama-sama cerewet! Satunya kaku, satunya bau!” gerutu Li Rouwei melampiaskan kekesalannya. Itu membuat Li An lagi-lagi tertawa kecil. Ia selalu terhibur setiap kali Li Rouwei dan Li Xiang datang bersama. Mereka pasti akan bertengkar karena masalah-masalah sepele. Baginya, itu lucu untuk ditonton sebagai hiburan. Yah, setidaknya kalau Pangeran Kedelapan tidak sedang belajar.
“Apa kamu bilang? Siapa yang kamu panggil bau?” bentak Li Xiang merasa tersindir. Selama ini, adiknya itu selalu terang-terangan mengatainya bau setiap usai latihan. Li Rouwei pun menyatukan kedua tangannya di dada, “Huh! Tuh sadar. Buat apa tanya?”
“Rau’er! Sini kamu!” Li Xiang mengepalkan tangannya. Ia telah melewati upacara kedewasaannya. Badannya tegap dan memancarkan wibawa seorang pangeran khas panglima. Saat ia mengepalkan tangannya begitu, ia akan terlihat gagah dan menawan di mata para gadis bangsawan. Namun, Li Rouwei langsung berlari darinya dan berlindung di balik Li An.
“Kakak An, ada penyusup,” lapor Li Rouwei sambil menuding kakaknya. Rambutnya tergerai ke bawah saat ia mengintip dari balik tubuh Li An. Rambut gadis kecil itu belum jadi dikepang karena Li Xiang buru-buru mengusiknya. Ia pun bertitah pada Li An, “Usir dia sekarang! Dia hanya akan mengganggu.”
“Rou’er …!” seru Li Xiang dengan suara yang sedikit tertahan. Rasanya gemas sekali melihat kenakalan gadis itu. Ia sampai terheran-heran bagaimana adiknya bisa tumbuh dengan peringai begitu. Ia pun mempertanyakannya pada Li An, “An’An, apa yang kauajarkan pada Rou’er?”
“Hah? Aku hanya menemaninya menata rambut. Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu,” Li An mengusap kepala Li Rouwei yang bersembunyi di balik tubuhnya. Ia pun menatap gadis kecil itu dan bertanya pada Li Xiang, “Sebenarnya, kenapa Rou’er sangat membencimu?”
“Kakak Xiang cerewet!” Li Rouwei yang menjawab, “Dia suka teriak-teriak, sok ngatur, nggak taat aturan lagi.”
“….” Li Xiang tak dapat berkata apa-apa meskipun sangat ingin membantahnya. Dulu, dia memang anak yang bebal dan sombong, suka mengatur dan egois. Namun, ia sudah mulai berubah sejak upacara kedewasaannya.
“Hais … kalian selalu rebut setiap kali datang ke mari,” Li Huanran datang sambil menggendong Yun Annchi, sedangkan Mimi mendampinginya di samping, “Bisakah kalian membiarkan kami beristirahat dulu. Kami baru sampai dari perjalanan jauh pagi ini. Bawalah kedamaian atau setidknya tenanglah selama di sini.”
“Dia dulu …,” aduan Li Rouwei terhenti saat Li An menyuruhnya diam dengan satu telunjuk. Li Huanran pun tersenyum, lantas mengajak adik-diknya untuk mengobrol santai di taman. Sebelum itu, ia memanggil Li Rouwei untuk mengepang kembali rambutnya.
__ADS_1