Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bab 054: Wajah Gadis itu


__ADS_3

Li An menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Ia ingin memejamkan mata. Namun, setiap kali matanya terpejam, wajah gadis itu muncul di kepalanya.


Gadis itu memiliki pesona yang berbeda dari kebanyakan gadis lainnya. Entah apa itu, tapi Li An seolah tak dapat melupakannya. Hatinya pun suka berdebar setiap kali mengingatnya.


"Hais …," Li An bangkit duduk dan meremas kepalanya. Ia menurunkan kakinya dari peraduan, lantas berjalan ke jendela besar yang ada di kamarnya. Dengan sekali gerakan, kedua tangannya membuka jendela itu sehingga masuklah cahaya rembulan nan lembut temaram.


"Kami bertemu lagi setelah sekian lama," gumam Li An pelan. Matanya memandang ke langit dengan sendu. Ada rindu yang terlukis samar di wajahnya.


Itu berbeda dengan kerinduannya pada Selir Ai, ibunda susuannya. Itu adalah kerinduan yang diliputi dengan gejolak di hati terdalamnya. Bohong kalau Li An berkata ia tak mengetahui perasaan itu. Sejak dulu, ia sudah sadar bahwa itu adalah cinta. Namun, ia senantiasa memendamnya dan tak pernah menceritakan hal itu pada orang lain.


"Apa yang harus kulakukan?" ucap Li An dalam kebingungannya. Ia tahu bahwa cintanya semakin bertambah besar setiap kali ia bertemu kembali dengan gadis itu. Namun, ia tak tahu apa yang harus diperbuatnya dengan perasaan itu.


"Terlalu cepat bagiku untuk menikah," dalih Li An menolak ide yang kadang berseliweran dalam benaknya. Andai saja ia mau berkata jujur pada dirinya sendiri, ia pasti menyadari bahwa itu hanyalah alasan semata. Tidak ada salahnya ia berkunjung kepada wali gadis itu dan meminangnya. Semua masalah akan selesai begitu ia mengucapkan akadnya.


Lagi pula, Li An memiliki kedekatan yang erat dengan keluarga gadis itu. Mereka tidak mungkin menolak pinangannya. Jangankan mereka, para bangsawan tinggi pun akan dengan senang hati menikahkan anak gadisnya jika sang pangeran meminangnya.


"Aku belum siap," Li An kembali berdalih. Lagi-lagi, itu hanyalah alasan, padahal ia sudah memiliki segalanya. Kehormatan, kekayaan, dan serikat yang ternama lagi besar. Namun, ia merasa masih belum "Mampu" dalam hatinya. Andai Selir Ai masih ada di sisinya saat ini, apakah yang akan sang ibunda itu katakan padanya?


"Aku kan bisa bertanya pada Ibunda Shu?" tanya Li An pada dirinya sendiri. Sekejap kemudian, ia menggeleng cepat. Entah mengapa, ia merasa itu bukan ide yang bagus.


Angin malam berhembus semakin kencang. Lama Li An termenung sendirian, ia pun akhirnya bisa tidur di dua per tiga malam. Begitu mentari terbit menjulang, barulah ia bangun dalam kebingungan.


Li An menatap ke samping. Jendela di kamarnya masih saja terbuka lebar sejak semalam. Tidak, Pangeran Kedelapan yakin bahwa ia sudah menutupnya sebelum tidur semalam. Itu berarti, ada seseorang yang membukakannya pagi ini.

__ADS_1


Pada meja yang terletak di samping ranjangnya, senampan serapan telah disiapkan lengkap dengan minumannya. Ada sup, makanan laut, dan juga nasi di sana. Ini adalah paket makanan favorit Li An setiap kali ia berkunjung ke Guangzhou.


Tok! Tok! Tok!


Pintu diketuk. Detik kemudian, suara seorang pria terdengar dari luar, "Pangeran, apakah Anda sudah bangun?"


"Sudah," jawab Li An singkat. Kebetulan ia baru saja menghabiskan sarapannya. Ia pun beranjak dari kursi di kamarnya, lalu membukakan pintu.


"Kakak~!" Li Rouwei berlari memeluk Li An begitu pintu dibuka. Tenaganya sangat kuat sampai mendorong Pangeran Kedelapan mundur selangkah.


"Kakak," panggil Li Rouwei lagi. Gadis itu menoleh ke atas, menatap wajah kakaknya yang masih berantakan. Ia pun bertanya dengan riangnya, "Kakak Huanran tidak akan pulang ke ibu kota lagi, kan? Dia sudah menikah, kan?"


"I–iya," Li An jadi penasaran dengan perilaku adiknya itu. Li Rouwei terlihat amat bahagia saat mendengar jawabannya. Gadis itu pun bertanya untuk memastikan dugaannya, "Berarti, Kakak Huanran tidak akan tinggal di Paviliun Aixin lagi?"


"Hm~" Li Rouwei menggeleng dengan seulas senyum manis di bibirnya, "Bukan apa-apa. Aku hanya sedang senang saja hari ini."


"Oh, begitu, ya," Li An membalasnya dengan senyuman yang sama. Ia sudah bisa paham maksud Putri Kesembilan itu hanya dengan melihat senyumnya saja. Detik kemudian, ia mengalihkan pandangannya pada seorang pria yang tadi mengetuk pintunya.


"Ada apa, Kak Jili?" tanya Li An pada Yun Jili, sang Sarjana Rubah Perak. Sarjana berambut putih panjang itu pun menjura, menundukkan badannya sebagai tanda penghormatan. Setelah Li An memintanya bangkit, barulah ia menegakkan badan.


"Tuan putri sudah memberikan keputusannya," kata Yun Jili melaporkan berita yang diterimanya, "Mimi akan ikut bersama saya untuk terus melayani Anda."


"Bagaimana dengan, Kakakku?" tanya Li An lagi.

__ADS_1


"Kata tuan putri, Anda tidak perlu risau. Tuan Ali tidak kekurangan orang untuk menjadi dayang beliau," jelas Yun Jili melanjutkan laporannya. Ia pun menyerahkan surat yang Li Huanran titipkan melalui Mimi untuk Li An. Pangeran Kedelapan langsung menerimanya dan memutuskan untuk membaca surat itu nanti.


"Aku ingin mengobrol denganmu setelah ini," kata Li An kemudian, "Bisakah kamu tunggu aku di teras sebentar?"


"Tentu, Pangeran," Yun Jili langsung melaksanakan perintah itu.


Tanpa berlama-lama, Li An bergegas mengganti pakaiannya. Ia pun pergi ke teras bersama Li Rouwei yang sejak tadi menunggunya. Begitu duduk di kursi, ia langsung bertanya pada Yun Jili, "Kakak, bagaimana rasanya pernikahan dan rumah tangga?"


"Apa?!" bukannya jawaban Yun Jili yang terdengar, malah suara melengking Li Rouwei yang membalas, "Kakak mau menikah? Kakak serius? Padahal Kakak Huanran baru saja menikah kemarin?"


"Bu–bukan begitu, Rou'er," jawab Li An sedikit gelagapan, "Aku bukannya mau menikah. Hanya penasaran saja."


Li Rouwei tidak percaya begitu saja. Ada keruh kekesalan yang muncul di wajahnya. Ia bahkan membuang muka sambil berdecak kesal setelah itu.


Li An hanya dapat menghela napas melihat tingkah adiknya. Ia tidak ingin memikirkan apa sebabnya. Tangannya pun membelai kepala Li Rouwei, bermaksud memberinya pengertian, "Aku serius, Rou'er. Aku masih belum ada niatan untuk menikah dalam waktu dekat."


"Jadi," Li An kini menoleh pada Yun Jili, "Apa Kak Jili bisa menjelaskannya?"


"Pernikahan adalah sesuatu yang indah, Pangeran," Yun Jili langsung menjawab. Ia tak memedulikan Li Rouwei yang menatapnya dengan tajam dan tetap menjelaskan. Di akhir penjelasannya, sarjana itu memberikan dorongan pada Li An, "Ingatlah baik-baik, Pangeran. Kalau Anda sudah tertarik pada seorang gadis, lebih baik Anda segera meminangnya sebelum orang lain meminangnya lebih dulu. Pastikan Anda benar-benar cocok dengan gadis itu. Cobalah mengenalnya dengan cara yang baik. Itu lebih baik untuk menjaga Anda dan dia."


"Hm," Li An manggut-manggut pelan. Wajah 'gadis' itu muncul di benaknya sebentar. Untung saja pipinya tidak merona merah. Pikirannya sedang fokus pada penjelasan yang Yun Jili paparkan barusan.


Di sampingnya, Li Rouwei terlihat berwajah masam. Padahal, ia masih menyunggingkan senyum yang manis seindah rembulan beberapa saat yang lalu. Ditatapnya Yun Jili penuh permusuhan. Sayangnya, yang ditatap sama sekali tak terpengaruh dengan mata mematikan itu. Yun Jili bahkan tersenyum puas menceritakan kisah-kisah indah kehidupan rumah tangganya yang mungil bersama Mimi.

__ADS_1


__ADS_2