Sang Pangeran Pengembara

Sang Pangeran Pengembara
Bab 072: Dua Kakek Tua


__ADS_3

“Ambilkan air di telaga yang ada di bawah sana!” kata si kakek tua memerintah, “Kalian harus bergegas kalau ingin menyelamatkan bocah ini.”


Tanpa diperintah dua kali, Ma Yuan bergegas mengambil ember yang ada di samping gubuk. Ia menuruni lereng ke arah yang ditunjuk oleh si kakek tua. Karena tidak tahu medan di sekitar, ia hanya bisa mengikuti petunjuk yang diberikan oleh si kakek tua.


Mentari semakin dalam di telan bumi. Sinarnya semakin redup seiring berjalannya detik waktu yang terus berlalu. Hawa dingin pun mulai terasa di hutan yang lebat itu.


“Ambilkan daun jari-jari yang ada di halaman!” titah si kakek tua lagi, “Kamu, ambilkan ambilkan cobek dan muntu di sama, lalu tumbuk akar-akaran yang ada di dalam wadah kayu tua itu.”


“Hai, jangan diam saja,” seru si kakek tua lagi, “Nyalakan perapian yang ada di halaman segera!”


Para Pendekar Cenangkas melaksanakan semua perintah itu tanpa mengeluh sama sekali. Mereka bekerja secepat mungkin sebelum mentari sepenuhnya tenggelam. Di semburat terakhir sinar mentari, Ma Yuan datang membawakan dua ember air dari telaga di lembah. Ia terlihat amat lelah dan ngos-ngosan.


“Akhirnya datang juga,” si kakek tua menatap Ma Yuan dengan ketus, “Cepat ke mari dan bersihkan luka tuan mudamu itu! Hati-hati! Jangan celupkan kain yang kotor di air yang bersih, tapi siramkan air bersih ke kain yang kotor untuk membersihkannya.”


“Ba–baik!” Ma Yuan sedikit gelagapan menanggapi perintah dari kakek tua itu. Sejujurnya, ia masih belum percaya padanya. Namun, ia tidak banyak protes karena Wang Hongli pun tidak protes.


Di luar, Jin Mi dan Wang Hongli berhasil membuat perapian. Mereka membuatkan obor untuk menerangi proses pengobatan. Melihat itu, si kakek tua pun menyodorkan sebuah lentera tua yang bentuknya seperti teko bercorong panjang. Itu adalah lentera khas yang berasal dari negeri-negeri di barat.


Li An terdengar merintih saat Ma Yuan membersihkan lukanya. Ia menahan sakit yang semakin terasa karena bersentuhan dengan air. Setelah pembersihan luka selesai, si kakek tua menghampirinya dan mengoleskan herbal yang telah selesai diramu kepada Li An.

__ADS_1


“Tahanlah sebentar!” kata si kakek tua yang mengerti jelas penderitaan Li An, “Sakit ini hanya sementara. Kamu akan pulih dalam beberapa hari selama dirawat dengan baik.”


“Aku heran karena rumah ini menyala,” suara parau seorang kakek tua lainnya terdengar sehingga mengagetkan para pendekar—keberadaan kakek itu tidak terdeteksi sama sekali, “Rupanya Tabib Ong sedang kedatangan tamu setelah sekian lamanya.”


“Oh, Pertapa Tua,” Tabib Ong yang baru saja selesai mengoleskan herbal ke luka pertama Li An tampak senang dengan kedatangan kakek tua itu, “Kebetulan sekali. Bocah-bocah malang ini sedang terluka. Bantu aku mengajari mereka cara membuat herbal agar bisa mengobati dirinya sendiri. Mereka juga dalam bahaya kalau tidak segera diobati.”


“Hm, baiklah,” kakek tua yang dipanggil Pertapa Tua itu mengangguk singkat. Ia pun mengajak Wang Hongli dan yang lainnya untuk meramu obat yang baru, sementara Tabib Ong masih tetap mengurus Li An.


“Kakek Pertapa Tua,” panggil Wang Hongli yang kini memperhatikan Pertapa Tua meramu obat untuk mereka, “Sebenarnya, siapakah Anda berdua?”


“Aku?” si Pertapa Tua menoleh. Alisnya yang putih terangkat karena ia mengerutkan dahi, “Aku hanya orang tua yang mengasingkan diri dari kaumku, sedangkan kawanku yang di sana itu adalah mantan seorang tabib kerajaan yang besar di masa lalu. Karena pergantian dinasti, dia terpaksa pergi meninggalkan negerinya dan tinggal di hutan ini bersamaku.”


“...”


“Kakek Pertapa Tua,” panggil Wang Hongli lagi, “Mengapa Anda mau mengobati orang asing seperti kami? Bagaimana kalau ternyata kami adalah orang jahat yang bisa jadi melukai Anda berdua?”


“Kalian sendiri bagaimana? Bukankah bagi kalian, kami adalah orang asing?” si Pertapa Tua mengembalikan pertanyaan itu pada Wang Hongli, “Bagaimana kalau ternyata kami berdua adalah ahli racun yang berpura-pura mengobati kalian, lalu mengambil harta kalian?”


Wang Hongli tersentak. Andai ia tidak mengerti sedikit pun tentang herbal, reaksinya pasti lebih ekstrim daripada itu. Sejauh ini, ia mengamati bahwa tidak ada racun yang ditumbuk dalam proses peramuan herbal. Karena itu, ia percaya bahwa si kakek tua adalah tabib sungguhan.

__ADS_1


“Kalau kalian orang jahat,” si Pertapa Tua terus menumbuk herbal dengan tenang, “Kalian pasti akan segera mendapat azab Allah setelah mencelakai kami. Itu adalah balasan bagi orang-orang yang zalim.”


“Kakek Pertapa Tua berasal dari mana?” Wang Hongli merasa baru pertama kali mendengar logat dari si Pertapa Tua itu. Selama menemani Li An, ia sudah banyak berkunjung ke berbagai daerah. Ia sudah pernah melihat banyak kebudayaan dan mendengar berbagai aksen bahasa yang khas dari setiap daerah. Namun, logat si Pertapa Tua ini belum pernah didengarnya sama sekali.


“Aku dari Tanah Suci,” jawab si Pertapa Tua, “Negeri Kampung Damai yang saat ini dikuasai oleh orang-orang Rum.”


“Rum?” Wang Hongli mengerutkan keningnya, “Apa Kakek berasal dari Dunia Barat?”


“Ya, ratusan tahun lalu, aku adalah seorang rahib di sana,” jawab si Pertapa Tua  lagi, “Namun, orang-orang mulai menulis ulang Al-Kitab dari Allah dan mengubahnya. Mereka mengambil yang mereka sukai dan mencampakkan yang tidak mereka sukai. Ketika aku memberi mereka peringatan, mereka malah mencemoohku, bahkan mengusirku dengan kekuatan militer orang-orang Rum. Sungguh, Tanah Suci itu akan kembali kepada orang-orang yang beriman, sedangkan mereka yang zalim pasti akan mendapat balasannya.”


“...”


Wang Hongli terdiam. Ia tidak tahu banyak tentang negeri-negeri di Barat nun jauh di sana. Pengetahuannya hanya sedikit. Itu pun ia dapat karena mendengar cerita dari Li An yang kadang suka mengulang kembali pelajaran yang didapatkannya saat berada Guangzhou.


Tanah Suci itu sudah dibebaskan dari orang-orang Rum. Itulah yang Wang Hongli tahu. Namun, hanya sebatas itu saja. Ia tidak tahu pasti siapa yang sudah mengusir orang-orang Rum itu dari Tanah Suci. Sang Pendekar Cenangkas Kembar tidak begitu ingat dengan kisah yang Pangeran Kedelapan ceritakan.


“Tuan Pendekar, setiap insan itu pasti akan mendapatkan kabar gembira dan peringatan dari Tuhannya,” lanjut si Pertapa Tua, “Aku yakin bahwa setelah orang-orang beriman membebaskan Tanah Suci, mereka akan sampai di tanah ini membawa syariatnya. Ini sekadar nasihat dariku. Kalau sampai kamu bertemu dengan mereka, maka telitilah dan lihat apa yang mereka bawa. Apabila mereka membawa hukum-hukum asli dari Allah, maka merekalah orang-orang beriman itu.”


Tanpa diberi tahu lebih lanjut, Wang Hongli sadar bahwa ia sendiri pernah bertemu dengan orang-orang beriman yang dikatakan oleh si Pertapa Tua itu. Hanya saja, ia masih belum begitu yakin dengan ajaran yang mereka bawa. Terlepas dari segala ajaran baik yang mereka bawa, bagaimana ia bisa tahu bahwa kitab mereka itu diturunkan oleh Tuhan?

__ADS_1


__ADS_2