
"Apa!?" seru Li Huanran tak percaya, "Wei-Wei ikut An'er ke Wilayah Utara?"
"Ya, kukira kamu sudah tahu karena Mimi ditugaskan untuk menjaganya," ucap Selir Shu dengan ekspresi wajahnya yang tenang, "Apa dia tidak mengatakannya padamu sama sekali?"
"Aku tahu kalau dia akan ikut suaminya ke Wilayah Utara, tapi aku nggak tahu kalau dia dapat tugas seperti itu," Li Huanran masih belum percaya dengan kabar yang baru didengarnya itu. Padahal, ia baru saja berniat untuk menjenguk adik tirinya yang sedang sakit itu sekaligus menyampaikan salam dari Li An untuknya.
"Ibunda, apakah aku boleh ...," belum selesai Li Huanran mengungkapkan permohonannya, Selir Shu sudah lebih dulu menolaknya, "Tidak boleh. Kamu hanya akan merepotkan An'er di sana."
"Tapi, tapi Wei-Wei ...," Li Huanran berusaha mencari pembelaan. Namun, lagi-lagi Selir Shu memotong ucapannya, "Dia akan belajar sangat keras di Wilayah Utara yang paling jauh dari perbatasan. Zhouyi sudah meminta Sarjana Rubah Perak untuk mendidiknya dengan tegas."
"Sama saja, dia kan tetap ikut ke Wilayah Utara," Li Huanran bersikeras. Selir Shu membuang napas pelan melihat sifat kekanak-kanakan putrinya itu. Ia pun memukul kepala Li Huanran dengan kipasnya.
"Hais ... jangan bilang kamu iri pada adikmu sendiri. Apa kamu lupa? Umurmu sudah sangat dewasa sekarang," omel Selir Shu, "Harusnya kamu bisa mengerti maksud An'er melarangmu untuk pergi bersamanya."
"Itu ...," Li Huanran kehabisan kata-kata. Tentu ia mengerti maksudnya. Ia hanya khawatir akan terjadi sesuatu pada Li An.
"Sudahlah, Huan'er. Aku tahu kamu sangat menyayangi adikmu itu. Namun, kamu harus ingat bahwa dia juga sudah besar sekarang," kata Selir Shu dengan nada bicaranya yang lembut meskipun dingin, "Dia akan dewasa dan mandiri tahun depan. Kamu tidak bisa terus menganggapnya sebagai anak kecil."
Li Huanran terdiam. Kepalanya tertunduk lesu. Ia setuju dengan perkataan ibundanya itu, tapi perasaannya berusaha menolak. Rasanya seperti dihujami dilema yang berat. Bukan karena ia tak dapat ikut ke Wilayah Utara, tapi karena waktu kebersamaannya dengan Li An tinggal sedikit lagi.
"Kamu juga harus segera mempersiapkan diri untuk menikah, Huan'er. Setelah tahun depan, tidak akan ada lagi alasan perwalian," Selir Shu mengingatkan. Ia mengerti perasaan putrinya. Karena itu, ia sudah menyiapkan rencana agar anak gadis semata wayangnya itu tak terlalu terseret ke dalam politik seperti dirinya.
"Baik, Ibunda," jawab Li Huanran dengan alunan suara yang terdengar lemah dan tak rela, tapi terpaksa patuh, "Saya pamit undur diri."
"Pergilah," ucap Selir Shu lirih. Dilihatnya punggung Putri Ketiga yang lenyap di balik pintu. Ia pun menatap ke luar jendela setelah Li Huanran pergi. Pandangannya lurus ke langit yang berawan. Namun, batinnya memandang jauh menembus cakrawala.
__ADS_1
...***...
"Nggak mau! Aku nggak mau makan sup hijau itu!" bentak Li Rouwei menolak makanan yang Mimi berikan. Sore ini, rombongan delegasi beristirahat di desa terdekat. Mereka memenuhi seluruh penginapan yang ada di desa itu.
"Tuan Putri, Anda harus makan. Ini adalah menu yang Yang Mulia Permaisuri siapkan untuk Anda," bujuk Mimi dengan wajah yang dibuat seramah mungkin. Ia tak berani terlalu memaksa Putri Kesembilan.
"Nggak mau! Bawa pergi jauh-jauh!" suruh Li Rouwei rewel. Ia mendorong mangkuk khusus yang disiapkan untuknya itu. Mimi pun menghela napas. Seperti yang orang-orang ceritakan, mengasuh Putri Kesembilan itu tidaklah mudah.
"Tuan Putri, saya mohon," pinta Mimi dengan halus, "Anda akan sakit kalau tidak makan."
"Ganti yang lain! Kamu kan punya yang lain," titah Li Rouwei tegas. Namun, Mimi berani menolaknya atas dasar perintah permaisuri. "Saya memang memiliki kewajiban untuk mengikuti perintah Anda, Tuan Putri. Namun, amanat dari Yang Mulia Permaisuri lebih besar daripada perintah Anda."
"Ibunda kan nggak ada di sini," protes Li Rouwei. Ia menggelembungkan pipinya sebal, "Cepat buatkan aku makanan yang lain!"
"Tuan Putri, sup ini adalah makanan paling sedap di dunia. Istri saya langsung yang membuatnya. Anda akan menyesal kalau tidak memakannya," kata Yun Jili dengan intonasi yang ramah, tapi mengandung intimidasi samar. Sarjana berambut putih itu menyeringai tipis. Tak seperti istrinya, ia memiliki keberanian yang tinggi untuk mengatur para putri dan pangeran yang menjadi muridnya, "Anda berada dalam pengawasan saya, Tuan Putri. Saya bisa mengembalikan Anda pada Yang Mulia Kaisar kapan saja jika Anda tidak menurut."
"Anda ikut dalam rombongan delegasi ini bukan untuk bermain, Tuan Putri. Anda akan dituntut untuk banyak belajar," Yun Jili mengingatkan, "Sup ini sangat bergizi dan cocok untuk pertumbuhan Anda. Mohon jangan mempersulit diri Anda sendiri."
"Aku nggak mau!" Li Rouwei membuang muka dan menutup mulutnya dengan kedua tangan, tetap tak mau menerima sup hijau pemberian Mimi itu. Yun Jili pun menghela napas berat, lantas mengabarkan, "Sayang sekali, sepertinya Putri Kesembilan tidak lolos ujiannya. Kita akan segera kembali ke ibu kota besok."
"Hai! Tunggu! Apa maksudmu?" Li Rouwei menemukan tanda bahaya. Ia sangat jenuh di Istana Kebahagiaan Abadi. Meskipun mahligai itu luas dan megah, Putri Kesembilan tetap merasa terkurung di sana. Ia tak ingin cepat-cepat kembali ke sana setelah berhasil keluar dari istana untuk pertama kalinya.
"Sederhana saja, Tuan Putri. Seperti yang sudah saya jelaskan sejak tadi pagi," terang Yun Jili, "Anda akan mendapatkan berbagai ujian selama perjalanan. Jika Anda gagal, Yang Mulia Kaisar Yung Wei memerintahkan kami untuk langsung memulangkan Anda."
"Aku nggak mau pulang!" seru Li Rouwei dengan suara nyaringnya, "Kamu sendiri saja yang pulang sana! Ibunda sudah mengizinkanku untuk ikut."
__ADS_1
"Kami memiliki mandat untuk membawa Anda, Tuan Putri," Yun Jili tak peduli dengan posisi tinggi ibunda Li Rouwei, Permaisuri Zhouyi. Ia bahkan tak pernah peduli dengan karirnya sebagai Sarjana Agung di Istana Kekaisaran.
Seandainya ia diusir dari istana, ia bisa pergi ke mana pun dengan posisinya di Serikat Dagang Fuli yang independen dari kekaisaran. Kalau pun ia tetap tidak dapat tinggal di tanah Kekaisaran Tang dengan posisinya itu, ia masih dapat mengembara ke dunia yang luasnya tak terbilang ini. Tanah Kekaisaran Tang hanyalah secuil darinya.
"Hais ... hai, Bocah. Jangan banyak protes," tegur Li Bei yang kebetulan baru sampai di ruang makan. Ia menatap adik tirinya dengan sebal. Perjalanannya ini jadi terasa lebih berat hanya karena keberadaan gadis kecil itu, "Lebih baik kamu pulang saja kalau nggak mau menurut dengan arahan Sarjana Yun. Perjalanan ini bukan untuk berwisata."
"Hmph!" Li Rouwei malas membalas saudaranya. Ia pun melihat Li An yang baru datang juga. Gadis kecil itu langsung turun dari bangkunya dan menghampiri Pangeran Kedelapan.
"Rou'er, kamu sudah makan?" tanya Li An begitu Putri Kesembilan sampai di dekatnya. Li Rouwei spontan menggeleng. Ia langsung mengadukan keberatannya memakan sup hijau.
"Hais ... Rou'er, itu adalah makanan yang disiapkan untukmu. Jangan melulu menolaknya," kata Li An sembari duduk di bangku. Li Rouwei pun ikut duduk di sampingnya. Ia memperhatikan buku berjilid yang dibawa oleh kakaknya.
"Kakak juga masih harus belajar?" tanya Li Rouwei penasaran, "Kakak kan sudah jadi sarjana?"
"Justru karena itu aku harus lebih giat lagi untuk belajar dan meneliti. Ilmu di dunia ini banyaknya tak terbilang," ucap Li An yanng kemudian meminta Li Rouwei untuk segera makan karena Mimi sudah cukup lama menunggu. "Aku juga makan sup itu dulu. Rasanya sangat enak kok. Coba saja dulu. Masakan Mimi selalu istimewa."
"Apa aku akan pintar seperti Kakak kalau memakannya?" tanya Li Rouwei dengan polosnya. Li An pun mengerutkan kening, lalu tersenyum dan mengangguk, "Sup hijau itu baik untuk kesehatanmu. Kalau kamu sehat, kamu akan lebih mudah menangkap pelajaran. Kalau kamu bisa dengan mudah memahami pelajaran, kamu bahkan bisa lebih pintar dariku karena Rou'er gadis yang cerdas."
"Tuan Putri," panggil Mimi begitu menemukan momen yang pas. Ia berharap-harap cemas agar gadis kecil itu tidak menolak masakannya lagi.
"Makanlah! Aku akan menemanimu di sini," bujuk Li An memberi dukungan. Ia mengatakannya sambil tersenyum takzim. Li Rouwei pun tergerak oleh bujukannya, "Bibi, berikan supnya!"
Mimi pun bernapas lega. Ia tak mengerti bagaimana Pangeran Kedelapan bisa mempengaruhi sang putri yang supernakal itu. Namun, ia merasa sangat terbantu olehnya.
Li Rouwei tak langsung melahap supnya. Ia masih curiga dengan rasanya. Gadis kecil itu pun menyuapnya perlahan. Ia bahkan menutup mata saat merasakannya. Li An tertawa kecil melihatnya.
__ADS_1
"Enak kan?" kata Li An setelah Li Rouwei sukses mengunyah suapan pertama sup hijaunya.