
Li An, Wang Hongli, dan Ling Bao menyusuri sebuah anak sungai. Ketika mentari sedang terik-teriknya, mereka mendapati kawanan rusa yang sedang asyik bermain di dekat bantaran sungai. Rusa-rusa itu sangat banyak dan cantik. Pasti tidak akan sulit memburunyanya.
“Pangeran, mereka terlihat,” lapor Wang Hongli semangat, “Bagaimana kalau kita bidik mereka dari sini?”
“Satu panah, satu rusa,” Ling Bao, pendekar jangkun yang seperguruan dengan Wang Hongli tak kalah semangatnya, “Jangan sampai ada tembakan yang meleset.”
“Benar, pastikan kita mendapat buruan yang banyak hari ini,” Li An pun jadi ikut antusias. Tanpa memperpanjang obrolan lagi, ia menarik anak panah dari busurnya. Dengan sekali tembakan, anak panah itu meluncur cepat ke salah satu rusa paling besar. Anak panahnya pun disusul oleh dua anak panah lainnya.
“Tepat sasaran!” seru Wang Hongli senang. Ia bergegas memacu kudanya ke arah kawanan rusa itu. Begitu juga Li An dan Ling Bao. Begitu mereka mendekat, para rusa langsung menjauh dari mereka.
“Kita masih bisa mendapatkan beberapa lagi,” Li An kembali menembakkan anak panahnya. Anak panah itu lagi-lagi tepat mengenai sasaran. Seekor rusa langsung ambruk begitu terkena tembakannya. Ling Bao juga berusaha untuk menembak lagi, tapi anak panahnya malah mengenai batang pohon di sekitar para rusa berlari.
“Saya masih bisa lagi,” Ling Bao langsung menembakkan dua anak panah dari busurnya. Sayang sekali, kedua anak panah itu meleset dari sasarannya. Ia pun mencoba sekali lagi dengan sebuah anak panah. Barulah yang terakhir ini ia berhasil mengenainya.
“Lima ekor rusa,” seru Wang Hongli senang, “Ini sudah lebih dari cukup untuk tiga orang. Pangeran, mari kita kembali ke perkemahan. Kita tidak akan bisa membawa rusa ini kalau memburu lebih banyak.”
“Kamu benar,” Li An mengangguk paham, “Ikat rusa-rusa itu. Jangan sampai mereka kabur di tengah jalan.”
“Ha!” seru Wang Hongli dan Ling Bao kompak.
Mereka bertiga pun kembali ke perkemahan dengan lima hewan buruan. Orang-orang berdecak kagum melihatnya. Otugai sampai terkekeh senang melihat banyaknya rusa yang didapatkan oleh orang-orang dari kekaisaran. Jika ditotal seluruhnya, kelompok Otugai dan kelompok Li An mendapat jumlah hasil buruan yang hampir sama.
“Sayang sekali, kita belum bertemu dengan beruang merah,” ujar Ling Bao sembari menatap seluruh hasil buruannya. Hewan-hewan yang masih hidup dikurung dalam kandang. Luka mereka diobati agar dapat bertahan hidup. Sebagian yang lain disembelih untuk makan malam.
__ADS_1
“Beruang merah?” Otugai tertarik dengan ucapan Ling Bao, “Kalian ingin memburu makhluk itu?”
“Ya, Pangeran Agung menginginkannya,” Ling Bao mengangguk.
Otugai pun terkekeh. Ia telah salah menyangka Pangeran Agung. Pemuda itu ternyata di luar ekspektasinya. Ia jadi lebih tertarik lagi untuk menjalin hubungan yang dekat dengan Li An. “Aku suka semangat Pangeran Agungmu itu. Kami bisa menunjukkan tempat beruang merah itu pada kalian besok. Tempatnya cukup jauh dari sini. Mungkin butuh waktu sekitar tiga hari naik kuda. Ikutlah dengan kami!”
“Hm, itu tawaran yang bagus,” Ling Bao manggut-manggut pelan, “Saya akan menyampaikannya kepada Pangeran Agung.”
“Hahaha! Tentu, sampaikanlah!” Otugai kembali terkekeh senang. Ia pun mengangkat minumannya tinggi-tinggi, lantas berseru pada orang-orangnya, “Kawan-kawan, kita akan berburu beruang merah besok!”
“Hooo …!” orang-orang Otugai ikut berseru senang. Sama seperti pemimpinnya, mereka juga suka tantangan. Perburuan beruang merah esok hari akan menjadi lebih seru dari perburuan hari ini.
“Begitu, ya?” Li An mengalihkan pena dan kertasnya begitu mendapat laporan dari Ling Bao, “Itu bagus. Selain mendapatkan bantuan, kita bisa semakin mengakrabkan diri dengan Otugai Shad.”
“Apa maksudmu?” Li An yang baru saja hendak kembali menulis jadi menoleh dengan tatapan tak suka. Ia merasa tersinggung oleh pertanyaan itu. Secara tersirat, pertanyaan itu sudah menafikkan usaha diplomasinya dengan Kekhaganan Tarkan.
“Ini hanya kemungkinan saja,” Ling Bao langsung menyadari tatapan itu. Ia segera meluruskan maksudnya, “Saya tentu tidak ingin hal itu terjadi. Namun, jika hal itu benar-benar terjadi dan kita kembali berperang, apa yang akan Anda lakukan?”
“Aku …,” Li An enggan membayangkan hal itu. Akan tetapi, kemungkinan buruk itu memang bisa saja terjadi. Pangeran Kedelapan harus memberikan keputusan yang bijak jika tetiba perdamaian dan persahabatan dibatalkan atas suatu sebab tertentu.
“... harus berusaha untuk mendamaikannya kembali,” lanjut Li An lirih. Ia mengalihkan pandangannya kembali kepada kertas dan pena. Lilin redup menemani aktivitas literasinya. Ia pun menggeleng pelan dengan helaan napas berat, berharap agar hal buruk itu tidak terjadi.
“Anda mengemban suatu yang tidak akan pernah bisa saya emban,” balas Ling Bao dengan seulas senyum tipis di bibirnya. Ia pun berlutut di hadapan Li An, lantas berkata, “Pangeran, saya akan selalu berada di sisi Anda. Apa pun yang Anda perintahkan, pasti saya akan menuntaskannya.”
__ADS_1
“Terima kasih, Pendekar Bao,” Li An membalas dengan seulas senyum tipis yang sama. Ia menghormati keteguhan pendekarnya itu. Meski sempat marah sebentar, ia bersyukur memiliki pengikut yang setia seperti Wang Hongli dan Ling Bao.
***
“Hai, Kawan,” Xiao Chyou menepuk pundak salah seorang pemburu dari Tarkan. Pemburu yang sedang terkantuk-kantuk itu langsung tersentak. Ia yang ditugaskan untuk menjaga sekitar tidak menyangka akan ketiduran seperti ini.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Xiao Chyou sok akrab. Ia menunjukkan raut wajah empati seolah dirinya tahu betul rasa lelahnya berjaga itu. Yah, dia memang sudah sering bertugas untuk menjaga logistik, jadi dia memang mengetahuinya. Karena itu, ia ingin segera naik jabatan.
“Aku baik-baik saja,” pemburu yang ditepuk Xiao Chyou menggeleng-geleng kuat, berusaha menghilangkan kantuknya. Ia pun berkata, “Kamu tidak perlu cemas. Perkemahan ini akan baik-baik saja selama aku yang berjaga.”
“Tapi,” Xiao Chyou memberi tatapan selidik yang menusuk, “Kamu terlihat sangat lelah, Kawan. Biarkan aku menggantikanmu saja. Aku sudah cukup beristirahat.”
“Oh, benarkah?” pemburu itu tampaknya tertarik dengan tawaran Xiao Chyou, padahal ia tidak mengenalnya sama sekali. Menurut sepengetahuan dirinya, orang yang menawarinya itu adalah salah seorang kawan sesukunya.
“Tentu saja, kamu bisa beristirahat sekarang,” Xiao Chyou mengatakan ucapan itu setulus mungkin agar tidak dicurigai, “Kawan, taruh saja panahmu itu di situ. Aku yang akan membereskannya untukmu. Kamu bisa langsung beristirahat saja.”
“Oh, Kawan. Kamu sungguh baik,” pemburu Tarkan itu bergumam dengan kantuk yang semakin menjadi. Ia pun meninggalkan Xiao Chyou sendirian dan kembali ke tendanya. Begitu ia pergi, dua orang pria datang menghampiri Xiao Chyou.
“Jalankan rencananya sekarang!” ucap Xiao Chyou bertitah. Suaranya lirih, tapi masih bisa didengar dengan jelas oleh Qin Guang dan Shien Lubu. Mereka pun mengangguk, sedangkan Xiao Chyou berjaga untuk mereka.
“Besok pagi, para bed***h itu akan saling bergaduh,” gumam Shien Lubu girang sambil mengutak-atik perlengkapan berburu para pemburu, “Aku tidak sabar melihatnya.”
“Selama Pangeran Kedelapan terluka, rencana ini akan sukses,” Qin Guang menyeringai senang, “Kita akan mendapat kenaikan jabatan yang cepat sesampainya di kekaisaran nanti.”
__ADS_1