
"tidak bisa !! kamu harus antar ke ruang ceo arlo sendiri kan, kamu yang buat kopi dan ceo meminta kamu yang antara, sekarang kata asisten damen." ujar anna membuat ika bingung sekaligus gugup.
ika takut kalau ke ruang ceonya, kemungkinan dia tidak akan bisa menghilangkan rasa takutnya dan nantinya akan ketahuan, atas goresan di mobil mahal arlo. karena itu dia meminta anna yang ke ruangan arlo.
"aduh saya sudah berusaha untuk tenang tapi kenapa harus ke ruangnya, mungkin saya akan benar benar tamat kali ini." pikir ika dengan berjalan ke arah dapur kecil tempat biasa dia buat kopi untuk beberapa seniornya yang suka minum kopi.
beberapa menit kemudian kopi telah siap.
ika mulai berjalan ke arah ruangan ceo arlo dengan secangkir kopi, dia berdiri di depan pintu dengan gugup tapi berusaha untuk menenangkan pikirannya dengan menghela nafas lama untuk mengisi udara ke paru paru nya lalu perlahan menghembuskannya.
"kamu harus bisa davika putri, segalanya sudah terlanjur, jadi takut pun tidak akan bisa di hindar jadi maju entah apa jadinya pasrah, anggap saja pelajaran supaya lain kali pikir dulu baru melakukannya, jangan sudah terlanjur baru takut." pikir ika dengan mengamati diri sendiri lalu mengangkat tangan dan mengetuk pintu ruang ceonya.
tok tok tok "permisi tuan kopinya sudah siap" ujar ika setelah menyetuk pintu.
"masuk" pintah arlo membuat ika seolah jiwa meninggalkan raganya ika membuka pintu itu dengan perlahan lalu masuk .
"permisi tuan" ujar ika setelah memasuki ruangan itu lalu berjalan ke arah arlo dengan kepala tertunduk.setiap langkah kakinya seolah melayang tidak menyentuh lantai.
"kenapa berdiri di situ bawa kopi ke sini !! " ucap arlo dengan menepuk meja kerjanya membuat ika sadar ternyata setelah memasuki ruangan itu, dia tidak berjalan atau pun bergerak hanya mematung di depan pintu.
"ternyata dari tadi hanya pikiran saya saja yang berjalan, karna itu saya merasa seperti melayang setiap langkah kaki saya." pikir ika lalu berjalan ke arah arlo dengan pandangan matanya hanya tertuju cangkir kopi di nampan yang di tangannya.
"ini tuan kopinya." ujar ika dengan meletakkan kopi itu di atas meja arlo dengan tangan gemetaran.
"kamu kenapa gemetar kegitu, apa takut sama saya ya ? hingga gemetaran tangan kamu. " ujar arlo dengan kedua alis terangkat seolah menyindir..
"kamu pasti takut dengan saya kan tikus jelek karna itu gemetaran, ternyata kamu bar bar tapi juga penakut " pikir arlo dalam hati penuh kemenangan
"tidak tuan tangan saya memang sering gemetaran kalau habis memukul orang." ucap ika seolah mematahkan rahang arlo.
"apa !! " betak arlo saat mendengar ucapan ika.
barusan dia tersenyum penuh kemenangan dan langsung di patahkan oleh ucap ika.
__ADS_1
lalu arlo mengambil kopi itu dan meminumnya dengan hati yang tidak senang.
"kurang manis buat lagi !! " ujar arlo dengan mendorong cangkir itu lalu kembali memandang komputer yang berada di mejanya dengan raut wajah serius.
"ko bisa sih, saya sudah membuatnya sama dengan kemarin saya buat, takaran kopi dan gula sama seperti kemarin, dia bahkan memuji kopi yang dia minum karena itu saya buat lagi yang sama." pikir ika dengan mengambil cangkir kopi itu dan kembali ke dapur kecil itu.
5 menit kemudian ika kembali lagi dengan secangkir kopi.
tok tok "kopi sudah siap tuan." ujar ika memasuki ruangan itu tanpa menunggu jawaban arlo, lalu meletakkan cangkir kopi itu lagi.
"silahkan di minum tuan" ujar ika memperhatikan arlo yang tidak peduli dengan ucapannya membuat ika geram dalam hati. lalu berbalik hendak pergi.
"siapa yang menyuruh kamu untuk pergi !! saya belum mengatakan apa apa main pergi begitu saja." ujar arlo dengan senyum jahat, membuat bulu kuduk ika berdiri.
"maaf tuan saya pikir tuan lagi sibuk jadi lebih baik saya keluar supaya tidak menggangu tuan kerja." ujar ika dengan kembali menghadap arlo
"kamu selalu pandai bicara tunggu saja pembalasan saya." pikir arlo lalu sekali lagi mengecap kopi di cangkir itu.
"terlalu manis !! apa kamu ingin membuat saya punya penyakit kencing manis dengan menaruh terlalu banyak gula di kopi ya ? " ujar arlo langsung menyimpan kembali cangkir kopi itu.
sekali lagi ika pergi buat kopi beberapa minit kemudian ika kembali dengan cangkir kopi yang ketiga berharap tidak di permainkan lagi
"ini kopi nya tuan saya sudah buat yang baru lagi dan gulanya sudah saya kurangi. " ujar ika lalu menaruh kopi di meja kerja arlo sekali lagi.dan langsung di ambil arlo dan meminumnya.
"kenapa kopi tidak ada rasa manis sedikit pun ? " ujar arlo dengan muka serius membuat ika ingin melemparkan cangkir kopi yang di meja itu ke wajah arlo agar merasa lega.
kali ini ika tidak menyatakan apa apa lagi hanya mengambil cangkir kopi itu dan berlalu pergi.membuat arlo ingin tertawa.
beberapa menit kemudian.... sekali lagi ika kembali dengan secangkir kopi di tangannya .
"silahkan di minum. " ujar ika kesal
arlo berkata sekali lagi
__ADS_1
" ini kopi tidak ada rasanya ini seperti kopi tawar." ujar arlo membuat ika langsung menagis.
"tuan kenapa mengerjai saya, ini kopi ya ke empat." ujar ika sudah tidak tahan lagi dengan perbuatan arlo
"yang pertama gula satu sendok, tuan bilang kurang manis ,
kopi yang kedua, gula dua sendok teh, tuan bilang terlalu manis,
kopi yang ketiga, gula satu setengah sendok tuan bilang tidak ada manisnya.
dan kopi yang ke empat garam dua sendok, tuan bilang seperti kopi tawar .mau kamu apa ? " teriak ika dengan air mata bercucuran
ika menagis bukan hanya kopi, tapi juga karena rasa takut ketahuan atas goresan di mobil sport arlo, jadi perasaannya campur aduk hingga tidak tertahan lagi,dan akhirnya meluap dengan tangisan .
arlo yang merasakan perasaan tidak enak saat melihat ika menangis dengan suara senduh membuatnya merasa bersalah dan juga tidak enak hati.
arlo bangun dari tempat duduknya dan memutari meja kerjanya hingga beberapa di samping ika. lalu secara refleks menarik ika kedalam pelukannya .
"maaf saya tidak bermaksud mengerjai kamu." ujar arlo. " ucapan orlo seperti sebuah pukulan keras membuat tangisan ika semakin bertambah.
entah kenapa tiba tiba arlo merasakan perasaan asing yang menerkam di dadanya saat mendengar suara tangisan ika, semakin ika menagis membuat hatinya sakit hingga merangkul ika dengan erat dan membenamkan kepalanya di selah bahu dan kepala ika. arlo memasukan kaki yang beralaskan sepatu di bawah telapak kaki ika hingga ika berdiri di atas kaki arlo, dengan masih memeluk lalu melangkahkan kakinya perlahan dengan terus mendekap ika erat.
sedangkan ika tidak sadar dengan perbuatan arlo, karena masih dalam suasana emosional.membuatnya tidak bisa mencerna apa pun.
"maaf , maaf jangan menangis lagi " ujar arlo yang terus melangkah dengan posisi kaki ika di atas kakinya hendak mengarah ke sofa yang tidak jauh dari mereka.
arlo yang tidak tau cara menghibur perempuan, saat perempuan itu menagis, bagi arlo kalau ada perempuan menagis itu hanya air mata tipuan, sekeras apapun kamu menagis dia tidak akan peduli. tapi kali ini secara tidak sadar dia memeluk ika.
tapi semakin arlo memeluk ika dengan erat rasa sakit di dadanya langsung hilang di ganti dengan perasaan yang tidak bisa dia pahami.
"rasanya ada yang salah dengan semua ini." pikir arlo dengan berhenti saat sudah di tepi sofa otaknya belum bisa memahami apa yang sedang dia lakukan.
arlo berdiri di tepi sofa hendak duduk tapi masih merangkul ika, seketika arlo bengong dengan apa yang baru dia lakukan.
__ADS_1
πterimakasih sudah membaca π
π π π π π π π π π π π π π π π