SAYA MAMANYA ANAK KAMU

SAYA MAMANYA ANAK KAMU
hanya atasan dan bawahan


__ADS_3

"deddy lihat saya dan dewi mengambar wajah ayah dengan sangat bagus." ujar aden dengan memperlihatkan sketsa yang di buatnya bersama ika, arlo menerima sketsa itu, dan melihatnya sambil tersenyum.



"sangat bagus nanti ayah simpan di kantor." ucap arlo membuat arden senang sedangkan ika yang berdiri di samping arlo aga kesal, tiba tiba telfon masuk ,arlo keluar dari ruangan itu untuk menjawab panggilan telepon masuk itu.


ayo anak-anak sekarang menggambar sendiri tidak boleh di bantu mamanya, jadi ibu- ibu, hanya perlu melihat dan jangan membantu biarkan anak menggambar sesuka hati mereka." ujar wali kelas arden.


sedangkan ika juga ikut mengambar, ikan mengambar apa yang di pikirannya.beberapa menit kemudian ika selesai, ikan kaget dengan apa yang di gambarnya.


"ya ampun ! apa yang saya gambar, ini kan saya dan anjing laut mesum itu." pikir ika panik, mulai melipat kertas itu, arlo yang baru selesai telfon dan kembali tidak sengaja matanya melihat kepanikan ika, yang cepat cepat memasukkan sesuatu ke tasnya.


"apa yang kamu lakukan, hingga panik seperti itu ? " tanya arlo setelah di samping ika dan arden, ikan berbalik dan melihat arlo.


"tidak ada, saya tidak panik , hanya aga panas, memangnya kamu melihat sesuatu ? " tanya ika berharap arlo tidak melihatnya menyembunyikan sketsa wajahnya dan arlo.


"apa yang harus saya lihat, saya hanya melihat kamu panik tadi "


"syukurlah ternyata dia tidak melihat saya memasukkan sketsa kedalam tas slamat " ujar ika lega atas jawaban arlo.


arlo berdiri di samping dengan pandangan mencari bi sofi luna dan nana.


"aden sudah selesai belum menggambarnya? daddy mau balik ke kantor bersama dewi. " ujar arlo membuat arden menghentikan aktifitas gambarnya.


"Why so fast? daddy ! " ujar arden protes.


"daddy mau keluar kota, jadi harus kembali ke office untuk kerja, tidak boleh nakal. ingat nurut sama bi sofi, ka luna dan nana ya, daddy akan cepat pulang." ujar arlo dengan mengelus kepala aden.


ika berpamitan ke pada semua yang ada di aula itu, aden memeluk ika dengan erat,


"boleh saya sering ketemu dengan kaka dewi ?"

__ADS_1


"boleh sayang ." ujar ika dengan mengecup kening arden setelah melepaskan pelukannya.


ika keluar menuju parkiran mobil arlo sedang arlo masih bicara dengan bi sofi dan rider, beberapa menit kemudian arlo keluar dan langsung membuka pintu mobil itu untuk ika masuk.


"aduh lupa arden bilang ingin bicara dengan kamu sebentar . " ujar arlo setelah mereka berada dalam mobilnya.


"tapi tadi dia tidak bicara apa pun ! " ujar ika dengan membuka pintu mobil itu lalu menyimpan tasnya dan keluar kembali ke aula di mana arden berada.


setelah kepergian ika arlo langsung melihat isi tas ika, karena tadi dia sempat melihat ika memasukkan sesuatu ke dalam tasnya, saat ika bertanya arlo pura pura tidak melihat.jadi arlo menugu kesempatan untuk melihat apa yang di sembunyikan ika.



ternyata dia mengambar saya dan dia waktu di atas tempat tidur dan juga di rumahnya." ujar arlo dengan melihat sketsa itu, lalu mengambil handphonenya untuk memotret sketsa yang di buat ika, dan langsung melipat kembali ke dalam tas ika.


"ternyata dia masih mengingat semua moment dia dan saya." ujar arlo senang sedangkan ika baru pulang dengan kesal karena arden tidak menyatakan apa pun kepada arlo.


"arden tidak menyatakan apa pun , dia bilang tidak memita untuk bicara dengan saya ! dan kamu bilang arden ingin bicara dengan saya ?"


"mungkin saya salah dengar. " ujar arlo membuag muka agar ika tidak melihat senyumannya.


arlo yang melihat ika marah langsung bersemangat.


"hy nona davika putri jagan marah saya hanya tidak fokus saat arden bicara."


"ya kah ! setelah di dalam arden bingung karena merasa tidak memita untuk bicara dengan saya." ujar ika dengan melihat arlo dan arlo tidak akan membuang kesempatan itu, arlo memegang dagu ika dan langsung saja di cium, ika yang merasakan perlakuan arlo padanya yang tiba tiba terbelalak.


"ini untuk tidak marah, ini untuk minta maaf , ini hukumnya karena mengoda saya di hadapan banyak orang." ujar arlo dengan kedua tangan di pipi ika lalu mencium nya seiring dengan setiap kata kata nya


arlo mencium ika di pingir jalan setelah menghentikan mobilnya di pingir jalan keluar dari area sekolah arden.


"kenapa kamu selalu mencium saya seenak jidatnya ! kita tidak punya hubungan apa pun, hanya atasan dan bawahan , dan lagi pula kamu itu akan menjadi kaka ipar saya, jadi tolong di kondisikan sikap mesum mu itu ! "

__ADS_1


ika mendorong arlo dengan kesal, tapi dorongan ika seperti sebuah sentuhan ringan di badan kekar arlo.


"itu hukum karena mengoda saya tadi, untung di hadapan banyak orang , kalau seperti sekarang saya pasti akan memakan kamu di sini, dan saya hanya mesum dengan kamu saja tidak ada yang bisa membuat saya mesum, hanya kamu seorang, dan kalau bisa mesum ke semua perempuan, kaka mu sudah saya makan." ujar arlo dengan berbisik di telinga ika, lalu perlahan mengigit daun telinga ika dengan ringan, di ikuti dengan sapuan lidahnya yang basah dan hangat, membuat badan ika bergetar.


arlo mengakat kepalanya setelah puas mempermainkan telinga ika, lalu menatap wajah ika yang merona dengan mata tertutup, arlo tersenyum puas melihat.


"jangan marah saya tadi salah dengar, pikir arden ingin bicara dengan kamu. " ujar arlo dengan sikap biasa saja, tapi dalam hati sikap ika yang merespon sentuhannya dan juga senang karena ika mengingatkan setiap moment bersamanya.


ika membuka mata dan melihat arlo dengan malu lalu mengalihkan pandangannya, arlo melajukan mobilnya dengan suasana dalam mobil yang hening, ika tidak tau harus berkata apa karena setiap dia marah, arlo selalu berhasil mengendalikan pikiranny.


beberapa menit kemudian ika dan arlo sampai di Alexander grup, mereka berdua menaiki lift itu dengan suasana hening, sesampai di dalam ruangan arlo di sambut dengan setumpuk dokumen menugu untuk di kerjakan, sedangkan ika juga menuju meja kerjanya lalu mulai menyibukkan dirinya,


satu jam kemudian ika melihat jam tangan nya ternyata sudah jam makan siang, ika bergegas ingin pergi makan karena sudah lapar, sedangkan arlo masih fokus dengan kerjaannya hingga tidak menyadari ika pergi makan siang.


"saya mau pergi makan siang, apa kamu ingin makan sesuatu ? " tanya ika kepada arlo tapi arlo tidak menjawab, ika menugu beberapa menit kemudian arlo tetap masih fokus dengan layar komputernya, dan akhirnya ika memilih untuk pergi.


"kemana tikus jelek ini ? ah ternyata sudah jam makan siang," ujar arlo dengan keluar menuju ruangan meeting di mana asisten damen dengan tuan besar Davit Alexander, arlo masuk dan langsung mulai meetingnya dua puluh menit kemudian meeting selesai dan arlo berserta rombongan tuan besar Davit Alexander ke luar kota, makan siang hanya di beri waktu satu jam, ika kembali saat berada di ruangan itu tidak nampak sosok arlo dalam ruangan itu.


" hmm mungkin dia pergi makan siang." pikiran ika dengan menuju meja kerjanya, ika kaget dengan tumpukan di meja kerjanya, tapi sekaget apa pun, sebagai seorang karyawan magang dia tetap harus kerjakan apa pun yang di minta atasnya, ika mulai membuka dokumen di atas mejanya dan ternyata itu dokumen pendataan perusahaan alexander tahun lalu.


"kenapa dia menyimpan dokumen pendataan tahun lalu di sini, buat apa ?


apa yang harus saya lakukan." ujar ika dengan membawa satu map, dan keluar untuk bertanya kepada anna.


sedangkan arlo dalam perjalanan menuju bandara, arlo memantau gerak gerik ika dari cctv di ruangan itu yang tersambung ke handphonenya lalu tersenyum, membuat asisten damen yang berada di sampingnya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku arlo, beberapa menit kemudian mereka sampai di bandara da langsung ke pesawat pribadi keluarga alexander.


"ka anna kenapa dokumen pendataan, tahun lalu berada di meja kerja saya ka? "


"coba saya lihat ? "ujar anna mengulurkan tangan menerima satu map yang di bawah ika, lalu melihatnya.


πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰

__ADS_1


πŸ€trimakasih sudah membacaπŸ€


♻️♻️♻️♻️♻️♻️♻️♻️♻️♻️♻️♻️♻️♻️♻️♻️


__ADS_2