
"apa maksud tuan berkata seperti itu, apa hubungannya jeritan ika dengan arden mempunyai adik ? apa nona asura akan kembali, jadi arden akan punya adik ya ? " pertanyaan demi pertanyaan yang di tanyakan anna membuatnya sendiri kebingungan sekaligus penasaran.
"kalau ingin tau nantikan saja, saya juga penasaran, tapi sebelum itu siapkan dulu ruangan meeting untuk jam satu tiga puluh untuk dua belas orang." ujar asisten damen berlalu ke ruangannya dengan senang melihat arlo yang mulai dekat dengan perempuan lain selain asura.
"di tanya baik baik malah di tinggal pergi, tapi dia tetap menawan." pikir anna dengan pipinya merona.
arlo yang sudah bersama asura hampir sembilan tahun, dan asisten damen lah yang selalu bersama asura dan arlo, jadi asisten damen tau betul dengan sikap arlo.
sedangkan arlo arden dan ika, sudah menaiki mobil arlo, ika memangku arden, suasana dalam mobil itu terasa ramai dengan ocehan arden yang penuh semangat, karena ika ikut mengantarnya ke sekolah, arlo yang menyetir mobil sportnya sesekali mencuri pandang kepada ika, yang sedang memangku arden.
"seandainya davina bisa cepat dekat dengan arden mungkin arden akan terlihat bahagia seperti sekarang, tapi kenapa arden dan davina semakin hari bukan semakin dekat, tapi malah semakin menjauh. "arlo yang terus memikirkan kedekatan davina dan arden.
dalam perjalanan menuju sekolah, arden sangat bahagia, karena di temani ika ke sekolah, arden mulai cerita dengan ika tentang sekolah dan teman teman nya yang punya orang tua lengkap.
"I am always accompanied by aunt Sofia, kakak Luna and Nana to school, sekarang aden senang di temani dewi cantik dan wangi. " ujar arden dengan melihat wajah ika, tiba-tiba telfon masuk membuat arlo kaget dengan suara itu, telfon masuk itu langsung tersambung Bluetooth mobil arlo, ika yang mendengar suara perempuan langsung menatap arlo dengan tatapan kosong sesaat.
hallo, ar, honey, apa kabar? hallo, hallo ar, apa kamu dengar suara saya?" tanya si penelfon.
, hy Mom Asura hasn't called Arden in a long time." teriak Arden setelah mendengar suara sih penelfon.
"hy boy, apa kabar sayang mama sibuk jadi tidak sempat menelfon you and deddy." sebutan mama dari asura yang di dengar telinga ika, membuat ika kaget hingga menelan silvanya, arlo yang melihat raut wajah ika yang terlihat emosi , spontan mengakhiri obrolan telfon dengan asura, tampa berbicara sekatah pu.
"daddy kenapa di matikan telfon dari mom asura ? saya ingin mengenalkan dewiku dengan mom." ujar aden membuat ika emosi tanpa sadar.
"jangan lihat saya seperti itu, saya sudah mengakhiri obrolan telfon dengan mama arden." ujar arlo canggung dengan pandangan ika yang melototinya.
"ya ampun kenapa saya jadi emosi, mendengar sebutan mama dari perempuan yang menelfon baru san. dia kan mamanya arden apa hubungannya dengan saya? sehingga membuat saya marah, oh davika putri kayanya otak mu mulai bermasalah." ujar ika dalam hati dengan tangan menutup mulutnya, arlo yang terus memperhatikan raut wajah ika yang tidak berubah, langsung keluar jalur jalan dan menghentikan mobilnya.
__ADS_1
"den tutup telinga !" pintah arlo dengan tegas kepada arden dan arden langsung menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.
"jangan marah, dia tidak tinggal di sini, namanya asura, dia tinggal di luar negeri sebelum arden lahir." ucapan arlo membuat emosi ika berkurang di ganti dengan kebingungan atas ucapa arlo.
"bukan urusan saya juga, harus tau siapa penelfon kamu! " ujar ika blak blakan, hingga memalingkan wajahnya keluar pintu kaca mobil itu, arlo menarik wajah ika agar melihatnya.
"nanti saya akan ceritakan tapi setelah pulang dari luar kota." ujar arlo membuat pandangan ika mulai melembut.
"kenapa asura harus telfon di saat tikus jelek ini ada ! kenapa harus hari ini ? " pikir arlo sedikit kesal , lalu mematikan handphonenya agar asura tidak menelfonnya lagi.
"deddy sudah belum ? " tanya arden dengan masih menunduk dengan kedua tangan di telinganya , arlo memberi isyarat ke aden dengan menyentuh tangan yang di telinganya tanda belum selesai.
sedangkan di luar negeri....
di mana asura terus menelfon arlo
"kenapa ar mengakhiri panggilan telepon dari saya, dia tidak biasanya ke gini, sial apa yang sedang terjadi dengannya." asura marah karena arlo mengakhir obrolan telfon sepihak dengannya bahkan sudah berulang kali asura coba untuk menelfon kembali tepi tetap saja nomor tidak aktif.
"tidak mungkin dia sibuk, kalau dia sibuk tidak mungkin ada arden di dekatnya, oh yah orang yang saya minta untuk memantau arlo sudah ada kabar belum? " tanya asura dengan melotiti asistennya.
"sudah, tapi sebulan ini mereka tidak dapat kabar apa pun dari arlo, dan aktfitas arlo sama seperti biasanya sibuk dengan bisnis ar entertaimen dan juga desainer interior kakenya lagi usaha jual beli properti milik ayahnya.' ujar once dengan raut wajah senang
"rasakan, emang enak di telfon tapi malah di matikan hhh puas banget saya mendengarnya. " ucap once dalam hati.
sedangkan arden yang terus menunda dengan menutupi telinga mulai protes
"daddy kenapa saya harus menutup telinga begini lama?" ujar arden sekali lagi dan hal yang sama di lakukan arlo membuat arden menurut.
__ADS_1
itu kebiasaan arlo dengan arden saat bersama asura atau pun beberapa artis, saat dalam mobil, arlo ingin bicara atau melakukan hal lainnya dalam mobilnya dan ada arden, pasti menyuruh menutup telinga atau matanya, arlo tidak ingin putra semata wayang mendengar hal-hal yang tidak perlu di dengar atau di lihat
arlo menarik dagu ika hingga mendekatinya dan langsung di sambut dengan kecupan ringan di bibir ika.
"iiiih, cari kesempatan dalam kesempitan." ujar ika dengan mendorong arlo.
"raut wajah yang seperti itu yang saya suka. " ujar arlo dengan melihat pipi ika yang merona karena kecupan ringan ringkas di bibir ika, dan menyuruh arden melepaskan tangan dari telinganya.
arden mengangkat kepalanya dan melihat arlo dan kembali melihat.
"what are you doing daddy? "
"nothing" jawab arlo singkat dengan mengendarai mobilnya menuju sekolah arden.
sedangkan ika duduk dengan terus memikirkan ucapan arlo hingga tidak menyadari kalau mereka sudah sampai di sekolah
"sudah sampai ! ayo turun saya antar kamu masuk. " arlo yang sudah keluar mobilnya dan berada di samping kiri tempat ika dan arden duduk, dan membuka pintu membuat arden merangkul leher ika, karena tidak ingin keluar dari mobil dan tidak ingin jauh dari ika.
" why do we get to school so early? " ujar aden dengan merangkul leher ika dengan kuat , arlo berusaha untuk menarik arden dari ika tapi tidak sengaja tangannya menyentuh dada ika sontak keduanya saling memandang dengan menahan nafas mereka, dan hal itu seolah membuat waktu berhenti berdetak, dan hanya terdengar irama detak jantung mereka.
"dewiku, saya tidak ingin ke sekolah, saya ingin bersama dewi, boleh tidak? " ujar arde dengan suara yang terdengar sedih membuat ika sadar, ucap Arden seperti membuat hati ika ikut sedih, spontan kedua tangan merangkul arden lalu mengecup kepala aden.
"boleh, kaka akan ikut bersama arden masuk kedalam sekolah , jadi tidak boleh sedih ya ." ujar ika dengan kedua tangan di kepala aden, arden yang merangkul leher ika perlahan melepaskan rangkulanya dan melihat ika, ika langsung memberikan kecupan ringan, setiap rengekan arden membuat dada ika sesak.
"kenapa saya selalu merasa perasaan ini setiap bersama arden, saat berada di mall dan juga saat berada di kediaman keluarga alexander, saya juga merasakan dada terasa sesak." pikir ika dengan erat merangkul arden membuat arlo yang melihatnya merasa marah.
πππππππππππππππ
__ADS_1
π²trimakasih sudah membaca π²
β»οΈβ»οΈβ»οΈβ»οΈβ»οΈβ»οΈβ»οΈβ»οΈβ»οΈβ»οΈβ»οΈβ»οΈβ»οΈβ»οΈβ»οΈ