School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
Moral Family


__ADS_3

Disini keluarga Mezz itu punya beberapa aturan mengikuti aturan nenek buyut Lydya..


Happy Reading~


!:sorry'bouttypo~ teehee~


🖌Moral Family


Pagi menjelang dan pas sekali hari ini sekolah libur karena ada rapat dewan guru yang disampaikan melalui pesan e-mail ke orangtua. Jadi, hari ini Lydya bisa bangun lebih siang. Itu niat awal Lydya sebelum sang mami membangunkannya dengan paksa dan membawanya ke rumah belajar.


Lydya menumpukkan kepalanya dengan sebelah tangannya saat dirinya yang masih mengantuk dengan perasaan kesal dan malas. Bisa-bisanya mami nya itu memintanya untuk mengajari etika keluarga kepada laki-laki yang semalam menginap di rumah keluarganya.


“Lydya, ayolah. Hanya kali ini saja,”


Zyta sejak dirinya membawa paksa Lydya untuk mengikutinya ke rumah belajar dan meminta putrinya itu untuk mengajari Gio.


“Mami, bukannya aku tidak mau hanya saja untuk apa anak ini harus belajar etika keluarga?”


Lydya menunjuk Gio yang duduk dengan tenang menatap ibu dan anak di depannya. Zyta mengedarkan pandangannya ke segala arah, bingung ingin menjawab apa.


“Ada beberapa hal yang terjadi,” ujar seseorang yang baru saja memasuki rumah belajar ingin menjemput pujaannya untuk kembali ke rumah utama.


“Apa itu?”


Zyta memastikan maksud dari kedua orangtuanya ini. Lagi-lagi pasti ada yang mereka sembunyikan darinya. Lydya sudah menyiapkan mentalnya.


“Kami tidak bisa menjelaskannya sekarang tetapi papi rasa hanya kamu yang cocok mengajarkan etika keluarga,”


Lydya menatap papi nya curiga dan benar saja dugaan Lydya, papi nya juga mengalihkan pandangannya ke arah mami nya yang mengalihkan pandangannya ke arah lain. Lydya menatap curiga kedua orangtua nya secara bergantian dan menghela napas panjang.


“Baiklah. Baiklah. Jika itu mau kalian. Aku menyerah,”


Adam dan Zyta tersenyum lebar saat Lydya menuruti keinginan mereka. Lydya kalah dari kedua orangtua nya.


“Kalau begitu kami pergi dulu. Selamat belajar kalian berdua,”

__ADS_1


Zyta pergi meninggalkan rumah belajar dengan suaminya. Lydya menatap kesal kedua orangtua nya yang pergi dengan gembira dan tidak memikirkan dirinya yang sekarang merasa sangat terbebani. Gio yang sejak tadi diam hanya bisa melihat interaksi keluarga kecil itu.


Pagi tadi setelah dia bangun dan akan keluar kamar tiba-tiba saja dirinya sudah disambut dengan tiga orang pelayan yang menunggunya didepan pintu sejak dia masih tertidur pulas.


Belum sempat Gio meninggalkan ruangan, dirinya sudah dipaksa masuk kembali dan sekarang dia memakai pakaian yang mereka bilang namanya kimono, tidak jauh beda dengan kimono yang dia tau.



[Nee chingu-ya mohon abaikan tas itu ya! susah cari yng gk pake tas😒 tasnya bener2 deh]


Sebelum kemari, ibunya sudah bilang kalau keluarga sahabat ibunya ini ada darah orang Jepang jadi wajar kalau rumah dan seisinya bergaya Jepang juga ibunya bilang untuk tidak kaget saat mereka disambut dengan orang-orangnya yang berpakaian Jepang.


Dan perempuan disebelah nya memakai pakaian yang berbeda dengan dirinya dan juga berbeda dengan pakaian yang dikenakannya kemarin.



Gio tidak terlalu memahami pakaian-pakaian yang keluarga ini kenakan. Terlalu banyak dan beragam.


“Jika ada yang ingin kau tanyakan. Tanyakan saja,” ujar Lydya menginterupsi setelah beberapa menit mereka terdiam.


Sebenarnya banyak sekali yang ingin dia tanyakan tetapi Gio tidak tau harus memulai dari mana. Lydya menghembuskan napasnya panjang dan berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju rak buku. Gerak-gerik Lydya yang tengah mengambil buku tak luput dari pandangan Gio.


Gio sedikit terpesona dengan Lydya yang fokus memilih-milih buku dari rak tersebut dan seperti yang dia dengar dari teman-temannya kalau Lydya itu terkenal memiliki pesona yang dapat membuat laki-laki akan memandangnya walau sejenak saja.


“Lama-lama aku bisa seperti orang tua yang banyak menghela napas,” ujar Lydya meletakkan buku-buku yang diambilnya di atas meja.


“Karena mami meminta ku untuk mengajari mu etika keluarga maka hari ini aku akan mengajari etika paling dasar keluarga ini, padahal aku tidak tau apa tujuan mereka sampai mengajari orang luar seperti mu?” lanjut Lydya mengedikkan bahunya acuh.


Hati Gio sedikit terluka mendengar ucapan pedas Lydya pada dirinya yang memang orang luar tetapi ingin membalas pun Gio tak mampu karena memang itulah faktanya.


“Kita mulai dari buku ini,”


Lydya membuka halaman pertama dan memperlihatkannya pada Gio. Semua tentang tata krama dan aturan-aturan sudah tertata dengan rapi dalam satu buku.


Di sinilah mereka, Lydya yang dengan sabar mengajari Gio karena ada beberapa kata yang ada di dalam buku susah untuk dijelaskan tetapi karena Lydya orangnya sangat ulet dan teliti jadi dia akan menjelaskan sampai mudah dipahami oleh Gio.

__ADS_1


Dan kelihatannya Gio adalah orang yang mudah belajar hal baru jadi Lydya hanya perlu menjelaskan dengan rinci hal-hal yang memang benar-benar sulit dipahami.


Hampir tiga jam Lydya mengajari Gio dan sekarang Lydya sudah kehabisan tenaganya karena dia belum sempat sarapan tadi pagi.


“Kurasa sampai di sini saja hari ini. Sasih ada banyak yang perlu kau pelajari dan jangan sampai melupakan materi-materi yang kuberikan tadi,” ujar Lydya meletakkan kepalanya di atas meja.


“Tetapi, bagaimana cara ku mengingatnya?”


Gio tidak yakin dapat menghafal semua yang sudah diajarkan Lydya padanya. Sangat banyak yang dipelajarinya hari ini dan itu masih belum selesai.


“Akh!! Aku lupa, kau kan orang luar. Nanti akan kuminta pelayan untuk menyiapkan buku kecil untukmu mencatat. Aku pergi dulu, aku kehabisan tenaga,” ujar Lydya berdiri dari posisinya dan berjalan meninggalkan Gio di rumah belajar.


“Hati-hati saat kembali. Jangan sampai tersesat,” pesan Lydya sebelum meninggalkan rumah belajar.


Melihat Lydya yang sudah pergi, Gio mengambil kembali buku yang tadi dipelajarinya dan mempelajari ulang materi-materi yang Lydya berikan tadi. Terlintas di pikiran Gio, untuk apa dirinya mempelajari hal-hal seperti ini? Seolah-olah dirinya akan menjadi anggota keluarga ini saja.


Gio tersenyum kecil saat dia berpikir seperti itu. Mana mungkin dirinya akan masuk ke keluarga ini? Dirinya harus mewarisi nama keluarga ayahnya karena dia anak pertama. Ada-ada saja pikiran anehnya ini.


“Tunggu?! Masuk dalam keluarga ini?!”


Gio tersadar kalau ada kemungkinan dirinya akan masuk ke keluarga ini dan ada kemungkinan juga kalau dia akan menikah dengan salah satu dari anggota keluarga ini.


Tidak. Tidak. Tidak. Itu tidak mungkin. Kedua orangtua nya tau kalau dirinya sudah memiliki kekasih dan Gio serius dengan kekasihnya itu jadi tidak mungkin kalau orangtua nya ingin dirinya menikah dengan salah satu anak keluarga ini.


Tetapi jika itu terjadi. Siapa yang akan menikah dengannya? Pasti salah satu anak dari keluarga ini. Gio segera meraih ponsel nya dan mengetik nama keluarga besar ini di laman pencarian.


Muncul beberapa informasi yang tertera di sana, salah satunya adalah silsilah keluarga ini dan nama anak perempuan terakhir yang muncul adalah nama perempuan yang baru saja mengajarinya etika keluarga.


Demi nenek moyangnya, dia akan menikah dengan perempuan ini. Teman sekelasnya. Lydya Queen Sayudha.


🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌


Kenapa Gio harus belajar semua itu ya??🤔🤔🤔 satu diantara beberapa cara mudah mempersusah hidup...


see ya next chapter~(~ ̄▽ ̄)~~

__ADS_1


__ADS_2