School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
Request


__ADS_3

Happy Reading~


!:sorry'bouttypo~ teehee~


🖌Request


Lydya berjalan pelan memasuki rumah, dia kelelahan sehabis mengikuti kegiatan ekstrakulikuler voli. Jika tahu, dia akan terus menerus lelah seperti ini dirinya memilih tidak mengikutinya. Lydya duduk berlutut didepan pintu dan menjatuhkan dirinya telungkup. Dia benar-benar lelah.


“Apa yang kau lakukan disitu?”


Lydya mengangkat kelapanya dan mengerutkan dahi.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Lydya balik ketika melihat Gio berdiri di depannya dengan baju santai.


Leon muncul dari belakang Gio dan tersenyum, “Hari ini Gio akan menginap,” ucap Leon dengan senyum lebarnya.


Dia tersenyum lebar dan manis agar Lydya mengizinkannya mengajak Gio menginap di rumah karena Lydya paling tidak nyaman ada orang asing yang tinggal di rumah yang sama dengannya. Lydya menatap kembaran nya itu tak percaya dan berdiri.


“Mengapa tidak bilang padaku dulu?” ucap Lydya tak senang.


“Hmm.. aku ingin bilang tetapi kau terlihat sibuk dengan kegiatan klub mu,” ucap Leon menggaruk tengkuknya.


Dia jadi merasa bersalah tidak bilang terlebih dahulu dengan Lydya tetapi jika dia mengatakannya pada Lydya sudah dipastikan kalau kembaran nya itu tidak akan setuju. Lydya menatap tajam Leon yang mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Baiklah. Terserah padamu,” ucap Lydya berjalan masuk.


Leon tersenyum senang walau nada bicara Lydya terdengar kesal tetapi dia sudah memberikan izin dan Lydya sendiri tau, mereka memang kembar tetapi sifat mereka bertolak belakang. Lydya yang suka menyendiri dan Leon yang suka berkumpul.


Lydya sadar dan mulai membiasakan diri membiarkan Leon membawa teman-temannya ke rumah. Dia sendiri juga tau kalau tak selamanya dia harus menyendiri, aka nada waktu di mana dia harus berkumpul juga dengan yang lainnya seperti Leon.


Lydya melemparkan tasnya ke atas kasur dan melepas bajunya satu persatu di setiap langkahnya menuju kamar mandi. Dia ingin segera membasuh badannya dengan air dingin. Tubuhnya lengket oleh keringat.


“Maaf tapi kau dicari oleh nen…?”


“???”


Lydya terdiam di posisinya. Dia sudah melepas semua bajunya dan tersisa pakaian dalamnya saja. Begitupun dengan laki-laki yang juga terdiam di posisinya. Lydya menutup tubuh bagian atasnya dengan kedua tangannya. Gio yang tersadar pun segera menutup pintu kamar Lydya.


“Sial!” gumam Lydya melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi yang berada disebelah pintu kamar.


🖌🖌🖌🖌🖌

__ADS_1


Lydya mempercepat mandinya dan merelakan waktu berendam nya untuk menemui Gio yang dia yakin masih didepan kamarnya walau tadi tak sempat menyelesaikan ucapannya, Lydya yakin kalau Gio datang ke kamarnya karena disuruh oleh nenek dan sudah dapat dipastikan jika kalau Gio harus datang bersama dengan Lydya.


Dan benar saja dugaan Lydya, Gio benar-benar ada didepan kamarnya. Laki-laki itu berdiri bersedekap menyandar dinding dengan mata tertutup. Lydya menyentuh lengan Gio yang membuatnya tersentak bangun.


“Nenek menyuruh mu memanggil ku?” tanya Lydya lebih dahulu sebelum Gio membuka suaranya.


Gio menganggukkan kepalanya dan menemani Lydya menemui neneknya.


“Apa Leon memaksa mu menginap?”


Gio menggelengkan kepalanya.


“Baguslah,”


Mereka berjalan berdampingan hingga sampai di kamar nenek Lydya, “Tidak masuk?”


Gio kembali menggelengkan kepalanya dan Lydya memasuki kamar neneknya. Gio yang sudah setengah jalan kembali ke kamarnya harus kembali lagi ketika Lydya memanggilnya untuk ikut masuk ke dalam kamar nenek Lydya.


“Duduklah,” ucap Lydya menepuk tempat duduk di sebelahnya.


Nirmala tersenyum melihat interaksi cucunya dan Gio. Dia bahagia melihat Lydya peduli dengan lawan jenisnya selain keluarga.


“Jadi, ada apa?”


Lydya terdiam menatap neneknya yang memasang wajah bahagia. Dia menyipitkan matanya menatap neneknya curiga. Nirmala yang mengerti maksud dari tatapan Lydya merasa gugup seketika. Seharusnya ini tugas suaminya tetapi mengapa dia yang maju dan suaminya berada di teras luar sejak tadi.


“Katakan saja langsung intinya,”


Kebahagiaan Nirmala pecah dan berganti masam begitu mendengar suara cucunya.


“Kau ini sama saja dengan kakakmu. Susah sekali berbasa-basi dengan kalian,” dengus Nirmala.


Mala merasa sedang berhadapan dengan Ray saat ini. Melihat Lydya seperti dia melihat Ray, mereka sangat peka akan situasi membuatnya kesal berbeda dengan Leon yang sedikit polos jadi dia sering menyuruh kembaran Lydya untuk melakukan apa yang diinginkannya dan Leon selalu menurutinya tanpa bantahan.


“Jadi, ada apa?”


Nirmala melirik kesal pada Lydya, “Kau tau. Dalam waktu dekat ini, perusahaan akan berulang tahun,”


Lydya memiringkan kepalanya dan berpikir lalu mengangguk. Nirmala tersenyum misterius membuat Lydya menggelengkan kepalanya tetapi sudah terlambat, senyuman Nirmala mengandung maksud tersembunyi.


“Nah!!! Jadi, aku dan kakekku sudah memutuskan untuk membuatmu menjadi nyonya acara dan menjamu para tamu undangan dan biarkan Gio menemani mu,” ujar Nirmala tersenyum cerah.

__ADS_1


Lydya menatap neneknya tak percaya dan Gio menunjuk dirinya, “Saya?”


Nirmala menganggukkan kepalanya senang, “Tunggu! Tunggu! mengapa harus dia yang menemani ku?” ujar Lydya menunjuk Gio.


Lydya melirik Gio yang sejak tadi hanya diam saja sejak mereka duduk. Tidak. Sejak dari depan kamar Lydya, Gio sudah diam seperti ini. Dia cukup merasa kesal akan sikap pendiam Gio. Lydya lebih suka dengan orang yang banyak bicara seperti kakaknya atau Leon.


“Karena ada sesuatu yang terjadi sehingga Gio harus menemani mu,”


Lydya memicingkan matanya, “Pasti bukan hal bagus,”


“Eiyy.. apa maksudmu?” ucap Nirmala melambaikan tangannya gugup.


Cucunya ini benar-benar anak yang sangat peka membuatnya kerepotan saja dan yang lebih merepotkan, suaminya itu membantunya sama sekali dan hanya menolehkan kepalanya sekilas melihat keadaan. Awas saja, lihat apa yang akan dilakukannya nanti.


Lydya hanya diam menatap neneknya curiga dan kakeknya yang berada diluar. Kakeknya itu tak sengaja bertemu pandang dengannya dan segera mengalihkan pandangannya ke depan lalu terbatuk pelan. Lydya tersenyum kecil membuat Nirmala semakin gugup.


Lydya mendengus, “Oke. Akan kulakukan tetapi ada bayarannya,”


Nirmala tersenyum senang, “Apa itu?”


Lydya berdiri dari duduknya, “Nanti akan ku beri tahu jika acaranya sudah selesai,” ucap Lydya berpamitan keluar lebih dahulu.


Nirmala hanya bisa tersenyum masam mendengar ucapan cucunya. Gio juga berpamitan pada nenek Lydya dan mengikuti Lydya keluar. Begitu keduanya telah keluar, teriakan kesal dari nenek Lydya pada suaminya terdengar.


“Emm.. Tunggu,” panggil Gio.


Lydya menghentikan langkahnya dan berbalik. Dia menatap Gio bingung, arah kamar mereka berlawanan tetapi mengapa Gio mengikutinya.


“Apa yang ingin kau katakan?”


Gio mengusap tengkuknya dan terlihat bingung. Lydya menggelengkan kepalanya dan berbalik.


“Sudahlah. Katakan saja besok pagi,”


Lydya melambaikan tangannya dan berjalan meninggalkan Gio kembali ke kamarnya.


“Tetapi…,”


Lydya kembali melambaikan tangannya. Gio kembali mengusap tengkuknya dan memutuskan kembali ke kamarnya. Lagipula dia sendiri juga bingung mengapa dia memanggil Lydya dan tidak tau apa yang ingin dia sampaikan pada Lydya.


🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌

__ADS_1


Anying malu euy jadi mereka berdua😆😆


See ya next chapter ehhh...?


__ADS_2