
Happy Reading~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
đź–ŚSleep
Setelah sarapan pun, Zyta tak segera memenuhi keinginan Lydya dan terus menyuruh putrinya mengerjakan pekerjaan yang biasa dia kerjakan ketika di rumah. Lydya sedikit kewalahan karena tidak biasa mengerjakan pekerjaan mami nya.
Dia tahu pekerjaan mami nya ketika di rumah sangat banyak walau sudah dibantu neneknya tetap saja terasa banyak. Dirinya benar-benar mengurus rumah dari depan hingga belakang.
Saat ini, dia tengah bersantai di rumah belajar. Lydya kabur setelah menyelesaikan urusannya. Biarkanlah urusannya dengan sang mami, nanti saja dia bertemu mami nya lagi.
Sekarang yang diperlukan nya adalah waktu sendiri. Dia benar-benar lelah setelah acara tadi malam dan pagi hingga siang menjelang, mami nya sudah menyuruhnya ini dan itu.
Lydya merebahkan tubuhnya dilantai dan memejamkan matanya. Dia akan beristirahat sebentar di sini. Dirinya benar-benar tak tidur karena memikirkan acara pertunangannya dan sekarang dia sangat mengantuk.
Baru sebentar Lydya memejamkan matanya, dia mendengar suara aneh yang tak jauh dari rumah belajar. Suara cukup kencang jadi Lydya bisa mendengarnya dengan jelas. Lydya bangun dari tidurnya.
“Siapa yang melakukannya siang-siang seperti ini,”
Lydya berdiri dari posisinya dan berjalan keluar mengikuti asal suara. Wajar saja jika mereka melakukannya di sini karena rumah belajar memang tempat yang jauh dari rumah utama jadi bisa dibilang tempat yang sepi. Jika mereka adalah para pelayan, lihat saja bagaimana Lydya akan menghukum mereka. Bisa-bisanya mereka melakukannya di sini. Dasar.
Lydya berjalan mengikuti sumber suara, semakin jelas ketika dia semakin dekat. Dibalik pohon cemara, Lydya melihat dua orang yang dikenalnya. Dia menggeleng tak percaya bahwa mereka bisa melakukannya siang hari ditambah lagi di rumah orang. Sungguh tak tahu malu.
“Hmm. Tak kusangka kau suka mengintip yang seperti ini?”
Lydya menolehkan kepalanya kesamping dan mendapati Gio di belakangnya. Beruntungnya Lydya tidak berteriak ketika kaget.
“Ck! Terserah,”
Lydya berjalan meninggalkan Gio kembali ke rumah belajar. Gio mengedikkan bahunya dan tersenyum lalu mengikuti Lydya kembali ke rumah belajar. Kelihatannya kakaknya sudah selesai jadi lebih baik dia segera menyingkir dari sana daripada bertemu dengan kakak dan kakak iparnya. Sebenarnya, tidak menjadi masalah baginya jika bertemu mereka. Gio suka melihat wajah malu mereka.
“Menurut mu di antara mereka, siapa yang memiliki pemikiran seperti itu?”
“Entahlah. Mungkin kakak iparku,” jawab Gio asal.
__ADS_1
Lydya hanya menggelengkan kepalanya dan memasuki rumah belajar. Lydya menatap bingung Gio yang mengikutinya hingga ke rumah belajar.
“mengapa kau juga ikut kemari?”
“Memangnya tidak boleh?” ucap Gio duduk diteras samping rumah belajar.
Gio terlihat seperti di rumahnya sendiri. Beberapa kali tinggal di sini membuat Gio mulai hafal dengan setiap sudut rumah ini. Memang sangat besar dan menghabiskan banyak waktu tetapi tidak sulit baginya untuk menghafal nya hanya saja jika disuruh menghafal etika keluarga, itu kelemahannya.
“Hmm?”
Gio menatap Lydya bingung, “Sudah menjadi kewajiban kami untuk menyuguhkan teh jika berada di sini,” ucap Lydya menuangkan teh kedalam gelas.
“Kau bisa membuat ocha? Buatkan untukku,”
Sejak mengenal keluarga Lydya, Gio mulai penasaran dengan segala hal tentang keluarga Mezzaluna. Dia juga sempat berbincang dengan nenek buyut Lydya yang orang Jepang. Nenek buyut Lydya sangat ramah padanya sehingga dia senang mendengarkan cerita yang beliau ceritakan.
“mengapa aku harus membuatnya untukmu?” jawab Lydya.
“Huh! Pelit sekali,”
Lydya memilih tak menjawab dan meminum tehnya. Mereka menikmati pemandangan sejuk dan tenang di sekeliling mereka. Cahaya matahari yang menyilaukan pun juga terhalang oleh pohon-pohon yang tinggi menjulang.
“Hmm? Tidak juga. Kau lelah?”
“Hmm,” gumam Lydya.
Gio tidak merasa lelah sedikitpun walaupun lelah dia tidak bisa membiarkan dirinya kehilangan kesempatan untuk menikmati pemandangan di depannya. Sungguh indah, dia jadi tidak perlu jauh-jauh ke taman kota untuk melihat pemandangan dan mengistirahatkan tubuhnya. Dengan hanya berada di rumah Lydya saja sudah berasa seperti di taman kota.
“Rumahmu sangat luas. Apa kau tidak pernah lelah jika ingin menemui anggota keluargamu yang la…,”
Gio mendapati Lydya yang sudah berbaring tidur di sebelahnya. Kelihatannya Lydya memang benar-benar kelelahan. Dirinya dan Lydya saja semalam harus berjalan kesana kemari untuk menyapa tamu dan tidak berhenti berdiri hingga acara selesai. Gio pun juga merasa sama lelahnya tetapi berada ditempat ini membuat rasa lelahnya sedikit berkurang.
Gio terdiam menatap wajah Lydya. Jika dia perhatian lebih saksama Lydya memang cantik. Perempuan yang sudah berganti status menjadi tunangannya ini memiliki wajah yang putih bersih dan terlihat halus. Tanpa sadar Gio sudah mengulurkan tangannya menyentuh pipi Lydya. Benar-benar terasa halus.
Bagaimana rasanya jika bibirnya menyentuh pipi itu?
__ADS_1
Gio tersadar dan menggelengkan kepalanya. Dia seperti laki-laki cabul yang suka memberikan ciumannya kepada sembarangan perempuan. Gio tidak seperti itu. Dia terus membiarkan tangannya menyentuh dan mengelus pipi Lydya yang tertidur pulas.
Jika ada gempa, pasti tidak akan bangun. Gio terkekeh dengan pemikirannya. Lydya terlihat sangat tenang dan tidak merasa takut tertidur disebelah laki-laki walau itu tunangannya sendiri tetap saja mereka belum lama ini saling mengenal.
Gio terus melanjutkan kegiatannya hingga tiba-tiba saja dia merasa mengantuk, dia berbaring di samping Lydya. Dia akan tidur sebentar di sini lalu kembali ke rumah utama. Aroma wangi tercium dari rambut Lydya menenangkan Gio dan membawanya ke alam mimpi.
đź–Śđź–Śđź–Śđź–Śđź–Ś
Gio mengejapkan matanya dan membukanya perlahan. Matanya terbelalak ketika melihat wajah Lydya yang begitu dekat dengannya seperti kemarin malam. Gio langsung bangun dari tidurnya dan menjauh.
“Sial!” umpat Gio.
dia menutup setengah wajahnya. Dirinya sendiri dapat merasakan kalau pipinya memanas dan jantungnya berdebar dengan kencang sedangkan Lydya sendiri masih terlihat pulas, tak ada tanda-tanda akan segera bangun. Gio mengatur napas dan debaran jantungnya yang menggila.
Kelihatannya sudah hampir sore. Berapa lama mereka tertidur?
Gio terdiam dan menatap Lydya yang tertidur. Perempuan itu masih tidur dengan tenang dan pulas seperti tidak akan terjadi apapun. Pasti di mana pun dia berada, dia bisa tidur dengan nyamannya. Gio tersenyum kecil membayangkan nya. Wajah Lydya yang tertidur terlihat sangat manis seperti anak kecil.
“LYDYA!!!”
Gio tersadar ketika ada yang memanggil nama tunangannya ini. Gio berdiri dari duduknya yang berjalan menuju depan. Ternyata Leon yang datang mencari kembaran nya.
“Gio, apa Lydya disitu?”
Gio hanya menganggukkan kepalanya dan Leon langsung naik ke rumah belajar dan menuju teras samping seperti dia sudah hafal di mana Lydya akan tidur.
“Aihh.. sudah kukatakan berapa kali jangan tidur di sini tetapi tetap saja,”
Leon memindahkan gelas dan teko ke dalam lalu mengangkat tubuh Lydya bahkan guncangan ketika Leon mengangkatnya pun tidak membuat Lydya terbangun malah dia semakin menempelkan kepalanya di badan Leon.
“Sudah sore. Ayo kembali dan membersihkan diri,” ucap Leon berjalan lebih dahulu.
Gio hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti kembaran tunangannya itu kembali ke rumah utama. Tunangannya ini terlihat sangat nyaman berada di gendongan kembaran nya, dia tak merasa terganggu sama sekali. Hmm? Memanggilnya tunangan tidak terlalu buruk juga. Batin Gio.
đź–Śđź–Śđź–ŚTBCđź–Śđź–Śđź–Ś
__ADS_1
Heummm... apakah ini artinya Gio tanpa sada mulai suka pada Lydya?
See ya next chapter~ On two days again~