School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
Holiday


__ADS_3

Fyuhh~ udh smpk 24~


Happy Reading~


!:sorry'bouttypo~ teeheehee~


đź–ŚHoliday


Melani dan Eiza saling berpandangan tak mengerti. Mengapa tiga bersaudara itu terlihat tak bersemangat. Eiza mengirimkan sinyal kode untuk bertanya pada Hera yang berada ditengah-tengah mereka.


“Sebenarnya ada apa ini? Mengapa mereka terlihat tak senang?” tanya Melani pada Hera yang duduk ditengah-tengah mereka.


“Kalian tahu mengapa Lydya ingin mengajak liburan di rumahnya?” ucap Hera menatap keduanya bergantian.


Eiza dan Melani saling berpandang lalu menggeleng, “Karena dia tidak ingin pergi kemanapun. Mami mereka pasti sudah merencanakan liburan mereka,”


Hera sudah tahu mengapa tiga bersaudara itu terlihat tak bersemangat dan wajah pasrah tergambar jelas pada ketiganya bahkan Lydya sejak tadi hanya terbengong menatap passport di tangannya. Hera tebak pasti yang terngiang dikepala Lydya adalah dia tidak ingin pergi.


“Tepatnya mereka dipaksa liburan,” lanjut Hera.


Hera masih ingat bagaimana Lydya yang tidak pernah mau berlibur keluar negeri dan berakhir diculik oleh mami nya sendiri lalu dikirim ke Prancis dan dia berakhir tidak bisa pulang hingga liburan selesai bahkan dirinya pun pernah dipaksa untuk ikut juga ke Prancis hanya untuk menemani Lydya.


Jadi, mau tak mau dirinya pun merelakan liburan ke rumah neneknya hanya untuk Lydya. Kedua orangtua nya terlihat biasa saja saat Hera dibawa paksa, mereka hanya melambaikan tangan dan menyuruhnya menjaga diri.


Hera rasa kedua orangtua nya sudah disogok oleh mami Lydya hingga memperbolehkannya pergi dengan begitu saja. Hera masih ingat bagaimana wajah senang kedua orangtua nya ketika dia pergi. Sogokan yang mami Lydya sudah pasti sangat besar hingga orangtua nya kesenangan seperti itu.


“Lebih baik kalian menurut saja,” ucap Hera melihat wajah terkejut keduanya.


“Pasti masih ada hari-hari seperti ini besok jika kalian tidak ingin terjadi lagi maka kalian harus bisa membuat Lydya pergi liburan,” lanjut Hera menghela napas.


Wajah Eiza dan Melani semakin terkejut mendengar ucapan Hera. Itu artinya mereka juga akan tiba-tiba dipaksa berlibur kalau Lydya tidak ingin berlibur. Eiza dan Melani saling menatap. Mereka memiliki pemikiran yang sama yaitu mereka harus berhasil membuat pergi berlibur di lain waktu karena kalau tidak bisa saja ketika mereka akan liburan dengan keluarga, mereka harus terpaksa berlibur menemani Lydya.


Itu tidak boleh sampai terjadi.


“Pikirkanlah bagaimana caranya membuat Lydya pergi berlibur,” ucap Hera.

__ADS_1


Sebenarnya dia pun juga akan liburan sendiri dengan adik dan kakak sepupunya besok tetapi tiba-tiba saja mami Lydya datang kerumahnya dan memaksanya untuk menemani Lydya berlibur. Hera tidak bisa membantahnya karena lagi-lagi mama nya yang menemui mami Lydya sudah disogok entah apa itu, Hera tidak tahu. Mama nya langsung memintanya berkemas dan mengikuti mami Lydya.


Dan berakhir di sinilah Hera sekarang, berada di perjalanan menuju bandara.


“Oni-chan…,”


Ray mengangkat tangannya mencegah adiknya itu melanjutkan perkataannya. Dia tahu apa yang akan diucapkannya dan Ray tidak ingin tersiksa sendiri setidaknya dia harus membawa orang lain merasanya juga.


“Hanasu (Jangan bicara),” ucap Ray sebelum adiknya kembali berbicara. [maafkan bahasa Jepang nya hasil GT]


“Bisakah kita tidak pergi?” tanya Lydya tidak mendengarkan larangan Ray.


Dia tidak bisa membiarkan dirinya pergi ke Jepang. Lydya tidak menginginkannya atau bisa dibilang Lydya paling anti pergi kesana.


“Tidak! Aku tidak ingin menderita sendirian,” ucap Ray menatap adiknya kesal.


Enak saja adiknya tidak ingin pergi. Dirinya saja sudah diusir keluar dengan alasan mengantarkan adik dan teman-temannya.


“Tetapi yang menderita tidak hanya aku saja,” ucap Lydya tersenyum miring.


Dengan wajah kesalnya, Leon menuruti keinginan mami mereka setelah berdebat panjang. Mau bagaimanapun Leon berusaha memberikan alasan terbaik tetap saja dia akan kalah omong dengan mami mereka.


Mendebat ucapan mami mereka sama saja dengan menggali lubang sendiri dan memasukinya. Mami mereka selalu punya celah untuk menjatuhkan setiap alasan yang ada.


“Setidaknya mereka masih bisa menikmati liburan mereka kecuali kau,”


Lydya memberengut kesal. Inilah mengapa dia tidak ingin pergi karena jika sudah sampai di sana Lydya tidak akan pernah mempunyai waktu luang untuk dirinya menikmati waktu sendiri dengan berada di rumah Lydya bisa menikmati liburannya dengan bersantai.


“Kudengar kalian juga akan tinggal di rumah besar,”


Lydya dan Leon langsung menatap Ray tak percaya. Mereka akan tinggal di rumah keluarga besar artinya tidak bagus. Sudah dapat dipastikan mereka tidak akan bisa menikmati yang namanya liburan.


“Rumah besar?!!!” tanya Leon tak percaya.


Ray menganggukkan kepalanya dan tersenyum miring, “Habislah kalian,”

__ADS_1


Lydya dan Leon menyadarkan tubuh mereka di kursi dan menghela napas panjang. Mereka benar-benar akan habis setelah ini. Tidak ada satu pun di antara mereka yang akan selamat.


“Selamat menikmati liburan kalian,” ucap Ray tersenyum tersirat pada kedua adiknya yang kembali menghela napas.


đź–Śđź–Śđź–Śđź–Śđź–Ś


Mereka telah sampai di bandara dan sedang mengecek kembali barang bawaan mereka.


“Semua barang-barang kalian sudah lengkap tak ada yang tertinggal?” tanya Ray.


Semuanya mengangguk kecuali Lydya dan Leon. Mereka berdua tertunduk lemas saling berdekatan di kursi tunggu. Keduanya itu terlihat tak bersemangat semenjak Ray mengatakan kalau mereka akan tinggal di rumah besar selama di Jepang nanti.


“Ayo berdiri. Pesawat kalian sudah akan lepas landas,” ucap Ray memegang masing-masing tangan adiknya dan memaksanya berdiri.


Kedua hanya diam saja seolah-olah tak bernyawa bahkan pandangan mereka menerawang jauh. Ray berdecak kesal dan menolehkan kepalanya pada Hera dan Gio. Keduanya yang tak paham maksud dari tatapan Ray hanya diam kebingungan.


“Apa yang kalian tunggu? Bantu aku mengangkat mereka,” ucap Ray sudah tak sabaran.


Hera dan Gio gelagapan segera membantu Ray. Hera menyampirkan tangan Lydya pada bahunya begitupun dengan Gio. Keduanya membantu si kembar berjalan menuju pesawat.


“Nah.. selamat menikmati perjalanan kalian,” ucap Ray melambaikan tangannya senang.


Ray tersenyum lebar mengantar adik-adiknya pergi. Sekarang yang tersiksa dipaksa pergi tidak hanya dirinya, Ray merasa bersyukur dia tidak bisa pergi jauh karena ada pekerjaan yang menunggunya jadi dia masih bisa tinggal di sini walau terusir ke apartment.


“ANIKI!!! OMAEE!!! ANIIIKIIIIII!!!!!!!!!!!!!!!!! (Kakak!!! Kamuu!!! KAKAK!!!!!!!!!!!!!!!!!),”


Raya hanya melambaikan tangannya dengan senyum lebar terpatri di wajahnya mengiringi kepergian Lydya yang tak berhenti berteriak memanggil namanya. Ray berbalik untuk pulang. Sekarang tugas mengantar adiknya sudah selesai.


Ray tak peduli apa yang akan terjadi pada kedua adiknya sesampainya mereka di rumah besar nanti. Biarkanlah mereka yang mengurusnya sendiri. Setidaknya Ray juga sudah pernah merasakan bagaimana rasanya tinggal di rumah besar ketika dia juga berada di posisi yang sama dengan kedua adiknya.


Ray merenggangkan badannya dan memasuki mobil. Ray bersenandung riang selama di perjalanan pulang. Dia senang bisa membagi penderitaannya. Kedua adiknya pasti juga akan merasakan apa yang dirasakannya nanti. Ray tak sabar mendengar cerita mereka ketika sekembalinya dari Jepang.


đź–Śđź–Śđź–ŚTBCđź–Śđź–Śđź–Ś


See ya next time ~(~ ̄▽ ̄)~~

__ADS_1


__ADS_2