School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
Right on Target


__ADS_3

Happy Reading~ Minna-sama~


!:sorry'bouttypo~ teehee~


🖌Right on Target


Suara gemercik air dari kolam didepan Lydya membuatnya merasa mengantuk. Lydya yang menyandarkan tubuhnya pada tiang kayu mulai memejamkan matanya sebelum seseorang datang dan meletakkan nampan bulat dengan teko dan gelas di sampingnya.


Lydya kembali membuka matanya dan menoleh. Ternyata tunangannya yang datang. Lydya hanya diam melihat Gio menuang teh ke dua buah gelas.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Lydya melihat Gio yang begitu tenang.


“Hmm? Minum teh,” jawab Gio menunjuk gelas ditangannya.


“Bukan itu maksudku,” ucap Lydya menggelengkan kepalanya sedangkan Gio menatapnya bingung.


“Hmm.. Aku mendengar dari teman-temanku kalau… kau dan kekasih mu..,” tanya Lydya hati-hati.


Lydya mendengar dari teman-teman sekelasnya kalau Gio dan Linda baru saja bertengkar dua hari yang lalu di kantin sekolah dan tentu saja saat itu sedang jam istirahat. Lydya tidak akan tahu jika saja dirinya tidak diberi tahu oleh Hera karena dua hari yang lalu dia mengambil izin tidak masuk untuk menemani papi nya rapat seharian penuh.


“Ah! Ya, kami memang bertengkar,” ucap Gio memandang lurus ke depan.


Tidak ada ekspresi apapun yang tergambar di wajah tunangannya ini. Lydya menelan ludahnya gugup. Dia merasa bersalah karena bertanya. Jika saja dia tidak ingin tahu maka dirinya tidak akan bertanya tetapi rasa ingin tahunya benar-benar kuat sehingga membuatnya nekat bertanya.


“Apa karena ku?”


Gio menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil.


“Bukan. Hanya masalah kecil,” ucap Gio menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Lydya tahu Gio sendiri tak yakin dengan jawabannya. Lydya merasa kalau pertengkaran tunangannya ini dengan Linda ada sangkut pautnya dengan dirinya.


“Jika memang karena ku. Mungkin aku bisa membantu mu,”


Gio kembali menggelengkan kepalanya, “Aku tidak ingin merepotkan siapa pun,”


“Hmm.. tetapi jika kau butuh sesuatu kau bisa meminta bantuanku. Dengan senang hati aku akan membantu mu,” ucap Lydya tersenyum manis.


Gio menatap Lydya sebentar lalu tersenyum juga dan menganggukkan kepalanya. Rencana awal Lydya setelah makan dirinya akan langsung tidur tetapi dia memilih untuk menemani tunangannya ini. Gio pasti sedang merasa sedih karena bertengkar dengan kekasihnya setidaknya Lydya bisa sedikit menghiburnya.


🖌🖌🖌🖌🖌


Lydya mengancingkan seragamnya dengan cepat. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan kurang dan dirinya harus segera tiba di sekolah sebelum jam delapan. Jarak sekolahnya dengan rumah cukup jauh tetapi jika ditempuh dengan sepeda motor dengan kecepatan tinggi, jarak jauh pun tidak masalah.


Selesai memakai seragam, Lydya langsung berlari menuju garasi. Dia melewatkan sarapannya karena pagi ini pun ada ulangan. Lydya terus bergumam kesal karena sepeda motornya sangat susah di starter. Sepeda motornya tidak bisa dinyalakan karena ini semua salah Gio.


Jika saja Gio tidak menghina sepeda motor lamanya ini mungkin sepeda motornya ini sudah bisa dinyalakan dengan mudah. Awas saja laki-laki yang berstatus sebagai tunangannya itu. Berani-beraninya dia menghina sepeda motornya hingga sepeda motornya ini merajuk.


Dengan kecepatan penuh Lydya akhirnya sampai di sekolah tiga menit sebelum gerbang ditutup. Lydya memarkirkan sepeda motornya dan menghela napas lega. Setidaknya dia sudah ada dilingkungan sekolah walau terlambat masuk kelas.


Lydya berjalan menuju kelasnya dengan pelan sambil merapikan rambut bawahnya yang acak-acak. Lydya berdecak kesal dan meringis setiap kali tangannya menyangkut di ujung rambut ketika dia merapikannya dengan menyisir pelan dengan tangan.


Lydya menghela napas panjang ketika rambutnya selesai dirapikan dan tepat dia selesai merapikan rambutnya dia sampai didepan kelas. Lydya baru saja akan memegang gagang pintu saat seseorang menarik lengannya dengan paksa.


Lydya terkejut bukan main saat empat orang perempuan berseragam SMK mengelilinginya. Salah satu di antara mereka menarik tangan Lydya dengan kasar tetapi Lydya tak terlalu mempedulikan nya karena yang dirinya ingin tahu siapa yang sedang mencari masalah dengannya karena seingat Lydya, dirinya tidak pernah mencari masalah dengan anak lain.


Sebuah nama terlintas di kepalanya. Lydya tersenyum tipis. Jika apa yang dipikirkannya benar, betapa menyenangkannya itu. Lydya selalu menunggu saat-saat seperti ini datang.


Lydya dibawa hingga ke belakang gudang peralatan olahraga yang tentu saja jarang sekali dikunjungi orang. Lydya hanya diam dan menunduk saja ketika mereka menyuruhnya berdiri mendekat tembok. Lydya sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat siapa saja yang membawanya kemari tetapi tidak ada siapa pun yang dikenalnya.

__ADS_1


Jika sudah seperti ini. Itu artinya yang perlu Lydya lakukan adalah menghafal wajah mereka untuk nanti diberi pelajaran darinya. Lydya jadi tidak sabar menjalankan rencananya. Hanya saja, sangat disayangkan salah satu di antara mereka memakai masker mulut jadi Lydya tidak bisa menghafal wajahnya.


Tetapi, tidak masalah karena Lydya sudah menghafal cara pandang dan matanya bahkan proporsi tubuhnya sudah Lydya hafalkan. Jadi, tidak susah untuk mencarinya dan dirinya rasa dewi keberuntungan sedang bersamanya.


Perempuan yang tak dikenalnya itu sempat berjalan menghampiri teman nya dan cara jalannya benar-benar khas. Lydya tersenyum kecil hingga tanpa sadar dia tertawa pelan.


“Apa yang sedang kau tertawakan?!”


Lydya mengangkat kepalanya dan menatap salah satu di antara mereka yang berbicara dengannya lalu menggelengkan kepalanya. Perempuan yang berbicara padanya mengerutkan dahinya tak senang sedangkan Lydya hanya menatapnya polos. Perempuan itu mendengus dan mengalihkan pandangannya.


Beberapa waktu berlalu, Lydya mulai merasa bosan. Sebenarnya siapa yang sedang mengajak ribut dengannya. Lydya bahkan mulai merasakan kakinya yang pegal karena terlalu lama berdiri dan kelihatannya bukan hanya dirinya saja yang bosan, empat orang perempuan yang mengajaknya kemari pun juga terlihat bosan dan kesal.


Lydya menghela napasnya pelan, sudah dapat dipastikan daftar hadirnya akan ditulis alpa. Jika saja empat perempuan ini tidak membawanya dengan sesuka hati mungkin sekarang Lydya sudah ada didalam kelas.


“Kita disuruh pindah,” ucap salah satu diataranya.


Tiga diantaranya terlihat sangat kesal. Perempuan yang memakai masker gantian menarik lengannya dan Lydya hanya bisa pasrah mengikuti mereka. Jika dirinya memberontak dan kabur, dia tidak bisa tahu siapa yang sedang mencari masalah dengannya.


Lydya dibawa menuju taman sekolah yang jauh dari gedung sekolah. Karena lokasinya yang jauh dari gedung sekolah membuat taman yang indah ini juga jarang dikunjungi siapa pun dan biasanya digunakan para siswa untuk membolos jam pelajaran yang tidak disukai.


Dari kejauhan Lydya bisa melihat tiga orang perempuan berseragam sama dengan empat perempuan yang membawanya. Satu di antara tiga perempuan itu duduk di kursi taman dengan kaki bersilang. Lydya tersenyum kecil ketika dia mengenali siapa perempuan itu.


Itu Linda.


Tebakannya benar. Ternyata yang mencari masalah dengannya adalah kekasih tunangannya sendiri dan pertengkaran tunangannya dengan Linda ada kaitannya dengan dirinya. Lydya tersenyum manis pada Linda yang menatapnya dengan wajah galak.


Saatnya bermain-main seperti waktu itu.


🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌

__ADS_1


See ya next chapter ~(~ ̄▽ ̄)~~


__ADS_2