
Happy Reading~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
🖌Upside
Lydya mengedarkan pandangannya sebelum menundukkan badannya didepan orangtua perempuan yang ditendangnya. Ray membulatkan matanya tak percaya. Padahal dia sangat yakin kalau adiknya itu memukul orang dengan sengaja tanpa sebab tetapi mengapa adiknya itu meminta maaf.
Dia sudah sangat yakin kalau orang yang ditendang adiknya itu memang pantas mendapat tendangan. Ray menatap adiknya lalu kedua orangtuanya yang juga sama tak percaya dengannya. Mereka semua yakin kalau Lydya tidak melakukannya dengan sengaja.
“Heh! Nak, percuma saja kau meminta maaf. Anak kasar seperti mu tidak pantas meminta maaf,” ucap ibu dari perempuan itu.
Zyta yang merasa tak terima menatap tak senang wanita yang ia yakin lebih muda darinya itu.
“Lihatlah. Jika anaknya kasar sudah pasti orangtuanya juga kasar,”
Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut dengan ucapan ibu dari perempuan yang Lydya tendang.
“Maa..,” ucap pria yang kelihatannya adalah kakak dari perempuan itu.
“Apa sih?! Emang bener kok. Kalau anaknya kayak gitu bagaimana dengan orangtuanya? Pasti lebih burukkan?” ucapnya tak terima mendapat teguran.
“Maaf, nyonya. Apa maksud anda?” tanya Adam tersenyum kecil.
Keterdiamanya, bukan berarti dia tak peduli.
Wanita itu mendengus kasar, “Anda masih berani bertanya?” ucapnya melirik Zyta dari atas sampai bawah dengan pandangan mencemooh.
Zyta menatap wanita itu tak percaya. Berani sekali wanita itu menatapnya dengan pandangan seperti itu. Sudah baik hati dia dan keluarga memakai pakaian sederhana tetapi sikap wanita itu benar-benar buruk pada keluarganya.
Wanita itu berdecak berulang kali dan bersedekap dengan angkuhnya. Pandangannya jatuh pada Lydya yang masih dengan setia membungkukkan badannya lalu mendengus.
“Padahal waktu itu sikapmu sangat ramah dan baik tetapi ternyata sikapmu sangat buruk, ya?”
Lydya hanya diam saja mendengarnya, “Kenapa diam saja? Bisu?”
__ADS_1
“Tolong jaga ucapan anda, nyonya,” ucap Ray tak terima.
“Kenapa? Emang benarkan? Kau… pasti kakaknya? Ya, kan? Lihatlah, bapak guru, ibu guru, bahkan kakaknya berbicara dengan nada tinggi pada orangtua. Sungguh tidak punya sopan santun,” ucapnya terus menerus menatap merendahkan.
“Benar-benar keluarga yang sangat buruk. Anak-anaknya buruk. Sudah pasti orangtuanya juga sama saja. Menjijikkan,” lanjutnya.
“Ma.. cukup,” ucap anak laki-lakinya, wanita itu hanya menatap putranya tajam.
“Anda…,”
Ray menghentikan ucapannya ketika Lydya menyentuh tangannya. Ray mengerutkan dahinya bingung. Lydya masih bertahan pada posisinya membuat Ray cemas. Dia benar-benar tidak terima dengan ucapan dari wanita didepan mereka.
“Anak ini ternyata memang bisu, ya?” ucap wanita itu lagi dan putranya terlihat berusaha menghentikan ibunya.
Lydya menghela napasnya pelan lalu menegakkan tubuhnya. Pandangan mata wanita itu dan keluarganya mengikuti setiap pergerakan Lydya. Mata Lydya yang menatap ke bawah mulai mengarah ke atas. Lydya menatap wanita yang sudah menghinanya dengan pandangan tegas.
Lydya tersenyum kecil, “Nyonya, kelihatannya saya sudah terlalu baik pada anda dan keluarga anda. Benar begitu, tuan?” ucap Lydya mengalihkan pandangannya pada pria paruh baya yang sejak awal kedatangannya hanya diam bersedekap disebelah istrinya.
Pria itu menutup matanya sebentar sebelum menghela napasnya, sedikit membungkukkan kepalanya dan menundukkan kepalanya. Semua mata terbelalak melihatnya. Ray menatap pria paruh baya itu dan Lydya bergantian. Ada apa ini sebenarnya?
“Apa maksudnya ini?” ucap Lydya tersenyum kecil.
“Nona muda Mezzaluna, saya sebagai kepala keluarga Shavonne mewakili putri saya Linda untuk meminta maaf sebesar-besarnya,” ucapnya masih dalam posisinya.
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu tak mempercayai apa yang mereka dengar. Keadaan berubah 180°, Lydya yang awalnya harusnya meminta maaf tiba-tiba berubah menjadi kepala keluarga Shavonne yang meminta maaf.
“Sayang! Apa maksudmu?! Kenapa kamu malah meminta maaf?!! Harusnya dia yang..,”
“Diam! Lebih baik kamu diam saja dulu,” selanya melirik istrinya.
Wanita itu menutup mulutnya rapat dengan pikiran penuh kebingungan. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa malah suaminya yang meminta maaf?
Lydya tersenyum kecil, “Anda tidak perlu segalak itu, tuan. Pada dasarnya memang saya yang salah. Tidak seharusnya saya mengajak putri anda berkelahi,” ucap Lydya menundukkan badannya untuk kedua kalinya.
“Tidak. Tidak, nona muda. Putri saya memang pantas mendapatkannya. Ini kesalahan saya yang salah mendidiknya,” ucap pria itu panik.
__ADS_1
Lydya menegakkan badannya dan tersenyum samar. Tidak sia-sia selama ini dia memberi penekanan pada orang-orang yang bersangkutan. Sudah pasti pria itu sangat panik sekarang apalagi Lydya sampai menundukkan badannya sebanyak dua kali.
Lydya menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dan merogoh saku celananya. Lydya mengedarkan pandangannya dan berjalan menuju kursi lipat. Diangkatnya kursi tersebut dan membawanya ke samping ranjang rawat Linda yang menatapnya cemas.
Lydya duduk di kursi tersebut lalu tersenyum pada Linda sekilas sebelum mengalihkan pandangannya pada nyonya keluarga Shavonne yang mengerutkan dahinya.
“Nii-san, bisa bantu aku mengantar yang lainnya keluar dulu kecuali kedua orangtua nona ini dan Leon?” ucap Linda sedikit menolehkan kepalanya. [Lydya ngomong pake Japanese]
Ray yang masih kebingungan segera menuruti keinginan adiknya. Semua orang sudah keluar dari ruang rawat khusus pasien tunggal karena memang keluarga Shavonne juga bukan orang biasa-biasa saja. Saat semua orang sudah keluar ruangan hanya tersisa kedua orangtua Linda dan Leon tentu saja Linda dan dirinya.
Leon sudah berdiri dibelakang kanan Lydya. Dia tidak tahu apa yang sedang kembaran nya ini rencanakan. Dia sendiri juga sama bingungnya dengan keadaan yang baru saja terjadi. Lydya hanya tersenyum untuk beberapa saat sebelum membuka mulutnya.
“Tuan Shavonne,” panggil Lydya memainkan sebuah bolpoin di tangannya.
“Ya, nona muda?”
Lydya masih terdiam, “Anda tahu apa ini?” ucapnya menatap ayah dari Linda itu.
Ayah Linda diam dan menatap bolpoin yang Lydya mainkan lalu menggelengkan kepalanya walau dia tahu apa yang sedang Lydya pegang bukan bolpoin biasa tetapi saat ini lebih baik dia diam dan berpura-pura tidak tahu. Leon yang melihat pria paruh baya itu mulai memahami situasi saat ini.
“Baguslah,” ucap Lydya mengalihkan pandangannya pada Linda sebentar dan tersenyum sebelum menatap ibu dari Linda yang kemarin dia tendang.
“Nyonya, saya ingin mengajukan pertanyaan singkat, apa anda mengenal saya? Ah! Bukan, tepatnya nama belakang saya?”
Ibu Linda hanya mengerutkan dahinya. Lydya terdiam sebentar tampak berpikir, “Jika saya tidak salah ingat, anda adalah anak ketiga dari keluarga besar Rasheed, bukan?”
Ibu Linda membulatkan matanya, dia tak menyangka ada yang mengenalnya di negara ini. Padahal dia sudah menyembunyikan dirinya sebaik mungkin selama ini. Dia mengalihkan pandangannya pada sang suami penuh selidik. Bisa saja suaminyalah yang memberi tahu tetapi jawaban yang dia dapatkan adalah gelengan kepala. Lalu siapa? Suaminya bukan orang yang suka berbohong.
“Bukan suami anda, nyonya. Tetapi, itu tidak penting sekarang. Ada yang lebih penting daripada itu,” ucap Lydya menyerahkan bolpoin yang sejak tadi dimainkannya.
Ibu Linda tau itu bukan bolpoin bisa, dia tetap mengambil bolpoin itu dari tangan Lydya lalu menatap suaminya dengan dahi berkerut. Suaminya hanya menganggukkan kepalanya. Ibu Linda menatap Lydya ragu dan penuh ketidakpercayaan. Lydya hanya tersenyum dan mempersilahkan.
Ibu Linda menekan lingkaran kecil yang menonjol pada bolpoin.
🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌
__ADS_1
gegara liat The World of the Marriage.. aq jadi kepikiran buat adegan ini 🤣🤣 emng keliatan aneh sih tp karna aq ingin menguatkan karakter Lydya, so aq buat deh sma kek drama itu.. dan kenapa bukan orangtua-nya aja yng nyelesaikan, kenapa harus Lydya? itu karna Lydya udh di didik buat menyelesaikan segala urusannya sendiri sebagai anggota keluarga udh kek Zyta gtu.. jadi selama Lydya bisa selesaikan sendiri yaa dia sendiri yng harus menyelesaikan.. kesannya malah karakter Lydya terlalu kuat 😭😭 tp gk apa..
See ya next time ~(~ ̄▽ ̄)~~