School Fiance Feeling

School Fiance Feeling
Rich Woman


__ADS_3

Happy Reading~


!:sorry'bouttypo~ teehee~


đź–ŚRich Woman


“Apa itu artinya kau juga tahu?” ucap Elon.


Leon menghela napasnya, “Jika Lydya tahu aku berinteraksi dengan seseorang sebanyak 5 kali. Dia akan langsung memberitahukan semua informasi tentang orang itu,” ucap Leon merasa bersalah.


Walau Leon sudah sering menolak kebiasaan Lydya tetapi tetap saja Lydya selalu punya cara membuatnya tahu. Kembaran nya itu sama saja dengan serigala berbulu domba. Lydya memang terlihat sangat baik karena sifat pendiam nya tetapi pada dasarnya Lydya orang yang sangat licik dan penuh rencana.


Lydya akan memberikan informasi jika kembaran nya itu tahu dia sudah lima kali berbicara dengan orang yang sama walau bisa lebih pada saat Lydya tidak tahu tetapi selama dalam pandangan Lydya sudah lima kali sama seperti tanggal ulang tahun mereka, Lydya pasti akan segera memberi tahunya karena sejak awal dia berinteraksi Lydya sudah mencari tahu.


Elon menutup mulutnya tak percaya. Dia tak menyangka Lydya adalah orang yang sangat menakutkan.


“Tenang saja. Dia tidak akan melakukan apapun padamu hanya saja jangan pernah membuatnya tak senang atau sebisa mungkin bersikap sewajarnya saja,” ucap Leon tersenyum kecil.


“Tetapi...,”


“Bukankah aku meminta mu untuk mendengarkan setiap kata yang mereka ucapkan tentang ku? Tetapi kau malah membicarakan saudaramu sendiri? Parah sekali,” ucap seseorang dari arah pintu.


Semua mata tertuju ke arah pintu, Lydya berdiri dan menyandarkan dirinya pada sisi pintu. Dia bersedekap dan tersenyum miring. Mata Lydya tertuju pada Leon yang menegang. Lydya terus menyampaikan apa yang dipikirkannya membuat Leon semakin tegang dan gugup.


“Ly...,”


“Ochitsuke-na (Tenanglah). Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Jaa ne (Sampai jumpa),” ucap Lydya meninggalkan mereka sambil melambaikan tangannya.


Leon menghela napasnya panjang. Sendi-sendi di dalam tubuhnya lemas seketika. Lydya memang berkata tidak akan melakukan apa-apa padanya tetapi Leon yakin kembaran nya itu pasti akan melakukan sesuatu padanya.


Lydya pasti akan mengeksekusi nya besok.


“Kembaran mu benar-benar terlihat menakutkan,” ucap Kaga.


Melihat Lydya berdiri saja dia sudah merasa gugup dan tegang apalagi ditatap seperti itu oleh Lydya. Kaga jadi ingat lagi saat Lydya menatapnya datar. Leon hanya bisa menghela napasnya panjang. Seharusnya dia tidak mengatakan apapun soal Lydya.


Lydya bisa merasakan saat dirinya jadi bahan pembicaraan terlebih lagi jika dia yang sedang membicarakannya.


đź–Śđź–Śđź–Śđź–Śđź–Ś

__ADS_1


“Oh! Selamat pagi!” sapa Elon semangat begitu melihat Leon yang berjalan menuju meja makan dengan wajah mengantuknya.


“Ohayou (Selamat pagi),” sapa Leon duduk disebelah Zaide.


Hanya ada Elon, Kaga, Agnes, dan Linda di ruang makan. Leon terlambat bangun karena semalaman Lydya terus duduk dan menatapnya membuat dia tidak bisa memejamkan matanya barang sedetik saja. Tatapan mata Lydya begitu tajam dan menusuk bahkan dirinya tidak berani bergerak sedikitpun.


“Di mana kembaran mu?” tanya Kaga takut-takut.


Kaga terus memandang ke arah di mana Leon datang.


“Entahlah. Dia sudah tidak ada sejak aku bangun. Mungkin sedang berjalan-jalan atau yang lainnya,” ucap Leon mengedikkan bahunya.


“Hah? Apa tidak apa-apa membiarkannya sendiri?” tanya Elon.


Elon takut jika membiarkan Lydya berjalan-jalan ditempat asing akan membuatnya tersesat. Apalagi kompleks mansion ini berada jauh dari kota dan jarang ada orang yang kemari kecuali memiliki satu tempat di sini.


“Dia sudah besar. Tidak akan tersesat,” ucap Leon acuh, dia sibuk mengoleskan selai pada rotinya.


Lydya tidak akan semudah itu tersesat. Mau di manapun dia, entah itu tempat baru atau bukan pasti Lydya tahu jalan pulang. Lydya sangat mudah mengingat jalan yang sudah dia lalui jadi tidak akan tersesat. Leon paling suka pergi bersama dengan Lydya ke tempat baru karena jika mereka tersesat Lydya lah yang akan mencari jalan.


“Tetapi...,”


“Hah? Aku tidak mengerti?”


Leon mengerutkan dahinya dan menatap kedua teman nya bingung, “Oh! Apa aku tidak pernah mengatakan sesuatu tentangnya?”


Kaga dan Elon menganggukkan kepalanya, “Err.. Elon, kurasa.. bagaimana yang cara mengatakannya. Emm.. kurasa mansion yang dibeli papa mu ini punya.... kembaran ku,”


Kaga dan Elon membulatkan mata mereka begitupun dengan Agnes dan Linda. Mereka tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Leon bilang mansion yang papa Elon beli adalah milik kembaran nya?


“Apa? Hah? Bagaimana? Bagaimana bisa?” ucap Elon tak mengerti.


“Etto.... apa papa mu membeli rumah ini dari perusahaan Yurinohana?” [*Gomenasai atashi k*agak pinter buat nama perusahaan we]


“Mmm.. seingat ku papa pernah mengatakan itu,” ucap Elon mengingat kembali saat papa nya menyuruh dia untuk menempati mansion ini.


“Perusahaan itu miliknya,” ucap Leon.


“APA?!!!”

__ADS_1


Teriakan penuh keterkejutan keluar dari mulut mereka. Mereka tak menyangka Lydya yang masih SMA mempunyai perusahaan sendiri di bidang properti. Apalagi perusahaan itu adalah salah satu di antara perusahaan properti terbesar di negara ini dan pemiliknya adalah Lydya, teman mereka dan siswi SMA biasa.


“Dan.. setiap mansion yang belum terjual di sini masih miliknya. Atas namanya,”


“Leon, kau yakin akan hal itu? Semua mansion di sini adalah milik kembaran mu?” tanya Kaga tak percaya.


Dia masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari Leon. Walau Leon adalah kembaran Lydya sekalipun tetapi bagaimana mungkin Lydya bisa memiliki perusahaan sendiri di usianya yang masih remaja?


Leon menganggukkan kepalanya polos, “Aku sering melihat Lydya dan papi sedang berdiskusi tentang perusahaan ini bahkan aku bertugas sebagai asisten sekaligus sekretarisnya,”


Kaga dan Elon membuka mulut mereka tak percaya. Mereka tidak bisa mengucapkan apapun dengan apa yang mereka dengar barusan.


Jika, Leon bertugas sebagai asisten Lydya, itu artinya apa yang Leon katakan bukan bohong terlebih lagi mereka tahu seberapa besarnya perusahaan yang dikelola keluarga Mezzaluna ditambah lagi dengan perusahaan milik keluarga Sayudha.


Dua perusahaan besar di dua kota berbeda bergabung menjadi satu sejak tujuh belas tahun yang lalu dan sekarang perusahaan properti Yurinohana juga termasuk dalam salah satu anak perusahaan terbesar di negara ini.


“Itu artinya..,” ucap Elon.


“Hmm.. mansion ini dulunya miliki Lydya begitupun mansion yang lainnya,”


Elon membuka mulutnya tak percaya. Dia bungkam seketika mendengar ucapan Leon. Dia tak menyangka Lydya yang pendiam dan jarang unjuk gigi di kelas ternyata adalah pemilik perusahaan properti terbesar di negara ini. Elon merasa lebih kecil jika dibandingkan dengan Lydya.


“My twin is a scary rich person,” ucap Leon pelan.


Dia jadi ingat seberapa kaya kembaran nya itu dan mungkin saja lebih kaya daripada papi nya. Lydya memang benar-benar perempuan yang menakutkan.


“Bukankah sudah ku bilang untuk tidak membicarakan ku?!”


Semuanya berteriak kaget begitu mendengar ucapan Lydya yang datang tanpa suara. Entah mereka yang tidak menyadarinya atau memang Lydya sering berjalan tanpa disadari.


“Na~ Le-sama, kurasa aku jadi melakukan sesuatu padamu,” ucap Lydya memeluk leher Leon dari belakang.


Lydya meraih apel yang ada di atas meja lalu melepaskan pelukannya dan menepuk bahu Leon sebelum melangkah pergi tanpa mengucapkan apapun. Leon menghela napasnya panjang. Seperti yang dia duga semalam, mau dia melakukan apapun atau tidak Lydya hanya berucap saja karena pada dasarnya dia tetap akan melakukan sesuatu padanya.


đź–Śđź–Śđź–ŚTBCđź–Śđź–Śđź–Ś


Lydya so scary {{{゚Д゚"}} shake


See ya next chapter... ~(~ ̄▽ ̄)~~

__ADS_1


__ADS_2