
Kira2 apa yang terjadi nee? 🤔
Happy Reading~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
🖌It Happened Again
Melihat pamannya yang hanya bisa terdiam, Lydya sudah tahu kalau masalah pembagian kamarnya yang harus satu kamar dengan Gio sudah pasti disebabkan oleh mami nya. Sebenarnya dia sudah melakukan apa sampai-sampai mami nya sangat tega membiarkan putri satu-satunya tinggal satu kamar dengan laki-laki.
Apa mami nya itu tidak merasa khawatir jika sesuatu terjadi pada putrinya ini? Akh! Lydya baru saja berpikir hal yang tak mungkin. Jelas-jelas mami nya memang sengaja membiarkannya berbagi kamar dengan Gio. Mami nya itu pasti berharap akan ada sesuatu yang terjadi padanya dan Gio tetapi Lydya tidak akan membiarkan apa yang diinginkan mami nya itu terjadi.
Ting!
Lydya mengambil ponsel nya dan membuka pesan yang baru saja masuk pada ponsel nya. Pesan dari mami nya. Tak sabaran Lydya membuka pesan tersebut.
‘Tee\-hee \(\= ̄▽ ̄\=\)V’
“Tee-hee?” gumam Kane ketika dia mengintip ponsel keponakannya itu.
Lydya menatap pesan tersebut tak percaya. Mami nya ini memang, Lydya sampai tidak tahu harus mengatakan apalagi soal mami nya ini. Dia sudah sampai beberapa jam yang lalu dan mami nya baru saja mengirimi nya pesan dan itu pun hanya satu kata yang ditulisnya ditambah emotikon menyebalkan.
“Mami mu itu memang sedikit... ya... kau tau maksudku,”
Lydya masih terdiam lalu menatap pamannya itu tajam. Kane menjauhkan tubuhnya “Akh! Kurasa aku akan kembali lagi nanti,” ucap Kane segera melesat pergi.
Lydya memejamkan matanya menahan kesal. Dia ingin sekali berteriak tetapi dia tidak bisa melakukannya jika dia tidak ingin mendapatkan teguran dari para tamu.
“Daijobu desu ka? (Tidak apa-apa?)”
Lydya menolehkan kepalanya cepat menatap tajam dua orang laki-laki yang menyembulkan kepalanya keluar. Keduanya langsung memasukkan kembali kepala mereka dan menutup pintu dengan cepat. Lydya kembali memejamkan matanya menahan kesal dan menghela napas panjang. Dia berjalan kembali menuju kamarnya dan Gio.
Tidak ada lagi kamar yang tersisa dan walaupun dia bisa memesan kamar di penginapan tetapi sudah pasti tidak akan bisa. Mami nya ini suka sekali membuatnya kesusahan.
Lydya duduk di tangga begitu sampai di rumah di mana kamarnya berada. Dia tidak berani masuk kedalam kamar. Dia takut dan malu jika terjadi hal yang sama untuk kedua kalinya tetapi setidaknya mereka berdua sudah impas. Gio sudah pernah melihatnya setengah telanjang dan dirinya juga sudah melihat tunangannya ini setengah telanjang.
Dia melipat kakinya dan membenamkan kepalanya di antara kakinya. Lydya hanya bisa menghela napas saja sejak tadi. Dia ingin mandi dan berganti pakaian tetapi pasti masih ada Gio di dalam kamar. Lydya tidak berani masuk. Tetap saja dia malu melihat Gio yang setengah telanjang.
“Sedang apa disitu?”
__ADS_1
Lydya mengangkat kepalanya dan menoleh ke sumber suara. Gio berdiri di sampingnya dan menatapnya bingung. Tunangannya ini terlihat lebih segar daripada tadi. Lydya hanya diam menatap Gio lalu menghela napas. Entah sudah berapa kali Lydya menghela napasnya hari ini begitu dia sampai di penginapan.
“Tidak ingin mengganti bajumu? Gantilah bajumu. Aku tidak akan sembarangan membuka pintu,”
“Benarkah?”
Gio hanya menganggukkan kepala dan menggantikan Lydya duduk di tangga. Lydya tersenyum lebar dan segera berdiri. Akhirnya dia bisa mengganti pakaiannya. Tubuhnya terasa gerah dan lengket di sana-sini. Mereka sampai di penginapan saat sore hari dan sekarang sudah malam dan menjelang waktunya makan malam. Sebelum makan malam setidaknya Lydya harus sudah membersihkan dirinya.
Rumah yang Lydya dan Gio tempati berbeda dengan rumah yang lainnya. Hanya rumah inilah yang memiliki pemandian air panas pribadi yang berada tepat dibelakang masing-masing kamar. Biasanya rumah ini ditempati oleh pasangan suami-istri seperti mami-papi nya dan kamar yang di pakai juga kamar yang Lydya dan Gio tempati.
(Onsen in Daiwa Royal Hotel) [The caption I search is like that]
Lydya sudah melepaskan semua pakaiannya dan dengan langkah senang dia berjalan menuju pemandian. Dia memasukkan salah satu kakinya untuk merasakan suhu air. Perlahan Lydya mulai memasukkan seluruh tubuhnya kedalam air.
Lydya menghela napas lega. Sudah lama dia tidak merasakan sumber air panas. Tubuh Lydya terasa lebih nyaman sekarang. Seolah-olah seluruh rasa pegal di tubuhnya menghilang satu persatu.
“Hmm.. Apa kau sudah selesai? mengapa lama sekali? Mereka sudah memanggil untuk makan malam,”
Lydya membuka matanya kaget. Tanpa sadar dia sudah berendam cukup lama. Dia terlalu menikmati waktu berendam. Jika saja Gio tak memanggilnya mungkin saja Lydya sudah pingsan karena terlalu lama berendam.
“Hmm.. Ku tunggu diluar. Cepatlah,”
“Hmmm...,”
Lydya segera beranjak dari tempatnya. Dia sudah terlalu lama membiarkan tubuhnya berendam di air panas hingga seluruh tubuhnya memerah semua. Lydya segera memakai kimono yang terletak di dalam almari lalu berjalan keluar menemui Gio. Gio tidak sendirian, ada dua orang pelayan lagi yang sudah menunggu. Dirinya jadi merasa tidak enak sudah membuat orang lain menunggu.
“Sudah selesai?”
Lydya menganggukkan kepalanya dan mereka berjalan bersama menuju penginapan utama. Di sanalah mereka akan makan malam bersama yang lainnya. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari keduanya.
“Kau berendam terlalu lama. Wajah mu sampai sangat merah,” ucap Gio memulai pembicaraan.
“Benarkah?”
Gio menganggukkan kepalanya. Sial. Karena dirinya sudah sangat lama tidak berendam, dia sampai lupa waktu dan hampir membahayakan dirinya sendiri. Lydya benar-benar ceroboh kali ini sampai hampir mencelakai dirinya sendiri.
“Aku sudah lama sekali tidak berendam. Jadi, lupa waktu,”
__ADS_1
Mereka kembali sama-sama terdiam. Lydya mengumpat dalam hati. Laki-laki di sebelahnya ini suka sekali menyelesaikan pembicaraan secara sepihak membuat suasana menjadi canggung saja. Lihatlah, mungkin sebentar lagi laki-laki yang sudah menjadi tunangannya ini baru akan menjawab ucapannya setelah terdiam cukup lama.
“Kau suka sekali berendam di pemandian air panas seperti ini? Bukankah di tempat kita juga ada?”
Seperti yang Lydya duga, “Hmm.. tetapi aku lebih suka di sini,” jawab Lydya dan mereka pun kembali sama-sama terdiam hingga sampai ditempat mereka akan makan malam.
Dua pelayan yang mengantarkan Lydya dan Gio pun juga bisa merasakan betapa canggung dua orang dibelakang mereka ini. Dua pelayan itu merasa bingung karena yang mereka dengar nona muda dari jauh ini sudah bertunangan dengan pria yang berjalan bersamanya sekarang dan anehnya mereka terlihat tidak akrab satu sama lain.
Dua pelayan itu hanya bisa diam karena bukan wewenang mereka untuk ikut campur dan hanya saling melirik untuk menyampaikan apa yang mereka pikirkan.
“Ah! Lily, irasshai~(Lily, selamat datang~)”
Lydya membalas pelukan bibinya, istri Kane. Lydya sangat merindukan bibinya yang sudah dianggapnya ibunya yang lain.
“Rin oba-chan, aku sangat merindukanmu,” ucap Lydya.
“Oba-chan juga merindukanmu,”
“Lily no hana!!! (bunga Lily!!!)”
Salah satu adik sepupunya berlari kecil menghampiri Lydya dan memeluk kakinya. Adik sepupu laki-lakinya ini masih setinggi pahanya. Lydya tersenyum dan menggendong adik sepupunya itu, anak ketiga paman dan bibinya.
“Kudo-kun, lama tak jumpa,” ucap Lydya mencium pipi adik sepupu laki-lakinya.
Kudo tersenyum senang mendapatkan ciuman dari Lydya dan juga mengatakan dia merindukan Lydya juga. Kudo adalah adik sepupu yang paling disukai Lydya di antara adik sepupu Lydya dan Leon yang lainnya. Hanya Kudo yang paling kalem dan paling menurut apa yang Lydya dan Leon katakan padanya. Terkadang jika Kudo diganggu kakaknya sendiri -Sato- maka Leon dan Lydya lah yang akan balas mengganggu Sato.
Lydya duduk disebelah Gio dan berhadapan dengan Leon. Kudo yang tadinya akan dipangku Lydya berpindah menuju Leon dan duduk di pangkuan Leon. Kudo memang suka sekali duduk di pangkuan Lydya atau Leon ketika dia tahu di kembar sedang duduk.
“Kudo-kun, duduklah sendiri dan jangan ganggu Leon ini-chan, Leon ini-chan...,”
“Daijoubu, oba-chan. Aku tidak terganggu sama sekali,” ucap Leon tersenyum.
“Kau ini sama saja seperti Lydya,” ucap Rin menggelengkan kepalanya.
Leon hanya tersenyum menjawabnya dan mereka mulai makan malam bersama. Eiza dan Melani terlihat sudah mulai nyaman berada ditempat asing apalagi Hera yang sudah beberapa kali bertemu dengan keluarga besarnya di Jepang. Beruntungnya paman dan bibinya dapat berbicara bahasa yang dengan teman-temannya jadi mereka berdua terlihat nyaman ditambah lagi bibinya termasuk orang yang banyak bicara.
Lydya tersenyum melihatnya. Syukurlah kalau teman-temannya nyaman datang kemari. Dia kuatir mereka merasa tidak nyaman tetapi itu hanya kekuatiran Lydya saja. Lydya melirik laki-laki di sampingnya yang makan dengan tenang. Apa sedikit merasa kuatir kalau laki-laki yang menjadi tunangannya ini merasa tidak nyaman.
🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌
__ADS_1
see ya ~(~ ̄▽ ̄)~~