
Happy Reading~ Yassshh~
!:sorry'bouttypo~ teehee~
🖌Shocked
Acara terus berlanjut hingga mendekati penghujung acara. Lydya maupun Gio sama-sama terlihat sudah lelah dan mengantuk. Mereka duduk berdua jauh dari keramaian, para tamu dan juga keluarga tidak ada satu pun yang terlihat lelah. Mereka masih terlihat bugar dan bersemangat.
Bulu kuduk Lydya tiba-tiba berdiri, entah mengapa dia merasa ada sesuatu yang akan terjadi nanti. Lydya menumpukan kepalanya di tangan dan melihat nenek buyut nya yang biasanya sudah lebih dahulu beristirahat masih terlihat semangat berbincang dengan para wanita lainnya.
“Mereka bersemangat sekali,” ucap Gio juga memandang ke arah nenek buyut Lydya yang terlihat tengah bercerita.
Sejak tadi, Lydya menunggu nenek buyut nya itu pamit untuk beristirahat jadi dia bisa mencuri kesempatan untuk kabur dengan alasan mengantarkan nenek buyut nya tetapi Lydya sudah lelah menunggu hingga neneknya pamit. Sejak tadi, nenek buyut nya itu tak berhenti berbincang dengan para wanita.
“Hmm.. ternyata kemunduran generasi itu ada. Aku saja sudah sangat lelah dan mengantuk,”
Gio menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Lydya. Dia juga sudah lelah dan mengantuk. Dia ingin cepat-cepat beristirahat tetapi kelihatannya acara belum tampak ingin berakhir.
“Apa kita tidak bisa kabur saja?”
Lydya menolehkan kepalanya menatap Gio tak percaya. Gio yang merasa ditatap Lydya menolehkan kepalanya sekilas lalu mengedikkan bahunya acuh.
“Memang salah?” lanjutnya.
“Haah~ Kau memang tidak pernah hadir ke acara seperti ini. Ku pastikan kau juga tidak pernah datang ke acara kami,”
“Memangnya harus?” tanya Gio malas.
Lydya menatap Gio tak percaya.
“Sudahlah,” ucap Lydya.
Mereka akhirnya hanya mengamati semua orang yang berlalu-lalang menikmati acara. Raut wajah bosan, kesal, lelah, dan mengantuk tergambar jelas di wajah keduanya. Siapa pun yang melihat Lydya dan Gio merasa kalau mereka terlihat sangat cocok satu sama lain. Lydya maupun Gio tak mempedulikan bisikan para tamu yang berada di dekat mereka.
Lydya menegakkan badannya ketika matanya tak sengaja melihat kakaknya berjalan menuju area parkir diikuti Cristal di belakangnya. Kelihatannya Ray tidak menyadari kalau dia sedang diikuti. Lydya berdiri dari duduknya dan tanpa kata menggandeng tangan Gio untuk mengikuti. Gio yang sudah lelah hanya bisa pasrah dirinya digandeng paksa.
Lydya menghentikan langkahnya begitu dia melihat kakaknya dan Cristal tengah berbincang dan wajah kakaknya terlihat tidak senang. Lydya penasaran apa yang tengah mereka berbincangkan karena jarak yang terlalu jauh jadi Lydya tidak bisa mendengarkan percakapan keduanya. Gio yang awalnya tak peduli pun menjadi sama penasaran nya dengan Lydya.
“Apa yang mereka lakukan?” tanya Gio penuh penasaran begitu Cristal menyentuh lengan Ray.
__ADS_1
“Kau tidak tahu?” ucap Lydya tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua orang itu.
“Tidak,”
“Kakak iparmu adalah mantan kekasih kakakku,”
Gio membulatkan matanya tak percaya. Ternyata kakak iparnya ini adalah mantan kekasih kakak Lydya. Dunia memang sangat sempit hingga mereka dipertemukan seperti ini atau memang takdir yang sedang bermain-main pada manusia.
“Dan.. kelihatannya kakak iparmu masih menyukai kakakku,”
“Hmm.. kelihatannya begitu. Kakakmu saja setampan itu, sudah dapat dipastikan kalau kakak iparku tidak bisa melepaskannya,”
Gio menyetujui ucapan Lydya karena pada dasarnya dia sudah tidak menyukai kakak iparnya itu. Awalnya ketika kakaknya membawa kakak iparnya pulang ke rumah dan ingin menikahinya, orang pertama yang tidak menyetujui pernikahan kakaknya adalah dirinya tetapi dia tidak bisa-bisa benar-benar menolak niat baik kakaknya jadi dia hanya bisa membiarkannya walau dia merasa berat.
Lydya menatap Gio yang ada di atasnya tak percaya, “Jangan sampai kau berbicara seperti itu didepan kakakku,” ucap Lydya menggelengkan kepalanya.
Mengapa?”
“Dia bisa kesenangan mendengar ucapanmu,” ucap Lydya tak suka.
Lydya paling malas jika bertemu dengan orang yang memuji kakaknya tampan –memang kenyataannya tampan- karena kakaknya itu bisa sangat besar kepala. Lydya dan Gio semakin serius mengintip ketika suasana di antara keduanya terlihat bersitegang.
Lydya maupun Gio langsung bersembunyi ketika mata mereka melihat hal yang tidak seharusnya dilihat. Lydya menutup mulutnya tak percaya. Apa yang baru saja dilihatnya benar-benar mengejutkan.
“Kakak iparmu sangat berani,” gumam Lydya dan Gio mengangguk.
Lydya dan Gio kembali mengintip ketika mendengar teriakan Ray. Lydya kembali menutup mulutnya ketika melihat wajah Cristal yang tertunduk ke samping dan menyentuh wajahnya. Apa kakaknya baru saja memukul perempuan? Jika maka artinya wanita itu benar-benar sudah membuat kakaknya marah.
Lydya mengajak Gio bersembunyi begitu kakaknya berjalan menuju halaman depan. Lydya menolehkan kepalanya ketika kakaknya lewat dan wajahnya terlihat sangat tegang. Kakaknya benar-benar sudah sangat marah.
Pandangan Lydya tak lepas dari kakaknya yang berjalan kembali menuju keluarga sesekali dia berhenti ketika ada yang menyapanya.
“Eum… bu.. bukankah kita terlalu.. terlalu dekat,”
Lydya mengalihkan pandangannya pada Gio dan benar wajah mereka sangat dekat. Lydya sangat terkejut dan segera menjauhkan dirinya dari Gio. Wajah Lydya terasa sangat panas.
“Ak.. aku kembali dulu,”
“Hmm..,”
__ADS_1
Lydya segera meninggalkan Gio yang masih berdiri di tempatnya. Begitu Lydya menjauh, Gio menutup wajahnya dengan lengan. Dia tidak tahu mengapa tetapi wajahnya sangat panas sekarang. Wajah Lydya yang berada tepat didepan matanya terlihat sangat cantik dan menawan ditambah dengan polesan make-up yang dikenakannya menambahkan kesan dewasa.
Gio menggelengkan kepalanya dan kembali mengingatkan dirinya kalau dia sudah mempunyai kekasih dan tidak boleh mengkhianatinya.
“Gio?!”
Gio tersentak kaget ketika seseorang memanggilnya dan ternyata kakak iparnya. Wajah kakak iparnya yang sembab tidak dapat ditebak oleh Gio. Entah apa yang tengah dipikirkan kakak iparnya yang sudah mengkhianati kakaknya secara tak langsung dengan masih menyimpan perasaan kepada laki-laki. Seketika, Gio serasa diingatkan kembali kalau dia tidak menyukai kakak iparnya.
“Apa yang…,”
“Tidak ada. Aku hanya berbincang sebentar dengan Lydya. Aku pergi dulu. Bye,” ucap Gio meninggalkan Cristal yang menatapnya.
Beruntungnya Lydya menghampirinya dan melambaikan tangan meminta Gio menghampirinya dengan segera jadi dia bisa selamat dari pertanyaan kakak iparnya itu. Gio malas jika harus bersama dengan kakak iparnya itu yang terkadang suka mencuri pandang padanya padahal mereka sedang berkumpul dengan kakaknya. Gio merasa risi dan tak nyaman.
“Apa yang kalian bicarakan?” bisik Lydya begitu Gio berada di sampingnya.
Lydya segera mengampitkan tangannya pada Gio dan Gio terlihat mulai terbiasa dengan sikap Lydya padanya. Dia harus mulai membiasakan dirinya agar Lydya merasa nyaman.
“Tidak ada. Aku menyela ucapannya ketika dia akan bertanya,”
“Kasihan sekali,” ucap Lydya.
Mereka berjalan menghampiri keluarga Mezzaluna dan Isaac yang berkumpul bersama. Nenek buyut Lydya menyuruhnya mendekat dan duduk di dekatnya. Lydya tersenyum senang dan segera duduk disebelah nenek buyut nya itu. Lydya menatap kakaknya yang berdiri dengan tatapan mengejek, Ray hanya memutar bola matanya malas.
Walau dia tau apa yang baru saja terjadi tetapi dia harus berpura-pura tidak mengetahui apa-apa. Nenek buyut melambaikan tangannya pada Gio dan menepuk kursi di sebelahnya. Lydya menatap nenek buyut nya bingung. Mengapa Gio juga disuruh untuk duduk?
Gio yang juga sama bingungnya menuruti keinginan nenek buyut Lydya untuk duduk bersama. Nenek buyut Lydya menggenggam tangan kanan cucunya begitupun dengan Gio, dia juga menggenggam tangan kiri Gio. Raut wajah bahagia terpatri jelas di wajahnya. Lydya semakin bingung akan sikap nenek buyut nya.
Lydya menatap kakaknya berharap mendapat jawaban di sana tetapi kakaknya mengalihkan pandangannya ke arah lain begitupun dengan Leon. Kedua orangtua nya dan orangtua Gio berjalan menuju panggung dengan senyum bahagia di wajah mereka ketika nama mereka dipanggil.
Lydya mendengarkan dengan teliti setiap kata yang keluar dari mulut MC malam ini dan satu kata yang membuatnya terkejut ketika namanya dan nama Gio dipanggil. Nenek buyut Lydya tersenyum dan berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju panggung dengan menggandeng Lydya dan Gio.
Dan semuanya berjalan cepat sesuai rencana.
🖌🖌🖌TBC🖌🖌🖌
Duh kah dua orang itu manis bgt... efek kebanyakan baca komik romance...
(づ ̄ ³ ̄)づ see ya next chapter~
__ADS_1